Benci Atau Bucin

Benci Atau Bucin
B a B : Mereka Mantan?


__ADS_3

Di sinilah Fay dan Billy berada, mereka sedang berdiri di belakang beberapa anak satu angkatan mereka yang juga ikut ektrakurikuler PMR.


"Pengen tinggi, Billy," ucap Fay dengan nada sedih, bahkan gadis itu sudah berjinjit-jinjit untuk melihat ketua ektrakurikuler PMR yang baru.


"Makanya lo itu sering olahraga biar agak tinggian, kaya gue gini," ucap Billy membanggakan dirinya, membuat Fay langsung mencubit pinggang Billy sebal.


"Awww." Billy mendelik sebal ke arah Fay, sedangkan gadis itu berpura-pura seperti tidak terjadi apa-apa. "Untung lo sahabat gue, Fay," ujar Billy dan membuat Fay terkekeh pelan mendengarnya.


Fay dan Billy saling menatap dengan kening mengerut saat tiba-tiba anak yang ikut ektrakurikuler PMR berlarian keluar. "Pada kenapa?" tanya Fay bingung, padahal dia tidak mendengar apa-apa dari tadi.


Semua anak PMR sudah keluar kecuali dengan Fay dan Billy yang masih plonga-plongo bingung dengan situasi saat ini.


"Kalian masih disini?" mereka menolehkan kepala ke arah sumber suara, membuat mereka berdua mengerutkan kening heran.


"Lo ngapain di sini?" tanya Fay kaget saat melihat Rayyan yang berdiri di hadapan mereka dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragam laki-laki itu.


"Gue ketua PMR yang baru. Jadi, gue harus ada di ruangan PMR untuk mengawasi tugas kalian dan memimpin kalian semua," jawab Rayyan santai membuat Billy cengo bahkan mulutnya sampai terbuka sedikit.


"Oh gitu." Fay menarik tangan Billy berniat untuk pergi dari ruang PMR. Dia sedang tidak ingin berlama-lama di dalam ruangan berukuran persegi ini.


"Ada tugas buat anggota PMR." Fay dan Billy berbalik menatap Rayyan dengan kerutan di kening mereka masing-masing.


"Tugas apaan?" tanya Billy bingung.


"Cari tumbuhan obat di taman," jawab Rayyan, mata laki-laki itu tidak bisa berpaling dari Fay yang berdiri di samping sahabat gadis itu.


"Oh, yaudah yuk, Bil." Fay segera menarik Billy agar cepat keluar dari ruang PMR.


Rayyan tersenyum miring saat melihat Fay dan Billy yang sudah keluar dari ruangan PMR. "Makin hari makin imut aja," gumamnya pelan kemudian dia memilih untuk ke ruang OSIS sambil menunggu para anggotanya datang.


Rayyan memang ditunjuk menjadi ketua ekstra oleh wakil kepala sekolah. Bukan hanya Rayyan saja yang jadi ketua, tetapi Irham juga ditunjuk menjadi ketua ekstra. Tapi bedanya, Irham ditunjuk menjadi ketua ekstra musik yang dimana dia akan bertemu kembali dengan Joa.


...::::: ...


Joa mengacak rambutnya sebal, kenapa dunia sesempit ini sih. Kenapa Irham harus menjadi ketua musik? Kenapa gak Devran saja yang menjadi ketua musik, kan mereka sama-sama OSIS juga.


"Hai sayangku." Joa mendesis pelan, dia memutar tubuhnya tidak ingin menghadap ke arah Irham membuat laki-laki itu hanya tersenyum tipis.


"Kita satu ekstra loh sekarang."


Irham lebih suka jika Joa bersuara meskipun nyelekit dari pada melihat Joa yang hanya diam nyuekin dia seperti ini.


"Joa."


Pruiit.


Joa meniup suling yang dipegangnya membuat Irham mengelus dadanya kaget, dia tau gadis di hadapannya ini pasti sedang tidak ingin melihatnya dan tidak ingin diganggu olehnya. Tapi, masalahnya dirinya tidak bisa jauh-jauh dari Joa.


Irham mengambil gitar kemudian kembali berjalan ke arah Joa dan duduk di samping gadis itu.


Tangan Irham mulai memetik senar gitar mengeluarkan bunyi yang membuat orang-orang di dalam ruang musik menatap ke arahnya dengan tatapan kagum.


"Wihhh gila, Irham main gitar."

__ADS_1


"Aduhhh Sehun ku makin ganteng aja kalau lagi pegang gitar."


"Sehun ku sayang."


"Nyanyi Irham."


"Aku padamu Irham."


"Irham."


"Irham."


"Irham."


Joa menaruh sulingnya dengan sebal kemudian berbalik menatap Irham, laki-laki itu mulai menyanyikan sebuah lagu untuk Joa yang berjudul Bukti dari Virgoun.


...Memenangkan hatiku bukanlah...


...Satu hal yang mudah...


...Kau berhasil membuat...


...'Ku tak bisa hidup tanpamu...


...Menjaga cinta itu bukanlah...


...Satu hal yang mudah...


...Namun sedetik pun tak pernah kau...


...Beruntungnya aku...


...Dimiliki kamu...


Joa terdiam, entah kenapa dia tiba-tiba hanyut dalam nyanyian Irham, dia merasa seakan-akan Irham bernyanyi memang untuk dirinya. Pandangan mata mereka bertemu, Joa paham dengan maksud dari tatapan Irham ini.


...Kamu adalah bukti...


...Dari cantiknya paras dan hati...


...Kau jadi harmoni saat kubernyanyi...


...Tentang terang dan gelapnya hidup ini...


...Kaulah bentuk terindah...


...Dari baiknya Tuhan padaku...


...Waktu tak mengusaikan cantikmu...


...Kau wanita terhebat bagiku...


...Tolong kamu camkan itu...

__ADS_1


Joa terdiam setia untuk mendengarkannya, mata mereka beradu sedangkan satu ruangan itu bersorak senang kala Irham sudah bernyanyi.


"Gue sayang sama lo, Joana," ucap Irham tulus menatap lekat gadis pujaannya membuat Joa berdiri dan langsung pergi dari sana. Irham langsung menaruh gitar di samping kursi dan berlari untuk mengejar Joa.


"Joa ... Joa!" Joa berpura-pura tidak mendengarnya, dan semakin melangkahkan kakinya dengan lebar.


"Irham sialan, bisa-bisanya dia bikin jantung gue jedak-jeduk kaya gini," batin Joa sebal sendiri karna sepertinya dia sudah masuk ke dalam pesona kembaran Oh Sehun itu.


"Joa tunggu dong." Irham hampir saja menabrak seseorang, untung dengan cepat dia bisa menyingkir dan mengejar Joa. Saat ada kesempatan, dia langsung menahan pergelangan tangan Joa membuat gadis itu berhenti dan mengalihkan tatapannya, tidak mau bertatapan dengan Irham. "Kok pergi gitu aja, sih."


"Lo mau ngomong apa buruan, gue mau nyari Fay sama Billy," ucap Joa tanpa menatap Irham. Dia tidak mau jika tebakannya atas perasaannya itu benar-benar terjadi. Setidaknya bukan untuk Irham.


Laki-laki itu menarik kepala Joa dengan lembut, membuat gadis itu menatap ke arahnya.


"Ya liat sini dulu dong, masa mau ngomong lo-nya liat ke sana, gak seru dong," ucap Irham yang menurut Joa hanya basa-basi dan buang-buang waktunya yang berharga ini. 


"Buruan langsung to the poin aja," ucap Joa yang semakin tidak betah karna orang-orang menatap ke arah mereka dengan tatapan penasaran dan ingin tau.


"Gimana tadi suara gue bagus gak?" tanya Irham membuat Joa menaikkan kedua bahunya.


"Biasa aja."


"Gue belum bisa bikin lagu sendiri, nanti gue jajal bikin lagu sendiri buat lo ya," ucap Gyan sambil tersenyum menatap Joa dengan tatapan sayang.


"Hemm ... terserah." Joa menatap Gyan. "Udah kan? Kalau udah gue mau pergi," ucap Joa kemudian dia langsung berjalan meninggalkan Irham tanpa menunggu jawaban dari laki-laki itu.


"Ikut dong, gue denger Rayyan jadi ketua di PMR sekarang," ucap Irham membuat langkah kaki Joa berhenti dan menatap Irham dengan tatapan kagetnya.


Irham mengerutkan dahinya. "Kenapa?" tanyanya saat tiba-tiba Joa terdiam sambil menatapnya dengan tatapan kaget.


"Rayyan jadi ketua PMR?" tanya Joa memastikan dan diangguki oleh Irham sebagai jawabannya.


"Emang kenapa?" tanya Irham penasaran dengan raut wajah Joa yang aneh ketika mendengar bahwa Rayyan menjadi ketua PMR sekarang.


"Lo kan tau dulu mereka suka berantem, Fay itu benci sama si Rayyan," ucap Joa yang sebal sendiri meratapi nasib. Memang benar kata orang, dunia ini sebatas daun kelor. Ke sini ketemu ke sana juga pasti ketemu.


"Hah? Masa? Emang kenapa bisa saling benci?" tanya Irham bingung, tapi, dia juga penasaran dengan hubungan Fay dan Rayyan.


"Bukan saling benci, lebih tepatnya Fay yang benci sama Rayyan," jawab Joa meluruskan apa yang Irham tangkap dari ucapannya.


"Kenapa Fay bisa benci si Rayyan? Apa yang terjadi diantara mereka?" tanya Irham penasaran dan menatap Joa dengan lekat.


"Rayyan gak pernah cerita sama lo?" tanya Joa kemudian di jawab dengan gelengan kepala oleh Irham. "Dulu mereka itu pernah pacaran, putus gara-gara Rayyan selingkuh sama temen sekelasnya," ucap Joa memberitahukan informasi tentang masa lalu Fay dan Rayyan yang pernah terikat sebuah ikatan, karna bagaimanapun Irham adalah teman dekat Rayyan.


"Serius? Kapan mereka pacarannya?" tanya Irham kaget, dia baru tau fakta yang satu ini karena Rayyan tidak pernah menceritakannya kepadanya.


"Waktu SMP. Udah 'ah gue mau nyari Fay sama Billy, bye." Joa segera berlari mencari kedua sahabatnya itu, meninggalkan Irham yang masih dalam mode penasarannya. Dia menjadi kepo.



...Gimana komentar kalian untuk bab ini? Semoga kalian tambah suka ya sama cerita ku. ...


...Terima kasih sudah mau melipir ke sini. ...

__ADS_1


...Di tunggu ya next chapter berikutnya. ...


...See you. ...


__ADS_2