
Kaif menatap Shalunna dengan saksama. Wajahnya agak merah dan keringat berkilauan menggantung dari ujung hidungnya seolah-olah dia baru saja melakukan olahraga berat.
"Apakah kamu datang berlari ke sini?" tanya Kaif.
“Um… Tidak, aku takut kamu sedang terburu-buru, jadi aku bergegas.” ucap Shalunna tidak mengatakan apa-apa tentang masalah Eva karena dia menduga Kaif mungkin tidak mau mendengarkan gosip yang menjijikkan itu.
Mendengar dia mengatakan ini, bibir Kaif sedikit melengkung dan dia mengambil dokumen itu.
"Aku tidak berharap kamu begitu berdedikasi." ucap Kaif
Mendengar ucapannya Shalunna hanya mengangguk dengan linglung, masih memikirkan masalah Eva. Kaif melihat ke tempat yang ramai lagi, dan ada banyak wanita lajang yang menunggunya dan ingin dekat dengannya.
Sebenarnya Kaif sudah muak dengan kemunafikan yang membosankan itu, jadi dia melihat ke arah Shalunna yang hendak pergi. “Kebetulan aku butuh pendamping wanita. Karena kamu ada di sini, kamu adalah temanku.”
Mendengar ucapan Kaif, Shalunna kemudian sadar dan menatap pria di depannya, matanya terbuka lebar.
Dia pasti bercanda. Dirinya saat ini masih mengenakan seragam hitam putih dari Pratama Group, dan sosialita di dalamnya semuanya mengenakan gaun yang dibuat khusus dengan indah. Jika dia masuk dengan setelan itu, dia akan menjadi bahan lelucon.
"Aku akan mengajakmu keluar untuk membeli gaun itu nanti." ucap Kaif berkata dengan lemah, jelas tidak memberi Shalunna kesempatan untuk membantah.
Dia mengatakan itu dengan sikap yang sangat tegas, sehingga Shalunna tidak bisa berkata apa-apa. Lagipula, Kaif adalah dermawannya. “Tapi, jika aku pergi denganmu, apakah aku akan menimbulkan masalah untukmu?” tanya Shalunna memastikan.
“Masalah apa yang akan terjadi.? Di Kota Kartanegara, tidak ada yang berani membuat masalah untukku.” jawab Kaif.
Dengan mengatakan itu, Kaif menarik Shalunna ke dalam mobil mewahnya. Dengan Segera, mobil itu melaju ke tempat yang agak terpencil. "Disini."
Shalunna keluar dari mobil dengan patuh dan melihat tanda di depannya, merasa sedikit tersentuh.
Kaif membawanya ke sebuah tempat bernama Fashion Salon, salon desain gambar paling terkenal di Kota Kartanegara. Dulu, ketika ibunya masih sehat, ibunya membawanya ke sini dari waktu ke waktu.
Ibunya selalu berkata, “Lunna adalah putri kecilku. Tentu saja, kamu harus berdandan dengan indah.”
Salon ini penuh dengan kenangannya yang tak ada habisnya. Melihatnya lagi, perasaan Shalunna saat ini campur aduk.
__ADS_1
Kaif memarkir mobil mewahnya dan melihat Shalunna berhenti di pintu, wanita itu tidak masuk. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia bisa melihat kerinduan dan kesedihan yang mendalam di matanya. Dengan kesedihan yang tak terbaca dalam kesunyiannya, versi dirinya yang ini justru sangat menarik.
Tanpa sadar, nada desakannya menjadi lebih lembut, "Ayo masuk." ajak Kaif.
Shalunna mengangguk dan berjalan di belakangnya. Kemudian, dia memikirkan sesuatu. “Aku ingat kita perlu membuat janji di sini. Bukankah kita harus membuat janji terlebih dahulu?”
"Kaulah yang butuh janji, bukan aku." jawab Kaif berkata dengan dominan. Benar saja, begitu dia dan Shalunna masuk, seseorang datang dengan penuh perhatian dan membawa mereka ke ruang VIP.
Sepertinya dia meremehkan pengaruh Kaif di Kota Kartanegara. Meskipun kehidupan Shalunna baik sebelumnya, itu masih jauh dari kehidupan Pratama.
Keduanya menunggu sebentar. Seorang pria dengan rambut panjang sebahu masuk. Dia melihat Kaif, lalu memandang Shalunna di sisi lain, dan tersenyum jahat. “Apakah ini matahari yang keluar dari barat hari ini.? Tuan muda Pratama, Anda telah membawa seorang wanita ke sini.? Anda belum pernah ke sini selama bertahun-tahun.”
Faris memandang Kaif, dan ada rasa humor dalam kata-katanya. Mereka berteman, jadi mereka berbicara satu sama lain tanpa menahan diri.
Kaif meliriknya. Kemudian dia berkata "Omong kosong. Cepat dan pilih gaun untuk wanita ini dan bantu dia berdandan.”
Melihat Kaif masih sulit dihadapi seperti biasanya, Faris pun menggelengkan kepalanya dan menatap Shalunna yang sedang duduk Dengan gelisah di samping.
Dia berpakaian sangat sederhana, tanpa riasan di wajahnya yang cantik dan bersih, tetapi kulitnya sebening kristal dan tidak memiliki noda seperti pori-pori dan bintik-bintik warna. Dia mengenakan seragam biasa, tetapi karena sosoknya yang Seksi, dia terlihat sangat menarik.
Shalunna merasa tidak nyaman dengan tatapannya, tapi Faris tidak merasa ada yang salah. Setelah menatapnya dengan mata terbakar untuk beberapa saat, dia berjalan ke ruang penyimpanan gaun dan dengan cepat mengambil beberapa gaun untuknya.
"Pergi dan coba ini." ujar Faris pada Shalunna.
Shalunna dengan patuh pergi untuk mengganti pakaiannya, dan saat dia pergi, Feris menghampiri kaif untuk menggodanya.
“Seleramu banyak berubah. Bukankah kamu menyukai wanita yang cerdas dan mengharukan itu sebelumnya?”
Tentu saja, Faris tidak akan melupakan hubungan yang patut ditiru antara Kaif dan Milana. Plus, tidak ada wanita di sekitar Kaif setelah itu. Dia mengira Kaif akan menunggu Milana kembali dan menikahinya, tetapi dia tidak menyangka bahwa Tuan muda Pratama akan membawa wanita lain ke salonnya hari ini.
“Saya hanya punya satu pacar sebelumnya. Bagaimana kamu bisa mempunyai pendapatmu seperti itu.?”
Kaif mengatakan yang sebenarnya. Dia pria yang sombong. Tidak banyak wanita yang bisa masuk ke hatinya. Tapi satu-satunya keuntungannya adalah begitu dia memutuskan untuk mencintai seseorang, cintanya tidak akan mudah berubah.
__ADS_1
Tapi sekarang, dia sepertinya telah berubah.
"Itu benar. Sudah lama saya katakan bahwa Anda harus mencari gadis baik lainnya.”
Setelah mengatakan hal itu Faris menepuk bahu Kaif. Berbeda dengan Rangga yang merupakan pendukung setia Milana, Faris merasa keduanya terlalu sombong, sehingga mereka bukanlah pasangan yang sempurna. Sebaliknya, gadis yang tampak lemah di depannya itu membuatnya merasa lebih cocok untuk Kaif, Sahabatnya.
Setelah Shalunna mengganti pakaiannya dan dia pun berjalan keluar.
Faris memilih gaun krem untuknya. Kelihatannya sederhana, tapi wanita yang memakainya tidak cukup murni, dia akan terlihat canggung.
Tapi gaun itu sangat cocok dengan Shalunna. Kulitnya yang putih tidak menjadi gelap karena warna gaun itu tetapi lebih cerah dan dia terlihat lebih anggun berkat lekuk tubuhnya yang indah.
"Yah, tidak buruk, tidak lebih buruk dari Milana." Ucap Faris puas dengan seleranya dan tanpa sadar mengatakan itu.
Ketika Shalunna mendengar nama itu, dia tercengang.
Milan… Siapa dia?
Dia tanpa sadar menatap Kaif dan menemukan pria itu menatap tajam ke arah Faris. Mengetahui bahwa dirinya telah mengatakan sesuatu yang salah, Faris dengan cepat tertawa dan membantu merias wajah Shalunna.
Shalunna memperhatikan Faris membantunya dengan riasan yang indah, tetapi dia tidak pernah melupakan nama yang baru saja dikatakan Oleh Faris.
“Milana”
Dia sepertinya belum pernah mendengar tentang orang seperti itu, tetapi Kaif sepertinya akrab dengannya.
Sebagai seorang wanita, intuisi Shalunna memberitahunya bahwa hubungan Milana dengan Kaif jelas tidak sederhana.
"Tuan Ghaisan, siapa Milana yang anda bicarakan?”
karena Shalunna sangat penasaran mau tidak mau dia bertanya pada pria yang kini sedang merias wajahny.
“Sial, mampus.” Faris berteriak dalam hatinya.
__ADS_1
Dia seharusnya tidak berbicara omong kosong. Sekarang, yang pada akhirnya dirinya ikut terlibat.
...****************...