
Capek..." Keluh Timor saat berada di dalam mobil. "Iya capek...tapi capek kita tidak sia-sia karena berbuah hasil pemandangan yang indah." Timpal Indo yang sama lelahnya.
"Oh ya, BTW kalian besok ke Lombok ya? Padahal aku berharap kalian dapat menginap lebih lama disini." Bali sedikit sedih, apa mungkin kesepian.
Indo dan Timor langsung memeluk Bali. "Bali jangan sedih, kami akan main kesini kok nanti. Atau nggak kita bisa telpon atau VC kan." Ujar Timor masih sambil menghibur Bali.
Indo dan Timor meleraikan pelukan. "Kenapa tiba-tiba aku jadi mikirin keadaan Komo ya. Rus bisa nggak ya ngurusinnya?"
Di Kediaman Eropa
"Kak Rus, hewannya kak Indo lucu ya." Puji Belarus masih sambil melihat Komo. "Lucu sih lucu, tapi agak bahaya juga." Timpal Ukraine.
"Tapi pas aku gendong berat." Keluh Kazakhstan. "Lagian...masa gendong hewan kek gini aja nggak kuat." Ejek Ukraine.
"Sudah...sudah, jangan bertengkar." Russia berusaha melerai kedua adik laki-lakinya yang hampir bertengkar.
Germany sedang asik berjalan sambil membaca bukunya. "West!" Panggilan seseorang.
Germany mengenal suara itu. "East!" Teriak Germany sambil berlari ke arah kembarannya.
"Bagaimana keadaanmu disini?" Tanya East Germany. "Aku baik-baik saja kok." Jawab West Germany.
"Kalau Reuni jangan di depan pintu woy. Orang kagak bisa lewat nanti." Ucap Sweden.
"Eh...i-iya maaf..." East dan West segera menyingkir. "Makasih." Sweden langsung kembali berjalan.
East melihat benda yang di pegang kembarannya. "West, kamu baca buku mulu. Bisa nggak sih sehari aja kagak baca buku. Ingat loh, matamu sudah minus 4."
"Tapi aku nggak bisa sehari tidak memegang buku. Rasanya seperti ada yang kehilangan."
East langsung tersenyum smirk, "Oh ya kah? Lebih penting kehilangan buku atau kehilangan Poland?"
West Germany langsung blush. "A-apaan sih nanya kek gitu. Jangan ngada-ngada deh."
"Kalau suka bilang aja. Halalkan sekalian, dari pada keburu di ambil orang kan jadinya sia-sia perjuanganmu untuk mendapatkan Poland menjadi milikmu seutuhnya."
"Germany!" Panggil seorang negara perempuan. West Germany menoleh. Ternyata yang memanggilnya adalah Poland.
East sudah tau kalau West selalu salting kalau ketemu Poland. "Wah ternyata ada East~ Kapan kau datang?" Sapa Poland dengan raut wajah yang bahagia.
"Aku baru datang tadi kok." Jawab East. "Ger...temankan aku yuk. Sebentar aja...please..." Bujuk Poland sambil menunjukan cute face.
Germany langsung mimisan.
__ADS_1
"Eh...eh...kamu sakit? Kenapa nggak bilang. Aduh, aku jadi merepotkanmu deh." Ujar Poland kalang kabut.
"Nggak. Aku baik-baik saja kok. Aku hanya kedinginan." Germany beralasan. 'Boong bet sumpah. Dingin dari mana, orang tadi dia ngeblush -_-' Gumam East dalam hati.
Ok, kita kembali lagi ke Russia.
Setelah selesai memberi makan Komo, Russia memutuskan untuk pergi ke dapur. Saat berjalan ia tidak sengaja bertemu dengan Netherlands.
"Rus dengan baik-baik! Lebih baik kau menyerah saja. Kau tidak mungkin mendapatkan Indies." Seru Netherlands dengan serius.
"Kenapa kau sangat yakin, Neth. Aku dan Indoneziya sudah berteman sejak dulu. Buktinya saja ayahku Soviet membantu negaranya. Ayahmu jahat dan kau juga! Kau dan ayahmu ingin sekali mendapatkan hasil kekayaan dari negaranya." Jawab Russia tidak terima.
"Waktu itu aku terpaksa melakukan hal itu karena Ayahku sangat memaksaku untuk melakukannya." Elak Netherlands.
"Tapi kenapa kau mau?!"
"Sejahat-jahatnya diriku, aku juga pernah membebaskan Indies dan keluarga dari siksaan ayahku."
"Aku yakin. Kau dan North Korea tidak akan mendapatkan Indoneziya." Netherlands agak kesal dengan apa yang di katakan Russia.
"Indies pasti akan memilihku. Indies kan hanya menganggapmu teman saja."
"Bisa saja kan kalau ujung-ujungnya suka."
"Kau juga kali. Bisa saja Paman Nusantara tidak merestuinya walaupun keluargamu sudah berdamai dengan keluarganya."
Finland yang tidak sengaja mendengar keributan di salah satu ruangan langsung bergegas berlari. Semakin lama semakin jelas suaranya. Ia melihat Netherlands dan Russia yang sedang bertengkar.
"Woy sudah! Kalian nih, siang hari yang cerah nan indah ini kalian isi dengan keributan. Udahlah, udahan aja....baikan gitu." Ujar Finland yang tiba-tiba datang.
"Sudahlah! Aku pergi." Neth menyerah kali ini. "Urusan kita belum selesai, Russia."
Finland masih memandang Netherlands yang pergi menjauh. "Kenapa sih?" Tanya Finland kepada Russia.
"Nggak tau tuh. Oh ya lupa hari ini aku ada jadwal memasak." Kata Russia sambil menepuk jidatnya. Finland hanya dapat tersenyum melihat tingkah laku temannya yang baru sadar kalau ada pekerjaan yang lebih penting daripada bertengkar.
Russia segera bergegas pergi ke dapur. "Oh ya hari ini aku mau ngajak Estonia jalan-jalan ah." Ucap Finland dengan hati yang berbunga-bunga.
Kembali ke Indonesia.
"Rebahan is my life." Indonesia langsung menidurkan dirinya di atas kasurnya. "Aduh...badanku pegel semua." Keluh Vietnam. "Capek banget. Besok kita mau pergi ke Lombok lagi." Sahut Cambodia.
Mereka segera menyalakan AC dengan suhu paling dingin dan juga kipas angin dengan angin yang paling kencang.
__ADS_1
"Adem, Ok Lanjut tidur." Cambodia dan Vietnam juga berpikiran yang sama seperti Indo.
Tiba-tiba Handphone Indonesia berbunyi membuat Indonesia terbangun dari tidurnya.
"Assalamualaikum, maaf ini siapa ya?" Indo membuka percakapan dengan wajah lesu. "Wa'alaikumusalam, Ini aku--!" Belum selesai orang itu bicara, Indonesia langsung memotongnya.
"Oh jangan-jangan kamu paman yang mau nagih utang ke aku ya. Ih gimana sih. Kan utangku sudah lunas."
"What! Nagih utang? Ini aku lah, Lombok." Ujar orang itu lagi. "Lombok?! Eh maaf-maaf aku nggak fokus tadi." Indo tertawa garing.
"Iya nggak apa-apa. Besok kamu jadi datang kesini nggak?" Tanya Lombok ke pertanyaan utama. "Hum...jadi kok."
"Baiklah. Hati-hati di jalan ya besok. Aku akan menjemput kalian nanti. Dah ya, Assalamualaikum." Lombok mengakhiri percakapan. "Wa'alaikumusalam." Indo mematikan teleponnya.
Ia langsung lanjut tidur. "Kok aku nggak bisa tidur lagi ya." Indo lalu bangun kembali.
"Ya udah deh aku mending main ke kamarnya Malay." Indo membuka pintu kamarnya.
Tiba-tiba ada yang mengejutkannya. "Ddoorrr!"
"Astaghfirullah." Indo langsung terjatuh. "Aduh...kalian ngagetin tau." Omel Indo sambil memegang bokongnya.
"Ehehe...maaf kak Indo." Ujar Timor. "Indo maen yok. Bosen neh." Ajak Phil. "Iya maen yok." Rengek Malay.
Malay langsung menarik tangan Indo untuk pergi ke kamar mereka. Kamar mereka semua ada di lantai satu. "Ayo main ini. Kita main lempar-lemparan." Ujar Malay sambil mengambil sebuah bola.
"Ok aku oper ke Timor." Malay mengoper bolanya ke Timor. Timor lalu mengopernya ke Phil. "Indo tangkap ya." Phil melemparkan bolanya ke Indo.
Indo berusaha menangkapnya. Bolanya terlempar hingga sampai keluar kamar. Indo mengejar bola itu dan menangkapnya. "Aku dapat!" Seru Indo dengan senang.
Namun Indo tidak mengetahui resikonya sehingga ia terjatuh dari lantai satu. "Kak Indo!" Teriak Timor sambil berlari ke luar. "Eh Indo jatuh." Panik Malay dan Phil.
'Bodohnya aku. Kenapa aku tidak berhati-hati.'
Indo memejamkan matanya.
Tappp!
Seorang negara berhasil menyelamatkan Indo. 'Apakah aku sudah mati?' Gumam Indo sambil membuka matanya.
"Untung saja aku menangkapmu, Sweetie."
🥀
__ADS_1