
Pekan olahraga telah di depan mata. Aku menatap penampilanku di depan cermin.
Satu set baju olahraga yang dipesan khusus kelas 3-C terlihat longgar di tubuhku. Aku memang sengaja memesan ukuran yang lebih besar dari ukuranku yang sebenarnya.
Jika aku menggunakan ukuran L, pas di badan tapi tanganku kependekan. Maka aku memilih ukuran XL. Memang sih, sangat besar di tubuhku. Tapi lebih baik kebesaran daripada kependekan.
"Ha.... cape banget," aku menghempaskan tubuhku di atas kasur, "baru ngebayanginya aja udah cape. Apalagi benerannya."
Rasanya sudah cukup berlatih yel-yel selama tiga hari berturut-turut. Aku tidak ingin berteriak-teriak lagi. Rasanya tenggorokan akan serak jika aku melakukannya sekali lagi.
Pintu diketuk dua kali menandakan kakak akan masuk, "Ra?"
"Masuk," balasku dengan lesu.
Mendengar izinku, pintu dibuka dan kakak masuk ke kamar.
"Kenapa tidur lagi? Katanya hari ini porak, gimana sih?" ujar kakak lalu menarik kedua lenganku supaya bangun.
"Hing, engga mau. Cape... nanti disana Naura disuruh yel-yel."
Aku memekik ringan saat kakak mengangkat tubuhku dengan satu lengan, "Kakak!" aku refleks menarik rambut kakak yang sudah dibentuk dengan jel. "Ih, lengket."
"Aw! Jangan tarik rambut kakak, Ra."
"Ya, abis kakak ngapain tiba-tiba gendong aku?! Aku mau turuuun," ujarku seraya mengelap tanganku di jas hitam kakak.
Setelah itu, kakak menurut untuk menurunkanku di lantai. Tapi setelah itu, kakak menggendongku seolah-olah aku adalah karung beras. "Kakak!"
"Anak muda harus semangat dong! Ayo berangkat! Virha udah nungguin tuh di depan," ucap kakak tanpa terlihat kesulitan karena mengangkatku. Dia mengambil tasku yang kusimpan di atas meja belajar.
Aku mencoba menggerakkan kedua kakiku, berusaha supaya kakak kesulitan. Tapi anehnya, kakak berjalan seperti biasa dan tidak terpengaruh sama sekali.
Hal itu membuatku kesal.
"Naura engga mau ke sekolah, nanti teriak-teriak lagi..." gerutuku pelan, "sakit tenggorokannya."
"Kalo gitu ngapain teriak-teriak? Yang penting dateng, mangap-mangap, udah. Kalo udah selesai tinggal pergi aja, tapi jangan bilang-bilang."
Aku tertegun mendengar nasihat kakak. Kenapa aku tidak memikirkan solusi itu?
"Kaya Thalia?".
"Iya, kaya Thalia. Tau kan Thalia kalo ngilang gimana?"
Aku mengangguk, "Um, dia pergi waktu yang lain lagi ngobrol serius."
"Itu ngerti," ujar kakak singkat saat mengambil tas kantornya, memakai sepatu, menenteng sepatuku lalu keluar dari apartemen.
Tunggu, KELUAR DARI APARTEMEN?!
"Kak Arief! Turunin huweee! Engga mau digendong lagi, Naura bisa jalan sendiriiii!"
Bukannya segera menurunkanku dari bahunya, kakak malah tertawa puas. "Malu kan? Malu kan? Ha-ha! Ini pembalasan kakak soalnya kamu bilang masakan kakak tadi malem engga enak."
"Kan emang engga enak, orang asin banget. Kakak sendiri kan yang lupa naroh garem di tempat gula."
__ADS_1
"Kan kamu yang ngajakin kakak ngobrol jadinya engga fokus masuk-masukin bumbu ke tempat bumbu."
"Kakak aja yang engga fokus, kok nyalain Naura?" Aku semakin malu saat kami sudah menjauhi pintu apartemen kami. "Pokoknya jangan ajak Naura ngomong."
Akhirnya kami sampai di lantai satu.
Iya, kakak menggendongku menuju lobi gedung ini. Menggunakan lift.
Ah... memalukan sekali. Aku bahkan tidak berani mengangkat kepalaku saat ibu-ibu tetangga berbincang dengan kakak.
Kenapa kakak percaya diri sekali, sih?!
Dia sangat santai berbincang dengan tetangga bahkan membicarakan aku yang digendong begini. Ahhhhhh! Rasanya ingin masuk ke ketiak ibu.
"Eh?" aku yang selama ini menutup mata, mendengar suara Yiva.
Lihat! Kami sudah sampai di lobi dan mobil Virha sudah menunggu.
Dan siapa tadi yang berbicara? Yiva! Seorang Yiva yang jarang ngomong aja sampe ngomong loh karena heran!
Huweeee, kakak siapa sih gila kaya gini tuh?!
"Pagi semuanya, tolong jaga Naura ya." ujar kakak kepada teman-temanku yang sudah berada di mobil. Kakak akhirnya menurunkan ku, aku segera mengambil sepatu, tas dan masuk ke dalam mobil Virha.
"Hee, mana kiss bye nya?" lagi-lagi kakak meledekku, apalagi senyuman jahilnya. Ahhhh! Menyebalkan.
Meskipun rambutnya acak-acakan karena tanganku yang menjambak, penampilan kakak semakin menyebalkan.
"Engga ada! Kakak nyebelin!" Aku menutup pintu mobil dan menaikkan kaca hingga tertutup dengan penuh.
Kakak hanya melambai santai ke arah mereka, "Iyaa, hati-hati ya Virha nyetirnya."
"Iya kak."
Akhirnya mobil Virha pun melaju dengan mulus, meninggalkan kakak yang berdiri dengan senyuman tipis dan pandangan yang terkunci pada mobil.
"Emang ya kakaknya Naura," celetuk Thalia yang duduk di jok bagian belakang mobil.
"Kakak aku kenapa?"
"Seru orangnya."
"Seru matamu!"
...****************...
Hari ini adalah hari terakhir pekan olahraga. Entah bagaimana, kelasku bisa mencapai final di bidang bulu tangkis dan tenis meja. Memang sih, ada anggota klub mereka di kelas.
Tapi rasanya aneh saja bisa bertahan sampai sejauh ini. Siapa yang kita bicarakan ini? Aku!
Rasanya aku ingin menangis. Entah sudah berapa kali aku menjadi pendukung setia kelas kami saat bertanding.
"Naura, kamu sudah bertahan dengan baik sampai detik ini. Aku bangga pada diriku sendiri," gumamku pelan seraya mengelus dadaku bangga.
Tapi hari ini, tidak lagi. Tidak ada seorang Naura Florindy di tribun penonton! Tidak ada lagi tepuk tangan dari seorang Naura! Tidak ada lagi rasa terpaksa untuk mendukung!
__ADS_1
Hiks, maafkan aku teman-temanku yang berjuang melawan kelas lain. Kalian sudah luar biasa tanpa perlu aku mendukung kalian.
Hari ini sangat luar biasa menyenangkan.
Aku mengikuti Thalia kemanapun dia pergi. Hal ini bertujuan supaya saat Thalia bergerak untuk menyelinap pergi, aku bisa tahu dan dapat mengikutinya.
Selama ini aku menyelinap sendirian dan hasilnya tentu saja, Naya dengan cepat menyadari ketidakhadiran diriku di bangku penonton.
Nasihat kakak benar-benar tidak membantu.
Mengikuti cara Thalia katanya? Cih, gadis itu saja sering tertangkap basah oleh Naya. Apalagi aku yang amatir dalam hal menyelinap.
Tapi setidaknya, Thalia pernah berhasil. Lagipula jika tertangkap aku merasa tidak terlalu takut untuk menghadapi Naya karena ada Thalia di sisiku.
Saat ini kami berdua sedang duduk di taman sambil merasakan angin yang sepoi-sepoi.
Dan ya, kami berhasil menyelinap karena gymnas sangat ramai oleh penonton. Mengingat hari ini adalah pertandingan final seluruh cabang lomba, tidak heran jika penonton membludak.
Terlebih katanya, ada siswa sekolah lain yang akan datang untuk berlatih tanding dengan klub olahraga kami.
"Dari SMA mana tuh kata Virha?" tanyaku pada Thalia.
"Engga tau dan engga peduli juga sih," celetuknya asal.
Yah, biarlah. Aku juga tidak ingat.
Aku sangat bersyukur dengan adanya keributan itu. Berkat hal itu, aku bisa santai dan tidur di pangkuan Thalia. Terlentang di atas rerumputan hijau taman belakang gymnasium ini sambil menikmati indahnya langit biru yang damai.
Thalia fokus dengan buku novel di tangannya, lebih tepatnya dia terhanyut dalam kata demi kata yang tercetak di atas kertas itu. Tidak ada lagi percakapan yang mengalir di antara kami, aku mengerti akan hal itu.
Melihat Thalia yang tenang seperti itu, aku merasa senang. Aku bisa menikmati keadaan sekitar lebih baik lagi.
Tiba-tiba ponselku berbunyi nyaring membuat aku dan Thalia tersentak kaget.
Agak takut, aku melihat layar ponselku.
Disana tertera nama gadis yang kami hindari sejak tadi.
Naya.
Melihatnya saja sudah menbuatku takut. Aku menyerahkan ponselku kepada Thalia yang juga kaget melihat nama itu muncul.
"Kamu aja Tha yang jawab, kan udah sering ngadepin Naya." ujarku seraya bergerak menjauh, "Aku masih takut beneran."
Thalia mengehela napas, "Sering bukan berarti biasa, Ra..." Meskipun begitu, Thalia sudah bersiap mengangkat telepon.
"Halo," ujar Thalia sambil menyalakan fitur loudspeaker supaya kami bisa mendapat amarah Naya bersama-sama.
Dia juga tidak berani rupanya.
Namun, bukannya amarah Naya, kami mendengar suara tenang dan dalam milik gadis itu.
"Kalian di luar kan? Ambil obat Yiva di kelasnya sekarang, temui kami di pintu belakang gymnas yang menuju lapangan."
Ini lebih buruk dari amarah Naya.
__ADS_1