
di belakang gedung sekolah SMA Cakrawala saat ini sudah ada tujuh orang yang saling menyerang satu sama lain lebih tepatnya satu lawan enam orang, di mana salah satunya adalah anggota geng Tiger berserta satria melawan sosok laki-laki yang tadi menyerang Arkarna.
Syutttt, tap, tap, bughhhh,,,,
bguhhhhh..
Satria melayangkan pukulan nya ke arah sosok itu, namun pukulan nya di tahan oleh sosok itu membuat satria menatap nya datar.
Satu kata yang bakal di ucapkan satria saat ini iyalah. 'kuat' iya akui lawan nya saat ini bukan lah lawan sembarangan, kekuatan nya setara dengan Allen membuat satria menggerang kesal.
Bughhh.. Akhhhh..
satria terpental menegang perut nya yang baru aja di tinju oleh sosok itu membuat satria meringis kesakitan menatap tajam sosok tersebut, Arkarna yang melihat itu maju menyerang bersama Devan dan Revan.
Syutt,,, tap, tap, brakkkkk....
Arghhhhh....
Dengan sekali serangan, Arkarna dapat melumpuhkan orang tersebut, membuat nya langsung menginjak tubuh orang itu dengan sengaja di tekan.
"siapa yang suruh Lo"ucap Arkarna menatap tajam ke arah sosok yang terbaring di bawah kaki nya.
Akhhhhh...
teriak orang itu, dikala tangan nya di injak oleh Devan.
"jawab aja, ketimbang Lo mati di tangan ketua Tiger." ucap Devan.
"JAWAB." bentak Arkarna.
"cih,,, lebih baik gue mati dari pada kasih tau Lo"ucap sosok tersebut membuat Arkarna tersenyum miring.
"ok, Lo yang minta"ucap Arkarna mengambil belati yang tadi hampir mengenai dirinya, membuat sosok tersebut menatap Arkarna terkejut.
"gue kasih kesempatan, kasih tau atau Lo benar-benar berakhir"ucap Arkarna yang kini sudah berjongkok menatap lawan di bawah nya.
" gue hitung, satu. Dua." ucap Arkarna menghitung.
"tig-."
Jlebbbb.....
anggota Tiger berserta satria menatap terkejut ke arah sosok tersebut yang kini sudah tak bernyawa dengan panah beracun yang tertancap sempurna di dadanya membuat mereka saling pandang.
__ADS_1
Arkarna menatap panah tersebut dengan intens iya menatap ke arah panah itu datang namun tak menemukan siapa-siapa membuat nya mengepalkan tangannya kuat.
"arghhh,,,, sial."marah Arkarna menatap tajam sosok itu.
"kita harus balik, Abi nunggu"gumam Revan pelan membuat Arkarna menatap nya datar.
Satria yang melihat hal tersebut bangkit dari duduknya iya mengangkat kepalanya menatap ke arah bangunan yang tak terlalu jauh dari tempat nya berada membuat nya tersenyum miring.
Kepalanya mendongak ke arah atas roftoop dan mengangguk ketika mendapati sinyal dari seseorang.
"yah,, udah selesai main nya padahal gue baru datang"ucap Lina membuat anggota Tiger menatap ke arahnya.
"ngapain Lo"cetus Devan menatap Lina dengan alis terangkat.
"ya ikut ngejar lah"ucap Lina menatap jengah Devan.
"perasaan Lo dari tadi ngejar, kenapa baru tiba." ucap bintang menatap Lina dengan memicing, membuat gadis tersebut menatap mereka gelagapan.
" wo,wo,wo.... Kalem bos kalem!! Ko pada curiga sama gue? Lo pada mah enak pake celana tinggal lompat liat gue tutul." gereget Lina menatap mereka jengah, bintang yang mendengar itu pun diam sambil mengangguk kan kepalanya tanda mengerti.
"ehhh,, Lo itu cewek ngapain pake ke sini segala? gak usah ikut berantem belajar masak aja Sono"ucap Aldi membuat Lina menatap nya mendelik.
"dan Lo itu cowok, belajar nyuci baju Sono"balas lina membuat bintang dan satria terkekeh.
"wahhhh,, nyolot Lo jadi cewek, nyuci itu tugas cewek ya"ucap Aldi mendekat sambil mengangkat lengan baju nya membuat Lina mengikuti apa yang di lakukan Aldi.
"busettt, dah nih cewek. Tahan gue Dev, tahan gue"ucap Aldi menegang tangan Devan minta di tahan membuat Devan memutar bola matanya jengah.
"Lo cowok diem, cewek selalu benar"ucap Devan membuat Aldi menatap ke arah nya jengkel.
"bela dia Lo." ucap Aldi mendramatisir keadaan membuat Devan menghela nafas.
"bukan teman gue udah, bukan"ucap nya pasrah.
"nah, bener tuh kata si Evan"ucap Lina membuat Devan menatap nya mendelik.
"gue Devan babu bukan Evan"ucap Devan yang entah kenapa kesal akan gadis di depannya.
Arkarna, Revan, dan satria sedari tadi hanya diam melihat pertengkaran tersebut tanpa ingin menjadi penengah.
"sinting, sejak kapan gue jadi babu Lo anjg"pekik Lina membuat Devan memejamkan matanya meresapi suara melengking tersebut.
"CK, berisik amat dah loh"kesal Devan menoyor kepala Lina dan setelahnya iya berlalu pergi membuat Lina menatap nya garang.
__ADS_1
"Lo ya -."
" udah lah issss, gemes gue pengen mati in Lo"kesal Lina menatap Devan dengan tangan yang siap untuk memukul orang.
Revan yang sedari tadi melihat tingkah Lina tersenyum tipis, jika boleh jujur Revan akan katakan jika Lina berbeda dari cewek lainnya.
Jika di bilang cerewet, maka Lina memang cerewet seperti cewek lainnya namun cerewet nya sangat berbeda, dengan cerewet cewek pada umumnya yang hanya mencari perhatian dan menggoda sedangkan Lina entahlah Revan sama sekali gak bisa mendeskripsi hal tersebut intinya dia berbeda.
"CK,, Lo di sini Allen mana."
Ucapan satria serontak membuat Lina kaget dan menatap ke arah belakang.
"lah, gue pikir dia juga ikut nyusul"ucap Lina bingung sendiri membuat satria menatap nya Menghela nafas sabar.
"haha, gue tau ini berat Lo sabar bro." ucap Aldi sok akrab membuat satria menatap nya dengan males.
"kita kenal."
jlebbbb....
Aldi menatap datar ke arah satria di kala kata-kata tajam tersebut tertancap sempurna di ulu hati nya membuat nya ingin membunuh bahkan bersembunyi dari sosok yang namanya satria.
"Lo cowok, ucapan Lo tajem juga"kekeh Aldi.
devan, bintang dan Lina menatap Aldi dengan tertawa berbeda dengan Revan dan Arkarna menatap satria dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Lo tau dari mana soal tadi." satria terdiam ketika mendengar suara dingin tersebut begitu juga dengan yang lain mantap Arkarna dan satria bergantian.
Satria menatap ke arah Arkarna yang juga menatap ke arah nya dengan tersenyum miring.
"insting, dan Lo tau tidak ada yang patut di percaya di dunia ini." ucap satria yang berlalu pergi sambil menarik tangan lina.
"siapa sebenarnya."batin Arkarna menatap satria dengan tatapan berbeda.
Arkarna dan Revan menatap kepergian satria dengan diam entah apa yang di pikirkan mereka saat ini Arkarna menatap ke arah anggota nya sambil mengangguk.
"kesana sekarang"ucap Revan menatap ke arah Arkarna.
"Lo bertiga jalanin, gue sama Revan ada urusan."ucap Arkarna menatap ke arah devan,Aldi dan bintang yang menatap nya mengangguk.
setelahnya mereka pun bertukar posisi, di mana Arkarna dan Revan pergi alias balik dan Devan, bintang juga Aldi membereskan kekacauan yang ada di sana terutama mayat laki-laki tersebut untuk di otopsi.
"CK, gue paling malas berurusan sama mayat." ucap Aldi kesal.
__ADS_1
"malas, tapi tugas Lo." ucap bintang membuat Aldi memutar bola matanya.
"cepat bawa, keburu ada orang." ucap Devan mengangkat mayat itu dan mereka pun membawa nya ke suatu tempat.