Bias Hujan : Ingatan Tentang Dirimu

Bias Hujan : Ingatan Tentang Dirimu
PORAK (Pekan Olahraga antar Kelas) (5)


__ADS_3

“Cie Cie,” kali ini Thalia mendekat untuk meledekku.


“Cieh yang dapet nomor doi,” disusul oleh Naya yang sepertinya sudah gatal untuk berbicara sejak tadi.


“Mau nonton doi engga nih? Saya anggota keluarga Altheya siap menggendong Anda pergi ke gymnasium secepat mungkin,” lanjut Naya semakin menjadi-jadi.


“Ck, Naya jangan ikut-ikutan Viona deh.”


Tiba-tiba Thalia yang tidak mengerti alur permainan kami menyeletuk, “Kalian lagi latihan drama? Kok aku engga tau kalian ikut drama buat pensi nanti. Mau ikut jugaaa.”


“Boleeh, kamu mau jadi siapa?” ujar Viona berniat meledek Thalia.


“Hm… apa ya, pokoknya yang paling kuat berantem? Aku engga ngerti kerajaan-kerajaan gitu.”


“Yang paling kuat tuh raja, tapi anaknya raja kan udah Naura.” Tambah Naya menaiki kapal yang sama dengan Viona, kapal bertujuan meledek Thalia.


Aku lelah dengan mereka. Akhirnya aku kembali berbaring dibantu Viona.


“Emang kamu jadi siapa?” tanya Thalia kepada Naya, dia masih saja belum sadar sedang dipermainkan.


“Aku? Aku anaknya pembunuh bayaran.”


“Kalo Viona?”


“Aku anaknya pedagang kaya raya. Kamu jadi putri Marquis aja, lumayan tuh jendral perbatasan.”


Thalia semakin bingung dengan pembagian peran ini. Aku juga sudah mulai pusing memikirkannya. “Lah, ini drama apa sih kok pemainnya random gini?”


“Mana kutahu, siapa juga yang main drama?”


Akhirnya Thalia sadar “Iih, kalian ini. ****Me****nyebalkan.”


Melihat gadis itu merengut kesal, Naya dan Viona tertawa terbahak-bahak.


“Anak-anak, teman kalian sudah tidur. Tolong jangan berisik ya,” ujar dokter mengingatkan kami yang rusuh di dalam UKS.


Kami akhirnya ingat bahwa masih ada satu pasien di sini. “Dia baik-baik aja kan dok?” tanya Viona setelah melihat Yiva yang tertidur lelap di atas kasur. Postur tubuhnya terlihat rapi seperti biasa.


“Untungnya obat di tubuhnya bekerja tepat waktu. Lain kali ingatkan dia supaya selalu membawa obat kemanapun.”


“Baik.”


“Saya pikir sebaiknya Yiva dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, kalian punya nomor orang tua atau keluarga yang bisa dihubungi untuk datang?”


Tatapan kami terpusat pada Viona. Gadis pirang itu menggeleng lemah, wajahnya yang ceria kini berubah mendung. “Jangan aku.”


“Kalian lagi berantem?” tanya Naya heran. Tumben sekali Viona tidak ingin direpotkan.

__ADS_1


“Engga usah dibahas.”


“Yaudah, aku aja yang telfon adeknya Yiva.” Aku angkat suara, karena selain Virha, hanya aku yang bisa menghubungi anak itu.


Tapi Viona segera menyela, “Jangan dia, dia lagi engga waras. Kakek Yiva aja.”


“Heh, kamu mau seisi sekolah gempar gara-gara mentri dateng apa?!” protesku tak terima. “Adeknya aja udah, sekalian baikan sana. Temenin Yiva juga.”


“Jadi begini cara Anda membalas budi, tuan putri?” Viona melotot ke arahku. Tapi aku tidak takut.


“Kalo ini perintah, kamu mau apa ha?” ujarku kesal.


Saat itu juga Viona langsung diam. Thalia dan Naya saling memandang bingung. Aku tidak akan mendukung Viona untuk kasus ini karena aku mengerti kedua orang keras kepala itu.


Jika tidak dipaksa untuk bertemu, masalah Viona dan adik Yiva tidak mungkin selesai.


Hari itu…


Hah… entah bagaimana aku bisa menggambarkan hari yang kacau ini.


Tapi, tetap saja. Aku senang hehe.


...****************...


Saat ini, aku sedang berbaring di atas kasur kamar kakak.


AC di kamarku sedang diperbaiki. Jadi aku pun menginvasi kamar kakak untuk merasakan AC di tengah-tengah panasnya siang ini.


Ya, masih lama. Nanti saja aku mengerjakannya.


Mood untuk mengerjakan belum datang di perasaanku. Oleh karena itu, tembok besar yang menghalangiku untuk mengerjakan tugas masih kokoh.


Mungkin karena aku belum mandi, rasa malas sangat melekat di tubuh dan pikiran. Bahkan, jika saja AC di kamarku tidak rusak, aku tidak akan menjauhi kasurku sedikitpun.


Sementara aku menggunakan kamarnya, kakak sedang tidak berada di apartemen. entah sedang ada urusan apa tapi sepertinya kakak sangat sibuk.


Tidak lama, ponselku bergetar menampilkan nama seseorang yang menelfonku. Refleks, ponsel melayang dari tanganku dan mendarat di atas kasur. Aku menatap ponsel itu dengan horor dari balik boneka beruang.


"K-kok dia--kenapa dia nelfon sih?!"


Aku menatap layar ponsel dengan tatapan takut. Mode silent yang selalu diaktifkan membuat perasaanku lebih tenang. Setidaknya benda itu tidak bersuara.


"Aku emang nungguin kamu, tapi jangan nelfon tolong."


Ponsel kembali ke genggamanku tapi aku tidak melakukan apapun selain menatap nama di layar ponsel. Kenapa? Tentu saja aku akan menunggu dia berhenti menelepon.


Kalau memang penting, dia pasti akan mengirim pesan. Lalu aku akan menunggu selama lima menit sebelum membalasnya.

__ADS_1


Biasanya sih gitu, tapi... ini adalah kali pertama.


Dua hari telah berlalu sejak kejadian di UKS dan dia baru menghubungiku sekarang. Sebenarnya, aku tidak yakin dia akan mengirim pesan atau tidak.


Tapi yang jelas, aku tidak akan mengangkat telepon.


Panggilan berhenti tersambung. Tanpa sadar aku menghela napas. Belum sempat aku kembali membuka aplikasi media sosial, panggilan dari nomor ****Luthfi**** kembali memenuhi layar ponsel.


"Dia pantang menyerah ya?" gumamku pelan. "Kalo engga diangkat tuh ya jangan nelpon lagi, tolong pahami perasaanku yang engga mau nelpon. Chat aja chat, engga susah koook."


Aku mengomel sembari menatap tajam ponsel di tanganku.


Yasudahlah, mari kita tunggu sampai berhenti.


Pandanganku teralihkan pada benda lain. Di atas kasur, terdapat undangan berhiaskan elemen kuno, kertas berwarna krem, serta diikat dengan tali berwarna emas.


Sebuah undangan ulang tahun.


Aku menatap benda itu dengan suntuk. Sudah dapat dibayangkan betapa lelahnya acara itu.


Memang itu apa? Itu undangan pesta ulang tahun pamanku yang akan diadakan besok. Mungkin itu sebabnya kakak sibuk sejak tadi malam.


Pandanganku teralihkan karena ponsel di tanganku bergetar.


Akhirnya dia mengirim pesan.


Luthfi


Siang, Naura. Semoga kamu udah lebih sehat daripada terakhir kita ketemu. Kalau kamu lihat pesan ini, tolong jawab saya. Saya ingin berbicara sebentar.


Aku terdiam membaca pesannya dari notifikasi. Sebenernya bisa sih aku jawab telefon tapi males aja gitu dengerin suara orang deket ke telinga.


^^^Me^^^


^^^Siang, Luthfi. Aku baik-baik aja, terimakasih sudah bertanya. Maaf aku engga bisa jawab telpon dari kamu karena ada satu dan lain hal. Jadi mungkin kita bisa lewat chat aja kalo memang ada yang mau kamu omongin.^^^


Aku membalas pesannya setelah menunggu beberapa menit. Alasannya? Entah, ingin saja.


Tidak lama, balasan dari Luthfi kembali datang.


Luthfi


Kalau begitu, saya ingin bertemu setelah liburan ini selesai. Apa kamu bersedia bertemu di halte sekolah?


^^^Me^^^


^^^Boleh, aku juga tidak ada kegiatan^^^

__ADS_1


Beneran deh, orang ini kenapa sih?


Bikin deg-degan aja.


__ADS_2