Bias Hujan : Ingatan Tentang Dirimu

Bias Hujan : Ingatan Tentang Dirimu
PORAK (Pekan Olahraga antar Kelas) (4)


__ADS_3

“Dokter! Cepetan periksa Yiva sebelum dia kabur, huhu.” Thalia seperti akan menangis saat menarik tangan dokter dari dapur.


“Nih anak baru sadar udah sekuat ini, segede apa sih kekuatan kamu Yiva?” geram Viona masih menahan Yiva pergi dari kasur. Kekuatan untuk menahan kapten voli itu melemah karena Thalia yang pergi menarik dokter.


“Sudah kubilang aku tidak perlu diperiksa, aku baik-baik saja. Sungguh,” ujar Yiva dengan suara lemah, merasa tidak senang sama sekali.


Meski wajahnya pucat tapi itu tidak menghalanginya untuk menatap sendu Viona mencoba membuat gadis itu lengah.


“Ha! Kamu pikir aku percaya gitu aja kaya Thalia?”


Thalia yang sudah berhasil membawa dokter ke dekat kasur terdiam menatap Viona, ia tiba-tiba merasa sedih. “Virha, aku tau aku engga sepinter Yiva tapi kenapa bandinginnya ke aku coba?”


“Naya, daripada kamu natap sinis mereka engga jelas mending gantian sini! Kamu yang paling kuat di sini kenapa engga bantuin oi!” ujar Viona tanpa sadar mengabaikan keluhan Thalia.


Naya berdecak pelan dan mengambil alih pekerjaan Viona untuk menahan Yiva yang hendak disuntik supaya lebih tenang.


Naya dan Viona pun berganti posisi. Kini gadis berambut pirang itu menjauhi area kasur yang ditempati Yiva dan bergerak mendekati Luthfi dan aku yang terdiam menatap kejadian bak angin ****** beliung itu.


“Halo, aku Viona sahabat Naura.” Ucapan Viona membuat Luthfi akhirnya melepaskan pandangan dari peristiwa kacau itu.


“Aku dengar Naura nabrak kamu ya tadi? Aku minta maaf atas kelakuan Naura, dia suka panik gitu kalo ada apa-apa. Terus makasih ya udah jagain Naura.”


Aku menatap Viona dengan kesal. Rasanya seperti ibuku sedang mengeluh tentang aku di depan saudara-saudaraku yang lain.


“Oh, iya Viona. Saya Luthfi, saya—”


“YA AMPUN KAMU LUTHFI?!”


Mendengar nama itu membuat Viona tanpa sadar berteriak kaget. Gadis berambut pirang itu menutup mulutnya dengan kedua tangan dan melotot ke arah Luthfi tidak percaya.


“Apa?” Yiva yang berbaring di kasur pun tidak lepas dari rasa terkejut.


“Lah?” Naya apalagi, dia lebih merasa malu.


Mungkin Naya berpikir bahwa laki-laki itu yang salah sampai-sampai tidak melihat aku yang sedang berlari sehingga menyebabkan tabrakan. Tidak heran ia memberikan tatapan sinis kepada Luthfi.

__ADS_1


Jika ia tahu lebih awal bahwa laki-laki itu adalah Luthfi, mungkin Naya akan memberi perlakuan yang lebih baik. Mungkin.


“Hee… Luthfi yang sering diomongin Naura itu?”


“Hahahahahah! Ohok ohok! Ekhem!” entah bagaimana aku berusaha untuk menutupi ucapan Thalia yang asal itu


Naya yang berada di dekat Thalia segera menutup mulutnya dan berbisik pelan, “Kamu diem ya, Tha.”


“Ah iya, jadi.” Viona menepuk tangannya sekali untuk mengalihkan perhatian, “Kamu ada apa-apa gitu sama Naura? Eh maksudnya, kamu engga papa ketabrak Naura?”


Viona memperhatikan keadaan Luthfi yang terlihat baik-baik saja. Laki-laki itu bangun untuk membuktikan bahwa ia baik-baik saja.


“Saya engga papa, tapi Naura terluka. Tubuh yang terkena benturan tadi menjadi lebam. Dokter bilang sering-sering di kompres dengan air dingin dan diperban. Kira-kira seminggu lebamnya akan hilang.”


“Ohh begitu ya,” Viona mengangguk mengerti seraya melihat siku dan lututku yang diperban.


“Masih sakit?” tanya Viona kepadaku, aku menggeleng pelan untuk menjawabnya.


“Cuman keliatannya aja sakit, padahal engga papa kok.”


Aku meringis pelan karena cubitannya. Saat ia melepaskan tangannya aku mengalihkan pandangan, cemberut.


“Oh iya, Luthfi. Ngomong-ngomong kamu anggota klub basket yang mau latih tanding itu ya?” ujar Viona sekaligus mengingatkan Luthfi alasan hadirnya ia di sekolah ini.


“Iya benar, Viona. Saya salah satu anggota klub basket itu.” Luthfi melihat jam tangannya, “Saya baru ingat pertandingannya akan dimulai,” ia melihat setiap orang yang ada di UKS untuk pemit pergi, “kalau begitu permisi.”


“Oh iya, silahkan silahkan.” Jawab Viona mewakili kami.


Pandangan Luthfi terarah padaku membuatku sontak terkejut, “Cepat sembuh Naura.”


Belum sempat aku menjawab, Viona tiba-tiba menyela di antara kami. “Eum, Luthfi. Ini, nomernya Naura.”


“Maaf?”


“Eee… si Naura nih bakal sembuh semingguan gitu kan ya.

__ADS_1


“Terus, mungkin… kamu mau tanya-tanya kabar gitu tentang keadaannya. Terus mungkin aja, kamu ngerasain luka atau apa gitu yang sekarang engga kerasa. Tapi harusnya jangan sih ya.”


Viona terdengar antara ingin meringis dan tertawa, lalu ia melanjutkan. ”Nah… bisa tuh kamu chat Naura. Nanti Naura bisa ganti rugi mental atau materi gitu loh.”


Aku menatap Viona yang memberikan kartu namaku dengan heran, “Sejak kapan aku punya kartu nama? Dan kenapa kamu bilang--”


“Pokoknya chat aja ya,” Viona dengan cepat memotong ucapanku, “oh terus kalo chat Naura, kasih tau ya kalo itu kamu.


“Soalnya si Naura sering langsung blokir nomor yang tak dikenal. Tapi.. tapi kan kalian udah kenal nih, jadi biar jaga-jaga Naura aja gitu loh.”


Luthfi tertawa pelan mendengar penjelasan Viona. Secara garis besar sepertinya ia mengerti apa yang diinginkan orang yang mengganggpku sahabat itu, lalu tanpa aba-aba laki-laki itu mengambil ponsel dari sakunya.


Tidak lama ponselku yang tergeletak di atas nakas bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Pandanganku kembali menatap Luthfi. Mata kami lagi-lagi bertemu, “Itu nomor saya, ya Naura. Tolong disimpan baik-baik.”


Setelah mengatakan itu, Luthfi pergi keluar UKS meninggalkan situasi membeku di ruangan ini.


“KYAAAA!” Thalia merusak keadaan beku ini dengan berteriak dan memukul bahu Naya gemas.


Pukulan Thalia sama sekali tidak terasa oleh Naya, dia bahkan dengan leluasa tertawa dan mengejekku. “Hahahahhaha! Lumayan juga si Luthfi, kerja bagus anak muda.”


“Pantes Naura klepek-klepek.” Kali ini Viona mengangguk dengan bangga.


“Ck apaan sih,” aku mencoba mengabaikan degup jantungku yang berusaha keras bekerja. “minta tolong siniin HP ku dong.”


“Baik tuan putri.”


“Cih,” aku menerima ponselku dari Viona, layar ponsel menampilkan deretan angka dari panggilan tak terjawab. Jadi ini nomor Luthfi, aku menyimpannya di kontakku. Kini aku bisa menghubungi laki-laki itu kapan saja.


Memikirkan hal itu, pipiku terasa panas. Padahal hari sedang mendung ditambah adanya pendingin ruangan—mungkin tidak menyala. Iya itu sebabnya pipiku terasa panas.


Kejadian tadi terlintas di benakku membuatku semakin ingin teriak rasanya. Aku menipiskan bibir untuk menahannya, masih ada dokter di tempat ini. Tetap saja, aku merasa malu.


Aku menarik salah satu sudut jaket Viona, aku meliriknya yang sedang berdiri. “Makasih loh ya.”


Senyuman lebar merekah di wajah Viona, “Sama-sama tuan putri. Suatu kehormatan bagi keluarga Wiyana untuk melayani Anda sepenuh hati,” ujarnya seraya menunduk bak pangeran kerajaan.

__ADS_1


“Jangan mulai…”


__ADS_2