Benci Atau Bucin

Benci Atau Bucin
B a B : Banci Kaleng Ngeselin


__ADS_3

Setelah kejadian yang membuat dada mereka berdebar-debar tadi, Joa dan Irham saling diam. Irham yang biasanya memperhatikan Joa mengalihkan perhatiannya, laki-laki itu fokus kepada bukunya sambil mencoret-coret sesuatu di atas kertas putih itu.


Joa sangat penasaran, dia ingin tau apa yang laki-laki banci itu tulis padahal sekarang sedang ada tugas yang di berikan. Tapi, sepertinya Irham tidak sedang menulis jawaban dari tugas ini, terlihat jelas dari gerak bolpoin yang laki-laki itu pegang, membuat Joa semakin penasaran apa yang sedang Irham tulis. Tapi, dia tidak mau kelihatan jika dirinya sedang penasaran sekarang.


"Aww." Joa kaget ketika dirinya yang sedang mengeluarkan pensil mekanik malah tertancap isi pensil yang sedikit tajam itu, membuat jarinya sedikit mengeluarkan darah segar.


"Lo gak papa? Mana yang sakit?" Joa terdiam saat Irham menarik tangannya dan mengelus jari telunjuknya yang tertancap isi pensil tadi. Meniupnya dengan pelan kemudian mengecupnya.


"Masih sakit?" Irham mendongak menatap Joa.


Gadis itu menggeleng dan menarik tangannya dari tangan Irham. "Udah, gak papa," jawab Joa membuat Irham menghela napasnya lega.


"Segitu khawatirnya kaleng waktu denger gue kesakitan?" - batin Joa bertanya-tanya.


"Mulai sekarang pake pensil kayu aja jangan pensil mekanik, bahaya." Irham mengambil pensil mekanik yang sudah berani-beraninya membuat jari pujaan hatinya terluka. Kemudian laki-laki itu menukarnya dengan pensil miliknya yang baru dia beli di koperasi saat jam istirahat.


"Udah, gak usah." Joa ingin mengambil pensil mekanik miliknya, dia tidak terbiasa menulis dengan pensil kayu.


Irham menatap tajam Joa membuat gadis itu terdiam. "Nurut sama calon suami." Joa mengerutkan dahinya, apa tadi? Calon suami? Kayaknya otak Irham memang sudah parah sekali.


"Ihhh apaan sih lo, balikin gak!" Joa mencoba mengambil kembali pensilnya, tapi, Irham memegang kedua tangan Joa, membuat gadis itu meronta minta dilepaskan.


"Sekali aja turutin perintah gue, Joa." Joa terdiam dan menatap tajam Irham, sedangkan laki-laki itu menatapnya dengan tatapan yang menandakan laki-laki itu sayang padanya. "Gue udah sering liat lo ketusuk isi pensil dari kelas sepuluh, dan gue gak mau tangan lo sampe berdarah. Lagi," ucap Irham kemudian melepaskan tangan Joa dari tangannya.


Joa mendengus sebal dan menurut, dia mengambil pensil kayu yang tadi Irham taruh di atas meja. Pensil yang sudah di raut.


Irham yang melihat itu tersenyum, ingin rasanya dia mengelus rambut Joa dengan lembut. Tapi, dia sadar pasti gadis tomboy itu tidak menyukai akan hal berbau menggelikan seperti itu.


Saat ingin menulis dia tersadar, Irham mendengus sebal, dia kan tidak bisa menggunakan pensil mekanik dengan isinya yang kecil begini. Irham berdiri dan berjalan menuju salah satu bangku teman kelasnya.

__ADS_1


Joa yang merasakan jika Irham berdiri langsung memperhatikan laki-laki itu yang sedang meminta bertukar pensil dengan Liora teman satu kelas mereka. Tanpa sadar bibir Joa tersenyum tipis, bahkan Irham sampai rela mencari pensil kayu dan pensil kayu miliknya dia berikan kepada Joa.


Jam pelajaran memang kosong dikarnakan gurunya sedang rapat. Tapi, mereka mendapat tugas yang harus dikumpulkan selesai jam pelajaran selesai.


Ketika mengerjakan tugas seperti ini Joa memang jarang membaur dengan teman-temannya, dia akan mengerjakannya dengan sebisa mungkin. Jika waktunya mepet dia akan meminjam jawaban Fay atau Billy untuk dia salin.


Irham kembali duduk di bangkunya, sebelum mengerjakan tugas dari guru. Dia menatap Joa yang sedang membaca materi untuk menemukan jawaban, bibirnya tersenyum dan dia juga ikut mengerjakan tugasnya.


Irham ini di kenal dengan pemalas, kerjaannya itu tidur di dalam kelas. Jika tidak tidur ya gangguin murid di dalam kelas. Dulu kedua orang Irham sempat di panggil ke sekolah karena kelakuan anak mereka yang sering menganggu siswa-siswi lainnya yang sedang mengerjakan tugas. Bukannya tobat laki-laki kembaran Sehun itu malah menjadi, dia tidak pernah mengerjakan tugas, materi dari guru tak pernah dia catat, dan dia selalu tidur di dalam kelas membuat guru-guru sudah angkat tangan atas sikap laki-laki itu.


Makanya jangan heran jika kemarin Irham tidur sedangkan guru di depan menjelaskan pelajaran, dan itu 'lah alasannya kenapa sang wali kelas menempatkan Joa duduk sebangku dengan Irham dipojokan.


Karna Joa adalah satu-satunya murid perempuan yang Irham gilai dan laki-laki itu pasti nurut apa yang Joa katakan. Bukan hanya itu, karna sikap Joa yang judes dan galak membuat Irham tidak bisa menjaili teman satu kelasnya, yang akan bisa melunturkan konsentrasi dari teman-temannya yang dia jailin.


Tapi, di balik sikap badung dan bengal yang Irham miliki, laki-laki itu adalah murid terpintar di sekolah. Bahkan waktu kelas sepuluh Irham pernah ikut olimpiade bersama dengan Kakak kelas dua belas, dan berkat Irham sekolah mereka memenangkan piala olimpiade itu.


Meskipun malas nyatet dan mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi, Irham masih bisa menjawab soal ulangan dengan benar. Joa sampai heran dengan kemampuan otak Irham yang melewati batas kepintaran orang-orang. Berapa sih IQ yang Irham miliki?


"Kaleng."


Irham menengok ke arah Joa, tumben sekali gadis itu memanggilnya. Irham tersenyum manis ke arah gadis pujaannya itu.


"Apa sayang?" Joa seketika bergidik ngeri mendengar panggilan dari Irham untuk dirinya.


"Sayang pala lo! Gue pinjem rautan," ucap Joa dan membuka telapak tangannya meminta barang yang dia inginkan.


"Gue gak punya, itu tadi pinjem Latifah terus diserutin sama dia," jawab Irham dan kembali menulis jawaban di buku tulisnya membuat Joa melongo.


Dasar banci kaleng yang suka tebar pesona. Joa berdiri dan berjalan menuju meja Latifah untuk meminjam rautan. Setelah selesai gadis itu kembali ke tempat duduknya.

__ADS_1


Keningnya mengkerut saat jawaban yang belum dia tulis sudah berdiri di atas kertas putih itu, ini tulisan siapa? Kenapa mirip sekali dengan tulisannya? Joa menengok ke arah samping yang dimana Irham sedang memakai earphone sambil memainkan gawainya.


Kata orang-orang tulisan Joa dan Irham itu sebelas dua belas belas bahkan sulit untuk di bedakan. Joa juga heran kenapa tulisannya bisa kembar dengan laki-laki cantik ini.


"Dasar banci kaleng ngeselin!" Joa menaruh pensilnya di tempat pensil dan merapihkan bukunya.


Tangan Joa bergerak mengambil buku tulis Irham dan menumpuknya di atas buku tulis miliknya, kemudian gadis itu berjalan ke arah meja guru untuk dikumpulkan oleh ketua kelas nanti. Baru mereka berdua yang menumpuk tugas di meja membuat Joa hanya manggadikkan bahunya acuh.


"Udah selesai lo?" tanya Billy saat berpapasan dengan Joa, gadis itu mengangguk. "Hebat banget lo, ini pelajaran fisika loh," ucap Billy takjub karna dia tau betul jika sahabatnya ini tidak menyukai fisika.


"Dikerjain sama si banci, dari pada ngapus lebih baik langsung numpuk," jawab Joa dengan santai. Gadis itu duduk di bangku Billy sedangkan sahabatnya duduk di bangku Fay yang entah sedang pergi kemana.


"Itu enaknya lo, tulisan tangan lo sama Irham itu mirip makanya gak harus ngapus ulang," ucap Billy yang iri karna tugasnya belum selesai, dia saja baru menjawab satu soal, itu juga dengan susah payah meminta jawaban dari teman-temannya.


"Ya udah sih ambil aja buku gue terus lo salin," ucap Jeje santai membuat Billy langsung menggeleng.


"Gue gak mau kena marah sama Irham, dia 'kan anti banget kalau tugasnya disalin sama orang." Joa berdecak sebal dan menatap Billy.


"Ambilnya buku gue bukan buku punya si Kaleng, Billy!" ucap Joa sebal.


"Sama aja, Jojon. Noh dia udah melotot ngeliatin kita," ucap Billy membuat Joa menengok ke arah Irham yang memang sedang menatap ke arahnya dengan wajah datar.


"Udahlah gak usah lo perhatiin dia, udah sana kerjain tugas lo," ucap Joa dan mendorong badan Billy agar menjauh.


Dia lebih baik duduk di bangku Billy terlebih dulu, dari pada duduk di samping Irham yang ujung-ujungnya di gombalin sama laki-laki cantik itu.



...Komentarnya di tunggu guys....

__ADS_1


...Bab ini sedikit panjang dari bab kemarin ya. Semoga semakin suka....


...See you next chapter....


__ADS_2