Become A Shining Star

Become A Shining Star
Kegajean Yang HQQ


__ADS_3

100% Indo langsung salting. "Ko...Korut..." Ucapnya tergagap-gagap. "Ternyata badanmu ringan juga, ya." Kata N.K lagi.


"Indo!" Teriak Malay dan Phil. "Kak Indo nggak ada yang terluka kan?" Tanya Timor Khawatir.


"Aku...tidak ada yang terluka kok."


Kedua temannya dan adiknya langsung bernafas lega.


"Fyuhh...nasib baik takpe pon. Kalau tak...tak tau la apa yang kita kena buat lepas ni." Ucap Malay lagi.


"Haah, Nasib baik je Indo tak kena cedera." Sahut Phil. "Wah...best la. Bang Phil boleh cakap bahasa Bang Malay." Puji Timor.


"Ehek...Aku dapat cakap macam ni sebap korang terbiasa cakap macam tu..."


"Aku nggak ngerti apa yang dimaksud." Kata N.K yang dari tadi nyimak.


"Dah la tu, Indo! jom la kita sambung main. Tapi kali ni kena hati-hati tau." Pesan Malay. "Jom...jom, kita sambung main."


"Korut, apakah kamu mau ikut bermain bersama kami."


N.K segera menjawab, "Hm...aku tidak bisa ikut bermain bersama kalian. Aku harus bantu S.K membuat video. Kau tau kan dia itu suka buat film drama."


"Cuma kalian berdua aja?"


"Ya nggak sih. Singa dan Brunei juga akan ikut kali ini." Sambung N.K lagi.


Indo mengangguk mengerti.


"Aku pergi dulu ya. Sampai jumpa nanti. Jangan sampai jatuh lagi, ya."


"Eh...iya...iya." Indo masih melihat N.K yang sedang berlari dari kejauhan. Mereka syuting film di dekat penginapan. Kalau S.K itu biasa, setiap kali jalan-jalan pasti bawa peralatan syuting.


Indo lalu merentangkan sayapnya, supaya lebih cepat sampai di kamar Timor.


"Indo mana nih? Pasti dia keasyikan ngobrol." Phil sudah tidak sabar untuk main lagi.


"Tunggu aja dulu. Mungkin dia lagi nunggu lif." Jawab Malay. Mereka mulai menunggu.


"Loh?! Kok kamar kita jadi gelap. Apa mau hujan?"


"Padahal tadi cerah." Ujar Timor.


Tiba-tiba ada suara ketukan dari jendela kamar mereka. "Woy bukain woy. Di atas sini anginnya kencang banget!" Indo yang rupanya mengetuk kamar Malay, sehingga kamar Malay jadi gelap karena sayap Indo.


"Eh kejap." Malay berlari lalu membuka jendelanya lebar-lebar.


Indo mendaratkan dirinya di lantai. "Terima kasih, Malay."


Tiba-tiba telpon berdering. "Kak Indo, itu ada telpon." Timor menunjuk ke saku celananya Indo.


Indo mengangkat telponnya. "Hallo! Bisa saya bicara dengan Indonesia? Apakah benar ini nomornya?" Ucap seorang negara dari seberang sana.


"Ya Indonesia disini. Ini siapa ya?" Jawab Indo sambil bertanya. "Ini aku Australia."


"Ini Aussie (Australia). Azhekkk...nomor baru." Sorak Indo dengan girang. "Eh bisa nggak main ke benua ku. Bosen nih." Pinta Australia.


"Boleh aja. Boleh nggak aku ajak Timor, Malay dan Phil?


"Boleh. Kalau gitu aku juga akan ajak New Zealand (Selandia Baru), Mikronesia, Palau, dan Nugini."


Note: Mikronesia adalah negara kepulauan kecil. Waktu itu pemimpin mereka juga merupakan keturunan dari Indonesia. Sedangkan Palau, terletak antara Indonesia, Malaysia dan Philippines. Jika ingin lebih tau lebih lanjut, sebaiknya konfirmasi ke Mbah Google.


"Yey! Nugini ikut. Ok aku OTW. Tungguin ya." Indo menutup telponnya. "Gaes, ayo kita main ke benua sebelah. Australia ngajak main."


"Yes asik main ke Australia!" Sorak Malay, Phil dan Timor. Mereka segera bergegas pergi.


Pada saat itu, Bali tidak sengaja lewat di sana. "Bali, aku mau pergi ke Benua sebelah. Kau mau ikut?"


Bali menggeleng. "Maaf...sepertinya tidak. Banyak urusan yang harus aku kerjakan."


Indo mengangguk. "Baiklah...Semangat ya! Aku pergi dulu." Indo berlari menyusul adiknya dan kedua temannya.


Di Benua Australia.


"Hai Australia!" Sapa New Zealand dan Mikronesia yang baru sampai. "Hai juga New Zealand! Hai juga Mikronesia!" Jawab Australia sambil melambaikan tangan.


"Hai kalian bertiga!" Palau baru saja datang. "Hai Palau!" Sahut ketiga temannya.


"BTW, Indonesia belum datang?" Tanya New Zealand. "Belum. Dia tadi bilang akan mengajak adiknya dan juga MalPhil."

__ADS_1


Tidak berselang lama Indo dan yang lainnya pun datang. "Hai semua!" Sapa Malay sambil melambaikan tangan.


"Maaf lama dibuat menunggu." Ujar Indo. "Hai kalian berempat!"


"Eh ada Palau." Phil agak terkejut karena Palau ada di sana. "Wah Phil ternyata juga ikut." Sahut Palau ikut senang.


"Nugini, maaf ya. Aku belum bilang ke kamu kalau aku akan tinggal di ASEAN."


"Iya, tidak apa-apa kok."


"Ehem...ehem...Ok semuanya, Aku cuman pengen nanya. Kita mau main apa dan dimana?" Australia bertanya supaya dapat terinspirasi dari saran teman-temannya.


"Naik kapal!" Usul Philippines.


"Pergi ke museum!" Malaysia.


"Lihat-lihat satwa." Mikronesia.


"Pergi ke alun-alun." New Zealand.


"Traktirkan makanan!" Indonesia.


"Setuju kata Indo." Sahut Nugini.


"Timor mah ikut aja."


"Indo sama Nugini satu server 😐" Palau.


Australia mulai pusing. Padahal cuman nanya mau main kemana dan kenapa malah jawabannya pengen berwisata juga di traktirkan makanan?


"Teman-teman, aku cuman nanya kita mau main apa dan dimana kita harus mainπŸ˜…."


"Iya sekalian juga main." Jawab Indo.


Australia membuang nafas kasar. "Baiklah...kita main di rumahku aja..."


"Ha?!" Seru semuanya. "Kalau gini mah mending kagak usah nanya tadi." Ucap New Zealand sambil melipat tangannya.


πŸ₯€


Di rumahnya Jakarta.


Lagu lama ya tuan dari jakarta...


saya menyanyi ya tuan memang sengaja...


Jaka sedang asik menikmati malam dengan di temani kopi hangat dan singkong rebus.


"Malam-malam gini enaknya ngopi." Jaka menyeruput kopinya.


Mesat ngapung luhur jauh di awang-awang...


Meberkeun jangjangna bangun taya karingrang...


Sukuna ranggaos reujeung pamatukna ngeluk...


Ngapak mega bari hiberna tarik nyuruwuk...


Jaka menyadari kenapa tiba-tiba radio lagunya berubah menjadi lagunya Jabar. "Kok jadi lagunya Jabar." Jaka berdiri dari duduknya untuk mengatur radionya kembali.


"Astaghfirullah...bosen deh aku. kalian lagi...kalian lagi. Bisa nggak sih sehari aja nggak ngeliat kalian. Tapi udah nasib, kita tetanggaan T^T"


Rupanya ada trio Jawa di rumah Jaka. "Kamu kan udah tau kalau kita itu tetanggaan." Jawab Jateng.


Jaka kembali duduk di kursinya. 'Yah elah...pengen istirahat menikmati malam yang indah jadi ambyar karena mereka.' Ucap Jaka dengan sedikit kesal.


"Hai Jaka!" Sapa Banten dan Yogya. "Hai kalian berdua!" Jawab Jaka dengan ramah.


"Giliran mereka aja baik banget. Giliran kita bertiga aja boro-boro deh. " Gerutu Jatim sambil memakan singkong Jaka.


"Iya setuju tuh." Jawab Jateng dan Jabar.


"Hari ini bulannya bagus ya, bulan purnama yang besar dan banyak bintang." Ujar Yogya. "Iya, malam ini indah." Sahut Banten.


"Oh ya, aku punya singkong rebus. Kalian mau." Tawar Jaka. "Boleh, aku udah lama nggak makan singkong rebus." Jawab Yogya.


Jaka hendak mengambil singkong rebusnya, tapi ia tidak melihat satu pun singkong di piringnya.


"Singkong aku mana yak?" Jaka menoleh ke arah trio Jawa. "Alhamdulillah. Jaka makasih atuh singkongnya. Singkongnya teh enak pisan (Jaka terima kasih buat singkongnya. Singkongnya itu enak banget)." Ucap Jabar.

__ADS_1


"Iya makasih, Jaka." Ujar Jateng. "Lain kali bikin lagi, ya." Sahut Jatim.


"Q^Q" -Jakarta.


"Iya, sama-sama. Dah lah aku buat lagi aja." Jaka berjalan gontai ke dapur. Yogya dan Banten nggak ngerti apa yang telah terjadi.


Di rumahnya Riau.


"Riau, Main yuk!" Teriak Kepri (Kepulauan Riau).


"Maaf, aku tak nak pegi main." Jawab Riau singkat. "Beneran nggak mau pergi main?" Tanya Kepri memastikan.


"Betul." Kata Riau lagi. "Ya udah." Kepri langsung meninggalkan halaman rumah Riau.


"Tak tahu lah kenape...aku ingat semasa aku masih tinggal bersama ngan Malaysia. Masa tu aku masih lah dipanggil Johri (Johor Riau). Aku teringat Ayah Bonda...hiks..." Riau menatap foto yang ia pegang. Di foto itu terdapat dirinya dan kedua orang tuanya.


Kepri berlari ke arah teman-temannya. "Loh Kepri, Riau mana?" Tanya Sumsel. "Riau bilang, dia tidak mau pergi main." Jawab Kepri.


"Yah si Riau mager. Padahal hari ini seru, Kita mau main petasan." Keluh Sumut.


"Ya udah biarkan Riau saat ini. Ayo kita main!" Seru Lampung dengan semangat.


"Sekalian bikin jagung bakar juga." Seru KBB (Kepulauan Bangka Belitung). "Siap Bos! Ya udah, ayo kita buat apinya dulu, baru main." Lanjut Lampung.


"Buat apinya mending di rumah aku aja. Soalnya di rumah aku ada kayu-kayu. Jadi lebih gampang memindahkannya." Saran Jambi.


"Ya udah. Ayo kita ke rumahnya Jambi!" Mereka lalu pergi ke rumah Jambi.


Skip di rumah Jambi.


"Yey apinya udah jadi. Sekarang bakar jagungnya." Sumbar mengoleskan mentega ke jagung lalu membakarnya.


"Eh, eh...Aku luncurin sekarang ya petasannya." Kata Bengkulu dengan aba-aba siap.


"1..."


"2..."


"3..."


Bengkulu lalu meluncurkan petasannya. "Wah bagusnya. Lagi-lagi!" Kagum Aceh.


"Coba kita bujuk Riau lagi. Aku merasa tidak enak kalau kita merasa bahagia sedangkan dia kebosanan." Ujar Sumut.


"Iya, pasti Riau bosan juga." Sahut Sumbar. Tiba-tiba terlintas ide yang cemerlang di kepala Kepri.


"Aku tau bagaimana cara membujuk Riau lagi."


Riau masih ada di kamarnya. "Hiks...hiks...Riau rindu sangat ngan Ayah Bonda..."


"Kebakaran! Kebakaran! Cepetan ada kebakaran di rumah Jambi!" Teriak Kepri bersandiwara.


"Bentar aku lagi ambil air di ember." Ucap KBB sambil bawa air segelas.


Riau yang saat itu mendengar teriakan kebakaran, langsung bergegas keluar. "Bagaimana rumah Jambi boleh terbakar?" Panik Riau sambil berlari.


"Betul ker rumah Jambi terbakar?" Panik Riau ketika sudah sampai di rumah Jambi. Mereka semua menahan tawa.


"Hahaha..."


Riau kebingungan kenapa teman-temannya tiba-tiba tertawa. "Nggak lah, rumah aku nggak kebakar, kami cuma masang api doang buat bakar jagung." Ujar Jambi.


"Riau, ayo duduk sini. Kita makan jagung dan menonton petasan." Ajak Sumsel. "Eh? Kejap...Korang tengah buat ape?" Tanya Riau lagi.


"Oh cuma main-main aja, tapi seru loh. Udah ayo duduk sini." Ajak Sumut. Riau duduk di antara Sumut dan Sumsel.


"Nah, makan ini. Hati-hati masih panas." Jambi memberikan jagung bakar kepada Riau. "Terima kasih Jambi."


Kepri menyadari kenapa mata Riau merah. Ia pun bertanya, "Kenapa mata Riau merah? Riau menangis kah?"


Riau langsung mengelak, "Tidak lah...aku...nak pegi tido tadi, tapi tak jadi sebap Riau dengar rumah Jambi terbakar. Jadi Riau terus lari lah sampai kat sini."


"Tapi Kepri nggak percaya." Riau merasa gagal. "Udah lah nggak apa-apa. Nggak usah malu. Kepri juga udah tau kok tadi Riau nangis. Soalnya tadi Kepri dengar suara Riau agak serak." Lanjut Kepri lagi.


Riau tersenyum melihat tekannya yang satu ini.


"Teman-teman, lihat deh Bengkulu mau nyalahin petasan lagi." Teriak Aceh.


Bengkulu memasang api di ujung petasan dan meluncurkannya.

__ADS_1


"Wah yang ini lebih bagus!" Sorak KBB. "Wah betulah cantik~" Puji Riau yang perasaannya sudah berubah menjadi bahagia.


__ADS_2