
Bel masuk berkumandang itu menandakan jam pelajaran pertama akan segera dimulai. Mata Joa melirik ke arah bangku Irham yang kosong, banyak pertanyaan yang tumbuh di dalam otak Joa.
Dimana Irham? Apa Irham marah sekali padanya? Kenapa laki-laki itu tidak masuk kelas? Akan 'kah Irham berhenti memperjuangkannya?
Bu Ratih masuk dan siap untuk mengajar pelajaran Bahasa Inggris, membuat perasaan Joa tidak tenang. Ada saja pertanyaan-pertanyaan yang mengrogoti hatinya, boleh dikatakan dirinya sedang mengkhawatirkan Irham.
Ada perasaan ingin keluar dan mencari Irham, tapi, dia juga gengsi. Sebenarnya dimana laki-laki itu? Kenapa belum masuk kelas, padahal Bu Ratih sudah datang.
Joa menghela napasnya kasar, dia mencoba untuk fokus kepada Bu Ratih. Saat ini dia harus belajar sehabis jam pelajaran Joa bertekat dirinya akan mencari Irham. Dia harus bertemu dengan laki-laki itu. Mungkin, untuk sekedar meminta maaf karna sudah menyakiti hati Irham tanpa sengaja.
Ketika bel berbunyi, Joa langsung melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Langkah kaki gadis itu besar-besar, perasaannya gelisah dia sudah mengelilingi sekolah, tapi, tidak menemukan keberadaan Irham dimana-mana. Please, Joa sangat ingin bertemu dengan laki-laki itu, kalian boleh berkata kasar pada Joa yang sudah seenaknya menyakiti perasaan kembarannya Sehun, tapi, Joa punya kesempatan dong untuk meminta maaf kepada laki-laki itu.
"Lo kemana sih." Joa khawatir dia takut Irham kenapa-kenapa. Joa menghentikan seorang siswa laki-laki yang membawa tumpukan buku, sepertinya laki-laki itu habis dari perpustakaan.
"Kenapa ya?" tanya laki-laki berkacamata itu dengan menatap Joa keheranan.
"Liat Irham gak? Kenal Irham kan? Kembarannya Sehun." Laki-laki berkacamata itu menganggukan kepalanya membuat Joa tersenyum lega.
"Kenal, tadi dia di perpus lagi baca komik," jawab laki-laki itu kemudian pamit karna sedang membawa buku dan ditunggu oleh guru mapel di kelasnya, Joa mengangguk membiarkan siswa cupu itu pergi.
Gadis itu melangkahkan kakinya menuju ruang perpustakaan, dia memang tidak ngecek keruangan penuh buku itu sebelumnya, rasa-rasanya aneh saja jika Irham yang sudah pintar bertamu ke perpus.
Joa masuk ke dalam perpustakaan, matanya menyapu sudut demi sudut perpustakaan. Dimana Irham? Katanya ada di perpus.
"Gak ada tuh." Joa mendengus sebal, jangan-jangan siswa cupu tadi membohonginya? Joa membalikkan badannya.
Duk.
"Aww."Joa menabrak benda keras yang membuat kepalanya terasa pening, Joa langsung memegang pelipisnya dan mendongak. Matanya membulat, ada rasa senang saat melihat laki-laki yang dari tadi dia cari ternyata benar ada di perpustakaan.
"Ngapain di sini?" Irham berjalan melangkah melewati Joa. Gadis itu segera mengikuti langkah kaki milik Irham.
__ADS_1
"Emang gak boleh? Ini perpustakaan semua siswa-siswi boleh masuk dong," ucap Joa, matanya menatap rak-rak buku sampai tak sadar jika Irham sudah berhenti dan berbalik menatap Joa membuat gadis itu lagi-lagi harus menabrak dada tegap milik Irham.
Joa mundur beberapa langkah dan menatap Irham, laki-laki itu tersenyum kecut saat melihat gadis pujaannya yang melangkah mundur tidak ingin berdekatan dengannya. Akankah perasaannya pada Joa terbalas? Atau malah bertepuk sebelah tangan entah sampai kapan.
"Di kelas gak lagi jam kosong, lo balik gih mumpung gurunya baru masuk," ucap Irham dan membuat Joa langsung menggelengkan kepalanya. Irham menaikkan kedua alisnya menatap Joa heran.
"Gue bakal masuk kelas kalau lo juga ikut masuk kelas," ucap Joa membuat Irham terdiam, kenapa dengan Joa? Tidak biasanya gadis itu bersikap sedemikian.
"Terserah lu, yang penting gue udah ngingetin," ucap Irham dan berbalik kemudian berjalan meninggalkan Joa. Gadis itu segera mengejar Irham, tapi, saat dia keluar dari beberapa saf rak buku Irham menghilang begitu saja, membuat Joa celingukan sendirian.
"Kenapa ilang lagi sih." Joa ingin berjalan mencari Irham, tapi, tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang membuatnya tersentak kaget. "Kaleng."
Irham berhenti dan menatap tajam Joa. "Gue mau masuk kelas, lo ikut gak?" mendengar itu Joa langsung mengangguk, membuat Irham tersenyum tipis.
Sebenarnya dia masih sangat ingin berada di perpustakaan, tapi, dia tidak ingin membuat gadisnya bolos pelajaran. Joa adalah siswi rajin dan tidak tau membolos pelajaran, tidak seperti dirinya yang badung ini.
Mereka berjalan berdampingan menuju kelas, ada rasa bahagia tersendiri yang Joa rasakan saat ternyata Irham tidak marah padanya, meskipun sikapnya yang berubah sedikit dingin. Setelah pelajaran ini dia akan benar-benar meminta maaf kepada Irham.
Ada getaran aneh saat jari-jarinya bersentuhan dengan Irham. Joa berniat untuk menarik tangannya, tapi, dengan cepat Irham langsung menggenggam tangan itu membuat Joa menatap Irham yang menolehkan wajahnya kemudian tersenyum.
"Gue tau lo tadi nyariin gue. Gue udah maafin lo kok, gue gak bisa marah sama lo, Joa." setelah mengatakan itu Irham kembali menatap ke arah depan, Joa hanya bisa tersenyum.
Apakah dia akan benar-benar jatuh ke dalam pesona dan kelembutan yang Irham berikan padanya? Irham tidak masuk pelajaran pertama saja Joa was-was dan khawatir kenapa laki-laki itu tidak ada, bagaimana jika Irham pergi dari hidupnya? Bisa gila kali dia, kenapa Joa jadi memikirkan Irham? Tidak,ini tidak boleh terjadi.
Sesampainya di depan kelas tangan Irham ingin menarik pintu, tapi, Joa langsung menghalanginya membuat laki-laki itu menatap Joa dengan kening mengerut.
"Nanti kalau Pak Djarot marah gimana? Kita udah telat tiga puluh menit, kalau dihukum gimana?" ada perasaan takut di dalam nada bicaranya, yang membuat Joa tidak berani masuk.
Irham tersenyum dan mengelus tangan Joa yang masih ada di genggamannya.
"Gak usah takut, Pak Djarot gak akan marah. Kalaupun dihukum kan di hukumnya berdua ini," ucap Irham menyakinkan membuat Joa hanya diam. "Mau masuk gak?" tanya Irham memastikan lagi jika gadis itu sudah tenang dan membuat Joa mengangguk.
__ADS_1
"Tapi, tangannya di lepas dulu," ucap Joa dan Irham menurutinya meskipun dengan berat hati.
Mereka masuk ke dalam kelas membuat seisi kelas menatap keduanya dengan mata tajam apalagi Pak Djarot yang sudah memilin kumisnya.
"Dari mana saja kalian? Gak tau ini sudah jam pelajaran saya?" Pak Djarot menatap tajam ke arah keduanya, membuat Joa menundukkan kepalanya dan itu di sadari oleh Irham.
Dengan santai Irham menjawab, "Dari perpustakaan, Pak. Baca buku." Pak Djarot hanya mengangguk mendengarnya.
"Saya maafkan kesalahan kalian berdua, cepat duduk. Dan jangan diulangi lagi," ucap Pak Djarot tegas yang di jawab oleh anggukan Joa dan Irham. Joa dengan cepat berjalan ke arah bangkunya membuat Irham tersenyum geli melihat tingkah pujaan hatinya itu.
"Widih kayanya bakal ada yang ngasih pajak jadian nih," ucap Tatang membuat seisi kelas menjadi ramai.
"Beneran mereka pacaran?"
"Potek deh hati dedek."
"Tapi, gue seneng liatnya dari pada ngeliat mereka berantem terus," ucap Rayyan pelan sambil tersenyum tipis membuat Fay yang melihat itu mendesis sebal.
Pandangan seisi kelas tertuju kepada Joa dan Irham yang duduk dipojokan. "Sudah-sudah mari kita lanjut pelajarannya," ucap Pak Djarot membuat mereka kembali menatap Pak Djarot dan melanjutkan pelajaran yang sempat terputus.
Irham tersenyum menatap Joa yang sedang mengeluarkan bolpoin. Tangan Irham menepuk pelan puncak kepala Joa membuat gadis itu menatapnya heran.
"Kalau gue bolos lagi jangan cari gue dan jangan ada niatan mau bolos pelajaran. Gue boleh badung, tapi, nggak buat lo. Lo harus jadi contoh yang baik buat anak-anak kita nantinya," ucap Irham dengan senyum manis di akhir kalimat laki-laki itu, membuat jantung Joa berdetak tak karuan di dalam sana. Joa tersenyum dan menganggukan kepalanya, membuat Irham ikut tersenyum.

...Komentarnya slur, kuy lah jangan malu-malu....
...See you again....
__ADS_1