
Deru napas memburu dan langkah kaki bertubi-tubi terdengar di sepanjang koridor.
Aku dan Thalia berusaha berlari secepat mungkin untuk sampai di kelas Yiva yang berada di lantai tiga. Antara sadar dan tidak, yang kupikirkan hanya satu, ke kelas Yiva dan ambil obat.
Saat di ujung koridor Thalia menarik tanganku untuk berbelok menuju lift. "Ra... hah... naik lift lebih cepet, hah.... aku udah engap."
Kami berhenti di depan pintu lift, Thalia sudah menekan tombol naik sementara aku masih tidak terlalu mengerti dan hanya mengikuti Thalia.
Sepertinya aku akan gila.
"Ra.. napas, tenang.... ha... Yiva baik-baik aja,"
"Tha," aku pun mulai menstabilkan deru napasku yang memburu. Kami sama-sama jarang berolahraga, tapi Thalia lebih tenang sehingga dia tidak terlihat begitu kelelahan.
Akhirnya pintu lift terbuka. Kami segera masuk dan Thalia menekan tombol lantai tiga. Setelah itu pintu tertutup kembali.
"Engga papa, Ra. Kita harus tenang biar bisa nganterin obat ke Yiva secepatnya," ujar Thalia seraya menggenggam tanganku erat.
Aku mengangguk. Tapi pikiranku entah kemana. Saat ini aku benar-benar hanya mengikuti insting tanpa berpikir jernih.
Kelas Yiva berada di dekat lift, bangku Yiva berada di barisan terdepat dan dekat dengan meja guru. “Permisi!” teriak Thalia melepaskan suaranya tanpa mengontrol nada sehingga terdengar sumbang.
Pintu pun dibuka asal sehingga terhempas menimbulkan suara bising. Beberapa mata memandang sinis kami, tapi pelaku sama sekali tidak memperhatikan.
“Apaan sih?”
“Oh, mereka teman-teman Nona Yiva.”
“Apa penyakit Nona kumat lagi? Bukannya dia lagi main voli ya?”
“Kayanya gitu, kelas kita masuk final soalnya.”
“Pantes temen-temennya jadi gila gitu.”
Aku bisa mendengar suara bisik-bisik itu dari dua orang yang duduk di pojok kelas. Itu tidak penting untuk saat ini, aku akan mengurus mereka nanti.
Di sisi lain deru napasku dan Thalia juga terdegar menggebu-gebu. Dua orang rumahan seperti kami benar-benar payah untuk berlari kencang dalam waktu yang lama.
Getaran mulai terasa di kedua kakiku, aku tidak tahan sehingga duduk di salah satu kursi di sana. Thalia lebih baik dariku karena masih bisa berdiri dan menumpahkan isi tas Yiva di atas meja.
“Dapat!” Setelah menggenggam kotak obat Yiva, Thalia menunduk ke arah teman sebangku Yiva yang masih terkejut, “minta tolong beresin ya, makasih banyak!”
Aku menggigit bibir saat Thalia menarik tanganku. Kami segera kembali menuju ke gymnasium melewati kantin. Beruntung, jalan yang mereka lewati cukup sepi.
‘Kakiku! Berusahalah sedikit lagi!’ teriakku dalam hati. Aku berusaha keras untuk lari sambil menutup mata.
‘Brukk!’
__ADS_1
Aku merasakan tubuhku menabrak sesuatu. Aku tidak ingat tiba-tiba tubuhku sudah berada di lantai dengan sesuatu menahan kepalaku.
“Naura!”
Teriakan Thalia yang terkejut membuatku terkesiap. Ia berhenti berlari dan hendak kembali ke arahku. Tapi aku teringat bahwa Yiva lebih penting saat ini, “Yiva dulu Tha!”
Tentu saja Thalia akan bingung, tapi ia juga tahu bahwa kondisi Yiva akan lebih berbahaya tanpa adanya obat di tangannya.
“Nanti aku balik lagi… Kamu, seragam basket merah. Aku ingat wajahmu jadi jangan berpikir macam-macam dengan temanku!” Thalia segera berlari menuju gymnasium.
Rasa stres yang menumpuk di pikiranku lepas secara tak terkendali. Rasa sakit di tubuh sisi kiri karena membentur lantai mulai terasa. Lalu, sesuatu yang menahan kepalaku… tangan?
“Naura? Kamu engga papa?”
Suara familiar itu…
Sebelum aku mengatakan nama yang terlintas di pikiranku, pandangan gelap mengambil alih inderaku.
***
“Lain… hati-hati….”
“Teman saya… dok?”
“Engga… kecapean aja… siuman.”
Aku mencoba bangun dari tempat tidur lalu merasa sengatan di lutut dan siku kiri. Benar, aku menabrak seseorang tadi. Sepertinya tubuhku lebam karena terjatuh dan membentur lantai.
Tapi aku tidak merasakan sakit apapun di kepala. Kalau tidak salah, tangan orang yang kutabrak menahan kepalaku supaya tidak membentur lantai.
Aku menghela napas. Aku harus meminta maaf dan berterimakasih padanya.
Gorden yang mengelilingi kasur bergeser pelan dan menampilkan dokter UKS yang kukenal. “Dokter,” gumamku pelan. Lalu aku melihat orang lain di belakangnya. “Luthfi?”
Laki-laki itu tersenyum lega melihatku baik-baik saja.
Aku ditanyai beberapa pertanyaan oleh dokter untuk mengecek keadaanku. Sesekali aku melirik ke arah Luthfi. Secara mengejutkan laki-laki itu begitu memperhatikan setiap pertanyaan dan jawaban kami.
“Selain lebam di siku dan lutut, kamu baik-baik aja. Mungkin masih kaget ya?”
Aku mengangguk membenarkan. Rasanya jantungku masih berdebar kencang saat memikirkan kejadian tadi.
Yiva yang membutuhkan obat secepat mungkin, berlari kencang yang tidak pernah kulakukan, lalu menabrak seseorang. Aku tidak percaya sudah melewati semua ini dan hanya mendapatkan lebam saja.
“Kalau gitu dokter buatin teh dulu biar kamu lebih tenang,” ujar dokter lalu pergi menuju dapur yang berada di ruangan kecil di dalam uks hanya saja terpisahkan oleh lemari.
Kini, tinggal aku dan Luthfi.
__ADS_1
“Syukurlah kamu engga papa,” ujar Luthfi melangkah mendekat sembari menarik kursi dan duduk di sana. “Saya takut kamu kenapa-napa waktu kamu pingsan.”
Aku bisa melihat wajahnya benar-benar rileks. Rupanya dia benar-benar mengkhawatirkanku. Padahal aku yang menabraknya.
“Maaf, aku beneran ceroboh karena nutup mata pas lari.” Aku menundukkan kepala, benar-benar merasa menyesal atas apa yang telah kulakukan.
Rasa panik mengambil alih pikiranku sehingga aku tidak bisa berpikir jernih. Harusnya, aku lebih menenangkan diri. Bukannya membantu menyelesaikan masalah, aku malah membuat masalah baru.
“Saya terima maaf kamu, saya juga memaafkan kamu karena kamu sudah tau apa salahmu. Tidak apa-apa, yang terpenting kamu tau kamu salah dan lain kali jangan lakukan itu lagi.”
“Makasih banyak, Luthfi.” Aku pun akhirnya mengangkat kepala.
Sekilas pandangan kami bertemu. Aku buru-buru mengalihkan pandangan saat mata hitam itu terlihat teduh menatapku.
Jantungku kembali berdegup kencang. Apa aku panik lagi?
Aku menghela napas untuk menenangkan diri.
Perban elastis melilit siku dan lututku. Pantas saja aku tidak bisa menekuk keduanya. Aku yang menabrak saja mendapat memar apalagi Luthfi.
Menyadari hal itu, mataku sontak menatap keadaan Luthfi. “Kamu… engga papa?” aku terkejut melihat penampilan laki-laki itu. Jangankan lebam, bahkan seragam basketnya saja tidak terlihat kotor sedikitpun.
Luthfi mengangguk, “Iya, jangan khawatir. Saya biasa latihan taekwondo, jadi jatuh seperti tadi bukan apa-apa.”
“Begitu,” tanpa sadar aku mengerucutkan bibir.
Irinya. Aku juga ingin punya tubuh anti luka seperti itu. Meskipun bukan berarti aku ingin terus terjatuh. Tapi, punya tubuh bugar seperti Luthfi tidak buruk juga.
“Naura, kamu kenapa?” Luthfi seperti khawatir karena aku tiba-tiba terdiam.
“Aku iri sama tubuh kamu.”
Mendengar hal itu, Luthfi membulatkan mata, bergerak menjauh dengan kedua tangannya menutupi tubuhnya sebisa mungkin. “Tubuh… saya?”
“Iya, tubuh kamu. Padahal tadi aku nabraknya keras tapi kamu engga kenapa-napa.”
“Ya?” Luthfi terlihat terkejut, lalu ia tertawa pelan.
“Huh?” Aku terdiam memikirkan kalimat yang kuucapkan terdengar aneh, “Eh, bukan berarti aku pengen kamu kenapa-napa, beneran!”
Luthfi menutup rapat bibirnya menahan tawa, aku tidak bisa memprediksi apa yang dipikirkan laki-laki itu hanya dari ekspresinya. Ah, sudahlah kulanjutkan saja.
“Maksudku… Coba aja tubuh aku sekuat kamu, engga mungkin aku lebam sana-sini karena jatoh.” Gumamku seraya menunjukkan perban di tanganku.
“Makanya kalo diajak olahraga tuh mau, dasar manekin.”
Aku terkejut karena bukan Luthfi yang membalas ucapanku. Tetapi, Naya.
__ADS_1
Lantas pandanganku terarah pada sumber suara. Di pintu masuk UKS, ada Thalia dan Viona yang berusaha menarik Yiva untuk berbaring di tempat tidur lalu Naya yang bersidekap menatapku sinis.