
Srekkkkk. Crotttt, crottttt.
di gelap nya malam, di tambah tempat yang sepi membuat seseorang dengan mudah untuk membunuh target nya.
Iya menatap ke arah belati di tangan nya yang kini sudah penuh akan darah, tatapan nya beralih ke arah tubuh laki-laki yang kini tubuh nya sudah terbelah menjadi dua bagian. hal itu membuat tiga orang yang tak jauh dari tempat tersebut kompak bergidik ngeri akan keberingasan orang tersebut.
"aduhhhh, sakit tu pasti"ucap sosok gadis bergidik ngeri ketika matanya melihat dengan jelas bagaimana caranya memutilasi tubuh manusia itu dengan tragis.
"gimana"ucap laki-laki mendekat ke arah sosok tersebut, yang masih terdiam di sana dengan tangan yang mengepal.
"bukan"ucap sosok itu membuat laki-laki itu mengangguk.
"ada yang lain"ucap laki-laki itu menatap ke arah sosok berjubah hitam.
"ini" laki-laki itu menatap ke arah kain yang di sodorkan oleh sosok berjubah hitam, tangan nya terulur meraih kain tersebut.
"bunga mawar"ucap sosok gadis mendekat ke arah laki-laki itu.
"leore." ucap laki-laki itu menatap ke arah sosok gadis di depannya.
Sosok gadis yang di panggil dengan nama leore itu, menatap ke arah kain tersebut dengan tangan terkepal kuat.
Flashback on.
sosok gadis berusia lima tahun terdiam di depan pintu dengan tatapan kosong dan jangan lupakan tubuh nya yang bergetar hebat karena ketakutan.
brukkk..
gadis tersebut terduduk di lantai dengan keadaan tubuh yang melemah, iya tak dapat berkata-kata lagi ketika matanya sudah terkunci dengan keadaan di depan nya di mana satu ruangan penuh akan Lautan darah.
Bibir nya bergetar seakan-akan ingin mengatakan sesuatu namun tak ada suara yang keluar membuat nya hanya bisa terdiam.
"mari ikut saya, balas kan dendam mereka" ucap seseorang membuat gadis tersebut menatap ke arah belakang nya dan mendapati sosok laki-laki paruh baya berserta sosok anak laki-laki yang seumuran dengan nya.
"kamu lihat ini"ucap nya sambil memperlihatkan kain yang berlogo mawar yang sudah di penuhi darah.
"ini satu-satunya cara supaya kamu tau siapa dalangnya"ucap laki-laki itu membuat gadis tersebut terdiam.
"kau dengar saya"ucap laki-laki itu yang entah kenapa menjadi kesal ketika gadis di depannya sama sekali tidak memberikan respon.
"saya tidak menerima balas budi" ucap gadis tersebut membuat laki-laki itu memejamkan matanya menahan sesuatu yang entah kenapa ingin sekali mencekik nya.
"dia sama persis seperti mu biji kuaci"Gumam laki-laki tersebut sambil menggenggam tangan anak nya kuat, membuat sang anak menatap ayahnya dengan meringis kecil.
Flashback off.
Ingatan akan tragedi 12 tahun lalu membuat gadis tersebut menatap nanar ke arah kain berlogo mawar tersebut, sudah lima tahun, lima tahun dia mencari keberadaan siapa sebenarnya pengendali logo mawar ini namun sampai sekarang iya sama sekali tak menemukan titik terang akan keberadaan orang tersebut, satu-satunya harapan nya adalah SMA Cakrawala, Karena hanya di sini tempat terakhir petunjuk yang iya temui, namun iya sama sekali tidak sadar jika di tempat ini penuh akan kemunafikan membuat semua orang tidak saling percaya satu sama lain karena bisa aja waktu kewaktu mereka menusuk dari belakang.
__ADS_1
"mereka bersangkutan"ucap laki-laki itu yang mendapat tatapan datar dari gadis yang bernama Leore.
"beresin"ucap Leore dan berlalu pergi meninggalkan tiga orang yang menatap nya sambil menghela nafas.
"cepat beresin"ucap laki-laki itu yang kini sudah beralih memunguti organ dalam laki-laki tersebut.
"eh, eh, bang. Mending jual aja dah nih organ"celetuk laki-laki berjubah hitam membuat laki-laki itu menatap ke arah nya dengan datar.
"gue timpuk Lo ya, kita gak sama seperti mereka"ucap laki-laki itu kesel membuat laki-laki berjubah hitam itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"CK, diem ah. Beresin cepat ngeri ini oyyy"pekik sosok gadis membuat mereka langsung membereskan mayat tersebut.
__________
Angin berhembus dingin di kala sore itu, awan yang terlihat mendung seakan-akan memberi pertanda bahwa sebentar lagi hujan akan turun.
Di SMA Cakrawala, jam pulang sekolah sudah berbunyi sekitar 15 menit lalu. Namun sebagian orang memilih untuk tetap tinggal guna menonton pertandingan basket yang di mainkan oleh most wanted nya SMA Cakrawala.
Terdengar teriak periuk memenuhi lapangan basket tersebut, membuat langkah tiga orang mengayun pelan sambil menatap ke arah sekitar.
"gue heran dah, mereka gak bosen apa ngidolain anggota Tiger"ucap satria menatap ke arah lapangan tersebut sambil menggeleng.
"CK, mata Lo katarak. Lo liat aja noh mereka ganteng nya no debat! Gue nih ya? Kalo di suruh milih gue bakal milih si Arkarna tuh liat aja wajah nya spek dewa dengan tatapan tajamnya, tapi sayang hati nya beku kek nih, samping gue"sindir Lina menatap males ke arah Allen.
Allen yang merasa di sindir hanya diam tak perduli, iya menatap ke arah depan dengan tatapan datar nya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Debukk.
"adohh,,, aaaa, Mami kepala gue sakit"ucap Lina ketika kepalanya terkena bola basket.
Lina menatap tajam ke arah bola tersebut dan meraihnya. "siapa sih anjg yang lempar nih bola, kalo gak bisa main ya udah gak usah main"maki Lina menatap tajam ke arah lapangan basket.
"sorry, gue gak sengaja." Lina menatap datar ke arah laki-laki di depan nya.
"Lo nya gak sengaja, gue nya yang sakit." marah Lina terhadap laki-laki itu.
"Lo mau nya apa"ucap laki-laki itu menatap datar Lina yang juga menatap ke arah nya.
"maaf, gue mau maaf"ucap Lina menantang, laki-laki itu yang tak lain adalah Revan menatap Lina dengan alis terangkat.
"salah kek nya teman Lo"ucap Aldi datang dan terkekeh menatap ke arah Lina, satria dan Allen.
Satria yang mendengar nya ikut terkekeh. "sorry bro nih anak emang rada-rada."ucap satria membuat Lina menatap nya melotot.
"apa"tantang satria.
"dia dah bilang maaf ya dodol, Lo mau nya apa lagi"gemes satria memelintir leher Lina.
__ADS_1
"aaaa, satria anjg. Lepasin gue gblok"pekik Lina sambil memukul punggung satria.
"CK, makanya kalo grogi bilang."ejek satria membuat Revan tersenyum tipis, Lina yang melihat itu mendelik.
"gue bakal maafin Lo asal-"ucap Lina menggantung kata-kata nya membuat orang sekitar menatap nya penasaran.
Allen yang melihat tingkah Lina menghela nafas, iya mengedarkan pandangannya dan Tampa sengaja matanya menatap ke arah manik mata tajam milik Arkarna yang juga tengah menatap ke arahnya.
Syutttt..
Mata Allen menyipit di kala sekelebat cahaya melewati lensa matanya membuat iya mengalihkan tatapannya ke arah lain akibat silau karena cahaya pantulan tersebut dan.
"angka 11, target jam 2." Gumam Allen pelan sehingga tidak ada yang mendengar nya kecuali satria yang memiliki pendengaran yang tajam.
Satria menatap ke arah Allen yang kini menatap ke arah jam 12, namun itu bukan lah yang membuat nya penasaran melainkan gumaman gadis tersebut.
Mata satria menatap ke arah angka 11, iya memancing kan matanya guna melihat sesuatu yang sangat jauh berada dari tempat nya sekarang.
"heh, itu mata makin tajam aja." Gumam satria yang kini menatap ke arah Arkarna dan bergantian ke arah Allen.
"cukup Lo, bisa"Gumam Allen yang di angguki satria dengan pelan.
"mata Lo cukup jeli untuk liat hal yang jauh, dan Lo akan tau arah tampa melihat dimana posisi mereka, jujur gue iri sama kemapuan Lo."ucap satria yang kini sudah melangkah kan kaki nya.
" gue mau Lo traktir kit-."
"tunda dulu, kejar mereka." ucap satria yang langsung berlari membuat Lina, Revan, Aldi dan bintang menatap ke arah nya bingung.
Syutttt,, tap.
AAAAAAAAAA.....
Lina menutup telinga nya di kala mendengar teriakkan beberapa siswi. Revan menatap ke arah Arkarna terkejut begitu pula dengan Aldi dan bintang.
"Ar, Lo gak papa"ucap bintang menatap ke arah Arkarna yang menatap datar ke arah belati yang sudah tertancap di sela jari-jarinya.
Devan yang melihat asal belati tersebut langsung berlari lain arah dengan satria.
"bacot, bantu kejar." pekik satria membuat inti geng Tiger menatap ke arah satria yang masih berusaha melewati siswa/i guna mengejar sosok berjubah hitam, dan juga Devan yang kini melintasi tembok samping perpustakaan.melihat hal itu membuat mereka bergerak mengejar menyisakan Arkarna yang masih terdiam meneliti belati di tangan nya.
"gue bunuh tu orang." ucap Aldi di sela larinya.
Arkarna menatap datar belati tersebut, iya mengalihkan tatapannya ke arah Allen dan Lina berada. di sana iya menatap Allen intens di kala gadis tersebut sudah bergerak mundur sedangkan Lina ikut mengejar.
Allen berbalik dan melangkah ringan di balik keriuhan anak SMA Cakrawala yang masih ada, iya menutup telinga nya dengan handset dan berjalan dengan tatapan datar.
"dia." Gumam Allen mengepalkan tangannya kuat di balik saku rok nya.
__ADS_1