Bias Hujan : Ingatan Tentang Dirimu

Bias Hujan : Ingatan Tentang Dirimu
Kamu


__ADS_3

Hujan turun sangat deras. Aku yang berdiam diri di halte hanya bisa menatap rintik hujan yang jatuh. Masih dengan seragam putih abu-abu, kulitku dengan jelas merasakan hawa dingin. Sweater pun tak membantu untuk menghangatkan diri. Lama berlibur di daerah pantai, aku lupa bahwa pegunungan bisa sedingin ini.


Hembusan angin membuatku terus menggigil. Sialnya, bus yang kutunggu tak kunjung datang.


Kulirik jam tanganku yang menunjukkan waktu sudah sore, biasanya cahaya senja akan menyambutku keluar dari sekolah. Tapi awan berkumpul sangat pekat. Penglihatanku hanya dibantu dengan lampu halte yang tak seberapa.


Aku takut. Rasanya ingin cepat sampai di rumah.


Menghela napas panjang, pandanganku tak bisa lepas dari arah datangnya bus. Entah sudah berapa lama aku berdiri disini dan menatap arah itu. Lama kelamaan leherku terasa pegal.


Omong-omong, sepi sekali. Hanya ada lalu lalang kendaraan yang lengang melaju menerobos hujan. Siswa yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing sejak siang tadi. Berbeda denganku yang harus rapat sehingga aku pulang terlalu sore.


Temanku, Virha, sudah mengajakku untuk pulang bersama. Dia biasanya pulang denganku naik bus tapi kali ini dia membawa motor. Bodohnya, aku menolak ajakannya. Kupikir hari ini tidak hujan karena sebelumnya langit cukup cerah. Aku pun memiliki rencana untuk pergi ke toko buku sebelum pulang ke rumah.


Tepat ketika aku berada di halte ini, awan segera berkumpul membentuk barisan seolah meledekku bahwa aku salah perkiraan. Akhirnya aku terjebak disini.


Sial.


Suara cipratan air akibat seseorang berlari terdengar mendekat, aku menoleh dan melihat seorang laki-laki. Aku tidak bisa melihat wajahnya karena tertutup tudung jaket, akupun tidak peduli juga. Tapi dari celana yang dia kenakan dia bukan siswa dari sekolahku. Jadi, aku berusaha tidak memperhatikannya dan kembali menatap rintik hujan yang jatuh.


Hening.


Aku bisa mendengar deru napasnya yang memburu walau dia berdiri agak jauh dariku. "Akhirnya," suara bisikannya membuatku menoleh. Dia menarik tudung jaketnya. Menampilkan wajahnya yang menawan.


Alis matanya yang tebal namun tajam, hidungnya yang mancung, bibirnya tipis seperti dua garis yang menyatu. Namun yang paling menarik perhatian adalah matanya yang berwarna hitam pekat. Tatapannya tegas dan fokus.


Saat melihat iris hitam itu, aku seperti tenggelam di dalamnya.


Menerobos hujan membuat rambutnya basah. Dia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri lalu mengacak rambut dengan telapak tangannya yang dililit perban, mencoba menghempas titik-titik air yang menempel di rambutnya.


Aku terpaku. Pemandangan yang hanya bisa kulihat anime, kini berada jelas di hadapanku.


Sejak dulu aku bertanya-tanya, kenapa gadis yang terpana selalu ditampilkan slow motion dalam anime? Kini aku mengerti. Aku merasakannya, perasaan seakan waktu berhenti dan gerakan mulai melambat. Itu karena aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.


Merasa diperhatikan, ia menghadap ke arahku. Sontak aku mengalihkan pandangan ke arah sebaliknya.


Aduh, malu banget. Dia pasti mikir aku orang aneh.


Canggung. Aku memakai earphone dari sakuku dan mendengarkan musik, mencoba mengalihkan pikiran.


Kenapa bus tidak kunjung datang, ya? Hari sudah semakin sore, aku khawatir sudah tidak ada bus yang beroperasi. Apalagi cuaca yang hujan deras seperti ini. Menyebalkan.


Tapi... tadi itu, menakjubkan. Tetes air yang terhempas dari rambutnya benar-benar terlihat indah.


Mataku tak tahan melirik ke arahnya, tapi dengan cepat kualihkan pandangan.


Bagaimana tidak? Lelaki itu masih menatapku! Jantungku rasanya mau copot.


Kenapa dia masih memperhatikanku?


Apa karena aku ketahuan memperhatikannya tadi?

__ADS_1


Abaikan. Abaikan. Abaikan. Berpikir positif Naura. Mungkin dia sedang melihat kearah datangnya bus yang kebetulan membuatnya melirik ke arahku.


Tapi, aku yakin dia menatapku. Tanpa bicara sepatah katapun, entah itu bergumam atau apapun. Kadang mulutnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu padaku, tapi kembali tertutup karena merasa ragu.


Dan itu membuatku gemas.


Entah keberanian darimana, kulepas earphone yang menggantung di telingaku kemudian menghadapnya dengan tegas. Sejenak aku sempat melihatnya tersentak namun kembali seperti tidak terjadi apapun.


“Dari sekolah mana, kak? Saya baru lihat kakak di daerah sini,” kubuang perasaan malu tadi dan mengajaknya bicara. Lebih baik kumulai pembicaraan, rasanya gemas dengan tingkahnya yang setengah-tengah.


Tak siap dengan pertanyaanku, dia diam sejenak sebelum menjawab, “Saya dari SMA khusus putra di Jalan Pelita. Jangan panggil kakak ya? Nama saya Luthfian, kalau kamu?” aku agak ragu saat dia mengulurkan tangan. Tapi rasanya tidak sopan jika aku mengabaikannya karena aku yang pertama memulai obrolan.


Di sisi lain, tak kusangka dia ingin mengetahui namaku.


“Saya Naura,” balasku seraya membalas uluran tangannya. “Ngomong-ngomong, ada urusan apa sampai bisa sampai ke Jalan Indah. Jaraknya jauh banget kan dari sana?”


Aku yang biasanya pendiam dan tak peduli dengan keadaan sekitar tiba-tiba ingin tau tentang orang ini. Aneh, bukan? Perasaan apa ini?


Matanya menerawang ke langit yang masih gelap berawan. Mungkin sebentar lagi akan memasuki petang. “Saya awalnya mau pulang, tapi denger dari teman, orang yang udah lama saya cari ada di sekitar sini.” Tatapannya berubah ke arahku, “jadi saya buru-buru kesini. Eh, malah kehujanan."


“Oh, gitu.” Aku tersadar untuk menahan diri. Padahal aku baru mengenalnya, harusnya aku tidak mencampuri urusannya. Hanya saja aku ingin tahu, mulutku tidak bisa menahan lebih lama, “udah ketemu sama orangnya?”


Dia mengangguk, tatapannya masih setia ke arahku. “Udah, tapi kayanya dia gak inget saya.”


Aku tidak tahu harus bereaksi apa, tapi jika aku mencari seseorang sejak lama kemudian saat bertemu dia tidak mengenaliku pasti menyakitkan. Rasa menyesal hadir di benakku.


Benar, seharusnya aku tidak ikut campur. “Maaf, saya turut prihatin.”


Salahkan saja rasa penasaranku ini.


Aku tertegun, orang itu pasti sangat berharga baginya. Dilihat dari sikapnya, siapapun orang itu, dia sangat beruntung memiliki teman seperti Luthfi. Ketika melihat matanya aku bisa melihat kesedihan dan kerinduan yang amat di kedalaman mata pekatnya.


Rasanya sakit.


“Seharusnya saya tidak mengharapkan lebih. Lagipula tiga tahun sudah berlalu. Saya senang dia masih seperti dulu.” Garis tipis di bibirnya bergerak membentuk senyuman geli, “gadis yang kikuk.”


Tiba-tiba dia tersenyum lebar membuat matanya menyipit dan melengkung membentuk bulan sabit, “saya malah curhat, nih. Haha.”


Suaranya berubah lembut saat mengatakan, “Maaf dan... terimakasih, Naura.”


Tatapan teduh itu, rasanya aku pernah melihatnya. Rasa hangat mengalir memenuhi hatiku. Perasaan ini pun tidak terlalu asing. Dimana dan kapan aku pernah merasakannya ya?


Suara deruman mesin mobil mengalihkan perhatianku. Rasa bahagia, lega, meletup di hatiku membuat beban berat di pundakku menghilang. Akhirnya bus datang juga!


Aku meliriknya yang masih bergeming tak berniat untuk masuk ke dalam bus. “Gak naik, Luthfi?”


Dia menggeleng, “teman saya mau jemput.”


“Oh gitu, kalau begitu saya duluan. Mari.” Aku mengangguk pelan kemudian berlari kecil untuk masuk ke dalam bus.


Hawa hangat langsung membuatku nyaman. Rasa dingin yang semula seolah menusuk tulang perlahan sirna. Keadaan bus yang tidak terlalu ramai membuatku bebas duduk dimana saja. Pilihanku jatuh pada kursi dekat jendela. Ketika aku menoleh untuk melihatnya lagi, dia melambai padaku seraya tersenyum.

__ADS_1


Mulutnya bergerak mengatakan sesuatu, tapi aku tidak tahu apa itu. Agak kikuk, aku balas melambai dan terus memperhatikannya hingga bus melaju menjauh.


Aku jadi kepikiran. Tadi, kenapa dia bilang maaf dan terimakasih ya?


***


Pagi ini hujan datang lagi. Menghadirkan hawa mengantuk dan rasa dingin menyelimuti ruangan kelas. Beberapa siswa menyenderkan kepalanya di atas meja, menopang dagunya dengan tangan, lebih parahnya tidur ditutupi buku terbuka. Materi seni budaya yang diberikan seolah-olah masuk telinga kanan keluar telinga kiri.


Sayangnya aku tidak bisa begitu. Duduk di barisan depan membuatku harus membuka mata lebar-lebar, mendengarkan penjelasan tentang symbol yang ada pada seni dua dimensi dan tiga dimensi.


Mengatupkan gigiku kuat, aku berusaha tidak menguap. Salah langkah aku bisa ditunjuk untuk menjelaskan kembali apa yang sedang diterangkan.


Bukan masalah sih, karena sejak tadi aku serius mendengarkan sambil mencatat di buku. Tapi dengan audiens yang tepar begitu mana mau aku berbicara panjang lebar di depan tanpa ada yang memperhatikan. Aku benar-benar menghormati guru karena bisa sabar menghadapi kami. Karena ini juga aku tidak tertarik menjadi guru.


Bel tanda istirahat berbunyi dua kali, siswa yang tadi mengantuk tiba-tiba bersemangat. Tidak mau ambil pusing, Pak Darma menutup materi hari ini dan memberikan PR mengerjakan pilihan ganda bab satu untuk dikumpulkan minggu depan.


Sahutan semangat terdengar dari penjuru arah.


Aku mendengus sebal, anak-anak ini, giliran istirahat aja semangat banget.


Menarik tudung jaketku aku menelusup di antara lipatan tanganku di atas meja. Dengan puas aku menguap setelah susah payah menahannya tadi. Akhirnya bisa tidur juga.


Sesuatu menusuk kepalaku berkali-kali. Awalnya ingin kuabaikan, tapi makin lama tenaganya semakin besar. Dengan kesal aku mendongak, “APA?!”


Tapi dibalas dengan tarikan di kedua pipiku, “galak bener. Inget hari Rabu, minta Black Clover.”


Tatapan datarnya selalu membuatku kesal. Tingkahnya yang suka mencubit pipi dan tukang palak anime menambah kesan buruk dimataku. Jabatannya saja ketua kelas, tingkahnya seperti preman pasar.


“Lwepaswin dwulwu.”


Tangannya terlalu kuat untuk kutarik. Jadi aku hanya bisa meminta dilepaskan. Jika saja Virha ada disini pasti aku bisa berlindung padanya. Sayangnya dia ada urusan OSIS, jadi yasudahlah.


Angga menarik kursi sehingga duduk berhadapan denganku, kami menyiapkan aplikasi transfer di ponsel masing-masing tanpa mengatakan apapun.


Sudah menjadi kebiasaan bagi kami untuk berbagi file anime. Aku bertugas mendownload anime on-going, sementara Angga bertugas mendownload film atau anime tamat yang kuinginkan. Hm... Sejak kapan ya kami melakukan ini? Seolah hal ini mengalir begitu saja.


Lagi-lagi aku menguap lebar. Bedanya sebuah telapak kasar menutup mulutku, dia bersiap mengomel. “Kalo nguap mulutnya ditutup, lalet lewat makan lalet lo.”


Aku menarik tangannya dari mulutku, menunduk menatap layar ponsel tanpa niat melawan balik. Rasa kantuk yang menyerang membuatku malas bertengkar dengannya. Lagipula aku yang salah. Jadi aku tidak memiliki apapun untuk dikatakan.


Tapi sepertinya dia paham.


“Kenapa? Ngantuk?” tanyanya seraya mengecek video yang sudah selesai ku kirim. “UKS aja pen tidur mah.”


“Males turun, jauh” Jawabku singkat. Aku meluruskan tangan kiri diatas meja kemudian menjadikannya bantal. “Sana hush hush,” gumamanku entah sampai atau tidak di telinganya. Tapi dia mengerti untuk menjauh, tak lupa mengembalikan kursi ke tempat semula.


Ketika Angga pergi, suasana kelas menjadi sepi. Mungkin yang lain sudah pergi ke kantin. Sisanya hanya anak yang membawa bekal atau sudah ke kantin saat jam kosong tadi pagi. Hal ini membuat suara hujan terdengar jelas ditelingaku.


Hujan.


Aku jadi teringat laki-laki yang kutemui di halte kemarin. Pemandangan ketika dia menghempas bulir-bulir air dari rambutnya terngiang di pikiranku semalaman. Membuatku mencari anime yang memiliki adegan seperti itu hingga begadang.

__ADS_1


Tapi tak ada satupun yang membuatku puas melihatnya. Perasaan sore itu begitu indah dan tak bisa dibandingkan dengan visualisasi yang disajikan anime. Menakjubkan.


Rasanya ingin melihatnya lagi. Berharap mata hitam itu bisa memunculkan cahaya hangatnya.


__ADS_2