Benci Atau Bucin

Benci Atau Bucin
B a B : Pembagian Kelas


__ADS_3



Pembagian kelas sudah ditentukan, Joa menghela napasnya lega. Mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam kelas yang sama lagi membuatnya tersenyum senang dan ada kelegaan di dalam hatinya.


"Ini 'lah yang dinamakan takdir gak kemana," ucap Fay membuat kedua sahabatnya itu terkekeh.


Sekarang mereka sedang berada di kantin, besok sudah mulai KBM dan hari ini setelah boking tempat duduk di kelas mereka langsung otw ke kantin.


Joa dengan soto ayam, Fay dengan mie ayam, sedangkan Billy dengan mie ayam bakso (porsi kuli).


"Kayanya gue gak pernah liat lo nguli deh, kenapa makan lo banyak banget?" tanya Joa yang heran dengan porsi makan Billy yang membludak begitu.


Billy hanya menanggapinya dengan santai. "Ini 'lah gue dengan segala kesempurnaan yang gue miliki." Fay dan Joa langsung mencibir mendengarnya.


"Suka-suka lo deh, Bil." Fay kembali memakan mie ayamnya setelah mengatakan itu yang membuat Billy terkekeh.


Tiba-tiba kursi di hadapan Joa tertarik dan duduk 'lah seorang laki-laki dengan wajah cantiknya yang membuat Joa mendengus sebal.


"Ngapain sih di sini? Kaya gak ada tempat lain aja." Joa tidak habis pikir, kenapa takdir sangat lucu kepadanya? Disaat dirinya ingin menjauh dari laki-laki ini malah dirinya dan dia bersatu di dalam satu kelas yang sama.


"Makan lah, ya lo kira gue lagi bangun rumah di sini?" jawab laki-laki itu, laki-laki itu kemudian memajukan badannya dan menatap Joa lekat.


"Kalau bangun rumah buat masa depan kita, gue siap." mendengar itu Joa langsung tersedak kuah soto yang sedang dia cicipi.


Joa dengan tajam menatap laki-laki yang duduk di hadapannya saat ini.


"Gue gak suka cowok banci macam lo. Cantik, mulus, glowing. Gue yang perempuan mah bisa apa." Laki-laki itu hanya menatap Joa dengan menopang dagunya dengan tangan kanan di atas meja.


"Entar takutnya orang-orang ngiranya lo istri gue bukannya suami gue." mendengar itu laki-laki berkulit putih itu terkekeh geli membuat Joa mengerutkan dahinya heran.

__ADS_1


"Lo ngakuin gue sebagai suami lo?" GILA! Joa menatap tajam ke arahnya. Sepertinya otak Irham butuh tekanan agar otaknya kembali berpikir jernih.


"Lo masih punya otak buat berpikir kan? Suami ti hongkong mah iya, nikah aja gak pernah." Joa kembali menyeruput air sotonya membuat laki-laki itu semakin tersenyum geli.


"Ya udah makanya kita nikah aja." mendengar suara santai itu seakan nikah hanya seperti sedang main rumah-rumahan yang waktu kecil sering Joa mainkan bersama Fay dan Billy. Joa terbatuk dibuat keselek oleh ucapan santai Irham tadi.


Uhuk ... uhuk.


Joa memukul dadanya dan menatap laki-laki di hadapanya dengan tatapan tajam mengunus ke mata sang lawan bicara.


"Kayanya otak lo udah gak waras." Joa kembali memakan sotonya tanpa mau menatap ke arah Irham sedikit 'pun.


"Suapin gue dong." Dih, siapa dia minta disuapin. Joa tidak menggubrisnya, dia tetap tenang memakan sotonya tanpa mau memikirkan banci yang ada di depannya ini. "Kayanya semangkok soto berdua enak tuh." Joa masih diam tidak menggubrisnya. Please, siapapun bawa dia enyah dari sini.


"Nih makanan lo." Rayyan datang dan meletakkan semangkok soto ayam di hadapan Irham, kemudian laki-laki itu duduk di bangku yang kosong.


"Thanks, Ray." Rayyan hanya mengangguk, tangan Irham bergerak mengaduk sotonya. Tapi, matanya masih terfokus kepada gadis di hadapannya itu.


"Makan aja yang benar jangan jelalatan matanya," cibir Fay sambil mendesis tidak suka membuat Joa menatap Irham yang duduk di hadapannya.


"Heh kaleng gue bilangin sama lo, gue itu risih deket-deket sama banci kaleng macam lo gini." meskipun ucapan Joa barusan sangat nyelekit dan bisa saja menyakiti hati Irham. Tapi, laki-laki itu hanya menganggapnya sebagai angin lalu, baginya apa pun yang keluar dari bibir gadis itu adalah rasa cinta yang Joa berikan untuknya. Terdengar gila, tapi, itu 'lah kenyataannya.


"Enek tau liat muka lo." Joa berdiri dan segera pergi dari sana membuat Irham hanya tersenyum tipis dan mulai menarik mangkok sotonya kemudian menyuapkan satu sendok air soto ke dalam mulutnya.


Dia tidak akan menyerah, Irham yakin Joa tidak membencinya. Tapi, gadis itu mencintainya sama seperti dirinya yang mencintai gadis itu.


Meskipun mereka sangat bertolak belakang. Tapi, bagi Irham hal itu tidak menjadi penghalang untuknya maju mendapatkan hati sang gadis pujaan. Joa hanya belum bisa menerima wajahnya yang putih, mulus dan glowing ini. Tapi, suatu hari nanti Irham yakin Joa akan luluh atas pesonanya. Irham yakin Joa akan membalas cintanya.


Tidak ada orang yang membuat gembok tanpa kunci. Itu 'lah mengapa jika ada masalah pasti akan ada jalan lurusnya.


Irham akan terus berusaha mendapatkan hati Joa. Baginya Joa adalah gadis yang berbeda dari yang lain. Joa sudah masuk ke dalam lubuk hatinya ketika pertama kali melihat gadis itu. Joa bersinar dengan cara yang berbeda di matanya.

__ADS_1


...:::::...


Joa mendengus sebal sungguh sangat sebal, setelah kemarin Irham mengatakan omong kosong di kantin yang membuat moodnya yang baik menjadi buruk bahkan Joa dengan tega meninggalkan soto ayamnya yang masih setengah mangkok gara-gara dirinya yang sudah muak dengan Irham.


Entah ini kebetulan atau apa, tapi, tadi pagi tiba-tiba saja wali kelas datang dan dengan santainya bilang jika sang guru akan menukar bangku yang siswa-siswi sudah pilih, jika ada yang keberatan suruh ke ruang BK. Yang artinya suka tidak suka siswa-siswi harus menurut atas perintah sang guru.


Di sini 'lah Joa dan Irham yang duduk satu meja di pojokan. Joa membuang mukanya menatap ke arah jendela sedangkan Irham menopang dagunya dengan sebelah tangannya sambil mengamati wajah manis Joa.


"Kayanya ini yang dinamakan jodoh gak kemana." mendengar itu Joa menatap tajam Irham. Masih saja mengatakan hal tak berguna seperti itu.


"Ini cuma kebetulan," ucap Joa yang tidak terima jika Irham bilang mereka berjodoh.


"Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan semua terjadi karena sebuah alasan." Joa terdiam dia membuang muka dari Irham.


"Dan alasan kita duduk berdua karna memang kita jodoh," lanjut Irham santai dan tersenyum manis saat Joa menatapnya dengan tatapan maut gadis itu.


"Alasanya bukan karna kita jodoh." Irham menaikkan sebelah alisnya mendengarnya.


"Karna buat bikin lo sadar kalau lo sama gue jauh berbeda." setelah mengatakan itu, Joa berdiri dari duduknya dan berniat ingin berjalan. Tapi, dengan cepat Irham menarik tangan Joa membuat gadis itu oleng dan jatuh tepat di pangkuan Irham.


Joa langsung membulatkan matanya kaget dan menatap Irham tajam sedangkan Irham hanya tersenyum manis seperti biasanya.


"Otak lo konslet!" Joa berdiri dan benar-benar meninggalkan Irham.


Irham tersenyum, ini baru permulaan semua belum berakhir dia akan membuat Joa juga jatuh cinta padanya, dia yakin Joa bisa mencintainya. Meskipun tidak sekarang



...Kata-kata yang Irham ucapkan di kalimat. "Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan semua terjadi karena sebuah alasan." Itu aku ambil dari sebuah drama Korea yang berjudul Where Stars Land....


...Jika aku mengambil kata-kata dari drama, aku akan langsung mencantumkannya dan memberitahu. Agar kalian tau juga....

__ADS_1


...Semoga kalian enjoy membaca ceritaku dan semakin suka. Silahkan tinggalkan komentarnya guys....


...See you all....


__ADS_2