Bintang Milik Angkasa

Bintang Milik Angkasa
BAB 1 : PERTEMUAN GILA!


__ADS_3

Dikediaman Mahardika.


Hari Minggu telah tiba. Hangatnya cahaya mentari dengan kicauan sang burung membuat senyum tipis gadis muslimah yang telah siap dengan outfit hitam itu mengembang.



Liburan juga berkumpul dengan keluarga menjadi rutinitas hari Minggu keluarga di luar sana. Bukan keluarga dirinya. Keluarga Mahardika. Pengusaha terhebat ke-2 di Asia yang jarang memiliki waktu luang bersama. Tapi walau mereka berpisah, tak ada yang namanya kesepian. Ayah dan Mama senantiasa menghubungi gadis itu dimana pun waktu luang juga membalas telepon jika gadis itu merindukannya. Putrinya paling utama di antara tugas mereka yang sedang dikerjakan di luar negeri sana.


Makanan di meja makan telah siap untuk disantap. Dengan menyampirkan tas biru di kursi, gadis tomboy beroutfit hitam itu bergerak duduk untuk sarapan paginya.


"Pagi, Nona Sheen." Sapa salah satu maid di rumahnya.


Gadis dengan nama lengkap Bintang Afsheen Mahardika yang kerap dipanggil Sheen itu tersenyum lembut. Senyum yang jarang diperlihatkan kepada khayalak umum.


"Pagi, Bi."


"Makanannya telah siap, Non."


"Makasih ya, Bi. Pasti enak nih.." Riang Sheen yang langsung mengambil nasi goreng juga nugget berbentuk dinosaurus itu dengan semangat.


"Pasti dong. Kalau buat Non Sheen pasti harus enak." Balas Bi Arum dengan senyum lembutnya.


"Kalau gitu bibi pamit ke belakang lagi ya, non."


"Ah, sebentar Bi." Bi Arum kembali di tempatnya.


"Iya, non?"


"Setelah ini aku mau ke rumah Jeshna untuk kerja kelompok dan aku titip rumah ya sama maid yang lain. Kalau ada apa-apa hubungi aku langsung. Dan kalau kakak juga pulang dan nanyain aku, bilang sedang kerja kelompok dan kemungkinan sore pulangnya."


"Karena rumah Jeshna dekat, mobil atau motor aku gak perlu disiapkan ya, Bi." Pesan Sheen.


"Baik, non. Nanti saya sampaikan kalau Tuan muda pulang."


"Sekali lagi makasih, Bi."


Bi Arum pun pamit dan Sheen mulai melantunkan doa makan dengan khusyuk lalu makan dengan adab yang baik. Tanpa menimbulkan suara.


Urusan perut selesai dan sekarang urusan sekolah yang harus dikerjakan. Sheen pun pamit pada Pak Satpam dan mulai berjalan keluar dari pekarangan rumahnya.


Earpods di telinganya melantunkan Qs. Ar-Rahman yang sedang Sheen hapalkan untuk bersiap di setorkan pada sang Ayah.


Memang sudah menjadi program harian di Mansion Mahardika. Murojaah dan menghapal Al-Qur'an ketika setelah magrib dan saling mensetor sama lain. Bukan berlaku untuk sang anak saja yaitu Sheen dan Kakak, tetapi Ayah dan Mama juga ikut menghapal walau sesibuk apapun pekerjaan mereka. Dan apabila Sheen tidak bisa mensetor langsung dengan Ayah maka ia akan setor pada pria ke-dua yang ia cintai. Sang kakak.


Waktu masih menunjukkan sekitar 15 menit lagi untuk waktu pertemuan mereka dan jarak rumah Jeshna sudah tidak jauh dari tempat Sheen berdiri. Cukup melewati Taman Galaxy dan beberapa meter saja sudah sampai di rumah megah Keluarga Aditama.


Taman Galaxy pun Sheen lewati. Terlihat beberapa keluarga berkumpul bersama di sana sambil bermain permainan yang memang dikhususkan untuk taman ini. Tawa dan canda serta kebahagiaan terlihat jelas dalam ekspresi mereka membuat Sheen tersenyum hangat.


Bersyukur bahwa Taman Galaxy yang ia buat bisa menjadi sumber bahagia orang lain. Dan ia selalu pantau taman ini agar tak ada orang yang melakukan keburukan atau hal tidak senonoh dalam wilayah yang ia buat.


Walau asik melihat para keluarga di sana juga mendengarkan ayat suci Al-Qur'an di telinganya, tak membuat Sheen gagal fokus. Namun, yang namanya musibah tidak ada yang tau.


"Minta minum yo."


Merasa ada pergerakan dari tasnya membuat langkah Sheen berhenti dan sontak menoleh pada sumber suara. Mata Sheen terbelalak ketika melihat gerombolan cowok yang sepertinya sebaya dengannya tengah berdiri di depannya. Namun, bukan itu yang membuat Sheen terkejut melainkan..


Air minumnya di curi.


Botol minum favorit yang biasa Sheen bawa dan simpan di samping tasnya kini berada pada pria tinggi yang berada di tengah yang membuat emosi Sheen hampir meledak saat itu juga.



Hey! Itu botol favorit nya. Kristal putih di dalamnya membuat botol itu terlihat sangat cantik dan Sheen membelinya dengan harganya yang tidak murah karena sebenarnya itu bukanlah kristal bohongan alias kristal asli yang harganya jelas sangat mahal. Tak pernah ada bibir yang menempel pada botol itu dan sekarang pria di depannya tengah menghabiskan air minum miliknya. Kakaknya saja tidak pernah Sheen bolehkan untuk meminjamnya atau minum dari botolnya tapi pria ini.. Aish! Kurang ngajar!


"Itu minum aku, hey." Kata Sheen menatap tajam pria yang memakai kalung kunci dan gembok itu.


Ia akui bahwa pria itu tampan apalagi dengan keringat yang membasahi kening dan lehernya. Ia lebih tampan dari pria di samping-sampingnya. Dengan cepat Sheen menggeleng dan beristigfar sebanyak mungkin.


Astagfirullah, Sheen. Sadar. Bukan waktunya kagum sama salah satu makhluk ciptaan Allah. Bathin Sheen.


"Gue minta sedikit." Jawab pria itu santai.


Apakah dia gak ngerasa bersalah sama sekali udah ngambil minum aku tanpa izin? Astagfirullah. Istigfar Sheen kedua kalinya.


"Minta dikit apaan anjir. Lo udah ngabisin air minum tu cewek." Sahut temannya.


"Bener anjir. Kagak punya sopan santun lo, Ka."


"Temen lo gila. Bisa-bisanya ngambil minum orang padahal dia aja bisa beli botol minum lebih dari satu pabrik. Tolol emang."


"Temen lo juga, sialan. Tanggung jawab sana."


"Iya, bego. Gimana kalau cewek itu dah minum terus lo minum di tempat yang sama. Itu artinya lo sama dia.." Pria berambut lurus hingga menutupi keningnya itu menatap Sheen juga Pria yang minum itu dengan wajah tak percaya. Tangannya bergerak saling mengadukan satu sama lain yang berarti ciuman.


"Gak usah ngaco. Aku belum minum." Bantah Sheen dengan wajah datar. Okay, Sheen menjadi dirinya yang dingin terhadap orang lain.


Astagfirullah. Dasar cowok pikirannya. Mana sompral banget lagi. Tempat umum ini hey. Omel Sheen dalam hati.


"Balikin." Pinta Sheen.


Pria itu nurut dan memberikan minum itu, tetapi Sheen diam saja dan tidak menerimanya. Menatap botol minum yang telah habis itu dalam diam.


"Ini ambil. Tadi disuruh balikin malah diem." Ujar Pria itu sedikit kesal.


Sheen menatap mata pria itu dengan tajam, "Kamu gak ada rasa bersalah sama sekali udah ngambil botol minum orang lain tanpa ijin? Bukannya minta maaf malah ngasih tanpa rasa bersalah." Tegur Sheen.


Mereka berlima terdiam melihat keberanian Sheen mengomentari sang ketua.


"Balikin botol itu setelah dicuci. Ingat. Tanggung jawab. Cowok apaan kamu kalau gak berani bertanggung jawab."


Pria itu sedikit menukik alisnya sebal, "Gue cowok bertanggung jawab. Bakal gue balikin nih botol murahan lo." Sarkasnya.


"Kalau gak tau apa-apa mending diam. Botol ini bukan semurah itu bisa kamu rendahin." Smirk Sheen dengan cantik.


"Alah.. paling harganya gak sampai 100 ribu."


"Terserah apa kata kamu. Kamu bakal malu kalau udah tau harga botol itu."


"CK! Bawel lo jadi cewek."


Mata Sheen menatap ke salah satu pria yang memakai kaca mata yang berdiri tepat di sebelah pria yang kurang sopan santun ini.


"Kamu yang pake kaca mata." Panggil Sheen membuat pria itu menoleh bingung.


"Minta nomor kamu."


Perkataan itu membuat pria gak sopan itu tertawa mengejek. Tidak ada yang lucu sama sekali padahal. Memang udah dasarnya aneh kali ya.


"Ternyata lo sama aja kayak cewek murahan di luar sana. Minta nomor buat pdkt huh? Dia gak bakal mau sama cewek kayak lo. Bahkan mana ada kali ya cowok yang suka dan mau sama lo." Cemoohnya dengan kurang ngajar.


Tangan Sheen terkepal. Gatal ingin memberikan bogeman mentah pada pria di hadapannya ini. Tapi ia harus sabar. Berkali-kali istigfar dibacakan dalam hati guna keluar dari amarah ini.


"Angkasa. Omongan lo keterlaluan, anjir." Tegur pria berkaca mata itu.


"Belain aja dah tu cewek."


Oh! Namanya Angkasa. Pantas sombongnya ngalahin langit. Kesal Sheen dalam hati.


"Gak usah mikir aneh-aneh. Aku cuma minta dia buat ngawasin kamu biar gak kabur dari tanggung jawab. Dia keliatan lebih bertanggung jawab di antara kalian semua."


"Kena mental gak tuh." Kekeh pria berkaca mata sedikit sombong.


"Pedes banget ni cewek omongannya."


"Dada gue sampai berasa ada suara Deg gitu."

__ADS_1


"Sabar sabar. Gue harus berubah biar bisa dilihat bertanggung jawab sama orang lain. Baru namanya LAKI!"


Sheen hanya dapat menggelengkan kepala mendengar penuturan absurd mereka lalu mengeluarkan hp dari sakunya membuat semua di sana terkejut.


"ANJING! HP KELUARAN TERBARU! YANG LIMITED EDITION, ANJIR!" Teriak pria yang berambut sedikit ikal.


Buk!


Kepala pria yang berteriak itu dipukul keras.


"JANGAN TERIAK DI TELINGA GUE, BRENGSEK!"


"Astagfirullah mulutnya pada lemes semua." Sindir Sheen yang membuka hpnya guna membuka apk telepon dan memberikannya pada pria berkaca mata dengan santai.


Pria berkaca mata itu kembali terkekeh sembari menulis namanya beserta nomor telepon. Ia merasa lucu dengan ucapan sarkas yang Sheen selalu tuturkan. Apalagi ketika temannya kena mental hingga tak berkutik. Puas sekali rasanya.


"Nih nomor gue. Kenalin nama gue Ezio." Katanya sambil mengulurkan tangannya meminta untuk dijabat.


Namun, tangan pria berkacamata itu ditepis oleh pria berambut cokelat.


"Ezio Ezio. Nama lo Kaindra anjir. Gak usah sok pake nama kedua. Berasa sok keren aja lo." Cibirnya menatap tajam pria berkaca mata yang bernama Kaindra.


"Ngerusak reputasi keren gue aja lo, Daniel."


"Bacot. Kebanyakan gaya sih lo."


"Nama gue Kaindra. Panggil Andra aja. Salken." Katanya yang kembali mengulurkan tangan minta dijabat tapi.. ditepis oleh pria bersurai hitam yang ikut mengulurkan tangannya.


"Gue Michael, orang paling ganteng di antara Vega Squad. Orang-orang ini."


Sheen tersenyum tipis dan mengatupkan tangan di dada tak menjabat tangan mereka.


"Sorry bukan muhrim."


Wajah Michael terlihat terkejut dan cengo. Dan tawa teman-temannya kembali terdengar. Bahkan pria berambut ikal itu menempelkan telinga di dada Michael.


"Anjir bener. Gue denger suara Deg di dada si El. Mampus kena mental hahaha." Ledeknya merasa sangat puas.


"Untung tangan gue ditepis sama lo jadi gak harus nanggung malu kayak lo. Mana udah narsis. Ngabrut banget, sialan." Kata Kaindra sambil tertawa.


Sheen pun terkekeh pelan melihat keabsurdan mereka. Membuat mereka sontak menatap ke arah Sheen mendengar kekehan merdu itu.


"Suara lo lembut sama merdu banget, anjir." Puji Daniel kagum.


"Hooh. Padahal cuma ketawa ringan doang. Jadi pacar gue ayok lah." Ajak Kaindra ikut terkagum-kagum.


"Sorry aku gak pacaran." Tolak Sheen kembali tersenyum tipis.


"Coba sini, Ndra. Ada suara Deg gak di dada lo? Ouh ada. Kena mental juga ya bos?" Canda Pria berambut ikal sembari menempelkan kepalanya di dada Kaindra.


"Jingan. Diem lo, Alan"


"Oh iya, nama gue Alan, cantik."


"Najis kali ucapan kau ya." Jijik Daniel menatap Alan lekat dengan wajah yang menunjukkan ekspresi menjijikan.


Tawa mereka terdengar kembali terkecuali pria yang bernama Angkasa. Dia hanya diam dan tanpa sadar menatap Sheen sedari tadi dengan lekat.


"Saka. Lo kenapa kagak ketawa, anjir? Kayak patung lo diem diem bae.." Tanya Daniel yang langsung mendapat tatapan tajam dari pria itu.


"Kagak ada yang lucu."


"Iyalah kagak ada yang lucu, orang lo fokusnya aja sama tu cewek." Goda Michael tersenyum geli.


"Mana ada, njir. Gak waras lo." Decak Angkasa dengan wajah kesal.


"Aku ada urusan jadi harus pergi sekarang. Andra, kamu jagain nih temen kamu. Jangan lari dari tanggung jawab. Nanti alamat buat kirim botolnya aku chat aja."


"Hah? Gak ketemu aja?"


"CK! Pengacau lo."


"Gue bakal jagain nih ketua gue biar gak kabur. Percaya sama gue."


"Musyrik percaya sama kamu." Kekeh Sheen.


"Ya maksudnya gak gitu.."


"Mampus lo, Ndra."


"Lo mau cabut ya cabut aja. Pake laporan segala." Cetus Angkasa membuang muka.


Ini orang mancing amarah mulu deh. Liat aja kamu. Kesal Sheen tersenyum misterius.


Gadis cantik itu melangkah mendekati Angkasa namun tetap ada jarak di antara mereka. Angkasa yang melihat Sheen yang tiba-tiba diam dan bergerak mengernyit bingung.


"Lo mau ngap–"


SETT!


"Anj-"


BUKK!


Mereka berempat cengo melihat nasib ketua mereka yang sedang diberi sedikit pelajaran.


"Lo apa-apaan sih?!" Kesal Angkasa dengan wajah memerah.


Sheen hanya tersenyum miring dan mengangkat tangannya yang menunjukkan sebuah kalung kunci itu.


"Aku ambil kalung ini sebagai jaminan dan pukulan botol tadi.."


"Buat ngasih kamu pelajaran untuk menghargai orang lain dan sopan santun terhadap siapapun." Jelas gadis itu yang jengah dengan sifat Angkasa.


Ada yang tau apa yang dilakukan Sheen?



Gadis tomboy itu baru saja menarik kalung yang ada kuncinya milik Angkasa dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terbaca tapi tanpa menyentuh tubuh atau dada Angkasa. Dan sebelum Angkasa mengumpat tadi, Sheen sempat mengambil botol minum yang dipegang Daniel dan memukulnya tepat di kepala Angkasa.


"Saka.. kalung lo itu.." Celutuk Alan.


Mereka masih tak percaya dengan kecepatan Sheen dalam mengambil kalung dan memukul kepala Angkasa yang mereka saja tidak memperkirakan itu.


"Balikin kalung gue, sialan."


"Nope! Kamu balikin botol aku dan aku bakal balikin kalung kamu. Deal!" Sepakat Sheen secara sepihak.


Mulut Angkasa kembali terbuka bermaksud untuk mengumpat, namun dengan cepat Sheen mendahului ucapannya.


"Aku pamit dulu ya udah ditungguin. Assalamualaikum."


"Wa - Waalaikumsalam."


"Njir, Saka. Kalung lo itu padahalkan buat.."


"Dasar Cewek gila! ARGH! Kalung gue!"


Sheen pun menatap tajam ke arah depan masih dengan tangan terkepal.


"Dasar Cowok gila."


...******...


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Sheen.. Lo dari mana aja sih? Lama tau gak kita nungguin. Ya kan, Jesh?" Balas sahabatnya yang bernama Azucena atau kerap dipanggil Sena.


"Lumayan lah, telat 15 menit 47 detik." Jawab Jeshna seraya menatap jam tangan di tangannya.


"Detail sekali ya bestie.." Ucap Sheen terkekeh sedikit keras. Jika dengan Sena dan Jeshna maka Sheen akan menjadi apa adanya. Yang tidak dingin melainkan kebalikannya alias dia sangat hangat dan terbuka terhadap sahabatnya.


"Tadi di jalan ada kendala dulu sebentar. Sorry ya bestie - bestieku.."


Jeshna dan Sena hanya terkekeh pelan melihat senyum lebar yang Shee berikan hingga giginya terlihat. Sangat cantik dan bersinar.


"Ya udah ayo kita masuk."


Mereka bertiga pun masuk ke rumah Jeshna yang sudah ke berapa kalinya menjadi tempat mereka untuk nongkrong juga menginap.


Waktu berlalu dengan cepat seraya mengerjakan tugas kelompok yang diberikan oleh guru di sekolah. Berbagai cemilan berjajar di meja sebelah meja belajar. Hey jangan salah, Jeshna termasuk orang kaya dan berada di perumahan elit walau perumahan elit Sheen lebih besar dari Jeshna karena perkumpulan para Mansion mewah.


Hingga Sheen merasa haus karena terlalu banyak makan makanan yang asin, "Jesh."


"Iya?"


"Aku minta minum dong hehe.."


"Ambil aja ke dapur atuh, beb. Kayak di rumah siapa wae." Jawab Jeshna dengan bahasa Sundanya.


"Hehe.. aku ambil ye.."


"Yo, sono - sono."


Beberapa menit kemudian Sheen datang dengan jus jeruk dingin di tangannya. Jeshna memang sudah memperbolehkan dirinya dan Sena untuk mengambil apapun di dapur mewah miliknya.


"Tumben lo gak bawa minum, Sheen?" Tanya Sena kepo. Karena apapun acaranya atau kemanapun mereka pergi pasti Sheen selalu membawa botol favoritnya hingga kedua sahabatnya hapal. Apalagi harganya 2 miliar lebih yang harus dijaga ketat takutnya diambil oleh orang lain.


"Diambil orang." Jawab Sheen santai.


"WHAATTT?!!"


"ANJIRRR?!!"


"Sena bahasanya.." Tegur Sheen.


"Astagfirullah. Hehehe maaf keceplosan."


"Beneran diambil Sheen?" Tanya Jeshna speechless. Hey di dalamnya ada kristal mahal.


"Iya bener."


"Kok bisa?" Tanya Sena.


Pembelajaran mereka terhenti sejenak karena tertarik mendengarkan cerita mengenai botol minum yang tak biasa milik sahabatnya. Botol minum seharga 2 miliar lebih guys! Gimana gak panik coba?


Sheen terkekeh dan mulai menceritakan pertemuannya dengan Angkasa yang gak sopan. Namun, ia tidak menyebut namanya. Biarlah ia rahasiakan. Takut menjadi aib dan Sheen tak akan mengumbarnya.


"Jadi lo ketemu cogan?" Sena menatap dirinya dengan mata berbinar.


"Bisa dibilang begitu."


"Kelima - limanya cogan itu?"


"Aku rasa iya. Mereka berlima glowing kkk~" Kekehnya semakin membuat Sena tertarik.


"Bagi kontaknya dong. Gue mau pdkt."


"Heh! Gak ada pdkt - pdkt astagfirullah. Laporin Mama Qyara ya anaknya mau pacaran." Adu Sheen membuat gadis cantik berambut sebahu itu panik.


"Yah.. jangan dong, Sheen. Gue kan bercanda. Gak asik lo main ngadu sama nyokap gue."


"Kasian." Ledek Jeshna membenarkan hijabnya sedikit.


"Lagian cuma buat kontak alamatku doang kok buat balikin botolnya. Kalau botol minumnya diambil ya aku juga bakal tau. Kan ada pelacak di kristal itu."


"Ouh iya ya, lo simpen pelacak. Tenang deh gue. Duit lo itu masalahnya. Bukan dari duit ortu lo." Tenang Jeshna membaringkan tubuhnya sejenak.


"Iya. Kalau duit bonyok lo mah kagak papa. Kan orang kaya boz.."


"Ya gak gitu juga dong. Mau dari ortu atau dari siapapun harus disimpan dengan baik." Ucap Sheen menatap ke arah sahabatnya hangat.


"Siap deh siap."


"Oh iya, grup base sekolah di twt lagi rame ya?" Tanya Jeshna yang tiba-tiba duduk teringat dengan pembicaraan yang hendak di bahas ketiganya.


"Oh iya bener. Soal cowok yang di skors itu ya?"


"Hah? Kok aku gak tau?" Tanya Sheen dengan wajah polosnya. Padahal dirinya sudah memfollow base sekolah. Apalagi Sheen ada termasuk bagian dari OSIS sekolah.


"Lo aslian kagak tau? Gak buka twt ya.." Todong Sena mencolek dagu Sheen jail.


"Oh iya aku lupa. Twt aku ke delete kemarin. Belum instal lagi hehehe.." Kata Sheen cengengesan.


"Dasar."


"Tapi lo sebagai anak OSIS emang gak tau, Sheen?"


"Aku pernah denger sih sekilas. Tapi siapa dan karena apanya aku kurang tau." Jeshna dan Sena pun mengangguk serempak.


"Di base tuh katanya, cowok yang di skors semalam sebulan itu bakal masuk besok. Sama temen-temennya juga ada 3 orang. 1 orangnya enggak di skors karena dia memang murid rajin. Walau sering bolos." Jelas Sena.


"Kok bisa di skors sampe sebulan?"


"Sering telat, pembuat onar, tawuran, merusak fasilitas sekolah, melawan guru, suka berantem sama anak Aquirmest High School. Segitu sih yang gue tau." Jelas Jeshna yang sudah biasa hidup penuh detail.


"Wajahnya kalian berdua tau?"


"Enggak sih. Waktu di base sekolah sempet ada yang post tapi entah kenapa tiba-tiba ditarik lagi. Melanggar privasi dan hak dari orangnya sih."


Sheen mengangguk mengerti.


"Tapi kata anak sekolah kita, mereka itu para cogan. Gue jadi kepo deh.."


"Mulai mulai.."


"Hehehehe.."


"Udah udah jangan menggosip ah. Gak baik Bestieku~" Tegur Sheen mencubit pipi Sena pelan.


"Aish, sakit Sheen.."


"Apaan. Gak pake tenaga sama sekali."


"Lo gak pake tenaga aja udah sakit. Gimana kalau pake? Mati gue."


"Hush.. Ngomongnya jangan ngawur ah."


"Yuk lanjut kerjain tugasnya."


Nanti aku tanya Farrah aja deh lengkapnya. Dia kan wakil Ketua Osis.


.


.


.


Hy Hy.. Kenalan dulu yuk sama author yang menulis cerita ke-2 yang masih amatiran ini. Maaf kalau boring dan receh sekali (っ˘̩╭╮˘̩)っ


Kalau suka like dan koment ya..

__ADS_1


Minta Vote juga ya sayang biar semangat authornya (。♡‿♡。)


__ADS_2