
Tak.
Billy meringis saat jidatnya menjadi korban keganasan tangan Fay, sedangkan gadis itu merasa lega sudah menyelepet jidat nonong milik sahabatnya.
"Sekali lagi lo ngomong gitu bukan jidat lo aja yang gue selepet, tapi, muka lo yang gue tendang," ucap Fay membuat Billy gemetar sendiri membayangkan jika itu benar-benar terjadi.
"Ya, kan gue cuma nanya, Fay," ucap Billy yang tidak mau disalahkan begitu saja oleh sahabatnya ini.
"Mau lo cuma nanya atau nggak, tapi, pertanyaan lo itu mengusik hidup gue, Billy." Billy hanya diam, kenapa Fay menjadi sangat sensitif ketika membahas Rayyan?
Ya, sesampainya mereka di taman dekat lapangan basket tadi, dan kebetulan saat itu Irham, Rayyan dan tim basket sekolahan sedang berlatih basket. Billy bertanya-tanya tentang Rayyan kepada Fay dan itu membuat Fay yang awalnya tetap menjawab pertanyaan Billy lama-lama tidak nyaman karna pertanyaan terakhir Billy.
"Kalau lo masih naksir sama Rayyan gak? Kan secara setelah Irham, di angkatan kita dia yang paling ganteng kedua. Katanya sih."
Awalnya Fay hanya diam tidak langsung menjawab pertanyaan Billy. Tapi, Billy yang gemas tidak mendapatkan jawabannya dari sahabatnya itu, akhirnya Billy memaksa Fay menjawab yang membuat gadis itu malah mengeluarkan air mata.
"Please, jangan tanya itu lagi, Billy," ucap Fay yang tidak kuat jika seseorang menanyakan perasaan kepada Rayyan, dan Billy langsung mengangguk merasa bersalah.
"Iya, gue gak akan bahas tentang Rayyan lagi." Fay tersenyum tipis dan memeluk Billy, membuat laki-laki yang sudah dia anggap sebagai saudaranya itu juga membalas pelukkannya.
"Ekhem ... ekhem ... sahabat yang satunya dilupain gitu aja? Yodah deh, gue mah apa atuh." Fay dan Billy melepaskan pelukkan mereka dan terkekeh menatap Joa.
"Ya nggak lah, Joa. Tanpa lo kita gak bisa hidup," ucap Fay membuat Joa tertawa geli mendengarnya.
"Kalau gue sih masih bisa napas ya, ada atau tidak adanya si Joa," ucap Billy dengan nada sinisnya yang membuat Joa hanya bisa menggelengkan kepalanya pelanggan, sedangkan Fay mendengus sebal.
Joa langsung duduk di tengah-tengah antara Billy dan Fay, kemudian memeluk kedua sahabatnya itu penuh sayang.
"Gue beneran sayang banget sama lo bedua," ucap Joa membuat Billy mengelus rambut Joa dan Fay secara bergantian.
"Ya, kalau gak beneran juga gimana, Joa. Kita tuh dari bocil selalu bersama-sama, sampai gue di ragukan orang-orang kalau gue itu masih normal atau nggak karena deket kalian berdua terus," ucap Billy membuat Joa dan Fay hanya terkekeh mendengar penuturan dari sahabatnya.
__ADS_1
Jauh di sana Irham memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana seragamnya, matanya menelisik menatap ke arah dimana gadis pujaannya sedang saling berpelukan dengan sahabat-sahabatnya.
"Apa sekarang hari sahabat sedunia?" Irham melirik Rayyan, ternyata laki-laki itu juga memperhatikan tiga sekawan tengil itu.
"Mungkin hari jadi persahabatan mereka," ucap Irham dan Rayyan hanya mengadikkan kedua bahunya acuh membuat Irham mendesis sebal melihatnya.
"Lo gak cemburu sama Billy? Dia kan laki-laki." Rayyan menatap Billy dan membuat laki-laki jangkung itu juga menatapnya.
"Nggak, bagi gue, Billy itu sahabat terbaik buat Joa. Billy itu type laki-laki gentle dan bisa menjaga Joa. Apalagi mereka udah sahabatan dari TK, makanya gue gak cemburu. Mungkin, kalau bukan Billy yang jadi sahabat Joa gue pertimbangkan lagi," jawab Irham membuat Rayyan hanya mengangguk paham.
Irham menatap ke arah Joa kembali, senyum gadis itu merekah dengan bahagianya membuat wajah gadis berkuncir kuda dengan jepitan berwarna ungu di samping kanan kepalanya itu menjadi semakin manis berkali-kali lipat. Irham berharap dan berdoa agar Joa bisa membuka hatinya untuk dirinya.
Joana Ceysa Orianthi, gadis tomboy dengan pesona tersendiri yang mampu membuat hati Irham berdesir tak karuan, cenat-cenut gak menentu, uring-uringan dan panas dingin.
Di pertemuan pertamanya dengan Joa, awalnya Irham biasa saja. Tapi, dia sudah tertarik oleh Joa, senyum gadis itu beda dari senyum orang-orang, wajah manis dan imut gadis itu selalu saja mengelilingi ingatan Irham membuat dia berpikir jika dirinya sudah gila dan hanya bisa memikirkan Joa saja.
Irham memang belum pernah menembak Joa untuk dia jadikan pacar, karena dia ingin mengajak Joa langsung menikah saja. Tapi, Irham belum ada kekuatan besar untuk dirinya berbicara dengan Joa. Irham takut Joa menolak akan hal itu dan menjauhinya. Membayangkan Joa menjauhinya saja sudah membuat Irham menggelengkan kepalanya tidak mau jika itu sampai terjadi.
Irham dengan sabar menunggu Joa dan memberikan perhatian besar untuk gadis itu. Tapi, entah kenapa makin lama Joa malah semakin menjauhinya, ingin rasanya dia bertanya kenapa? Tapi, dia takut jika Joa akan marah lagi padanya.
...::::::...
Irham memperhatikan Joa yang sedang meraut pensil kayu yang dia berikan kepada Joa waktu itu. "Punya gue dong sekalian," ucap Irham dan memberikan pensil yang baru dia beli tadi di koperasi sekolah sebelum masuk kelas.
Joa mengambil pensil milik Irham dan menyerutnya, setelah itu Joa kembali memberikan pensil Irham kepada pemiliknya.
"Tadi istirahat makan apa?" Joa menengok menatap wajah Irham yang sedang tersenyum manis, kenapa laki-laki ini tidak capek selalu memberikan senyumannya untuk Joa.
"Apakah gue harus jawab pertanyaan non-faedah lo barusan?" Joa malah balik bertanya dengan nada bicara yang ketus. Bukannya tersinggung Irham malah tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke arah Joa.
"Harus, karna gue pengen tau apa yang calon ibu dari anak-anak gue makan tadi," jawab Irham yang berhasil membuat Joa mendesis sebal. Ada getaran yang tidak Irham sadari saat Joa menatap wajah Irham dari sedekat ini. Benar-benar mirip Sehun, itu pikirnya.
__ADS_1
Tangan Joa terangkat untuk merapihkan rambut Irham yang sedikit berantakan karena laki-laki ini habis bermain basket tadi. Irham menegang, dia kaget dengan apa yang Joa lakukan. Tapi, sedetik kemudian dia tersenyum manis ke arah Joa sambil merasakan sentuhan tangan Joa yang merapihkan rambutnya.
Ini baru awal, Irham akan pastikan Joa juga jatuh hati padanya. Dia ingin Joa mencintainya seperti dia yang mencintai gadis itu.
"Eh? Maaf gak sengaja." Joa tersadar dan menarik tangannya, Irham langsung mengambil tangan Joa membuat gadis itu menatap Irham dengan kerutan di keningnya.
"Mau sengaja atau gak sengaja, gue menganggap itu perhatian yang lo kasih buat gue," ucap Irham kemudian laki-laki itu mengecup lembut tangan Joa, membulat gadis itu kaget dan langsung menarik tangannya.
IRHAM SUDAH GILA!!!
IRHAM GAK WARAS.
"Gak waras lo!" Joa enggan menatap Irham, dadanya berdebar tak karuan di dalam sana. Kenapa rasanya seperti ini? Apa yang Irham lakukan barusan mampu membuatnya gemetar.
"Gue gila karna lo," ucap Irham santai dan menopang dagunya dengan sebelah tangannya memperhatikan ke arah Joa.
"Otak lo konslet, butuh perawatan," jawab Joa atas ucapan Irham barusan yang membuat Irham tersenyum geli.
"Sekecil perhatian dari lo mampu membuat gue deg-degan seur, Joa. Kalau lo mau tau," ucap Irham membuat Joa menatap tajam laki-laki itu, kemudian kembali menatap ke arah depan dengan perasaan tak menentu di dalam sana.

...Komentarnya di tunggu, guys....
...Nantikan update selanjutnya ya. Semoga kalian tambah suka dengan karya-karya aku....
...Terima kasih sudah membaca sampai sini....
...See you next chapter....
__ADS_1