
Di Keraton
"Yey, Bang Petrus liat deh Nugini menang main Among Us. Tadi Nugini jadi Impostor untung kagak ketauan." Kata Nugini kesenangan. Nugini manggil Petrus Abang karena, Nugini itu seumuran sama Indo.
"Benarkah? Kamu berhasil matiin siapa?" Jawab Petrus. "Hum gimana ya...aku berhasil matiin Bang PKI."
"Rupanya ketemu temen malah mabar. Nggak apa-apa lah, setidaknya itu anak kagak ngerokok mulu." Kata Petrus.
"Bang Petrus ajarin aku nembak dong." Pinta Nugini. "Jangan, belum cukup umur." Bantah Petrus.
"Tapi Nugini maunya sekarang." Rengek Nugini. "Emang kenapa sih maunya sekarang?" Tanya Petrus yang sudah pusing dengan saudaranya.
"Supaya aku bisa nembak hati seorang negara." Jawab Nugini. 'Kagak nyangka aku, Indo aja kagak nyadar-nyadar kalau ada negara yang suka sama dia. Lah ini...' Gumam Petrus.
Balik lagi ke Indo
'Kenapa dia harus ikut sih.' Neth merasa risih karena Indo harus mengajak Russia juga.
'Yah nggak asik ada si Tiang Listrik Koslet.' Ujar Russia.
"Neth, Rus kalian mau coba?" Tawar Indo. "Ah tidak usah." Jawab Neth dan Rus bersamaan.
'Sumpah...barengan jawabnya.' Gerutu Russia. 'Ngapa barengan sih." Ucap Neth.
Indo sudah selesai makan, "Indies, biar aku saja yang bayar." Tawar Neth. "Tidak. Aku yang akan membayarnya." Elak Russia.
"Aduh, nggak makan pusing, udah makan juga pusing. Apakah ini yang dinamakan serba salah? Ribet ya ternyata." Karena kedua temannya sibuk bertengkar, Indo langsung bayar ke kasir sendiri.
"Indo!" Panggil Palestine. "Selamat datang, Pales." Sapa Indo. "Kenapa Netherlands dan Russia bertengkar?" Tanya Pales bingung.
"Oh...biasa. Pales ayo kita ke atas!" Ajak Indo. Pales pun mengiyakan. Mereka berdua langsung pergi dari tempat itu.
"Sudah menyerahkan saja, Neth. Karena aku yang akan membayar semuanya." Kata Russia. "Oh iya kah. Bagaimana kalau kita tanyakan pada Indies." Sahut Neth.
"Indo...kau mau memilih sia...pa." Russia tidak dapat berkata-kata ketika tidak melihat Indo ada di sana.
🥀
Beberapa hari kemudian,
"Hyung, aku senang kamu udah bisa sekolah lagi." Ujar S.K dengan gembira. "Iya, aku juga senang. Oh ya soal yang waktu itu...aku minta maaf ya. Aku sudah menuduh kamu yang bukan-bukan." Sahut China.
__ADS_1
"Aku ingin minta maaf juga. Ternyata ada orang yang benci sama kamu sehingga sampai membuat seperti ini. Tidak sia-sia kerja keras Indo..." Ucap Japan.
"Indo? Memangnya dia membantu apa?" Tanya N.K masih amnesia. "Indo sudah membantu kami supaya yakin bahwa kamu bukan pelakunya. Tapi kami tidak percaya." Mongolia berusaha menjelaskan.
Mereka sudah sampai di sekolah. Mereka berlima pergi ke kelasnya. Saat itu Indo sedang jalan-jalan di koridor, lalu ia tidak sengaja melihat N.K.
Indo berlari secepat mungkin dan menghampiri N.K. "Korut!!!" Seru Indo dengan sangat bahagia. "Kamu sudah boleh pulang rupanya."
N.K tidak membalasnya. "Korut, ada apa?" Tanya Indo. Korut menoleh ke arah Indo, seketika kepalanya benar-benar terasa sangat sakit.
N.K terus memegangi kepalanya. Indo panik, ia membantu N.K untuk masuk kedalam kelasnya. Tapi...
Saat Indo ingin membantu N.K, N.K langsung menepis tangan Indo. "Eh...?!" Ujar Indo kaget. N.K terus memegangi kepalanya sembari berjalan kedalam kelasnya.
"Kenapa...? Ada apa...?" Ucap Indo lirih.
🥀
Siang ini Russia dan Ame sedang membicarakan sesuatu. "Untung saja kau tidak bilang apa pun soalku kepada Indo." Kata Russia dengan serius.
Sebenarnya dulu Russia dan Ame pernah saling suka. Tapi ketika Russia melihat Indo, ia malah menyukai Indo. Ame itu cewek ya:v
"Kau tau kan, Neth juga kepada Indo. Aku takut dia menembak Indo terlebih dahulu sebelum diriku. Bagaimana kalau nanti Indo menerima tawarannya. Kemarin saja Neth juga memikirkan hal yang sama seperti diriku." Ucap Russia lagi.
"Ke kantin bareng yuk!" Ajak Phil. "Jangan!" Jawab Ame. "Kenapa?" Tanya Phil. "Jangan di tolak." Ucap Ame lagi.
Phil dan Ame lalu berjalan ke kantin bersama Phil.
"Aaa Malay~ makasih ya sudah membelikan ini untukku. Aku suka~" Ujar Bangladesh sambil melihat gantungan kunci dari pemberian Malay.
"Iya sama-sama. Oh ya BTW si Indo mana yak? Kagak keliatan dari tadi?" Kata Malay sambil celingak-celinguk mencari Indo.
"Sudahlah Indo, jangan menangis lagi." Palestina mencoba menenangkan Indo yang sedang menangis.
"T-Tapi kenapa sekarang...Korut mulai menjauh dariku? Apa sekarang dia membenciku karena gara-gara aku dia jadi seperti ini..."
"Aku yakin Korut pasti tidak akan membencimu." Ujar Palestina lagi. Indo menaikan sedikit kepalanya.
"Jangan-jangan...kau menyukai N.K ya." Ledek Palestine. "A-Apa?! Aku menyukai Korut? Tidak mungkin!" Jawab Indo sambil menggembungkan pipinya. "Masa?"
"Ih Pales nyebelin deh." Indo mengejar Palestina dan Palestina berlari.
__ADS_1
"Huh...huh...kenapa kita kejar-kejaran..." Palestina terengah-engah. "Karena Pales menyebalkan tadi." Sahut Indo.
Pales menyodorkan air mineral kepada Indo. "Untukku?" Indo mengambilnya agak ragu. "Iya, ini untukmu. Aku tidak membawa 2 botol. Seharusnya aku membawa satu."
"Terima kasih Pales." Indo hendak membuka tutup botolnya, tapi tidak bisa. "Pales, tolong bukakan tutup ini. Indo tidak kuat." Rengek Indo sambil menyodorkan botolnya kepada Pales.
Pales membuka tutup botolnya dan memberikannya kembali kepada Indo. "Terima kasih Pales." Indo meminum air tersebut dengan sangat banyak.
"Wow...pelan-pelan. Nanti tersedak loh." Pesan Pales. Indo memberhentikan meminum airnya, "Iya, tidak sampai tersedak kok."
Suasana agak hening. Tidak ada lagi pembicaraan yang di ucapkan oleh Indo ataupun Pales.
"Ger, lihatlah bunganya indah kan." Ucap Poland sambil sebuah bunga kepada Germany. "Hm...iya." Jawab Germany singkat sambil masih membaca bukunya.
Poland sedang asik melihat-lihat bunga di taman sekolah, ia lalu melihat Indo dan juga Pales.
"Hai kalian berdua!" Panggil Poland menyapa. "Hai juga!" Sahut Indo dan Pales berbarengan.
"Kalian sedang apa disini?"
"Oh cuma mencari udara segar saja. Kau sendiri?" Kata Indo basa-basi. "Aku sedang melihat bunga-bunga disini. Sedangkan Germany, dia malah membaca buku terus." Poland menunjuk ke arah Germany yang sedang asik membaca bukunya.
"Indo, aku pergi dulu ya." Pamit Pales sambil berdiri dari duduknya. "Ikut." Kata Indo ikut-ikutan.
Pales pergi dari sana meninggalkan Indo dan Poland. "Aaa...Pales tungguin." Ujar Indo sambil mengejar Pales yang sudah berlari jauh.
"Aduh Pales mana sih?" Indo kebingungan dimana Pales berada sekarang.
Tidak sengaja Indo mendengar sebuah keributan, karena penasaran Indo mencari sumber suaranya.
"Dengar ya, Yerussalem sekarang adalah milikku!" Kata Israel dengan percaya diri. "Tidak akan. Yerussalem adalah milikku. Kau tidak bisa merampasnya begitu saja!" Jawab Palestine agak berteriak.
"Hentikan kalian berdua!" Indo datang secara tiba-tiba menghentikan perdebatan. "Hah kau lagi Indo." Ucap Israel yang mulai agak malas berdebat.
Israel hendak pergi meninggal Indo dan Pales, namun Indo memegang tangannya. "Jangan kau sekali-kali lagi mengganggu Pales."
"Terserah ku lah. Kau tidak usah ikut campur." Israel menarik paksa tangannya yang tadi di tahan Indo. Israel pergi dari sana.
"Pales...kau tidak apa-apa."
"Iya, aku tidak apa-apa. Bagaimana kau dapat tau bahwa aku ada disini?" Indo pun menjawab, "Aku tidak sengaja mendengar perdebatan tadi."
__ADS_1
Indo lalu mengajak Pales untuk pergi dari sana, karena sebentar lagi waktu istirahat akan usai. Pales mengangguk dan menuruti perkataan Indo.