
Seorang laki-laki meletakkan tasnya di lantai, tas ransel itu menyender pada lemari meja berwarna hitam.
Tudung jaketnya dilepaskan dan ia menggantung jaketnya di kapstok yang menempel pada daun pintu. Menarik kursi belajarnya, ia menyalakan lampu belajar dan mulai membaca buku.
Suara itu membangunkan teman sekamarnya yang tidur di kasur bagian atas. Dia, Brian, mengintip dari batas kasur dengan mata yang setengah mengantuk.
"Kamu udah balik, Fi? Gimana? Sempet ketemu sama dia?" ujarnya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur.
"Um, ya. Saya sempat melihatnya," ujar lelaki itu, Luthfi.
Dia tidak bisa datang tepat waktu karena pelatih menyita waktunya untuk membahas masalah tim. Akhirnya Luthfi berlari karena tertinggal bus terakhir untuk menemui Naura.
Ia khawatir tidak bisa melihatnya, namun rasa khawatirnya sirna saat melihat gadis itu yang sedang berlarian sambil tersenyum cerah. Memang benar, ia tetap bisa melihat Naura.
Hanya saja....
Teman sekamar Luthfi akhirnya sadar dari kantuknya, ia mengerutkan kening saat melihat Luthfi tidak kunjung membalik halaman selama beberapa menit.
"Hei, kamu engga papa?" tanya laki-laki itu merasa heran.
Tanpa berbalik menghadap Brian, Luthfi menjawab sekenanya. "Um, saya baik-baik saja."
"Tapi... buku yang kamu baca kebalik."
"Ah," Luthfi baru sadar dan membalik bukunya ke posisi yang benar, "memang sengaja."
"Ha?" teman Luthfi melompat dari atas kasur lalu menarik kerah lelaki itu, "emangnya aku percaya omong kosongmu, ha?!"
Luthfi pasrah saat dirinya dipaksa berdiri karena kerahnya ditarik, ia menoleh ke samping dan tidak menatap teman sekamarnya.
Lelaki itu berdecak kesal melihat penampilan Luthfi yang murung, ia menghempaskan tubuh Luthfi ke kursi belajar sehingga kursi beroda itu bergerak menuju pintu. "Kamu kenapa, sih?"
Teman Luthfi melipat tangan di depan dada, matanya yang tajam menatap Luthfi untuk menginterogasi. Jika tidak seperti ini, Luthfi tidak akan mau memberitahu apapun.
"Saya bingung..."
Teman sekamar Luthfi menunggu dengan sabar ucapan Luthfi selanjutnya, "harusnya saya senang melihat dia bahagia. Tapi saya malah kecewa karena bukan saya sumber kebahagiaannya. Dia... bahagia karena orang lain."
Luthfi terkekeh pelan, "Aneh sekali, kan? Padahal saya bukan siapa-siapa untuknya. Saya kesal karena saya kecewa."
"Emangnya, siapa orang lain itu? Cowok atau cewek?"
"Laki-laki."
"Pacarnya?"
Laki-laki yang menunduk menatap lantai itu menggeleng ragu, "Saya... tidak tahu."
"Kakaknya?"
"Bukan," kali ini suara Luthfi lebih tegas, "saya tidak mungkin kecewa kalau Naura bahagia karena keluarganya."
"Terus dia siapanya? Mungkin aja cuma temennya, kan?"
__ADS_1
"Tapi... semuanya berawal dari teman."
Brian mulai kesal.
"Luthfian S. Vinson."
Suara berat dan tegas dari temannya membuat Luthfi tertegun. Ia duduk dengan tegap dan akhirnya menatap temannya patuh.
"Ya, pak."
"Apa kamu lelaki?"
"Ya, pak."
"Kalau kamu memang benar-benar suka dengannya, jangan buat asumsi! Dekati dia! Bicara padanya! Kunci penting suatu hubungan adalah komunikasi!"
"Tapi..." melihat Luthfi akan mengelak lagi, Brian segera memotong ucapan Luthfi.
"Tidak ada tapi tapian! Kamu serius mau berada disisinya atau tidak?!"
Luthfi mengangguk mantap, "Ya, Pak!"
"Bagus! Pertama-tama," teman Luthfi mengambil handuk yang disampirkan di pinggir kasur lalu melemparnya pada Luthfi dengan keras, "Mandi dulu sana! Keringatmu itu dimana-mana, menjijikkan!"
Pada saat itu, Luthfi baru menyadari bahwa bajunya basah karena keringat setelah berlarian kesana kemari. Ia bahkan belum berganti baju dan masih memakai seragam basket miliknya.
"Maaf," Luthfi segera beranjak bangun dan pergi menuju kamar mandi.
"Oh ya, minggu depan kita ada latih tanding dengan SMA sebelah."
Luthfi berhenti dan menoleh, "Latih tanding catur?"
Brian menggeleng, memang benar mereka berdua adalah anggota klub catur. Hanya saja dia juga anggota OSIS sehingga pengumuman ini bukan untuk klub catur.
"Latih tanding semua klub olahraga untuk Olimpiade olahraga nanti."
"Oh," itu artinya Luthfi juga harus memberitahu hal ini ke teman-temannya di klub basket, "SMA mana?"
"SMA di jalan Indah," ujar Brian seraya tersenyum miring. "Berterimakasihlah padaku karena susah payah menghubungi pihak mereka untuk kerjasama ini."
Mendengar hal itu mata Luthfi terlihat berbinar-binar.
Luthfi tertawa dengan riang, "Terimakasih, Brian!"
...****************...
"Bapak udah ngejelasin tentang struktur surat lamaran, sebelum bapak akhiri ada pertanyaan?"
Jam pelajaran terakhir adalah bahasa Kimkha. Aku sudah penat tapi memikirkan bahwa hari ini adalah hari terakhir minggu ini membuatku agak bersemangat.
Suasana kelas hening, mungkin mereka juga merasakan hal yang sama denganku. Ingin segera pulang dan merasakan libur akhir pekan.
"Kalo engga ada yang nanya, bapak kasih tugas ya buat minggu depan."
__ADS_1
Sontak teman-temanku mulai mengajukan protes.
"Minggu depan porak pak!"
"Iya, pak! Terus abis porak libur seminggu soalnya ada hari ulang tahun raja."
"Nah, bener tuh pak. Engga usah engga usah, hehe."
Lalu pria berkacamata kotak itu tersenyum mendengar protes anak muridnya. Aku tau senyuman itu, bulu kudukku merinding melihat senyumannya.
"Terus? Masih ada minggu depannya lagi kan? Itu artinya kalian ada waktu dua minggu buat ngerjain tugasnya," Pria itu menampilkan slide bertuliskan detail tugas membuat surat lamaran, "nanti tugasnya dipresentasikan satu satu. Lima orang presentasi yang lain mengomentari atau bertanya."
Lalu senyuman pria itu semakin lebar, "Bapak akan memilih file secara acak untuk yang presentasi."
Sorakan mengeluh terdengar dari penjuru kelas.
"Jangan lupa dikerjakan, maksimal h-1 file tugas sudah dikirimkan ke email bapak." Pria itu menutup laptopnya lalu berkata sebelum pergi keluar kelas, "semangat ya poraknya, kalo menang bapak traktir es krim."
Mendengar hal itu, seisi kelas heboh dan bersemangat untuk memenangkan porak minggu depan. Seolah-olah mereka lupa bahwa baru saja diberikan tugas oleh guru bahasa sekaligus wali kelas kami.
Aku menghela napas, "Yah udahlah ya. Lagian nanti aku engga ikut apa-apa," gumamku pelan di tengah keramaian ini.
Tapi, anehnya telinga teman-temanku lebih sensitif dari biasanya.
"Kata siapa kamu bakal diem aja?"
Aku tersentak dan menoleh ke arah Virha yang tersenyum mencurigakan.
"Hehehehehe," lagi lagi aku merinding melihat Virha dan Naya yang terlihat seperti membuat rencana jahat di belakangku.
Perasaanku tidak enak.
"Thalia! Jangan harap kamu bakal lepas kali ini," teriak Naya kepada Thalia yang berusaha menyelinap pergi. Entah karena Naya memang gesit atau karena dia pemilik sabuk hitam taekwondo, gadis itu sudah menarik tas Thalia dan menyeretnya kembali masuk ke kelas.
"Tidaak! Aku mau pulang, mau baca novel! Mau baca cerpen! Mau baca manhwa!"
"Halah, kamu kebanyakan baca buku fiksi Tha. Sekalian aja sana masuk ke dunia fiksi," gerutu Naya, geram mendengar alasan Thalia yang itu-itu saja.
Aku? Tidak bisa berkutik.
Lenganku sudah digandeng oleh Virha sehingga tidak bisa kemana-mana.
"Ayo latihan yel-yel!"
Mereka ini benar-benar.
Lagi dan lagi, aku hanya bisa menghela napas saat tubuhku dibawa ke lapangan untuk latihan yel-yel.
...****************...
bonus, visualisasi Luthfi~
__ADS_1