
Aku tadi berpikir, akan menyenangkan jika bisa bertemu dengannya lagi bukan?
Seolah membaca pikiranku, takdir membawa kembali mempertemukan aku dengan lelaki itu. Di tempat yang sama, suasana yang sama, dan dua orang yang sama. Kalau dipikir lagi, suasana menakjubkan yang mengelilinginya masih hangat di bayanganku.
Melihat peristiwa yang membuatku semalaman tak bisa tidur kini kembali hadir di mataku, rasa kantuk yang menyelimuti sejak pagi pun rasanya hilang.
Dia tersenyum ramah kepadaku, "Hai Naura. Kamu nunggu bus juga?"
"Ah," aku tersadar dari lamunan. Mengalihkan pandanganku darinya, aku menunduk seraya mengangguk.
Malu sekaliiiii.
Bagaimana bisa lagi-lagi aku menatapnya secara gamblang? Memalukan, memalukan! Apakah ada lubang tikus di sekitar sini? Aku ingin melompat masuk dan menyembunyikan diriku sekarang jugaaa!
"Hoaaamss..." aku refleks menutup mulutku saat menguap lebar. Mataku yang mulai berkaca-kaca membuat pandangan berubah kabur. Saat itu aku sadar bahwa kacamata masih bertengger di hidungku. Pantas saja lensanya berembun.
Saat aku sedang mengusap lensa dengan seragamku, aku terkejut karena merasakan seseorang berdiri tepat di sampingku.
Lantas aku melompat kecil dan mendongak menatapnya. Lelaki itu juga sedang menatapku sehingga pandangan kami bertemu. Kok bisa dia tau-tau udah di samping?!
"Kamu...." gumamnya masih terpaku pada wajahku. Kenapa dia tidak mengalihkan pandangannya?!
Aku gugup saat melihat matanya seolah sedang menganalisis wajahku secara terang-terangan. Jika dia tidak mau berpaling, maka aku yang menarik pandanganku dari matanya.
"Ap-apa?" Aku menyentuh kedua pipiku, "ada sesuatu di wajahku?"
Aku meliriknya malu, dia masih tetap setia menatapku dan mencondongkan tubuhnya sehingga lebih dekat memperhatikan. Sontak aku melangkah mundur menghindar. "Ke-kenapa?"
Lelaki itu mengangguk yakin. Dia terlihat heran dan di saat yang sama seperti tak habis pikir melihatku. Memangnya apa yang aku lakukan?!
"Wajahmu..." lelaki itu menegapkan tubuhnya kembali, "pasti begadang lagi, kan?"
"Huh?"
"Mata pandamu mulai terbentuk," ujar lelaki itu menunjuk daerah mataku lalu dia menggeleng pelan, "jangan lakukan itu lagi. Mulai lah kasihan pada dirimu sendiri Naura. Boleh saja begadang, tapi jangan terlalu sering. Apalagi kalau kamu begadang hanya karena bermain ponsel, setidaknya jauhkan ponsel darimu sejam sebelum tidur supaya tidurmu lebih berkualitas." ocehnya penuh semangat memberiku nasihat.
Aku tertegun menatapnya. "Ah... iya. Baiklah."
Perasaan apa ini? Apakah begini rasanya? Saat aku pergi ke pasar lalu tiba-tiba dijadikan bahan gosip oleh ibu-ibu komplek yang bahkan tak ku kenal.
__ADS_1
Tapi tidak seperti suara gosip ibu-ibu komplek yang menjengkelkan, suara pria itu sangatlah berbeda. Ku akui, suaranya tidak membuatku kesal.
Jadi perasaan apa ini?
"Apa kamu sering pulang sore? Saya biasanya pulang jam segini udah engga ada orang disini," tanya lelaki itu dengan suara berat namun lembut, berada di volume yang pas. Tidak membuatku merasa tidak nyaman dan tidak pula membuatku sulit mendengarnya.
Aku menoleh ke arahnya lagi setelah menangkan diri. Ya ampun, dilihat bagaimana pun wajahnya benar-benar tipeku. Apalagi matanya, sangat tajam, tegas, dan dalam.
Tidak bosan rasanya berlama-lama menatap iris hitam itu.
"Maaf tapi, saya boleh kan tidak menjawab pertanyaan kamu, Luthfi?" ujarku dengan sedikit nada tanya di akhir. Aku ragu akan ingatanku, aku bukan orang yang pandai menghapal nama orang yang baru sekali bertemu.
Melihatnya tersenyum, sepertinya aku tidak salah memanggil namanya.
"Iya, Naura. Kamu boleh kok tidak menjawab pertanyaan saya, tidak masalah." Lelaki itu menarik pandangannya dariku lalu menatap jalanan yang dipenuhi rintik hujan yang tak kunjung berhenti, "Lagipula kita baru bertemu kemarin, wajar jika kamu waspada ke saya."
Benar, aku selalu waspada dengan orang lain. Aku tidak menyadari kebiasaan itu, mungkin itu adalah mekanisme pertahanan alam bawah sadarku? Padahal aku hanya memikirkan apa aku benar menyebut namanya atau tidak.
Tapi aku juga mengatakan hal seperti itu, ya?
Aku kembali melirik ke arah lelaki itu saat keheningan menyelimuti kami. Kata-katanya yang terakhir diucapkan dengan pelan. Aku merasa bahwa ada rasa kehilangan di dalam nada suaranya.
Pertanyaan menumpuk di benakku. Tapi mulutku tak mampu mengutarakan satu katapun.
Ah, begitu rupanya. Aku seharusnya menjawab pertanyaannya tadi. Mungkin saja dia tersinggung karena ucapanku yang defensif.
Aku ingin meminta maaf, "Permis--"
"Oh, busku sudah datang." Kini Luthfi terlihat riang seolah kesedihan di mata hitamnya hanyalah ilusi semata. Atau mungkin, minus mataku bertambah sehingga tidak bisa mengenali ekspresi orang lain dengan baik. "Aku duluan, Naura. Sampai jumpa lagi."
Lelaki itu masuk ke dalam bus dan pergi menjauhi halte. Entah bagaimana, bus yang mengarah ke jalan perumahanku juga sudah datang.
Aku tidak sempat untuk memikirkan perkataannya saat ini. Namun ketika aku duduk di dalam bus dan menatap pemandangan dari balik jendela, perkataan Luthfi terngiang di pikiranku.
"Sampai jumpa lagi? Apa itu artinya, aku akan bertemu dengannya lagi?"
Tapi bagaimana? Kalau dipikir-pikir, sekolah lelaki itu berada cukup jauh dari daerah ini. Untuk apa dia di halte sekolahku dan menunggu bus?
Aku menguap pelan sehingga mataku mulai berkaca-kaca. Baiklah, jangan pikirkan dia lagi. Sekarang aku harus menahan kantuk supaya halte di depan komplek tidak terlewat.
__ADS_1
Memandangi jalanan yang di derai air hujan, aku jadi teringat sesuatu.
Payung.
Aku ingat bahwa tadi pagi aku telah memasukkan payung bersamaan dengan dompet di dalam tas. Tapi aku tetap membuka resleting tas dan mencari keberadaan dua hal penting itu.
Ketemu. Ingatanku memang benar. Kenapa aku selalu refleks untuk memastikannya lagi ya? Memang aku seringkali merasa ragu dengan informasi di kepalaku. Padahal kan itu ingatanku, aneh sakali.
Aku menghela napas pelan, uap panas terbentuk dari mulutku dan menyebar di udara yang dingin.
Kalau dipikir-pikir, hari ini rasanya penat sekali setelah seharian duduk di dalam kelas. Mata pelajaran yang paling berat hari ini adalah sejarah kekaisaran.
Di samping pembelajaran satu arah yang diterapkan oleh guru, aku benar-benar tidak menyukai mata pelajaran itu. Jujur saja, aku sudah muak dengan materi itu.
Bagaimana tidak? Sepupuku yang sangat menyukai sejarah selalu menjejal materi itu ke dalam pikiranku. Rasanya tidak ada agenda lain yang dilakukan orang itu ketika bermain di rumah.
"Ck, bocah menyebalkan itu." Moodku semakin buruk memikirkan sepupuku. Tapi sisi positifnya adalah aku tidak lagi mengantuk. Bahkan mataku membara penuh kekesalan menatap jalanan yang tak bersalah.
Lagi lagi aku menghela napas. Pikiranku semakin kacau saja. Aku tidak ingin memikirkan apapun lagi.
...****************...
Aku yang sedang duduk santai di sofa ruang TV terganggu dengan suara dentingan bel dibunyikan.
"Kakkk! Ada tamu!!!" teriakku seraya bergegas ke tangga yang menuju kamarku di lantai dua.
"Bukain dulu napa, Ra?! Jangan kabur ke kamer! Kakak masih benerin blender nih!"
Suara menggelegar kami yang bersahut-sahutan terdengar jelas di rumah. Aku berdecak kesal. Padahal di hari libur yang indah ini aku tidak mau bertemu orang.
Mau tidak mau aku kembali turun untuk mengecek pintu. Sebelum membuka pintu, aku melihat penampilanku sekilas. Piyama berwarna biru dengan lengan dan celana panjang. Rambutku yang pendek dibiarkan tergerai dengan bando yang menahan poni panjangku. Aman lah ya.
Aku menyalakan intercom di dekat pintu. Muncul gambar seorang wanita berpakaian rapi pekerja kantoran. "Oh, kirain siapa. Ternyata kakak ipar," gumamku pelan.
Membuka pintu, aku menyambut kedatangan sekretaris kakak dengan senyuman ceria. "Pagi Kak Varsha!"
"Pagi, Naura. Tolong berikan ini ke Pak Arief. Nanti malam saya akan kembali untuk mengambil berkas yang sudah ditandatangani," ujar Kak Varsha tanpa basa-basi dan langsung meyelesaikan tujuannya.
Sudah bertahun-tahun menjadi sekretaris kakak, Kak Varsha masih belum membuka dirinya. Padahal dia sering datang ke apartemen kami tapi rasanya aku tidak merasa dekat dengan kak Varsha.
__ADS_1
Kasihan Kakak.