
Joa duduk termenung di dalam kamarnya, matanya lurus menatap dinding bercat pink itu. Raganya di sini tetapi tidak dengan pikirannya.
Pikirannya berkelana kepada Irham. Satu nama itu mampu membuat niatnya yang tadinya ingin belajar menjadi tidak fokus lagi. Konsentrasinya seketika buyar begitu saja.
Kenapa bisa ada laki-laki sesempurna Irham? Udah ganteng, putih, tinggi, pinter lagi. Joa semakin merasa jika dirinya dan Irham memang bukan 'lah takdir, ini hanyalah suatu kebetulan. Dirinya dan Irham tidak akan pernah bisa bersatu.
Irham terlalu sempurna untuknya, Joa tidak mau jika dirinya selalu dibedakan oleh laki-laki itu jika mereka bersama. Para cibiran netizen nyinyir diluaran sana selalu bisa mengusik ketenangan hatinya kala dia berdekatan dengan Irham. Kata-kata pedas pun pernah Joa dapatkan dari fans Irham.
Sungguh ini 'lah alasan sebenarnya dia tidak ingin Irham semakin dekat-dekat dengannya. Jika, kemarin dia bilang alasannya karna kedua orang tuanya itu juga benar, kedua orang tuanya memang tidak pernah menyukai jika dirinya menyukai dengan hal-hal berbau Korea apalagi Irham yang mirip idol Korea.
Tanpa teman-teman dan Irham tau gadis itu selalu saja mendapat hujatan negatif di akun media sosialnya dan hujatan itu yang dikirim oleh para fans Irham yang ingin Joa jauh-jauh dari Irham dan tidak mengganggu kehidupan Irham. Hey di sini siapa yang pengganggu? Adanya Irham 'lah yang selalu menganggu hidup Joa. Ingin rasanya Joa berteriak seperti itu kepada para fans Irham yang seenak udelnya berbicara tidak-tidak tentang dirinya.
Joa terpaksa memblokir akun media sosialnya, dia tidak tahan mendapatkan cibiran berbau negatif seperti itu, dan sekarang dia hanya menggunakan aplikasi Whatsapp saja tanpa adanya Instagram, Facebook, Twitter dan media sosial lainnya.
Handphonenya bergetar dan bersuara membuat gadis itu mengambil handphone yang tadi dia letakkan di atas kasur sebelah tempat duduknya.
Joa membuka aplikasi Whatsapp dan dia langsung mendengus sebal melihat siapa yang mengirimkannya chat.
Banci Kaleng.
- malam sayang ku.
- udah makan belum?
- lagi ngapain?
Ada rasa ingin membalasnya, tapi, Joa juga tidak mau jika dirinya yang mulai lega dan bebas dari netizen julid itu diganggu lagi. Sungguh para fans Irham lebih kejam dari pada guru killer di sekolahannya.
Banci Kaleng.
- Kok gak dibalas sih? padahal Udah dibaca juga.
- Bales lah Joa.
- Joana sayang.
^^^Saya.^^^
^^^- ALAY!!!^^^
Banci Kaleng.
- Nah gitu dong dibales, meskipun agak nyelekit dikit tapi gak masalah kok.
- Lagi apa sayangku?
^^^Saya.^^^
^^^- Berdoa sama Tuhan supaya gue gak ketemu lagi sama lo.^^^
Banci Kaleng.
- Oh kirain lagi berdoa biar berjodoh sama Mas Irham yang ganteng ini.
__ADS_1
^^^Saya.^^^
^^^- NAJIS!^^^
^^^- Gue benci lo.^^^
Banci Kaleng.
- Jangan gitu lah Benci itu sama dengan benar-benar cinta tau.
^^^Saya.^^^
^^^- Amit-amit.^^^
Banci Kaleng.
- Udah makan belum?
^^^Saya.^^^
^^^- Udh.^^^
Banci Kaleng.
- Makan pake apa?
^^^Saya.^^^
^^^- Makan hati lo.^^^
Banci Kaleng.
^^^Saya.^^^
^^^- Ngeselin lo lama-lama.^^^
Banci Kaleng.
- awas nanti naksir aja. 😏
^^^Saya.^^^
^^^- Gak akan mungkin.^^^
Banci Kaleng.
- takdir gak ada yang tau sayangku.
^^^Saya.^^^
^^^- I hate u. 😡^^^
Banci Kaleng.
__ADS_1
- love you too, baby. 😘
Joa menaruh handphonenya dengan perasaan sebal, sungguh dia tidak tau jalan pikiran banci cerdas itu gimana.
Joa sudah berkali-kali menolak Irham, tapi lihat, laki-laki itu selalu saja mengejarnya membuatnya kesal sendiri. Irham terlalu terobsesi padanya. Hah? Obsesi? Benarkah? Membayangkannya saja membuat bulu kuduknya berdiri, dia berdoa semoga Irham cepat menyerah untuk mengejar cintanya.
Joa menidurkan badannya di atas kasur dan menarik selimutnya sampai atas dada. Irham ... Irham.... dan Irham yang selalu masuk dalam pikirannya.
"Stop it Joana! You can't love him.
she looks beautiful to you, she makes you bullied by her fans," teriak dewi batin Joa yang selalu menolak Irham. Joa mencoba memejamkan matanya untuk tidur, dia harus fresh karna besok dia harus sekolah.
...::::::;;;...
Joa memarkirkan sepedanya, setelah itu dengan langkah ringan dan senyum yang mengembang dari wajah manisnya, Joa berjalan melewati koridor demi koridor yang akan mengantarkannya ke kelas.
"Pagi sayangku."
Joa hanya diam, dia merasa pundaknya yang dirangkul oleh seseorang. Joa langsung mendorong tangan itu agar tidak merangkul pundaknya, tapi, barulang kali dia melepaskan tangan itu dan berulang kali tangan itu juga merangkul pundaknya.
Joa mendengus sebal dan hanya membiarkan tangan itu merangkul pundaknya. Untuk saat ini, Joa sedang dalam fase malas untuk sekedar menatap Irham.
Irham tersenyum melihatnya, dia akan melunakkan hati Joa, dia tidak boleh menyerah begitu saja. Joa akan jatuh hati padanya, pasti.
Mereka berjalan melewati koridor yang membuat banyak pasang mata menatap kedekatan Joa dan Irham dengan tatapan tak suka, ada yang menatap dirinya iri dan benci.
Mereka berdua masuk ke dalam kelas yang ternyata masih sangat sepi, hanya ada satu atau dua siswa yang sudah datang, itu 'pun Joa yakin sedang mengerjakan pekerjaan rumah yang belum sempat mereka kerjakan sebelumnya.
Keduanya duduk di bangku mereka, Joa membuka tasnya dan mengeluarkan alat tulisnya. Bukan untuk mengerjakan pekerjaan rumah seperti teman-temannya, Joa sudah dari jauh-jauh hari mengerjakan pekerjaan rumahnya itu dan sekarang dia hanya ingin belajar sebelum bel berbunyi.
"Sayangku."
Joa tidak menanggapinya, makin lama Irham semakin ngelunjak. Berani-beraninya laki-laki cantik itu memanggil Joa dengan sebutan 'sayangku.' ingin sekali Joa melayangkan buku paket tebal dengan 350 halaman yang dia pegang ini di hadapan wajah Irham.
"Joana sayangku." Joa menggebrak meja dan menatap Irham tajam, sedangkan laki-laki itu masih saja mengulas senyum manisnya.
"Geli gue! gue punya nama, nama gue bukan sayangku jangan panggil gue sayang sayang, jijik gue!" Joa semakin menatap tajam Irham membuat laki-laki itu mengelus rambutnya. Joa terdiam, sepertinya Irham memang sudah gila, diomelin malah senyam-senyum gak jelas.
"Lucu, lo kalau lagi marah lucu bikin gue tambah cinta sama lo," ucap Irham membuat mata Joa membulat, Sungguh sudah tidak waras banci kaleng yang satu ini.
"Please kaleng, jauhin gue. Lo selalu bikin gue unmood kalau lagi deket sama lo," ucap Jeje dengan geram, dia menahan amarahnya dengan mengepal tangannya di samping badannya.
"Dengan alasan apa gue jauhin lo? Kita gak lagi bertengkar, terus untuk apa gue jauhin lo? Lo itu bagaikan serpihan hati gue, Joa. Asal lo tau itu." Joa hanya diam, dia menatap tajam Irham begitu juga dengan sebaliknya.
"Gue jatuh cinta pandangan pertama sama lo, gue sayang sama lo, tapi, apa lo peka? Lo cuma bisa ngatain gue banci kaleng, lo tau perasaan gue sama lo lebih dari sekedar teman sekalas dan teman sebangku, lo bagaikan separuh hidup gue setelah gue sadar betapa sayangnya gue sama lo. Gak ngeliat lo sehari aja gue rasanya uring-uringan, setiap libur gue selalu ke rumah lo, ngeliat lo dari jauh itu udah cukup mengobati kerinduan gue sama lo. Asal lo ngerti Joa, gue bukan sekedar banci kaleng. Mungkin, wajah gue bagi lo kaya cewek cantik, tapi, gue sekuat tenaga untuk bisa berubah demi lo, gue pengen jadi tipe ideal buat lo."
Setelah mengucapkan itu Irham berdiri dan berjalan keluar dari kelas. Joa terdiam, hatinya mencelos mendengarnya, apa dia terlalu menyakiti hati laki-laki itu? Atau jangan-jangan setiap dia berkata Irham itu bagaikan seorang banci kaleng laki-laki itu sakit hati? Joa harus bagaimana? Irham marah kepadanya.
"Irham."
......Kuy, berikan komentar kalian untuk chapter ini. ......
__ADS_1
...See you readers....