Bias Hujan : Ingatan Tentang Dirimu

Bias Hujan : Ingatan Tentang Dirimu
Kak Varsha


__ADS_3

Aku menerima beberapa totebag berisi tumpukan kertas. Sekilas, aku bisa melihat tulisan proposal yang tertera di kertas paling depan. "Tumben pake kertas, kak? Biasanya lewat website kan, ya." Tanyaku seraya melihat-lihat dan menaruhnya di lantai dekat pintu.


Bagaimana aku tahu kakak selalu menggunakan website untuk menandatangani berkas? Tentu saja karena aku sering merusuh di ruang kerja kakak yang berada di tengah-tengah antara kamarku dan kamar saudara laki-lakiku.


Di sisi lain, aku melihat kak Varsha. Padahal hari ini adalah hari sabtu, tetapi dia sudah datang ke apartemen bosnya untuk mengantarkan pekerjaan. Pagi-pagi lagi. Susah juga ya menjadi sekretaris.


Lalu, betapa repotnya Kak Varsha jika harus bolak-balik untuk mengurus berkas ini. Total ada 5 totebag yang beratnya cukup membuat telapak tanganku memerah.


Ah, memikirkan itu aku jadi mendapat ide.


"Iya, website untuk tanda tangan sedang diperbaiki. Tolong, pastikan Pak Arief sudah menandatanganinya sebelum saya kembali sekitar jam 8 malam."


"Oke, Kak. Pantesan kakak dari tadi malem ngomel-ngomel engga jelas. Websitenya down ternyata," ujarku seraya mengangguk mengerti.


Aku masih ingat saat sedang menonton anime di kamar, suara mengumpat terdengar berkali-kali berasal dari ruang kerja kakak. Aku sudah bilang kan ruang kerja kakak berdekatan dengan kamarku, ditambah ruangan kami tidak kedap suara sama sekali.


Bisa dibilang, tadi malam aku seperti pergi ke kebun binatang dengan keanekaragaman hewan. Tour itu berhenti ketika aku datang ke ruang kerja kakak dan mengamuk di sana. Rasanya kepalaku akan dipenuhi dengan kebun binatang untuk beberapa hari ke depan.


Aku mendongak kembali menatap Kak Varsha. Wanita berambut hitam legam itu menunduk untuk pamit, "Karena urusan saya sudah selesai. saya pamit dulu."


"Be-bentar kak!" aku bergegas menghalangi jalan Kak Varsha dengan merentangkan tangan di hadapannya. Wajah Kak Varsha tetap datar namun aku tahu dia bertanya-tanya mengapa aku menghentikannya.


"Kenapa kakak engga masuk dulu? Daripada bolak-balik kan, mending nunggu di dalem." Aku tersenyum cerah. "Kakakku lagi buat masakan pedas lho, Kak. Sayang banget kalo Kak Varsha engga nyobain."


Aku mencoba memegang tangannya dan membawanya masuk. Tapi dengan lembut Kak Varsha melepaskan tanganku seraya menggeleng.


"Maaf, tapi saya masih ada urusan. Terimakasih atas tawarannya, Naura. Selamat menikmati makanannya."


Aku diam membeku saat Kak Varsha berjalan melewatiku. Berbalik untuk melihat kepergiannya, aku merasa sedih untuk kakakku. Semakin jauh punggungnya dari pandanganku semakin jauh pula harapanku untuk menjadikan Kak Varsha menjadi kakak ipar.


Untuk hari ini, aku sudah berjuang hanya sampai disini, Kak. Aku mengepalkan tanganku dan menaruhnya di dada, "Setidaknya aku sudah berjuang untuk kakak, jadi sisanya kakak yang harus melanjutkan."

__ADS_1


"Melanjutkan apa?"


Suara familiar itu terdengar dengan jelas tepat di sebelah telingaku. Lantas aku melompat terkejut menjauhi sumber suara. "Kakak, kaget!"


Mengabaikan reaksi terkejutku, kakak menatap ke tempat aku menatap Kak Varsha sebelumnya. Kini hanya ada lorong apartemen yang kosong tanpa kehadiran punggung itu, "Kamu liat apaan sampe engga sadar kakak dateng?"


Aku menghela napas panjang untuk menenangkan detak jantungku. "Beneran deh, engga bisa apa sekali aja ya anteng diem gitu terus engga bikin aku kesel?!" ujarku dengan sekali napas. Lama-lama aku menjadi rapper kalau kakak terus begini.


"Jangan teriak-teriak di luar, ntar tetangga pada protes."


Memangnya karena siapa aku berteriak?! teriakku dalam hati menahan kekesalan.


Pria itu menoleh ke kanan dan kiri melihat sekitar dengan heran. "Mana tamunya? Kok engga ada siapa-siapa?" ujar Kak Arief heran mengabaikan teriakan ku tadi.


Mungkin saja dia datang mengecek karena tidak ada tanda-tanda aku kembali masuk ataupun membawa tamu ke dalam. Dilihat dari tangannya yang membawa obeng, sepertinya kakak belum selesai memperbaiki blender.


Aku menghela napas panjang. Sepertinya aku akan menunggu makanan buatan kakak lebih lama, blender untuk menghaluskan bumbunya saja belum bisa digunakan.


"Tadi Kak Varsha dateng bawain kakak itu tuh," aku menunjuk beberapa totebag yang menyandar pada daun pintu, "katanya nanti jam 8 malem Kak Varsha dateng lagi buat ambil kertas yang udah ditandatangani."


Masih merasa kesal aku segera masuk ke dalam apartemen. "Aku mau masak mie aja ah, Kak. Udah laper lagi," ujarku untuk membalas kekesalan.


Kakak yang mengikutiku sembari mengambil totebag dan menutup pintu malah membalas dengan tenang, "Oh iya bener, yaudah nanti kakak buatin. Kakak juga udah laper," ujarnya sambil melewatiku dan segera menuju dapur.


Ia meletakkan totebag di sofa ruang TV lalu pergi ke dapur untuk memasak mie.


Aku menghela napas panjang menatapnya tak berdaya. Kalau begini kan rasa kesalku hilang. Melihatnya mulai menyiapkan bahan-bahan makanan, aku jadi rindu ibu.


Caranya membuka mie, caranya memasak mie, caranya memotong telur mentah, bahkan cara memotong sayuran pun benar-benar mirip. Ya namanya juga anaknya. Kakak kan belajar masak dari ibu.


Bagaimanapun, aku tahu kakak berusaha untuk mengisi kekosongan ibu di rumah. Sesibuk apapun kakak di kantor, ia pasti akan menyempatkan waktu untukku setiap hari. Aku sangat bersyukur memiliki kakak disisiku.

__ADS_1


Kakak berhenti menggerakkan tangannya untuk memotong sayuran saat melihatku masih diam berdiri tak bergerak. "Ngapain berdiri kek patung gitu? Duduk dulu sana. Nonton anime kek apa kek, dasar manekin."


Oh, maaf. Aku tidak jadi emosional.


"Iya iya," mendengus kesal, aku tetap menuruti ucapan kakak.


...****************...


Sarapan pagi ini berjalan seperti biasanya, aku memakan nasi goreng dengan telur mata sapi di atasnya serta segelas susu yang tersisa setengah. Sedangkan kakak meminum kopi dengan roti bakar yang hampir gosong dilapisi selai coklat.


Tapi entah kenapa aku melihat suasana gelap di sekeliling kakak.


Sarapan pagi kami selalu hening seperti ini. Mungkin karena aku selalu mengantuk di pagi hari dan belum sepenuhnya sadar. Ataupun karena kakak yang fokus membaca berita di tabletnya. Biasanya memang setenang ini.


Hanya saja, aku yang mengantuk ini menatap penampilan kakak yang tidak biasa.


Pria yang sudah rapi bahkan sebelum membangunkan aku itu terlihat murung. Aku menatapnya sambil memikirkan hal apa yang mungkin membuat kakak murung begitu.


"Kenapa ngeliatin kakak kaya gitu?" tanya Kak Arief saat mendapati diriku menatapnya serius. Ia memeriksa wajahnya bahkan mengecek wajahnya di layar tablet. "Ada yang aneh dari kakak?"


Aku mengangguk seraya menyipitkan mata, "Kayanya kakak baik-baik aja semalem pas kak Varsha dateng buat ambil totebag. Tapi kok sekarang kakak malah keliatan suram gini?"


"Eh? Emang kakak keliatan gitu? Segini rapinya juga. Udah ganteng, harum," ujar kakak sambil mengangkat tangannya untuk membuatku mencium bau ketiaknya. Aku segera mengeplak bahunya dan menjauhkan kursiku dari kakak.


"Dih nyebelin banget sih?"


"Apa? Biar kamu tau kan kakak harum," ujar Kak Arief membela diri, "emangnya kamu, belum mandi kok udah sarapan."


"Iih, kan biar sekalian sikat giginya sambil mandi."


Akhirnya kami pun beradu argumen. Aku melupakan alasanku memulai percakapan dan perasaan kakak terlihat lebih baik dari sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2