Bias Hujan : Ingatan Tentang Dirimu

Bias Hujan : Ingatan Tentang Dirimu
Naura dan Teman-Temannya


__ADS_3

"Weh, Naura baru dateng. Tumben banget," saat aku masuk ke dalam ruang kelas, ucapan dari salah satu teman dekatku terdengar menyambut. Naya namanya.


Aku meletakkan tas di pengait yang terdapat di sisi samping meja lalu mengubah posisi kursiku menghadap belakang. "Iya, tadi ribut dulu sama kakak. Engga ngerti lagi deh kenapa seneng banget bikin aku kesel," aku mengadu kepada ketiga temanku itu.


Ketiga temanku sudah terbiasa dengan keluhanku terhadap kakak. Oleh karena itu, mereka tidak akan membahas lebih dalam karena kalau tidak aku yang memulai perkelahian ya pasti kakak. Mungkin mereka sudah hafal apa yang menjadi inti perkelahian aku dan kakak.


Ah, benar. Aku akan memperkenalkan keempat temanku.


Aku memiliki empat teman, mereka adalah Thalia, Naya, Virha, dan Yiva. Aku tidak ingat sejak kapan kami berteman, yang pasti kami sangat dekat satu sama lain.


Thalia dan Naya yang duduk sebangku berada di hadapanku. Di sisi lain, kursi milik Virha yang bersebelahan denganku ditempati oleh Yiva. Aku sekelas dengan Thalia, Kanaya, dan Virha. Sementara Yiva berada di kelas unggulan sehingga tidak berada di kelas yang sama dengan kami.


"Virha kemana?" tanya Naya saat tidak melihat Virha ikut masuk bersamaku.


"Lah, iya bener juga." celetuk Thalia yang baru menyadari bahwa aku datang sendirian. Sementara itu, Yiva sudah melirikku meminta jawaban.


Biasanya, aku memang berangkat bersama Virha. Tentu saja mereka mencari keberadaan anak itu yang tidak terlihat batang hidungnya.


"Dia nyangkut di ruang OSIS, aku lupa dia mau ngurusin apa gitu sama anak-anaknya."


"Oh, nyangkut ke ruangannya apa ke ketua OSIS nya nih?" Thalia menekan kedua bibirnya mencoba menahan senyum, kedua alisnya bergerak naik turun untuk mengudang kami ikut membicarakan rumor yang terkait dua pengurus OSIS itu.


"Tau engga sih--" Yiva dengan sigap menutup mulut Thalia sebelum dia mengungkapkan hal-hal yang lebih berbahaya tentang Virha. Tentu Thalia memberontak tak mengerti kenapa mulutnya ditutup begitu kuat. Ia mencoba menarik tangan Yiva dari mulutnya tetapi tenaga gadis itu lebih kuat.


Tentu saja, dia adalah kapten tim salah satu ekstrakulikuler olahraga di SMA ini. Tidak mungkin bisa dibandingkan dengan Thalia yang betah berada di dalam perpustakaan.


Naya menggeleng tak habis pikir dengan temannya yang satu itu. Sedangkan aku? Dengan senang hati aku menjadi penonton situasi. Jujur saja, energiku untuk berbicara hari ini sudah terkuras karena berkelahi dengan kakak tadi pagi.


"Diam atau ku ganti matamu dengan mata elang supaya bisa melihat sekitar dengan jelas," ancam Yiva dengan tatapan datar. Thalia langsung diam tak berkutik. Baru saat itu Thalia menyadari bahwa teman-teman sekelas diam diam mendengarkan pembicaraan mereka.


Siapa yang tidak tertarik mendengar gosip yang sedang hangat itu?


Aku merasa bahkan ketika mata mereka tidak melirik ke arah kami, tapi pendengaran mereka terfokus pada pembicaraan ini.


Oleh karena itu, mendengar ancaman Yiva tadi, orang-orang segera sok sibuk dengan teman sebangkunya atau beralih bermain ponsel.


Naya menghela napas lelah, "Kapan kamu bisa peka sih, Tha?"

__ADS_1


Aku mengerutkan kening saat mendengar ucapan itu.


Rasanya ada yang janggal.


Dari belakangku, aku mendengar suara seseorang terkesiap. "Nay... jadi selama ini kamu?"


Aku sontak menoleh dan mendapati Virha yang terkejut, entah sejak kapan gadis berambut pirang itu masuk ke dalam kelas.


Naya berteriak panik, "Heh, bukan itu maksudnya!" sepertinya dia sudah memikirkan kembali perkataannya yang terdengar memiliki makna yang berbeda tergantung situasinya.


Mengabaikan teriakan protes Naya, Virha menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan lalu mengangguk. "Aku ngerti, Nay. Aku engga bakal menilai kamu dengan buruk, orang punya pilihan masing-masing." Ujar Virha seraya menepuk bahu Naya dengan penuh pertimbangan.


Naya semakin kesal, ia menepis tangan Virha dari bahunya lalu kembali berteriak. "Apaan sih?! Engga gitu woy! Kamu baru dateng dan engga tau awalnya. Jadi jangan gitu dong!"


"Sabar Naya, aku ngerti perasaan kamu. Tapi, maaf..." tambah Thalia dengan mata berkaca-kaca seraya memegang tangan Naya. Tentu saja, tangan Thalia langsung ditepis oleh Naya dengan jengkel.


"Maaf maaf, apaan sih?! Ini biangnya tuh kamu ya, Tha. Jangan aneh-aneh coba!"


Bel tanda pelajaran pertama akan dimulai berdentang nyaring membuat perkelahian anak-anak ini terjeda. Tanpa berlama-lama, Yiva beranjak bangun dan meninggalkan kelas ini. Ia melambaikan tangannya tanpa menoleh sekalipun.


Timing yang sangat pas untuk kabur dari suasana ini.


"Tenang, Naya. Kamu selalu keren kok kalo pose kaya gitu juga," entah kelewat jujur atau saking polosnya, api yang sudah padam kini kembali berkobar akibat ucapan Thalia.


"Hilih, bener-bener kamu ya Tha."


Aku gerahhhh. Aku yang lagi-lagi terjebak di antara mereka dengan situasi ini pun berteriak kepada Yiva yang sudah sampai di pintu kelas, "Yivaaa! Culik aku ke kelasmu pliiiis!"


Sudah cukup, tolong. Otakku sudah tidak kuat mendengar mereka bercanda lagi.


Gadis berambut silver itu berhenti melangkah lalu menoleh ke arahku, "Boleh saja tapi aku kasihan dengan otakmu."


Dan dia menghilang begitu saja setelah menancapkan beribu duri di hatiku.


Aku merasakan tepukan penyemangat di bahu dan punggungku dari ketiga siswi di belakangku.


"Hiks, Yiva nih kalo ngomong..."

__ADS_1


"Suka bener."


Kali ini, aku yang mengamuk kepada Thalia.


...****************...


Pelajaran terakhir telah usai. Aku hanya ingat salam penutup yang diucapkan oleh guru ekonomi sebelum meninggalkan kelas. Selain itu, tidak ingat sama sekali.


Apa yang aku lakukan tadi ya?


Sepertinya materi ekonomi hari ini masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Benar-benar tak ada satupun yang tertangkap di ingatanku. Yasudahlah ya, nanti minta diajarin Yiva aja.


Kalo inget.


"Aku duluan ya," Virha yang tau-tau sudah membereskan buku-bukunya segera pamit dan melesat pergi keluar kelas.


Aku menoleh ke arah kedua temanku yang masih beres-beres, "Virha kemana lagi?"


Thalia mengangkat bahu sementara Naya angkat suara, "Mungkin rapat buat porak nanti, kan katanya bakalan ngelawan SMA sebelah juga buat latih tanding."


"Porak?" tanya Thalia, seolah-olah belum pernah mendengar singkatan itu.


"Pekan olahraga antar kelas, kemana aja kamu engga tau porak?" Naya menjelaskan dengan sedikit jengkel.


"Aku disini aja kok daritadi, ini mau pulang." Thalia dengan santai memakai tasnya dan melangkah keluar.


"Hadeh, bukan itu maksudku!"


Melihat Naya yang akan marah lagi, aku mencoba menenangkannya. "Udah udah, lagian juga si Thalia emang jarang tau kegiatan sekolah. Pas pensi taun kemarin aja dia mojok di perpus."


Naya menghela napas mencoba menenangkan diri, ia menoleh ke arahku. "Ngomong-ngomong, kamu pulang sendiri lagi berarti ya? Si Virha rapat lagi soalnya."


"Iya, bener juga." Kali ini aku yang menghela napas, "Aku males nunggu di haltenya beneran."


"Tapi mungkin aja cowok anime itu dateng lagi kan? Katanya mau ada yang ditanyain," ucapan Naya mengingatkanku akan sesuatu.


Setelah mendengar hal itu, aku mengangguk. Entah kenapa rasanya malu.

__ADS_1


"Ya..."


__ADS_2