
Keesokan harinya,
"Wow kita sekelas." Seru Indo sambil mengelilingi mejanya. Thailand menepuk jidatnya.
"Untung sabar." Ujar Malay. "Ah dahlah aku keluar dulu." Pamit Indo sambil keluar dari dalam kelasnya.
Ketika sedang asyik berlari, Indo tidak sengaja menabrak seorang negara yang tingginya kek tiang listrik eh bukan tiang SUTET.
"Indies...kau kah itu?" Tanya negara tersebut. Indo menaikan kepalanya melihat negara tersebut. "B...Belanda." Ucap Indo gugup. Indo segera menyiapkan bambu runcingnya.
"Indies...Tenanglah. aku tidak akan menyakitimu. Bisakah kamu memaafkan Ayahku VOC." Ucap Belanda mengiba.
Perlahan-lahan Indo mulai tersenyum. "Baiklah." Jawabnya. Belanda lalu membalas senyuman Indo.
"Hei jangan kau dekati Indoneziya, Netherlands." Seru seorang negara yang tidak lain adalah Russia si pencinta vodka.
Russia lalu mendekati Indonesia dan Netherlands. "Apa yang akan kau lakukan lagi ke Indoneziya?!" Kata Russia.
Tiba-tiba ada Iklan,
"Indo-chan! Aku rindu kau." Ujar Japan atau Jepang sambil berlari ke arah Indo.
"Eh Japan!" Sahut Indo senang. "Japan, berjanjilah ayah kamu tidak akan menyerang keluarga Indo kembali." Ucap Russia kembali.
"Hah menyerang keluarga Indo? Tentu saja tidak." Jawab Japan. "Tau nih nuduh bae jadi negara. Aku harap adik-adiknya jangan kek kakaknya ini." Sahut Netherlands.
"Apa katamu Neth?! Aku kan cuma mengkhawatirkan Indo." Kata Russia kembali. 'Siapa saja tolong aku? Aku di kelilingi para Harem.' Indo ingin sekali pergi dari keributan antar 3 negara ini.
"Indonesia..." Panggil seorang negara. "Kau ada di sini?"
Indo mengenal negara tersebut, "Palestina." Dengan cepat Palestina menarik tangan Indo untuk pergi dari sana. "Terima kasih, Pales." Pales hanya tersenyum kepada sahabatnya ini. Indo sudah banyak membantu Palestina, sehingga Palestina menganggap Indo sebagai saudaranya sendiri.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu, Pales? Apa Israel masih menyakitimu?" Kata Indo membuka pembicaraan. "Alhamdulillah, untuk saat ini tidak." Jawab Pales. "Syukurlah kalau begitu." Ujar Indo bernafas lega.
Saat mereka ingin beranjak pergi dari sana, Ada seorang negara yang berlari sangat cepat sekali sehingga membuat mereka berdua kaget.
"Astaghfirullah..." Jawab keduanya. "Cepat sekali larinya." Kata Indo sambil melihat negara yang telah berlari sangat cepat itu. Namun sayang ia sudah cukup jauh sehingga tidak jelas.
"Indo aku cuma ingin mengingatkan. Kau harus berhati-hati dengan satu negara ini saja." Pesan Palestina.
"Kepada Israel?" Tebak Indo. "Ah...itu juga. Tapi bukan itu maksudku." Pales berbicara sedikit pelan kepada Indo.
"Ada negara yang sangat dingin. Ia banyak di jauhi oleh beberapa negara bahkan ia selalu di ejek di sini. Kalau dia kesal, dia langsung menuklir siapa pun yang mengganggunya. Bahkan adiknya sendiri juga sangat takut kepadanya."
"Siapa nama negara itu?" Tanya Indo penasaran. "Nama negara itu---!" Kata-kata Palestina terpotong saat mendengar bunyi bel masuk.
"Sampai jumpa Pales, nanti kita bertemu lagi di kantin." Indo melambaikan tangannya kepada Pales. Pales pun membalas lambaian tangan Indo dan pergi ke kelasnya.
"Kira-kira siapa negara itu..." Ucap Indo yang masih penasaran. Indo langsung berlari ke kelas Asia tenggara.
"Indomie seleraku~" Ucap Indo yang ternyata membeli Indomie. "Indomie teross." Sahut Malay. "Biarin. Kamu Milo terus sampai-sampai Phil kemarin nggak di kasih." Lanjut Indo lagi.
Mata Indo tertuju pada meja yang di tempati oleh satu negara saja. Entah kenapa negara lain seperti tidak ingin di dekatnya. "Apa itu dia orangnya." Ucap Indo semakin penasaran.
"Phil, aku ingin ke sana sebentar." Izin Indo sambil beranjak dari tempat duduknya. "Eh Indo tunggu. Tapi nanti kamu..." Terlambat. Indo sudah berada di dekat negara itu.
Semua negara tertuju kepada Indo, bahkan ada juga yang berbisik-bisik. "Semoga Indo selamat." Doa Singapore.
"Indies, kenapa dia kesana?" Tanya Neth kepada diri sendiri. "Indoneziya..." Kata Russia tidak percaya.
"Hai! Kenapa kau sendirian? Siapa namamu?" Tanya Indo sambil mengulurkan tangannya. Negara tersebut menoleh ke arah Indo.
Indo langsung terkejut, "Korut?!"
__ADS_1
"Indo?!" Ucap negara itu kaget.
Haaaahh!!!
Tiba-tiba semuanya terdiam. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini, Korut." Ujar Indo sambil duduk di sebelah Korut.
"Iya, aku juga." Sahut Korut singkat. "Ih...Korut nyebelin." Indo membuang mukanya dari Korut.
"Apa yang telah terjadi? Kenapa mereka terlihat sudah mengenal satu sama lain?" Tanya Laos bertubi-tubi.
"Kakak semua tidak tau. Kak Indo dan Kak Korut pernah bertemu sebelumnya bahkan sampai berteman." Jawab Timor Leste.
"Jadi aku dapat saingan baru selain Neth." Ucap Russia sambil memutar bola matanya. "North Korea sekarang adalah sainganku." Kata Netherlands. "Sabar, ini ujian untukmu, Neth." Belgium mengatakannya kepada Neth.
Indonesia terlihat akrab dengan North Korea, sedangkan teman-temannya ada yang bengong, pingsan tapi sudah di urus oleh WHO, Ada yang langsung ngegibahin Indo, Ada yang merasa di saingi, dll.
"Oh ya Indo, bunga yang kau berikan padaku sudah sangat banyak di negaraku, apalagi di rumahku." Kata NK. Kimilsungia adalah bunga anggrek.
"Hyung ternyata bunga itu pemberian dari Indo?!" Seru SK atau Korsel yang tiba-tiba datang. "Hm...Ya begitulah..." Jawab NK.
"Itu terbalik namanya. Seharusnya laki-laki yang memberikan bunga untuk perempuan, bukan perempuan yang memberikan bunga untuk laki-laki." Kata China tidak setuju. Seketika beberapa negara langsung memberikan masukan negatif untuk NK.
Indo sudah tidak tahan melihat kesemua temannya menjatuhkan Korut terlalu dalam.
"Kalian semua jahaddd!" Teriak Indonesia tidak terima. "Kalian seharusnya menolongnya bukan tambah menjatuhkannya."
"Sejak kapan kau bisa dekat dengan negara seperti dua ini, Indo?" Ucap UK sedikit berteriak.
"Aku sudah mengenal NK sejak Pak Kim datang ke negaraku. Jadi NK juga temanku." Seru Indo lantang.
"Terserah kau lah Indo. Kalau kau di serang NK nanti jangan harap dapat meminta bantuan dari kami." Ujar USA. Teman-teman Indo di negara ASEAN termasuk yang bersangkutan dengan juga Indo merasa mereka ikut tersakiti.
__ADS_1
NK mengepalkan tangannya, "Kalau kau berani mencelakai Indo. Maka jangan harap kalian tidak mengenai nuklirku." Kata NK pelan.