Behind The Secret

Behind The Secret
bagaimana bisa.


__ADS_3

di dalam aula yang dapat menampung kurang lebihnya 5000 orang tersebut kini sudah penuh akan murid-murid SMA Cakrawala.


Mereka saat ini tengah menunggu terlaksana nya aksi unjuk rasa dalam bentuk sidang, dengan mengorbankan nilai-nilai di bidang akademik atau non akademik yang mereka miliki. Intinya mau penggugat atau menggugat jika di salah satu nya kalah maka pihak kalah akan kehilangan nilai-nilai mereka.


Di atas aula kini sudah terdapat beberapa staf guru dan wakil kepala sekolah, berserta anak murid yang akan mengikuti sidang hari ini.


semua murid yang manjadi penonton kini sudah duduk di kursi yang emang sudah di sediakan di dalam aula tersebut.


Arkarna berserta anggota Tiger duduk di barisan paling depan sebelah kanan guna melihat aksi sidang hari ini.


Mata tajam milik Arkarna menyapu setiap inci ruangan, sampai di mana matanya Terhenti di salah satu deretan kursi yang kini di duduki oleh dua orang membuat Arkarna menatap nya memicing.


"cari tau tentang mereka."ucap Arkarna datar membuat Devan di samping nya menoleh.


"siapa."ucap Devan menatap ke arah Revan yang kini juga menatap ke arah Arkarna.


"jarum jam 9 masker hitam."ucap Arkarna yang kini memilih bangkit.


"mau kemana."ucap bintang ketika melihat Arkarna berjalan ke arah luar.


"toilet."


Devan dan Revan menatap intens ke arah dua orang bermasker tersebut, sampai di mana mereka saling tatap tak kala melihat salah satu dari orang itu keluar dari aula.


" gue sama Aldi bakal urus, Lo di sini sama bintang."ucap Revan mendapat anggukan dari Devan.


_____________


Toilet.


Langkah kaki Arkarna terayun pelan di dalam lorong masuk toilet, bola matanya yang tajam menatap ke arah sekitar yang terlihat sepi.


Sampai di mana langkah kaki Arkarna terhenti di salah satu lorong toilet perempuan, ketika telinga nya mendengar sesuatu membuat Arkarna menatap lorong tersebut dengan tatapan datar.


Arkarna melangkahkan kakinya pelan, masuk ke dalam lorong toilet perempuan dengan tangan terkepal. tak kala mendengar suara itu, membuat rahang nya mengeras.


"kenapa kamu ubah rencana ini. ini terlalu ceroboh?? Leore"ucap suara perempuan.


^^^"ini yang ku inginkan."^^^


" dengan hal ini, maka semua nya bakal berantakan!!! Rencana mereka dan rencana kita bakal saling bertabrakan."


^^^"dengan begini, semua pion bakal waspada."^^^


"leore, apa rencana kamu sebenarnya. Ini di luar strategi."


Brakkkkkkk..

__ADS_1


Syutttt.. Tap. Tap. Brakkkk.


syuttt,, hwesssss..


Arghhhh...


_____________


Brakkkkkkk.


"apa yang kalian lakukan bodoh."


Brakkkkkkk..


Arkarna menatap tajam ke arah satu laki-laki dan perempuan di hadapannya, iya mengambil seragam mereka dan melemparkannya ke arah perempuan tersebut.


"CK, gak usah bikin maksiat di sini goblk."pekik Arkarna murka.


"dan Lo, CK. Mau-maunya Lo di jadiin babu sama dia."ucap Arkarna menatap sini ke arah lentera yang kini hanya meringkuk di balik seragam nya.


Arkarna menatap nanar dua mahluk tersebut, di saat sekolahan melakukan unjuk rasa dalam bentuk sidang, dan lentera sebagai saksi. Saat ini gadis tersebut malah melakukan hal tidak senonoh dengan firman selaku pembela.


"gue bisa jelasin."ucap firman menatap ke arah Arkarna.


"jelasin soal ini ke pihak sekolah atau gue yang bakal bongkar semuanya."lanjut Arkarna yang langsung berlalu pergi.


" tanggung jawab apa yang Lo perbuat. Dan lihat seperti apa Lo memenangkan sidang ini."ucap Arkarna yang langsung berlalu pergi dengan menutup pintu kasar.


"CK, sial."Gumam firman, kini tatapan firman beralih ke arah lentera yang kini tengah memakai pakaiannya.


"gara-gara Lo, rencana gue berantakan."bentak firman membuat lentera menatap nya terkejut.


"maksud kamu apa."ucap lentera membuat firman berdecih.


"Lo selesaikan semua sendiri gue gak mau ikut campur, dan jangan cari gue."tekan firman membuat lentera menatap nya terkejut.


"apa-apaan kamu kak, kamu udah janji bakal bantu aku setelah aku kasih semuanya ke kamu."ucap lentera tak terima.


"heh, salah Lo sendiri yang terlalu mudah di manfaatin."ucap firman dan langsung pergi membuat lentera terdiam.


Di sisi yang berbeda Revan dan Aldi kompak menggerang tak kala mata mereka terkena lemparan debu membuat mereka segera menutup mata.


Revan membuka sedikit matanya untuk melihat dua orang yang sedari tadi di awasi nya. Revan mengangkat alis nya sebelah tak kala matanya melihat jika sosok cewek bermasker tadi menemui sosok gadis berhijab membuat nya terdiam dengan isi kepala memikirkan sesuatu.


"apa dia leore."batin Revan mendekat ke arah jendela.


"CK, sial... Siapa mereka."ucap Aldi kesal menatap ke arah bawah jendela.

__ADS_1


"gilaaa,,, Lo yakin mereka lompat dari sini."ucap Aldi membuat Revan menatap ke arahnya.


"ini gedung lantai tiga kalo keseimbangan gak mereka kuasai, gue rasa mati."lanjut Aldi.


"apa Allen ada hubungannya dengan leore."ucap Aldi membuat Revan terdiam seolah-olah berfikir.


"Lo percaya cewek bermasker tadi Allen, dan Leore adalah orang yang di temui nya tadi."ucap Revan membuat Aldi terdiam.


"jika bukan, lalu di mana dia,?? Kenapa dia menyebut nama leore, Lo sempat liat ciri-ciri Leore tadi."ucap Aldi beruntun membuat Revan menatap nya intens.


" selain karena berkas paketan kemaren, apa yang Lo tau tentang leore."ucap Revan datar.


"Aldi, jangan pernah menjadi api di tengah-tengah air yang kecil."tekan Revan membuat Aldi tersikap.


"gue penasaran aja sama sosok leore."lanjut Aldi menatap ke arah lain membuat Revan menatap nya dengan tatapan berbeda.


"tujuan kita sama kan Rev , sama-sama bantu Arkarna. salah emang nya."ucap Aldi membuat Revan menghela nafas.


"Lo ke aula aja sekarang, gue mau ke suatu tempat."ucap Revan berlalu pergi membuat Aldi menatap nya dengan diam.


_______


"Emba, apa kita bakal ketahuan."ucap seseorang gadis menatap ke arah perempuan di samping nya.


"ketahuan itu adalah bentuk dari resiko, kita tetap menjalankan tugas karena itu tujuan kita."ucap nya.


"mulai sekarang berhati-hati lah, jika dia sudah kembali kau bisa bernafas lega."ucap gadis di sampingnya.


"kalo gitu aku bakal nyusul mas."ucap nya yang di angguki oleh gadis di sampingnya.


Sepeninggalan gadis tersebut, saat ini gadis yang mengenakan jilbab putih dan cadar putih tersebut menatap ke arah bangunan berlantai tiga dengan tatapan datar.


"bagaimana bisa."Gumam nya pelan menatap ke arah pepohonan di depan nya sambil menghela nafas.


Iya menatap tangan nya yang kini memerah, membuat gadis tersebut menarik lebih panjang manset tangan nya.


Iya membenarkan letak cadarnya yang sedikit miring dan membersihkan debu yang tersangkut di kain cadar nya.


"bismillahirrahmanirrahim." ucap gadis tersebut berbalik badan, memilih untuk kembali ke aula.


Ting..


Ting..


Gadis tersebut meraih ponselnya tak kala mendengar suara notifikasi tersebut, iya menyengit tak kala menerima pesan.


"gak perlu kesini, sidang di tunda."Gumam gadis tersebut membaca isi pesan.

__ADS_1


__ADS_2