
Seperti yang dikatakan Naya, aku akhirnya menunggu dengan tenang di halte.
Hari ini hujan tidak turun. Cuaca sangat cerah bahkan jarang sekali aku mendapati awan yang bergerombol membentuk warna kelabu.
Hanya ada langit biru dan awan tipis yang bergerak perlahan atau tidak bergerak sama sekali. Dengan kata lain, panas sekali. Terlebih sudah waktunya para siswa untuk pulang.
Meski hari sudah mendekati sore, tapi keringat yang bercucuran di punggungku tidak bisa dibohongi. Hari ini benar-benar panas.
Sejauh mata memandang, lautan para siswa terlihat menyapu dari gerbang dan menyebar ke sepanjang jalan.
Ada yang langsung pulang karena sudah dijemput.
Ada yang harus menggoes pedal terlebih dahulu untuk menuruni bukit.
Ada yang belum bisa pulang karena ada kegiatan ekstrakurikuler sehingga keluar hanya untuk membeli jajanan.
Ada pula yang menunggu kedatangan bus di halte, sepertiku.
Halte sangat penuh sehingga aku yang tidak pandai menerobos hanya bisa menyandar pada pagar sekolah dan menunggu halte lebih lengang.
Lagipula aku tidak bermaksud untuk segera pulang.
Ada sesuatu...
Ada sesuatu yang ingin ku katakan pada laki-laki itu.
Aku lagi-lagi menatap ke arah bus datang seperti orang-orang di halte. Tidak seperti orang lain yang menunggu kedatangan bus, aku menunggu kemunculannya.
Padahal kami baru bertemu dua kali, tapi aku masih ingat bahwa dirinya akan muncul dari arah itu.
Atau tidak? Aku tidak yakin kami baru bertemu dua kali.
Rasanya nama Luthfi terasa tidak asing. Seperti aku pernah melihat ataupun mendengar nama itu disekitarku. Berkali-kali sehingga aku pun lupa pernah mendengarnya dimana.
Oleh karena itu, hari ini aku ingin bertanya kepadanya.
Satu demi satu bus melaju melewati halte. Sedikit demi sedikit orang-orang di halte mulai berkurang karena diangkut bus yang berhenti dan membawa mereka ke tempat tujuan.
Aku dengan sabar menunggu kedatangan Luthfi.
Tidak seperti Yiva yang sulit melepaskan diri dari ponsel, aku menunggunya sambil memperhatikan sekitar.
Misalnya menghitung banyaknya kelopak salah satu bunga mawar merah muda yang tumbuh menjalar menyelimuti pagar sekolah.
Jika sudah bosan mengamati bagian-bagian kelopaknya, aku beralih memperhatikan bunga lavender yang tumbuh di balik pagar. Mereka menghiasi sejauh pagar itu mengelilingi sekolah.
Perpaduan warna ungu lavender, bunga mawar merah muda, dan pagar sekolah yang berwarna putih sangat memanjakan mata.
"Woah ada kepik, baru kali ini aku liat kepik secara langsung." Aku perlahan mendekati salah satu bunga yang dihinggapi oleh kepik. Tidak lupa berjongkok untuk melihat lebih jelas.
Serangga kecil dengan cangkang berwarna oranye dihiasi dengan bintik-bintik berwarna hitam hinggap di daun dengan tenang. Kepalanya sangat kecil dengan dua antena terpasang di sana.
"Gemes banget cangkangnya bulet," gumamku pelan. Aku mencoba menghitung bintik di cangkangnya.
"Satu, dua, tiga empat, lima, eh... yah terbang." aku tidak bisa menyelesaikan hitunganku karena kepik itu terbang menjauh, "harusnya ngitung dalem hati aja."
Mungkin dia menyadari ada sesuatu yang memperhatikannya, aku.
Hari semakin sore tapi Luthfi tidak kunjung datang. Aku melihat aplikasi bus yang terpasang di ponselku. Tidak terasa tinggal bus terakhir yang tersisa.
__ADS_1
Aku menghela napas panjang sembari menatap sedih ke arah sana. "Apa karena engga hujan jadi Luthfi engga dateng?"
"Emangnya dia peri hujan yang selalu dateng pas hujan?" gumamku seraya terkekeh. Kemudian aku terdiam, "dia manusia, kan?"
'Plak'
Suara tamparan di pipiku membuatku tersadar, "Mikir apa sih aku, ya jelas manusia lah."
Memang tidak sakit, tapi menampar pipiku pelan menjadi kebiasaan saat pikiranku mengarah ke hal-hal yang aneh.
"Naura? Ngapain masih disini?"
Suara familiar laki-laki membuatku menoleh. Sebenarnya, tanpa menoleh pun aku sudah tau orang itu yang memanggilku.
"Orang di halte ngapain lagi?" aku seharusnya tidak melampiaskan rasa kesalku padanya, tapi laki-laki itu entah kenapa selalu membuatku kesal saat melihatnya.
"Dari jam tiga?" Dia memeriksa waktu di jam tangannya, "sekarang udah jam setengah enam loh, emang engga dapet-dapet bus nya?"
Angga mengabaikan ucapan sinisku kepadanya, mungkin karena dia tidak ambil pusing karena aku mengatakan hal itu tanpa ada maksud kebencian.
"Iyaa, lagian masih ada satu bus terakhir. Santai aja," ujarku sambil merosot di bangku halte. Aku memperlihatkan tampilan aplikasi yang menyatakan bahwa satu bus masih ada di terminal.
Angga memarkirkan sepedanya di sisi jalan lalu mendekat untuk melihat ponselku. "Hm... kok bus yang udah lewat engga gerak-gerak?"
Lalu Angga menunjuk angka kecepatan internet yang berada di samping penunjuk waktu di ponselku. "Kuota internet kamu masih ada engga? Tuh, nol koma nol kilobyte. Engga berubah-ubah."
"Ha? Masa sih?! Aku baru beli kuota seminggu yang lalu tau," dengan cepat aku keluar dari aplikasi itu dan mengecek sisa kuota.
Sementara itu, Angga mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi bus. "Di aku udah engga ada bus lagi yang lewat sini, tau."
Aku lemas mendengarnya. Saat kucek lagi ternyata kuotaku memang habis beberapa waktu yang lalu. Notifikasi yang selalu muncul sebagai peringatan kuota tidak muncul karena aku menggunakan mode hening di ponsel.
Sudah tidak bertemu Luthfi, ketinggalan bus terakhir, apalagi nanti?
Angga menatapku kasihan, dan aku semakin kesal.
"Kenapa ngeliatinya gitu?" ujarku sambil cemberut. Aku tidak suka dengan tatapannya.
"Engga, lucu aja ngeliat kamu engga bisa pulang." Setelah itu dia tertawa keras.
"Emang minta ditabok ya, kamu. Sini engga!" aku berteriak lalu bangun untuk menampar punggungnya. Dia lari menghindariku alhasil kami kejar-kejaran mengelilingi halte.
Anehnya, Angga tertawa seolah-olah menikmati aksi kejar-kejaran ini. "Aku capek!"
Mendengarku berteriak, Angga menurunkan kecepatan larinya. Aku tersenyum cerah.
'Plak! Plak! Plak!'
Aku lelah berlari tapi puas sudah memukul laki-laki menyebalkan itu. Kembali duduk di bangku halte, aku menghela napas panjang dan mengambil tumbler di dalam tas.
Melihatku minum, Angga berdiri di samping sepedanya dan menaikkan standar sepeda. "Mau aku anterin engga? Lagian kita searah," ajaknya sembari menepuk besi di bagian belakang sepeda.
Dia menyuruhku untuk berdiri di dua besi yang menancap dari kanan dan kiri pusat roda.
Aku menggeleng pelan, "Mau bareng Virha aja." Saat mengetahui bahwa tidak ada bus lagi, aku sudah mengirim pesan ke Virha untuk pulang bersama.
"Oh, Virha masih di sekolah?" tanya Angga. Aku tidak tahu apa itu hanya perasaanku saja, tapi suara Angga terdengar kecewa.
"Iya, dia sebentar lagi selesai katanya." Aku baru saja mendapat pesan bahwa Virha akan keluar membawa motornya.
__ADS_1
Rumah Virha jauh dari sekolah dan dia tidak memiliki waktu pulang yang tentu karena berbagai kesibukan sebagai wakil OSIS. Oleh karena itu, mau tidak mau dia membawa motor.
Terkadang jika sedang rajin, dia akan membawa mobil untuk menjemput kami.
Virha itu anak orang kaya, katanya sih. Aku belum pernah ke rumahnya karena dia tinggal sendirian di apartemen. Mungkin dilihat dari situ saja sudah terlihat bahwa dia anak orang kaya.
Yah, lagipula identitas anak-anak yang bersekolah disini tidak mungkin sesederhana itu.
"Yaudah kalo gitu, aku duluan ya. Dah Naura," Angga berteriak seraya menggoes sepedanya dan pergi menjauh. Aku pun membalas lambaian tangannya dan balas berteriak.
"Hati-hati di jalan!"
Tidak lama kemudian, suara klakson motor terdengar membuatku menoleh ke sumber suara.
Virha membuka kaca helmnya dan memberikan helm kepadaku. "Atas nama mbak Naura?"
"Oh iya, mbak. Mbak namanya Virha kan? Saya takut salah naik ojek," ujarku seraya menerima helm dan memakainya.
"Iya mbak, saya Virha. Maaf ya mbak, tadi macet di parkirannya. Si dungu itu engga mau ngalah buat balik bareng."
Aku mengerutkan kening lalu menyadari bahwa ada satu motor lagi yang keluar dari gerbang.
"Heee, si dungu ya?" gumamku pelan lalu menyapa orang itu, "Sore bapak ketos!"
"Sore Naura, aku engga tau kalian beneran pulang bareng."
"Kan udah aku bilang kalo aku engga pulang sendirian, gimana seh?!" suara Virha yang cempreng menyela ucapan Yavan.
Mendengar hal itu Yavan hanya tersenyum seolah tidak terganggu. "Kalau begitu aku titip Virha ya, Naura. Aku duluan, selamat sore."
"Ah, iya. Selamat sore juga, Yavan."
"Heh, emangnya siapa kamu nitip-nitipin aku ke orang. Hei! Kamu dengar tidak?!"
Yavan mengabaikan teriakan Virha dan melaju menjauhi kami dengan tenang tanpa terusik sedikitpun.
"Udah udah, ayo pulang. Aku dah laper," ujarku mencoba menenangkan Virha.
Virha menghembuskan napas kesal, "Kalo gitu mau beli makan dulu? Aku yang bayarin."
Suara deru mesin motor mulai terdengar, kami bergerak perlahan menelusuri jalanan yang ramai lancar.
"Yeayy, ayo mbak Virha kita mampir buat makan duluuu!"
"Siap mbak, jangan lupa nyalain maps ya."
"Tapi kuota aku abis, cuma bisa buat chatan."
"Eh?"
"Eh?"
Virha menepikan motor lalu bergumam, "Sama."
"Yaudah makan di apartemenku aja, tinggal manasin masakan kakak."
"Yaudah."
Virha pun kembali menyalakan motor dan memutar arah menuju daerah perumahanku.
__ADS_1
Aku jadi tidak yakin, apa Virha beneran anak orang kaya?