
"Rubi Anastasya..."
Junha membaca profil Ruby yg ada di meja kerjanya... "sepertinya aku harus memberinya hadiah yg sangat mahal..." ucapnya tersenyum... "tolong belikan sebuah Mobil sport terbaru atas nama Rubi Anastasya,.. Aku akan menunggu di depan kantor polisi, dalam waktu 15 menit semua sudah harus ada disana, jika tidak, aku akan mencari penggantimu" ucap Junha pada sekretarisnya di Telfon... "apa dia pikir semua wanita gila harta" ucap Tuan sekretaris kesal...
Tak berapa lama kemudia di depan kantor polisi semua orang heran dan kagum melihat mobil sport yg terpakir dengan pita disana... "ada apa ini?" tanya Rubi yg baru saja tiba di kantor polisi... "halo nona Rubi... Aku memberimu sebuah hadiah... Apa kau menyukainya?" tanya Junha penuh harap... "Apa kau gila?" Rubi menatap Junha kesal...
"Tapi aku tulus memberimu hadiah ini..." Junha menahan Rubi yg hendak pergi... "Tuan muda generasi ketiga yg sangat kaya Raya... Maaf aku tidak bisa menerima hadiahmu" Rubi melepaskan tangan Junha dan pergi...
"Sekretari Aldy, aingkirkan mobil ini... Atau kau berikan pada siapa saja" Ucap Junha kecewa lalu peegi dengan mobilnya... "Tapi tuan muda.... Heiiihhh... Dasar orang kaya... Bagaimana bisa aku menyingkirkan Mobil seharga 15 unit rumahku? Inikan sudah atas nama nona polisi itu, bagaimana aku bisa memberikannya pada orang lain?" Ucap Sekretaris aldy bingung ..
"Bagaimana bisa dia menolaknya seperti itu?" junha mulai bingung "yuri biasanya sangat senang jika di berikan hadiah mahal... (Efek sering memanjakan adik perempuan satu satunya...) " Apa dia tak membutuhkan mobil karena sudah punya yg lebih mahal?" Junha berfikir keras... "Atau aku harus menjadi polisi Juga?" Sebagaimanapun kerasnya Junha memikirkan cara untuk menarih hati Rubi, Rubi tak pernah mrlihat Junha...
Tentu saja, Rubi adalah Anak seorang Petani buah Dari desa, dengan semangat dan kepintarannya Ia menjadi kandidal Calon Polisi wanita dengan kwalifikasi terbaik saat itu... Rubi sangat menjunjung tinggi integritas nya, dan Juga Hargadirinya tersimpan di tempat yg lebih tinghi daripada Nyawanya sekalipun, selama ia merasa bahwa segala sesuatu yg bisa melukai, merusak, ataupun menghancurkan harga dirinya, dia tidak akan segan untuk menghancurkan hal itu... Rubi adalah wanita yg baik, sopan, dan Ramah, tapi hanya kepada orang yg di kenalnya, sementara untuk Orang yg tak mrngrnalnya menganggapnya Angkuh, sombong, dan tidak berperasaan... Apa lg Jika dia melihat seorang terdangka pembunuhan, atau pemerkosaan... Maka dia akan langsung menghajarnya di ruang introgasi, walaupun itu tidak di izinkan, tapi jika itu kasus pencurian, apa lg jika pencurinya adalah orang miskin, walaupun pencurian tifak di benarkan, maka ia akan menyelidiki sampai ke dalam perut bumi sekalipun...
"Ayah, aku ingin bertemu, .." Ucap Junha menelfon Ayahnya...
Lalu merrka bertemu di Rumah Nagarasta, ..
"Ada apa?" Tanya Rinhartsedikit cuek...
"Apa aku bisa menjadi seorang Polisi?"
__ADS_1
Reinhart menatap Junha aneh dan penasaran...
"Apa kau sudah tifak bisa mrnjadi dokter lagi?" Melihat tangan Junha sambil terus membolak balik tangan anaknya "ayahhh... Ayolah, aku baik baik saja..."
"Lalu? Krnapa kau menanyakan hal itu di umurmu yg sudah cukup tua untuk hal itu?"
Junha menatap ayahnya yg penasaran
"Ahh sudahlah... Berbicara dengan mu tifak akan menyeledaikan masalah..." Ucapnya pergi meninggalkan Reinhart
"Sarahhhh....." Teriak Reinhart memanggil istrinya sambil berlari menuju istrinya...
"Kau... Apa kau bodoh?"
"Auu.. Kapten, apa kau tidak bisa menghentikan kebiasaanmu memukul kepalaku? Memegang kepalanya yg di pukul dengan kertas
" Bagaimana bisa kau menolak hadiah seperti itu..." Ucap kapten sambil duduk di hadapan Rubi
"Aku hanya tidak menyukainya..." Jawab Rubi simple membuat kapten kesal dan meninggalkannya tanpa bicara...
"Permisi... Ruang kesehatan dimana ya?" Tanya Junha kepada seorang petugas polisi
__ADS_1
"Di ujung koridor itu..." Ucap petugas tersebut menunjuk kearah Ruang kesehatan...
Junha pun berjalan menuju Ruang kesehatan sambil membawa beberapa kardus berukuran sedang yg entah apa isinya... "Bbrruuaakkk" Kardus yg di bawa oleh Junha pun terjatuh... "Aahhhhh.... Maaf maaf..." Ucap Rubi mengambil kardus itu, namun saat ia melihat Junha kardus itu terjatuh lg dari tangan Rubi, sementara Junha menatap Rubi bingung... "Apa yg kau lakukan disini?" Tanya Rubi melihat Juna kesal "ahhh.. Aku dokter baru yg bertugas di ruang kesehatan kantor polisi ini" Ucap Junha santai... Lalu Junha berjongkok untuk mengambil Kardusnya, namun terdengar suara seperti barang pecah dari dalam kardus... "Wahhh... Bagaimana ini bisa hancur?" Ucap Junha membuka kardus itu, dia terlihat kaget saat melihat alat alat medisnya Rusak... Lalu Junha melihat kearah rubi yg terlihat Gugup "apa, apa yg kau lihat..." Ucap Rubi menantang
"Kau merusak alat alat medis baru ini" Ucap Junha dengan expresi sedihnya... "Ba.. Bagaimana bisa kau menuduhku seperti itu? Kau yg tak hati hati membawanya..." Ucap Rubi membentak Junha dengan Gugup "apa yg terjadi?" Tanya kapten menghampiri Rubi dan Junha dengan santai "nona ini...." Belum selesai Junha berbicara Rubi membekap Mulut Junha lalu membawa Junha masuk ke ruang kesehatan dan menutup pintunya... "Aghu hak isa hapass" (Aku tidak bisa bernafas) ucap Junha membuat Rubi segera melepas tangannya dari bibir Junha "aku akan mengganti semua peralatan itu, jadi jangan katakan apapun pada kapten ok." Ucap Rubi mengeluarkan kartu dari dompetnya... "Ini, isinya 15jta, kau pakai saja untuk membeli peralatan medis yg baru" Ucap Yuri membuat Junha tersenyum "tapi... Uangmu tidak akan cukup untuk membeli pralatan medis yg baru, bahkan yg bekas skalipun" Ucap Junha berjalan mendekati rubi hingga rubi terpojok di dinding, "ma..mana mungkin? Memangnya sebrapa mahal Pralatan medis sekecil itu?" Tanya Rubi penasaran dan Gugup "150.000.000" Jawab Junha sambil tersenyum... "Apa? " Yuri kaget, lalu terdiam... "Begini saja.. Aku tidak akan mempermasalahkan peralan medis itu, tapi dengan syarat..." Junha menatap Rubi sambil tersenyum "apa...?" Tanya Rubi mulai merasa bersalah...
"Kau harus menerima hadiah yg aku berikan, dan makan siang bersamaku selama seminggu..." Ucap Junha dengan mudahnya, karena baginya harga pralatan medis itu hanya seharga Bluse yg di kenakannya sekarang...(orang kaya mah bebas🤣🤣🤣) "makan siang? Baiklah, tapi hadiah aku tak bisa menerimanya..." Ucap Rubi canggung "baiklah... Tapi jika kau jatuh cinta padaku, kapanpun itu, kau harus menerima semua hadiah dariku..." Ucap Junha tersenyum lalu keluar meninggalkan Rubi yg masih terdiam di Ruang kesehatan... "Hahh... Apa dia gila... Itu tidak akan pernahbterjadi" Ucap rubi dengan percaya diri, lalu keluar dari ruang kesehatan...
"Apa kau merasa aneh?" Tanya Reinhart pada Sarah saat mereka hendak tidur
"Apa yg aneh?"
"Kenapa anakmu, yg seorang direktur Rumah sakit, mau menjadi seorang petugas medis di sebuah kantor polisi yg bahkan dia pernah di penjarakan disana?" Tanya Reinhart panjang lebar
"Mungkin anakmu hanya ingin low profile saja, dan mengetahui dunia baru"
"Apa menurut mu seperti itu? Ahhh,.. Ini terlalu mencurigakan" Ucap Reinhart lalu mematikan lampu kamarnya dan memeluk sarah bersiap untuk tidur....
"Apa... Kak Junha bekerja sebagai petugas medis di kantor polisi?" Yuri sedikit kaget sambil tertawa...
"Hahaha... Mana mungkin,... " Ucap Reno tertawa
__ADS_1
"Jika tak percaya kalian lihat saja kesana besok" Ucap Jello...
"Baiklah baiklah... Aku percaya... Huuffttt... Hahaha... " Yuri tertawa terbahak bahak... "Ini sedikit aneh..." Ucap Yurha sambil fokus membaca buku yg di pegangnya...