Benci Atau Bucin

Benci Atau Bucin
B a B : Aku Cinta Kamu


__ADS_3

Tangan Joa bergerak cepat menulis apa yang sedang guru sejarah tulis di depan papan putih yang menjadi sorotan siswa-siswi di kelasnya. Sesekali Joa akan melirik ke arah samping lebih tepatnya melirik ke arah Irham.


Joa memang lebih suka memanggil Irham dengan sebutan kaleng, banci, bencong dan lain-lain yang membuat Irham selalu mengelus dadanya sabar.


Bukan tanpa alasan Joa memanggil Irham dengan sebutan kaleng, karna waktu pertama berkenalan dengan Irham dia menjadi teringat nama kaleng karena nama panjang laki-laki itu adalah Irham Kellan Nicholas. Dan nama kaleng dia ambil dari nama tengah Irham.


Joa menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan Irham, disaat guru sedang menulis dan menjelaskan di depan sana. Laki-laki berwajah cantik itu malah tertidur lelap dengan menekuk kedua tangannya di atas meja untuk di jadikan sebagai bantal dan menghadap ke arahnya.


Joa terdiam entah kenapa dia menjadi penasaran, kenapa orang-orang diluaran sana sering sekali bilang Irham sangat mirip dengan Sehun. Meskipun bukan fans Sehun sejati. Tapi, Joa juga kenal siapa itu Sehun. Joa sering melihat photo Sehun yang di jadikan instastory ataupun story di whatsapp oleh teman-temannya.


Joa mengangkat tangannya dan memegang rambut Irham yang menutupi kening laki-laki itu. Joa setuju Irham di bilang mirip kaya Idol Korea, dari badannya, tingginya, rambutnya, kulitnya, bahkan mukanya juga hampir nyerempet-nyerempet ke sana.


"Iya sih hampir mirip, tapi, gue liat Sehun itu cakep ahh ganteng, tapi, kenapa pas gue liat kaleng malah jadi cantik?" Joa bergumam pelan sambil memandangi wajah Irham yang masih terlelap dalam tidurnya.


Tangan Joa mengusap lembut rambut Irham, membuat kedua mata yang terpejam itu membuka dan langsung menatap Joa yang membeku sesaat.


Irham tersenyum ke arah Joa, membuat gadis itu langsung menarik tangannya dan menatap ke arah Bu Rizka yang sedang menjelaskan tentang sejarah Indonesia.


Rasa-rasanya Joa sangat malu sekali, dia tercyduk oleh Irham. Huaaa ingin rasanya Joa langsung kabur dari sini. Tapi bagaimana lagi, ada Bu Rizka yang sedang mengajar saat ini.


"Pantes tadi gue mimpi indah, gak taunya ada bidadari yang ngelus rambut gue," ucapan Irham berhasil membuat Joa melirik tajam laki-laki yang sudah mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke depan.


"Siapa yang ngelus? Gak ada yang ngelus, itu tadi di rambut lo ada kotoran cicak makanya gue sentil. Lagian punya rambut gak tau di keramasin. Jorok," ujar Joa yang menyangkal akan hal itu, padahal sudah jelas-jelas dia mengusap rambut Irham tadi saat laki-laki itu terlelap.


"Makan gengsi itu gak kenyang loh." Joa tidak menengok, baginya laki-laki di sebelahnya sedang berbicara omong kosong, dan dia selalu berpikir seperti itu jika Irham bicara. "Lagian gue gak keberatan kok lo mau ngelus rambut gue, lo mau nyentil *** cicak di rambut gue, atau kalau lo mau cium gue juga gue gak keberatan."


Seketika mata Joa langsung membulat kaget dan menatap tajam Irham, sedangkan laki-laki itu hanya menatapnya sambil tersenyum dan menaikkan kedua alisnya.


"Ngomong sama lo itu berasa ngomong sama batu yang gak bakal bisa ngerti," ucap Joa sebal dan kembali memperhatikan Bu Rizka di depan sana.


"Iya deh gue bakal belajar lebih ngertiin lo, tentang perasaan lo, tentang sikap lo, tentang semua yang ada di diri lo. Karna gue kan bakal jadi jodoh lo nanti." mendengar itu Joa langsung mengetuk-ngetukkan tangannya ke atas meja sambil berkomat-kamit.

__ADS_1


"Ngimpi aja lo." Irham tersenyum dan menggenggam tangan Joa kemudian membawanya ke bawah meja untuk semakin dia genggam, membuat Joa menatapnya tajam. Joa mencoba melepaskan tangannya dari kungkungan tangan Irham.


"Gue emang udah sering ngimpiin lo, ngimpi membangun rumah tangga bersama, ngimpi bikin anak sama lo, ngimpi punya anak sama lo, ngimpi gantiin popok anak-anak kita nanti, mim--" ucapnya terputus karna tiba-tiba tangan Joa yang lain memasukkan kertas ke dalam mulut Irham.


"Berisik!" Joa mencoba melepaskan tangannya yang berada di genggaman tangan Irham. Tangan Irham yang satu lagi terangkat untuk mengambil kertas yang ada di dalam mulutnya dan tersenyum manis sambil menatap Joa.


"Baik anak-anak apa kalian sudah paham tentang materi yang ibu jelaskan barusan?" Bu Rizka berbalik dan mengedarkan pandangannya menyapu seantero penjuru kelas.


"Paham Bu," ujar satu kelas membuat Bu Rizka tersenyum, dan ada juga yang menjawab, "Lumayan Bu."


"Kalau ada yang mengganjal silahkan di tanyakan, mumpung saya masih di sini," ucap Bu Rizka lagi dan menatap anak-anak muridnya.


"Bu mau tanya." Bu Rizka tersenyum dan mempersilahkan Tatang untuk bertanya.


"Silahkan Tatang."


"Kan, tadi Bu Rizka menjelaskan proses sejarah Indonesia, saya mau tanya kalau proses memperjuangkan sejarah cinta gimana Bu?" seisi kelas langsung bersorak riuh ketika mendengar pertanyaan dari Tatang yang sama sekali tidak nyambung dengan pelajaran sejarah Indonesia.


Bu Rizka hanya tersenyum. "Kalau itu saya gak tau Tatang, setiap orang punya perjalanan cintanya masing-masing. Ada yang mudah dan ada yang susah bahkan ada yang tengah-tengah antara mudah dan susah," jawab Bu Rizka, meskipun pertanyaan Tatang berbelok dengan pelajarannya, tapi, dia harus menjawab. Dia ingin lebih dekat dengan anak-anak murid kelas 12 MIPA 2.


Bu Rizka dan seisi kelas menatap ke arah Irham yang bersuara. Bahkan Joa 'pun ikut menatap Irham dengan mata yang menghunus tajam. Tangannya masih berada di genggaman tangan laki-laki itu, entah kenapa tenaga Irham ini lumayan besar.


"Apa Irham?"


"Tadi Ibu bilang perjalan cinta setiap orang beda-beda. Saya pengen tanya dong Bu, gimana cara dapetin cintanya Joana?"


Tercengang, Joa menatap Irham dengan mata melototnya, sedangkan laki-laki itu tidak balik menatapnya. Seisi kelas bersorak lagi, memang bukan rahasia publik jika Irham yang terlalu terang-terangan menunjukkan rasa tertariknya kepada gadis tomboy tapi manja itu.


"Pertanyaan kamu sulit untuk Ibu jawab Irham. Kamu bisa tanyakan langsung saja kepada Joana," jawab Bu Rizka dan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan seperti ini.


"Jawab noh, Joa. Kasihan si Sehun ngejar-ngejar lo mulu." Teman satu kelas mereka bersuara.

__ADS_1


"Iya Joa."


"Jawab Joa ... banyak diluaran sana yang ngantri jadi pacarnya Sehun kw. Termaksud gue, hehehe."


Hehehe ... hehehe. Joa kesal bukan kepalang, benar-benar ya si kaleng ini bikin Joa naik darah.


"Caranya gampang, saya gak suka laki-laki cantik kaya dia. Mau semua orang bilang dia mirip Sehun, tapi, bagi saya kaleng eh Irham itu terlalu cantik buat saya, Bu." Joa menghentakkan tangannya membuat tangannya terlepas dari genggaman Irham.


"Sudah dengar Irham?" tanya Bu Rizka menatap anak muridnya, yang sedang cengegas-cengenges ke arah Joa.


"Kalau gue berubah jadi Joe Taslim lo bakal mau sama gue?" Joa menatap tajam Irham.


"Lo tuh ya! Bu maaf, jangan di hiraukan lagi kalau ada yang nanya tentang begini, Bu. Saya gak nyaman," ucap Jeje dan menatap Bu Rizka dengan tatapan memohon.


Bu Rizka mengangguk paham.


"Sudah-sudah kalian jadi kemana-mana," ucap Bu Rizka dan melanjutkan pembelajaran mereka.


Joa menatap lurus ke arah Bu Rizka sedangkan Irham menatap lurus ke arah Joa. Jantungnya berdetak kencang takala dia berdekatan dengan gadis ini. Joa mampu membuat seisi lubuk hatinya porak-poranda. Joa adalah gadis pertama yang membuatnya jatuh cinta hanya dengan pertemuan pertama.


"Aku cinta kamu." Joa menatap tajam Irham seperti biasanya, kemudian membuang wajahnya menatap ke arah depan.


"Bodoamat, gue gak denger." Joa menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, tidak ingin mendengar suara Irham lagi.


"Beneran, aku cinta kamu." Joa menatap tajam Irham seperti ingin membunuh laki-laki itu saat ini juga.


"Lo ... sinting!"



...Kuy, berikan komentarnya....

__ADS_1


...Bab ini lebih panjang dari pada bab sebelumnya. Semoga suka....


...See you next chapter....


__ADS_2