
sepasang kaki perempuan dan laki-laki melangkah pelan keluar dari dalam pesawat yang baru saja mereka tumpangi untuk penerbangan dari Indonesia ke Yaman.
mereka melangkah dengan pelan, dengan tangan yang menarik koper masing-masing.
sosok gadis yang memakai jilbab dengan muka yang tertutup cadar, hanya meninggalkan matanya menatap ke arah depan dengan tatapan tajam.
memiliki bulu mata lentik, dan bola mata teduh memberikan kesan tersendiri untuk gadis tersebut apa lagi mata hitam legam itu di padukan dengan tatapan tajam membuat auranya semakin terlihat akan sosok yang tegas.
Kepala yang di tutupi dengan jilbab berwarna hitam dan cadar hitam, di padukan dengan gamis berwarna Dongker dengan sepatu berwarna putih, jangan lupakan tas ranselnya yang berukuran kecil. membuat gadis tersebut menjadi sorotan tak kala berjalan ringan di belakang sosok laki-laki dengan kepala menunduk.
Tak kalah jauh akan sosok laki-laki di hadapannya, laki-laki tersebut terlihat sangat tampan dengan lesung pipinya tak kala iya membalas senyuman dari beberapa orang yang di lihatnya.
Kepala yang tertutupi peci berwarna putih dengan baju berwarna hitam juga sarung nya berwarna Dongker dan sepatu nya berwarna putih di padukan dengan sorban yang tergantung di samping bahu membuat semua orang mengira jika mereka adalah sepasang suami istri, apa lagi di saat melihat aura keduanya sangat lah tegas dan anggun membuat sebagian orang memilih bertegur sapa.
"assalamualaikum, Gus!!! Ning."
^^^"wa'alaikum salam."^^^
"mari, Ning leore satu mobil dengan ustazah Halimah dan ustazah Nurul."ucap laki-laki tersebut sopan membuat leore mengangguk Tampa mengangkat kepalanya.
"mari Gus."ucap laki-laki tersebut menatap ke arah Gus Azam sopan.
"terimakasih Wahyu."ucap Gus Azam masuk kedalam mobil yang di angguki oleh anak santri laki-laki yang bernama Wahyu setelah membalas dengan kata sama-sama.
______________
Beberapa hari setelah kematian yoga, polisi mengatakan jika tidak ada hubungannya dengan kasus pembunuhan hal ini terjadi akibat korban mengkonsumsi obat terlarang dan Tampa sengaja mengkonsumsi dengan menghisap nikotin membuat gangguan di dalam organ tubuhnya.
dan polisi mengatakan jika percikan api mengenai sisa minuman alkohol milik si korban yang mengakibatkan terjadinya api.
Cukup tidak masuk akal untuk orang-orang yang berfikir lebih dari sana, namun kasus tetap lah kasus, jika sudah di tutup tidak akan ada kata di buka kembali terkecuali atas izin yang bersangkutan.
di tutup nya kasus bukan berarti di SMA Cakrawala tidak membuka kembali kasus tersebut, seperti hal-hal bisanya anak murid SMA Cakrawala akan mengadakan rapat atau lebih di kenal unjuk rasa dalam sidang. Di mana di sini mereka akan berperan sebagai penggugat, menggugat, penuntut, pelaku/korban dan pengacara berserta saksi. Hal ini di lakukan dengan beralasan tidak ada seorangpun yang patut diremehkan sebuah tugas, jika bisa mendapatkan kebenaran dari kasus ini maka akan menguntungkan mendapatkan nilai dengan lulus Tampa ujian satu semester atau masuk ke tahap berikutnya (naik kelas.)Tampa seleksi.
Saat ini di atas roftoop anggota Tiger tengah bersantai menunggu jam masuk di mulai, Arkarna sedari tadi diam sambil duduk di atas pembatas tembok dengan mata menatap datar ke arah lapangan. tanpa memperdulikan keributan yang di lakukan para sahabatnya.
"Dev, apa hukumnya ketiduran sambil berak." tanya bintang menatap ke arah Devan yang kini menatap ke arah nya cengkok.
" ini ada yang bawa pisau gak?? Pengen gue cincang otak nya."kesal Devan membuat Aldi tertawa.
"Dev, kenapa ya kalo tidur gue selalu mimpi buruk?? Padahal gue udah baca doa."
"Lo baca doa makan kali."
"bukan, gue baca doa yang berbunyi gini.. Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa'alaa rizqika afthortu birahmatika yaa arhamar-roohimiina."
__ADS_1
"itu doa buka puasa bodoh." pekik Devan frustasi membuat Aldi tertawa ngakak, Revan yang melihat itu terkekeh kecil.
"Dev,."
"apa lagi anjeng, apa??." ucap Devan ngegas membuat Aldi tertawa ngakak sampai-sampai jatuh.
"ya elahhh,, gue mau nanya.. Kalo kita sholat kan harus ikut imam tuh, nah kalo imam nya kentut kita ikut kentut dong."
"astaghfirullah ya Allah, dari tadi gue dah sabar ya bin, jangan sampai kepala Lo gue lempar ke pohon kurma."kesal Devan yang kini berdiri sambil menghentakkan kakinya karena kesal membuat Aldi tertawa terbahak-bahak dengan air mata yang keluar.
"hehe,, belum juga Lo berhadapan dengan Aldi."ucap Revan tertawa kecil karena terbawa suasana.
"bisa mati gue."ucap Devan membuat Revan menepuk punggung nya prihatin.
Arkarna yang sedari tadi diam mendengarkan kerondoman anggota nya menatap mereka dengan menggeleng, iya menatap ke arah bawa di mana sudah ada berjejer siswa dan siswi yang kini ngumpul di lapangan sambil menunggu jam masuk di mulai.
" siapa yang ikut sidang."ucap Arkarna tiba-tiba membuat inti tegar menatap ke arah nya.
" kelic sebagai tersangka, lentera sebagai saksi dan lina sebagai penggugat." ucap Devan membuat Aldi menatap ke arah nya.
"lah maksudnya tuh cewek penggugat korban atau pelaku."ucap Aldi menatap devan bingung.
"penggugat pelaku dan membela korban, karena dia ada bukti jika kasus ini pembunuhan."ucap Devan membuat mereka semua terdiam.
"kenapa dia turun tangan, ada yang gak beres sama mereka."ucap Aldi membuat Revan mengangguk.
"dan di sini yang semakin membuat gue penasaran soal cewek semalam, Lo pada ingat cewek berhijab itu."ucap Devan.
"dia mencalonkan sebagai saksi atas pembelaan korban."ucap Devan membuat Arkarna menatap ke arah mereka intens.
"sekolahan ini tidak bisa di tebak, semua murid seakan-akan tertutup dan tersembunyi."ucap bintang.
"dan gue baru tau jika ada cewek berhijab di sini."lanjut Aldi membuat mereka terdiam memikirkan hal yang sama.
"tentang tuh cewek, udah Lo cari tau."ucap Revan.
"baku, gue gak nemuin apapun?? Seolah-olah identitas nya sengaja di tutupin pihak kepala sekolah."lanjut devan.
"banyak yang aneh sama ni sekolah."ucap Devan membuat seseorang di antaranya tersenyum tipis.
"Lo pada ada liat satria sama si Allen."ucap Aldi menatap ke arah mereka satu persatu.
"telat lagi mungkin."ucap bintang.
"gue makin penasaran sama mereka berdua, mereka gak sesederhana yang kita pikirkan."ucap Aldi membuat bintang mengangguk.
__ADS_1
"dan intinya, tidak ada yang dapat Lo percaya di tempat ini karena bisa aja teman adalah musuh" ucap Devan membuat bintang dan aldi terdiam.
Arkarna yang melihat itu hanya menatap mereka datar, iya terdiam dengan pikiran yang sudah bercabang-cabang.
"gak semudah yang Lo pikir kan Ar."ucap Revan membuat Arkarna menatap ke arahnya.
"kita harus terjun ke permainan guna sampai ke garis finis."lanjut nya.
"dan di sini kita cukup bermain buat sampai ke target." Arkarna yang mendengar itu menghela nafas panjang, iya menatap ke arah bangunan pencakar langit dan Kemudian memejamkan matanya menikmati hembusan angin.
"permainan."batin Arkarna mengepalkan tangannya kuat.
________
Di gedung yang sama namun roftoop yang berbeda saat ini satria dan Allen bersama Lina sedang berada di atas gedung tersebut menatap ke hamparan hutan di hadapan mereka.
Sudah 15 menit berlalu tidak ada percakapan di antara mereka, Lina yang kebetulan sudah merasa bosen menatap ke arah satria dan Allen yang kini cukup berbeda.
" Lo kenapa Len, tumben pake masker."ucap Lina memulai pembicaraan terlebih dahulu karena memang iya tidak menyukai kesunyian.
Allen menatap ke arah Lina datar dan kembali menatap ke arah hamparan pohon di depan nya.
"tenggorokan Allen sakit gara-gara ngomong panjang kemaren."ucap satria dengan suara sedikit basss membuat Lina menatap mereka cengkok.
"cuma gara-gara ngomong kemarin."ucap Lina memperjelas yang di angguki oleh Satria.
"lah terus, Lo kenapa ikut-ikutan pake masker?? dan lagian ya, kan yang bermasalah sama suara Lo Len ko malah pake Masker."tanya Lina beruntun membuat Allen dan satria mengepalkan tangannya samar.
"Lo gak denger suara gue gini, gara-gara batuk malam tadi ni!!! makanya gue pake masker ketimbang nular. mau Lo kena virus Corona."ucap satria membuat Lina menatap nya dengan memutar bola matanya jengah.
"aneh Lo berdua, semua yang Lo katakan gak masuk akal."ucap Lina menatap ke arah lain membuat Allen menatap ke arah satria datar, satria yang melihat itu Menghela nafas sambil mengangkat bahu acuh.
Tap..tap..tap...
"di sini rupanya." Allen, satria dan Lina kompak menatap ke arah asal suara di sana mereka dapat melihat sosok gadis dengan sorot mata tajam, mengenakan jilbab putih dan jangan lupakan cadar putih tersebut yang kini sudah terpasang rapi di wajah gadis tersebut.
Angin yang kencang membuat cadar berserta jilbab gadis tersebut terbang mengikuti kemana angin, dan di sini mereka bertiga dapat melihat di balik cadar itu masih terselip masker berwarna putih membuat mereka terdiam menatap gadis di depannya.
"cari siapa."ucap Lina.
"sidang bakal di mulai."ucap nya yang langsung berlalu pergi meninggalkan keterdiaman Allen, satria dan Lina.
"cuek banget tuh orang, gue baru tau ada mahasiswi seperti dia di sekolah ini."lanjut Lina menatap ke arah Allen dan satria yang menatap nya dengan diam.
"CK, kalian berdua kenapa sih, aneh banget tau gak?? Kaya bukan orang yang gue kenal.bodo ahhh,, gue mau ke bawah dulu!! Lo pada harus liat Pokoknya."ucap nya yang langsung pergi meninggalkan Allen dan satria yang kini saling tatap.
__ADS_1