Benci Atau Bucin

Benci Atau Bucin
B a B : Sudah Move On?


__ADS_3

Irham masuk ke dalam ruangan OSIS, matanya langsung menatap ke arah Rayyan yang sedang terduduk di sofa sambil memainkan handphone dan mengulum permen milkita.


Irham duduk di samping Rayyan membuat laki-laki itu hanya melirik sekilas Irham, kemudian sibuk lagi dengan aktivitas sebelumnya.


"Gue denger lo pernah punya hubungan sama Fay? Dulu?" Irham membuka pembicaraan, tangannya terangkat untuk membuka kedua tali sepatunya.


Rayyan melirik Irham sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Denger dari mana?" tanyanya kemudian kembali sibuk dengan handphone.


"Ada orang tadi bilang, bener?" tanya Irham lagi, dia sangat penasaran dengan hubungan Rayyan dan Fay di masa lalu.


Rayyan berdehem sebagai jawabannya tanpa menatap balik ke arah Irham. "Kenapa bisa putus?" tanya Irham lagi, membuat Rayyan terdiam menatap kosong handphonenya.


Sebenarnya dia sudah tidak ingin mengingat-ingat tentang masa lalu, bahkan dia sudah menguburnya ke dalam lubang yang paling dalam. Tapi, kenapa Irham malah menanyakan tentang masa lalunya ini.


"Karna gue selingkuh," jawab Rayyan singkat. Laki-laki itu berdiri dan memasukan handphone ke dalam saku celananya kemudian berniat untuk pergi dari ruangan OSIS.


"Lo beneran selingkuhin Fay?" Irham menatap serius Rayyan, dia tau jika Rayyan sedang menutupi sesuatu.


Langkah kaki Rayyan berhenti, kemudian dia berbalik menatap Irham. "Iya," jawab Irham singkat, padat, dan jelas.


"Karena alasan apa?" Irham menatap ke arah Irham, entahlah dia menjadi penasaran saja dengan kisah cinta Rayyan yang belum pernah dia dengar dari pertama dia mengenal temannya itu. Yang Irham tau, Rayyan adalah laki-laki yang dingin, cuek, dan irit bicara. Irham mengakuinya, sebagai teman yang memang bisa di bilang dekat karna mereka sudah saling mengenal dari semenjak masuk SMA kelas sepuluh, Irham berfikir jika Rayyan tidak tertarik dengan lawan jenis ehh gak taunya dia malah sudah punya mantan. Selangkah lebih maju di depannya.


"Fay ... kurang cantik." setelah mengatakan itu Rayyan berbalik pergi dari ruangan OSIS membuat Irham hanya tersenyum tipis.


Dasar laki-laki.


Eh lah dia juga kan laki-laki ya, tapi, dirinya berbeda dari yang lain. Irham menyukai Joa tidak memandang fisik, tapi, memandang hati gadis itu. Bagi Irham gadis yang sedang dia incar itu adalah gadis unik yang patut untuk dirinya perjuangkan. Irham akan terus berusaha mendapatkan hati dari seorang Joana.


...::::::...


Irham berjalan di koridor sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Hari ini memang jadwal free KBM, karena apa? Karena pengenalan ektrakurikuler untuk anak kelas sepuluh dan pengenalan ketua baru untuk masing-masing ektrakurikuler.

__ADS_1


Mata Irham menatap sebuah bayangan laki-laki yang berdiri sambil bersandar di tiang dekat lapangan sepak bola. Kemudian mata Irham mengikuti arah pandang laki-laki tersebut.


Disana dia melihat Joa sang pujaan hati bersama dengan kedua sahabatnya. Sepertinya Joa sedang membantu kedua sahabatnya mencari sesuatu dan berulang kali Joa akan kena semprot dari Fay dan Billy membuat wajah sang pujaan hati menjadi sebal dan itu membuat Irham semakin gemas dengan Joa. Irham berjalan mendekat ke arah laki-laki yang sedang berdiri diam itu.


"Lo emang udah beneran move on?" Irham berdiri di samping laki-laki itu membuat temannya itu melirik ke arah Irham.


"Bukan urusan lo," jawab Rayyan membuat Irham hanya tersenyum sinis, meskipun baru berteman selama satu tahun, tapi, Irham cukup tau bagaimana cara Rayyan bersikap.


"Yakin?" tanya Irham lagi, membuat Rayyan menatapnya dengan tatapan sinis laki-laki itu.


"Lo kenapa kepo banget sama hubungan gue?" tanya Rayyan membuat Irham menaikkan kedua bahunya seakan-akan dia memang tidak tau alasannya.


"Mungkin, karna gue ngiranya lo gak pernah suka sama orang ehh gak taunya malah udah punya mantan aja," jawab Irham asal dengan santainya, kemudian matanya menatap ke arah Joa yang sibuk mencari sesuatu di balik rerumputan.


"Gue gak mau bahas masa lalu, masa lalu itu untuk di lupakan bukan untuk di ingat," ucap Rayyan dan kembali ke posisi awal, tapi, sekarang tatapan matanya beralih melihat ke arah sekeliling.


"Salah lo! Masa lalu itu buat pembelajaran bukan buat dilupain", ralat Irham dan Rayyan hanya diam tidak menjawab ucapan Irham yang berubah menjadi cerewet.


Irham melirik temannya itu.


"Udah," jawab laki-laki itu yang sudah malas di tanya-tanya sudah move on atau belum. Toh apa masalahnya jika dirinya sudah atau belum move on dari sang mantan. "Gue yang ninggalin dia ya itu tandanya gue udah move on," lanjut Rayyan dan Irham hanya manggut-manggut paham.


Irham kembali menatap ke arah Joa, keningnya mengerut saat melihat seorang laki-laki yang cukup dia kenal nama dan wajahnya saja, mendekat ke arah Joa dan kawan-kawannya.


"Shit! Ngapain dia?" Irham sudah menggeram marah membuat Rayyan melirik temannya kemudian menatap ke arah Joa dan yang lainnya.


Irham menghela napasnya lega saat ternyata laki-laki yang hampir membuatnya naik darah itu mendekati Joa dan yang lainnya bukan untuk bertemu dengan pujaan hatinya, melainkan untuk bertemu dengan Fay.


Irham melirik Rayyan yang berdiri di sampingnya, temannya itu sudah tidak menyandarkan tubuhnya di tiang koridor, laki-laki itu seakan sedang menahan amarah membuat Irham tersenyum meremehkan.


"Kenapa muka lo begitu? Katanya udah move on," ucap Irham yang terus meledek Rayyan.


Tangan Rayyan mengepal saat melihat Arman yang mengacak rambut Fay dan membuat Irham semakin tersenyum sinis melihat bagaimana wajah Rayyan menahan cemburu.


"Baru tau gue orang yang udah move on bisa kaya gitu mukanya kalau liat doi deket cowok lain," ucap Irham sinis kemudian dia melangkahkan kakinya untuk menyusul Joa. Dia takut ada laki-laki lain yang mengambil calon istrinya itu.

__ADS_1


...:::::::...


Joa dan Billy melangkah mundur saat melihat Arman dan Fay saling melempar argumentasi yang menyenangkan bagi kedua orang tersebut.


"Sejak kapan mereka saling kenal?" tanya Joa kemudian dia melirik Billy yang berdiri di sampingnya.


"Kata si Fay ...  Arman tinggal di depan rumah dia," jawab Billy membuat Joa menatap Billy dengan kening mengerut.


"Yang Fay bilang tetangga barunya itu? Kok gue gak tau? Kapan pindahnya?" tanya Joa heran, padahal rumah mereka satu komplek. "Pantes kaya pernah liat."


"Sayangku." Joa terdiam, tanpa menengok juga dia sudah tau siapa orang yang dengan seenak jidat memanggilnya dengan sebutan itu.


"Kamu lagi ngapain sih?" tanya Irham dan berjalan depan Joa membuat gadis itu menghela napas kasar.


"Yang jelas bukan urusan lo," jawab Joa membuat Irham hanya tersenyum. Irham tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan hati Joa.


"Kan gue nanya, kali aja bisa bantuin calon istri," ucap Irham sok lembut membuat Joa semakin merinding mendengar kata terakhir yang Irham ucapkan, dia menjauh tidak ingin dekat-dekat dengan laki-laki satu ini.


"Bil, balik aja ke kelas yuk," ajak Joa dan menarik tangan Billy, tetapi sahabatnya itu malah menggelengkan kepala.


"Gue sama Fay harus balik ke ruang PMR, buat ngumpulin tanaman obat ini," ujar Billy sambil menunjukkan tanaman obat yang baru saja mereka cari, membuat Joa hanya bisa mendengus sebal dan itu membuat Irham tersenyum.


"Ke kelas bareng gue aja, kan kelas kita sama'an," tawar Irham dan langsung di jawab oleh gelengan oleh Joa.


"Ya udah gue balik duluan ya," ucap Joa dan diacungi jempol oleh Billy sebagai jawabannya.


Joa segera berlari cepat, pergi meninggalkan Irham yang hanya bisa menatap punggung Joa sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya, kemudian dirinya melangkahkan kakinya santai untuk mengejar Joa, meskipun dia tau pasti akan tidak terkejar.



...Kuy berikan komentar kalian untuk chapter ini. Ku tunggu....


...Jangan lupa di beri bintang jika malu memberikan komentar. Terima kasih sudah baca sampai chapter sekian....


...Terus tunggu aku update chapter baru ya. Fighting!!!...

__ADS_1


...See you next chapter readersnya Anye....


__ADS_2