
Kaif melihat jejak tekad di mata Shalunna, dan dia merasakan kegelisahan menjadi lebih kuat.
Tapi Shalunna tidak berhenti dan dia malah pergi dengan buru-buru.
Kaif masuk ke ruang kerja. Tuan Besar Pratama yang melihat kedatangan Kaif, dia pun menunjuk ke papan catur. "Ayo, kita lanjutkan bermain."
Kaif mengerutkan keningnya. Dia kemudian bertanya karna rasa penasarannya, "Kakek, apa yang baru saja dia katakan padamu.?"
Tuan Besar Pratama menatap Kaif dan menggelengkan kepalanya. Pratama berkata, “Dia telah meminta untuk berbicara dengan saya secara pribadi. Jika saya memberi tahumu apa yang dia katakan, saya akan menjadi seorang Kakek yang tidak bisa diandalkan. jadi ayo kita lanjutkan bermain saja."
Kaif melihat bahwa Kakeknya jelas tidak ingin mengatakan kepadanya, dan dia tidak dapat mengajukan pertanyaan lagi, jadi dia hanya bisa menekan emosinya dan terus bermain catur.
Namun, kali ini, dia jauh dari setenang sebelumnya. Dalam waktu singkat, keuntungan yang diperolehnya di tahap awal permainan catur hilang. Dengan cepat Tuan Besar Pratama pun bisa menangkap kelemahannya dan memaksanya ke jalan buntu.
“Kaif, hidup itu seperti bermain catur. Setiap langkah sangat penting. Jadi Kamu harus berhati-hati.”
Tuan Besar Pratama pun memenangkan permainan tanpa keraguan. Dia berbicara pada Kaif dengan sungguh-sungguh ketika dia melihat bahwa pikiran Kaif jelas tidak tertuju pada permainan.
Kaif pun mengangguk dan kemudian dia merasa bahwa ini berarti sesuatu yang lain. Namun, Tuan Besar Pratama berkata bahwa dia lelah dan ingin kembali beristirahat. Oleh karena itu, Kaif tidak bertanya apa-apa.
***********
Keesokan paginya, Shalunna mengatakan dia tidak sehat, jadi dia tidak pergi bekerja.
Kaif melihat ke kursi penumpang yang kosong dan entah kenapa dia begitu merasa kesal.
“Sudah berapa lama dia menderita gastroenteritis? Mengapa dia belum pulih? Apakah dokter yang dilihatnya seorang dukun?” pikir Kaif dalam benaknya.
Memikirkannya, Kaif menelepon dokter keluarga dan memintanya datang malam ini untuk memeriksa Shalunna.
Begitu juga dengan Tuan Besar Pratama yang dengan cepat meminta seseorang untuk menyelesaikan akta cerai. Dia khawatir penundaan yang lama dapat menyebabkan masalah baru, jadi dia menanganinya dengan sangat efisien.
Namun, Pratama tentu saja tidak berniat memberikan surat cerai padanya. Mereka khawatir dia akan membuat keributan tentang hal itu.
Shalunna tentu saja tidak peduli dengan hal itu. Ketika dia pergi, dia hanya membawa koper kecil, yang berisi beberapa pakaian dan sepatu yang dia bawa ketika dia meninggalkan penjara. Dia tidak mengambil sisa barang-barangnya.
Tuan Besar Pratama menulis cek untuknya. Nomor di atasnya sangat menggoda, tetapi Shalunna menolak untuk menerimanya.
“Saya beruntung bisa keluar dari penjara. Saya tidak butuh uang. Kakek Pratama, saya hanya berharap Anda akan mengingat janji Anda kepada saya.” Ucap Shalunna dengan tenang.
Mendengar ucapannya Tuan Besar Pratama pun mengangguk. Kemudian dia berkata "Jangan khawatir. Masalah itu sudah berakhir, dan tidak ada yang akan mengejarnya lagi. Kata-kataku masih diperhitungkan.”
__ADS_1
Shalunna pun mengangguk dan pergi.
Mata Shalunna menjadi gelap memikirkan pria itu. Agaknya, mereka bahkan tidak akan memiliki kesempatan untuk bertemu di masa depan.
Hari-hari ini dia tinggal di Pratama sebagai istri Kaif dan itu seperti mimpi baginya.
Sekarang setelah dia sudah bangun dari mimpinya, sudah waktunya baginya untuk memulai hidup barunya.
***********
Sore harinya, Kaif pulang kerja.
Saat makan malam, Shalunna masih belum muncul. Kaif tidak curiga. Lagi pula, dia pernah berkata bahwa perutnya tidak nyaman dan dia sudah lama tidak makan dengan orang lain.
Ketika Kaif kembali ke kamarnya setelah makan malam, dia menyadari ada yang tidak beres.
Beberapa pakaian Shalunna yang semula digantung di lemarinya kini sudah hilang, dan tempat tidur yang biasa dia tiduri di lantai juga hilang.
Segalanya tampak kembali ke awal ketika Shalunna tidak ada.
Kaif diam termenung sepertinya memikirkan sesuatu. Dia kemudian melangkah keluar dan langsung menuju kamar Shalunna. Dia buru-buru membuka pintu. Dan kamar Itu kosong, Tidak ada seorang pun di dalamnya. Dia bahkan tidak tahu bahwa seseorang pernah tinggal di sana setelah kamarnya dibersihkan.
Kaif tiba-tiba mengerti apa yang dia maksud dengan tatapan wanita itu kemarin. Dia sudah bertekad untuk meninggalkan Kediaman Pratama kemarin.
Kaif langsung pergi ke kamar Kakeknya tanpa ragu. Tuan Besar Pratama yang sedang menyirami bunga. Ketika dia melihat Kaif, dia menggelengkan kepalanya.
"Dia pergi. Ini adalah surat ceraimu dengannya. Jangan khawatir, aku akan menyimpannya dengan baik. Tidak ada yang akan tahu bahwa kamu memiliki hubungan seperti itu dengannya.”
Kaif menatap sertifikat berwarna merah maroon itu dan membukanya. Di situ tertulis nama dirinya dan Shalunna, tetapi kata-katanya berubah dari "setuju untuk menikah" menjadi "setuju untuk bercerai".
"Kenapa Anda tidak memberitahuku?" tanya Kaif dingin karna menahan emosinya.
Saat Kaif melihat sertifikat itu dan merasakan dorongan untuk merobeknya seketika itu juga.
Siapa yang memberi Shalunna hak untuk menceraikannya secara sepihak? Apakah kakeknya sangat ingin menyingkirkannya?
“Akulah yang mengatur pernikahanmu, jadi masuk akal bagiku untuk mengakhirinya sekarang.” ucap kakek Pratama.
Tuan Besar Pratama menatap wajah muram Kaif. Nyatanya, dia sudah lama memperhatikan arus kasih sayang yang tersembunyi antara Kaif dan Shalunna, tapi cucunya itu tidak menunjukkannya.
Pratama berpikir bahwa Kaif tidak akan pernah memiliki perasaan terhadap seorang wanita tahanan yang telah mendorongnya sebelumnya, tetapi kenyataannya tidak demikian. Dia melihat sedikit perubahan dalam sikap Kaif terhadap Shalunna, jadi dia benar-benar takut wanita yang dia bawa kembali akan mempengaruhi ahli warisnya yang telah dia latih selama bertahun-tahun.
__ADS_1
Sejak itu, Pratama memikirkan bagaimana menyelesaikan masalah dengan sempurna.
Dan Sekarang, semuanya sudah berakhir. Kembali ke awal akan menjadi pilihan terbaik untuk semua orang.
Kaif mengerti apa yang kakeknya maksud dan dia memilih untuk tidak berbicara lagi.
“Sekarang aku serahkan semua padamu, aku tidak bisa bertanggung jawab atas banyak hal. Namun, kamu bisa kembali bersama dengan mantan pacarmu, atau gadis mana pun dari keluarga terhormat atau keluarga sederhana. Tapi kamu tidak bisa bersama Shalunna.” ucap Kakek Pratama menatap Kaif dengan serius.
“Wanita seperti dia tidak bisa menjadi istrimu. Dia akan menjadi kerentananmu yang akan diserang orang lain.” Setelah Kakek Pratama selesai berbicara, Kaif hanya terdiam.
Dia tentu mengerti bahwa kakeknya ikut campur dalam masalah ini demi Pratama Group dan Kaif sendiri, tapi ini tidak mengurangi amarahnya. Sebaliknya, dia merasa sedikit tidak berdaya.
“Jangan temui dia lagi. Saya yakin kamu akan segera melupakan orang ini.” pinta Kakek pratama pada Kaif.
Setelah mendengar ucapan kakeknya itu Kaif mundur dari kamar diam-diam.
Kembali ke kamarnya, Kaif menghancurkan semua yang ada di depannya.
Dia tidak berminat untuk apa pun kecuali kehancuran. Dia ingin menghancurkan wanita yang berani pergi tanpa pamit secara khusus.
“Kenapa dia bisa pergi begitu mudah setelah membodohi ku.?” geram Kaif
Dia menyapu buku-buku di atas meja jatuh ke lantai dengan marah. Tiba-tiba, dia melihat sebuah kartu dengan tulisan tangan Shalunna di atasnya yang bertuliskan
*Kamu memberiku kartu ini. Saya tidak menggunakannya sedikit pun. Jadi Sekarang aku mengembalikannya padamu.*
Itu adalah kartu kredit tak terbatas yang dia berikan pada awalnya. Shalunna bahkan tidak membawa bersamanya. Kaif merobek kartu itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Rangga dan Faris.
"Ayo Keluar dan Mari berkumpul. Ini suguhan aku.”
Mendengar ajakan Kaif Mereka pun terkejut. Kaif jarang keluar untuk bergaul dengan mereka. Bahkan jika mereka mengadakan pertemuan dan mengundangnya, dia akan menolak mereka sembilan dari sepuluh kali.
Dia melakukan ini sekali di bulan tertentu.
Kaif memang bukan orang yang senang berkumpul. Menurutnya hiburan seperti ini membosankan dan menyita waktu. Tapi sekarang, dia hanya ingin minum dan menggunakan alkohol untuk mengurangi kegelisahannya.
Kalau tidak, dia harus mencari kemana-mana untuk menemukan wanita sialan itu, dan kemudian membuatnya hidup sengsara.
...****************...
__ADS_1