
Suara burung berkicauan saling menyaut satu sama lain seperti sebuah nyanyian yang melantun indah. Seorang gadis menganyuh sepedanya dengan santai namun pasti.
Gadis dengan wajah imut dan manis itu mengayuh sepedanya membuat rambutnya mengayun indah terbawa oleh angin.
"Pagi Pak," sapanya saat sepedanya memasuki gerbang sekolah membuat Pak satpam tersenyum dan mengangguk.
Gadis berambut kecoklatan itu menarik rem sepedanya membuat sepedanya berhenti, dia turun dari atas sepedanya kemudian mendorong sepedanya untuk diparkiran di sebelah parkiran motor.
Disaat siswa-siswi membawa kendaraan bermotor atau bisa jadi mobil. Tapi, gadis ini hanya bisa membawa sepedanya, tidak ada yang membuatnya merasa iri dan dengki atau apalah, dia menyukai kehidupannya. Baginya bersepeda saat pergi dan pulang sekolah adalah kebahagiaan tersendiri dan dia juga bisa berolahraga membuat badan menjadi lebih segar.
Setelah memarkirkan sepedanya, gadis itu berjalan menuju koridor sekolah. Hari ini adalah hari masuk pertama setelah pembagian rapor untuk libur semester dua.
Joana Ceysa Orianthi atau yang kerap disapa Joa itu berjalan menuju auditorium tempat dimana para siswa-siswi berkumpul.
"Goa eh Joa." Merasa dipanggil Joa berbalik dan menghentikan langkahnya, dia mengerutkan keningnya saat melihat seorang gadis dan laki-laki berlari ke arahnya.
"Joa ... lo tuh punya kuping gak sih! hosh ... hosh." terdengar deru napas keduanya yang terpenggal-penggal karna mengejar Joa.
Joa hanya cengegesan. "Eh sorry, gue gak denger," ucapnya santai membuat kedua temannya itu mendengus sebal.
Fayyana, seorang gadis dengan perawakan tinggi sekitar 153 sentimeter, berkulit kuning langsat, dan berambut panjang. Bibirnya tipis dan tulang hidungnya sedikit tinggi. Tapi, sedikit melebar di bagian bawahnya.
Billy, laki-laki yang memiliki tinggi 167 sentimeter itu memiliki kulit sawo matang, dan rambutnya cepak. Mereka berdua adalah sahabat Joa sejak TK.
"Udah yuk kita ke ruang auditorium aja." Fay menarik tangan Joa dan Billy agar kedua sahabatnya itu cepat bergegas. Dia tidak ingin terlambat di hari pertama mereka masuk sekolah setelah libur panjang kemarin.
Di ruangan auditorium ternyata sudah banyak siswa-siswi dari kelas sepuluh sampai Kelas dua belas yang berbaris.
Joa dan kedua sahabatnya memilih duduk di tengah-tengah. Banyak sekali ciwi-ciwi yang hanya sibuk memperhatikan wajahnya yang katanya putih, glowing dan blablabla.
"Ini ngomong-ngomong bakal di rolling lagi gak sih kelasnya?" tanya Joa, dia sedikit takut jika kelas di rolling dan berpisah dengan kedua sahabatnya Fay dan Billy.
"Kalau misalnya di rolling terus kita gak sekelas. Ya udah yang penting kalau istirahat kita kantin bareng," ucap Billy membuat kedua gadis itu tersenyum dan mengangguk menyetujuinya.
__ADS_1
Seketika seisi auditorium terdiam membuat ketiganya pun ikut terdiam, mereka menengok ke arah fokus para siswa-siswi lainnya. Joa menajamkan penglihatannya dan mendesis pelan melihat alasan apa yang membuat auditorium ini menjadi hening.
Di sana ada dua orang laki-laki yang berjalan masuk ke dalam dengan wajah sombong dan mengulas senyum miring.
Irham Kellan Nicholas, laki-laki yang memiliki tinggi 175 sentimeter, berkulit putih bersih, hidung mancung, alis tebal, wajah bagaikan porselen yang memancarkan sinarnya sendiri.
Wajahnya ituh tuh macam kek oppa-oppa Korea gitu, putih dan glow-up. Masuk kejajaran orang-orang good looking.
"Gue yang sebagai cewek malu pas liat dia," ucap Joa dan diangguki oleh Fay.
"Dia sama gue cantik kan dia, gue seakan-akan gak tertandingi," lanjut Fay dan Joa mengangguk setuju atas ucapan Fay barusan.
Irham dan Rayyan memang di kenal sebagai laki-laki berwajah oppa Korea rasa Indonesia. Dengan memiliki tinggi di atas rata-rata dan kulit putih mulus membuat mereka semakin dipandang mirip saja. Bukan hanya itu bahkan mereka berdua pun sangat-sangat mirip dengan wajah orang Korea yang putih and glowing itu.
"Kalau mereka cewek sih paling gue udah naksir ya," ucap Billy membuat Joa dan Fay tertawa mendengarnya.
Banyak sekali murid perempuan yang memanggil-manggil nama Irham dan memuji wajah Irham yang sangat mirip dengan idol Korea.
Itu loh Joa pernah denger kalau si Irham ini katanya mirip sama idol Korea, itu siapa ya namanya dia itu anggotanya boygroup Korea yang udah lama debut itu tapi Joa tidak mengenal merek. Kalau gak salah namanya Mihun? Bukan-bukan ahh Bihun kah? Bukan juga ahhh ya Sehun. Nah iya Irham ini dituding mirip dengan Sehun bahkan katanya sih mirip banget. Tapi, Joa kayanya belum menemukan kemiripan di antara keduanya.
Irham dan Rayyan berhenti tepat di depan Joa bersama dengan teman-temannya. Irham memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya.
"Dih! sok kenal." Joa membalikkan badannya memunggungi Irham membuat laki-laki bertubuh tinggi itu semakin tersenyum miring saja.
Dia mengenal Joa sejak pertama masuk sekolah SMA. Baginya Joa ini adalah tipikal perempuan yang berbeda dari perempuan lainnya.
Disaat banyak perempuan yang bilang dia mirip dengan idol Korea. Tapi, cewek yang berdiri di hadapannya saat ini malah bilang dia seperti bencong yang cantik bahkan Joa mengaku kalah jauh dari Irham.
"Gak kangen sama gue? Kita gak ketemu hampir sebulan loh." mendengar itu Joa hanya melirik Irham sekilas.
Bagi Joa laki-laki yang berdiri di belakangnya ini adalah pembawa mood buruk paling ampuh, dari dulu dan sampai sekarang 'pun dirinya tidak mau menjalin hubungan pertemanan yang baik dengan Irham.
Bagi Joa laki-laki ini hanya 'lah seorang bencong berwajah cantik yang membuatnya geli saat menatapnya.
"Joa."
"Please deh gue tuh gak suka deket sama lo," ucap Joa tanpa menatap ke arah Irham.
__ADS_1
Billy, Fay dan Rayyan hanya diam, jika sudah begini mereka tidak ingin ikut campur di dalamnya.
"Si Joa sok jual mahal banget."
"Iya tuh sok cantik banget."
"Abang Irham sama aku aja jangan sama dia."
"Irham lope lope."
"Irham masa depan ku."
Dan bla bla bla yang membuat kuping Joa seketika mendidih dibuatnya. "Bawa tah, gue gak butuh dia," ucap Joa mendorong Irham kepada mereka yang tadi menjelekkan dirinya. Jika boleh tuh Joa sangat ingin menyumpal satu-satu mulut mereka yang bagaikan sambal terasi.
Tidak lama terdengar suara dari mikrofon, membuat seisi auditorium diam dan berbaris rapih. Mata Irham masih berfokus pada satu titik yaitu Joa yang berdiri di hadapannya saat ini.
"Joa."
"Diem lo banci!" Irham terdiam, entah kenapa hatinya selalu mencelos saat Joa memanggilnya dengan sebutan itu. Irham terdiam dia ikutan fokus dengan orang yang ada di atas panggung yang sedang memberikan pengumuman.
Jika kelas di rolling dia hanya minta satu, Irham hanya ingin satu kelas lagi dengan Joa. Irham sangat ingin duduk sebangku dengan gadis itu. Hanya itu keinginannya, semoga Tuhan mengabulkan keinginannya yang terdengar sangat lebay.
"Aku cinta kamu," bisik Irham tepat di belakang kuping Joa, dan gadis itu hanya mengangkat bahunya mencoba mengusir pengganggu. Irham terkekeh melihatnya dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya kemudian melirik Rayyan.
"Fokus dengerin?" tanya laki-laki itu membuat Rayyan tersadar dari lamunannya.
"Kagak," jawab Rayyan membuat Irham mendengus sebal dan memutar bola matanya malas.
"Sebelas dua belas," gumamnya pelan.
...Haii ... gimana nih untuk chapter satunya. Jangan lupa komentarnya ya....
...Terima kasih yang sudah mampir di cerita aku. Semoga tambah suka ya....
...See you next chapter....
__ADS_1
...Bye bye all....