
Usai selamat dari hantu muka rata, mereka malah semakin kebingungan dan ketakutan dikarenakan penyelamatan dari sosok bayangan putih, dimana mereka sedang meringis ketakutan, tuan puteri yang menjalani rasa sakit karena terjatuh, seketika sembuh.
"Waduh gimana ini, ada sosok putih yang menyelamatkan kita tetapi aku merasa lebih takut, apakah sosok itu yang selanjutnya mengganggu kita" ucap Rama kepada tuan puteri.
"Entahlah Ram aku tidak tahu akan hal utu, semoga saja tidak, aku sudah mendingan, lebih baik kita lanjut mencari tempat yang lebih aman" ucap tuan puteri.
Terus berjalan menelusuri hutan, hingga pada akhirnya mereka menjumpai kakeh berpakaian serba putih seperti tabib kerajaan.
"Siapa kamu, mau apa menghalangi jalan kami" tanya Rama ketakutan.
"Tenang saja nak, aku akan menolong kalian, tuan puteri... silahkan duduk dulu, biar aku menyembuhkan luka itu" ucap kakeh tadi.
"Baik kek" jawab tuan puteri.
Benar saja bahwa kakek itu merupakan seorang tabib istana, tak lain dari kerajaan sang Ratu, ia di perintahkan oleh Ratu untuk menolong Rama dan tuan puteri.
"Sebenarnya kakek ini siapa" tanya Rama kepada kakek.
"Aku seorang tabib dari kerajaan, yang nantinya kalian tahu sendiri" jawab kakek itu.
"Apa kamu dari kerajaan ayahku" tanya tuan puteri.
"Tidak, tapi aku sering datang ke istana ayahmu" jawab kakek.
"Berarti kamu tahu siapa aku" lanjut tanya tuan puteri kepada kakek.
"Benar, aku memang tahu siapa kamu, jika kamu ingat, aku pernah menyelamatkanmu dari kematian karena di racun oleh musuh ayahmu" ucap kakek itu.
"Iya aku ingat sekarang, tapi aku belum pernah menemuimu setelah kejadian itu" ucap tuan puteri.
"Aku menetap si suatu kerajaan yang di pimpin oleh Ratu cantik dan baik hati" jawab kakek.
"Apa aku mengenal Ratu itu" tanya tuan puteri.
"Kalian akan mengetahui sendiri kelak, aku tidak bisa berlama lama, harus segera pulang ke kerajaan" ucap kakek.
__ADS_1
"tuan puteri, anda sudah bisa berjalan dan luka anda segera sembuh, silahkan lanjutkan perjalanan, di depan ada rumah kosong peninggalan kerajaan kami, di tempati saja rumah itu" lanjut kakek dengan menoleh ke arah mereka.
Kakek itu seketika terbang tinggi meninggalkan mereka, tuan putrri yang juga bisa terbang hendak akan menyusul kakek itu, namun ia teringat bahwa sedang bersama Rama.
"Sudah tuan puteri, nanti pasti kita tahu dengan sendirinya, mari lanjut perjalanan" ucap Rama.
"Baik Ram, semoga tidak terjadi apa apa, seperti kejadian tadi Ram" jawab tuan puteri.
"Kita jalan pelan pelan saja tuan puteri, biarpun lama yang penting keselamatan kamu lebih penting" ucap Rama.
"Kamu baik sekali Ram, aku jadi lebih merasa nyaman dan aman di dekatmu" ucap tuan puteri.
"Ayo kita jalan" ucap Rama sambil menodongkan tangannya kepada tuan puteri.
Berjalan ke arah yang sudah di tunjukkan oleh kakek tadi, mereka terus berjalan, namun di tengah oerjalanan tiba tiba muncul lagi sosok bayangan putih di depan mereka.
"Astaga, ada sosok itu lagi" ucap tuan puteri.
"Tenang saja tuan puteri, aku akan melindungimu" jawab Rama.
"Kalian tidak usah takut denganku, aku orang baik, dan aku akan selalu melindungi kalian dimanapun itu" ucap sosok asap putih.
"Saya akan pergi, kalian hati hati di jalan, hantu muka rata memang sudah ku singkirkan, akan tetapi masih bisa mengganggu kalian" ucap sosok itu.
"Terimakasih banyak sudah memperingatkan kami akan adanya bahaya mengancam" ucap tuan puteri.
Tak lama setelahnya, sosok itu pergi meninggalkan mereka, dan lanjut untuk berjalan menuju rumah kosong sesuai petunjuk kakek tadi.
"Lihat tuan puteri, di depan sana ada rumah kosong itu" ucap Rama sambil menunjuk ke arah rumah kosong.
"Benar Ram, ayo kita beristirahat sejenak, aku merasa lelah, besok kita lanjut perjalanan lagi mencari kerajaan Ratu" ucap Tuan puteri.
"Jika kamu lapar bilang saja, aku akan mencarikan makanan untukmu" ucap Rama.
"Aku belum lapar, besok saja kita cari berdua" jawab tuan puteri.
__ADS_1
Masuklah mereka ke dalam rumah kosong tersebut, tampak indah dan besar meskipun sudah berpuluh tahun bahkan ratusan tahun tidak di huni, tetap saja tempatnya bersih dan harum.
"Cantik sekali isi fumah ini, dari luar terlihat kumuh, namun saat masuk ke dalam bagaikan kamar malam pertama" ucap Rama.
"Perasaanku ini di siapkan untuk kita berdua Ram" ucap tuan puteri.
"Jika memang di siapkan lantas siapa yang menyiapkan ini, lalu apakah kita akan melakukan malam pertama itu tuan puteri" ucap Rama.
"Jika memang harus kita lakukan tidak masalah bagiku Ram" jawab tuan puteri.
Mereka masuk kedalam kamar, dengan kagetnya di sana terlihat lukisan pengantin baru, kaget bukan karena lukisannya akan tetapi karena dalam lukisan itu nampak wajah mereka berdua dan di dandani layaknya seorang pengantin.
"Apa yang terjadi, apa kita memang sudah menikah" tanya Rama kebingungan.
"Aku juga tidak mengerti Ram, alangkah baiknya kita beristirahat dulu, besok ketika bertemu dengan Ratu kita tanyakan kepadanya" jawab tuan puteri.
"Selamat tidur tuan puteri, aku tidurnya nanti saja" ucap Rama.
"Tidak usah terlalu malam Ram, besok kita masih harus mencari jerajaan Ratu" ucap tuan puteri.
"Baik tuan puteri sebentar lagi aku tidur" jawab Rama.
Setelah tuan puteri tertidur lelap, Rama memikirkan sahabatnya, dan memikirkan orangtuanya, sedang apa mereka di dunia nyata, apakah mereka menghawatirkan keadaanku.
"Aku rindu kedua orang tuaku, semoga mereka baik baik saja, aku akan pulang setelah mendapatkan jawabannya" ucap Rama dalam hati.
Rama yang belum tertidur pergi mendekati lukisan pengantin, memperhatian tetus tanpa kedip, disana terlihat jelas muka mereka berdua, terpampang lukisan nama mereka bahkan tanggal mereka menikah jatuh satu bulan di bulan berikutnya.
Dari kejadian ini, Rama semakin kebingungan, semakin tidak percaya ini telah terjadi.
"Kenapa bisa ya, aku harusnya bahagia tidak merasa kebingungan seperti ini" ucap Rama sambil memandang lukisannya.
"Sudahlah aku lebih baik tidur biar besok tidak kecapean, perjalananku masih jauh" lanjut Rama.
Rama akhirnya terbaring dalam kasur yang empuk, di samping tuan puteri, semakin malam, hawa dingin semakin menyelimuti mereka, disana hanya tersedia satu selimut yang akhirnya Rama ikut berselimutan bersama tuan puteri.
__ADS_1
"Aku ikut masuk kedalam selimutmu tuan outeri, maaf jika tidak sopan" ucap Rama.
Namun tuan putri yang masih terlelap tidak mendengarkan ucapan Rama, pada akhirnya mereka berdua masuk kedalam dunia malam pertama. Begitu dingin suasana di kamar itu dan begitu nyaman tidur mereka hingga melakukan hal tersebut.