
Matahari terlihat sudah semakin panas membuat gadis cantik berhijab dengan seragam Aquirmest High School yang tengah memakan sarapannya bersama dengan sang kakak itu memakannya dengan sedikit terburu-buru agar tidak terlambat ke sekolah.
Sebenarnya Sheen bersama Ar sudah terbangun tepat sebelum subuh juga memilih untuk langsung mandi. Usai Shalat subuh berjamaah, mereka tadarus bersama sebelum akhirnya bersiap untuk sarapan. Namun, kadang kala Sheen sedikit lambat jika makan entah karena terlalu menikmati atau memang sudah menjadi pribadinya.
"Kak. Aku pamit sekolah dulu yah." Pamit Sheen merangkul tas biru sekolahnya di pundak.
"Ke sini sebentar dulu, dek." Perintah Ar menyuruh Sheen mendekat. Dengan heran Sheen mengikuti.
"Kerudung kamu sedikit tidak menutupi dada tadi. Jadi, kakak benerin dulu." Jelas sang kakak membuat kepala cantik itu mengangguk mengerti seraya tersenyum cantik.
"Makasih Kak Ar~"
"Sama-sama, sayang. Nah, sebelum berangkat sekolah sudah dipastikan tidak ada yang tertinggal? Kotak bekal? Botol minum? Jangan sampai tertinggal. Kakak gak mau kamu makan sembarangan di luar, dek." Peringat Ar sedikit mengintimidasi suaranya.
Astagfirullah, dia lupa, "Oh iya. Ketinggalan di meja depan TV." Kejut Sheen yang segera mengambil kotak bekal dan botol minum di sana lalu kembali ke meja makan sambil mengangkat keduanya.
"Sudah, Kak. Hehehe.. aku lupa."
"Jangan dibiasakan lupa. Kotak bekal sama botol minum itu yang paling penting buat kamu, okay?" Ar mengalihkan pandangan pada kotak bekal itu, "Tumben adek pake couple purple, couple Black nya belum dicuci atau kemana?"
Sontak senyum Sheen luntur mendengar pertanyaan itu. Degup jantungnya berdetak cepat seketika. Ia takut juga bingung. Apa ia harus jujur pada sang kakak mengenai botol minum kristal hitam dan kotak bekalnya ada di Angkasa? Tapi bagaimana jika Ar sampai marah? Karena Sheen tak pernah membahas seorang pria pun di depan sang kakak.
Namun, akhirnya Sheen memilih untuk jujur ketimbang nanti adanya sebuah kebohongan, "Ada di temen."
"Sahabatmu itu?"
"Emm.. bukan. Te-teman cowok." Gagap gadis cantik itu pasrah. Pasrah menerima kemarahan dari sang kakak.
Benar saja, mendengar jawaban itu raut wajah Ar berubah menjadi datar. Terlihat rahangnya mengeras dengan sorot mata tajam penuh intimidasi kemarahan. Sheen hanya dapat meneguk ludahnya takut dan berdoa agar tidak dimarahi Ar karena dirinya dekat dengan laki-laki.
"Teman cowok? Siapa?"
"Namanya Angkasa, dia teman satu kelas aku juga..." Sheen semakin ketakutan untuk mengatakan fakta itu, "Juga apa?" Tanya Ar minta penjelasan.
"Teman satu bangku."
Sejenak bola mata Ar melotot terkejut. Ia sangat tak menyangka bahwa terlewat 2 hari kemarin dirinya tidak pulang dan tidak menanyai aktivitas Sheen kini ia harus mendapatkan fakta mengejutkan dari adiknya yang ternyata sedang dekat dengan seorang laki-laki.
"Coba jelaskan semuanya tanpa ada yang terlewat." Perintahnya dengan suara yang begitu rendah. Sedikit takut Sheen mengangguk masih dalam posisi berdiri menghadap Ar yang tak mengalihkan pandangannya sedikitpun.
"Aku bakal jelasin semuanya sama Kak Ar tanpa ada yang ditutupi. Lusa kemarin tepatnya hari minggu—" Dengan jantung yang begitu ribut akan ketakutan, Sheen menjelaskan semuanya walau matanya tak berani untuk menatap mata tajam Ar.
"Gitu kak.." Katanya selesai menjelaskan. Respon Ar hanya diam. Matanya masih terus menatap lekat iris Sheen seakan mencari sesuatu di dalam sana. Membuat jantung gadis itu semakin berdebar tak terkendali.
Hening.
Keduanya tidak ada yang mulai berbicara baik Sheen maupun Ar. Ia akan membiarkan sang kakak untuk berbicara duluan.
"Dia tertarik sama kamu, dek."
"Hah?"
"Dia ngelakuin itu karena tertarik sama adek. Pingin terus deket sama adek." Papar Ar membuat Sheen menganga tak percaya. Itu sangat tidak mungkin! Mereka itu baru bertemu loh? Apa bisa secepat itu?
"Hahaha.. itu gak mungkin lah. Lagian kenapa bisa Angkasa tertarik sama aku? Emangnya ada hal dari diri aku yang buat dia tertarik? Aneh banget." Sheen tertawa hambar yang tak memikirkan apa yang terjadi pada hatinya ketika dia berbicara seperti itu.
Nyelekit.
Tangan sang adik digenggam oleh Ar lembut. Sorot matanya kembali hangat seperti semula membuat Sheen menghembuskan nafas lega.
"Hey. Banyak hal dalam diri kamu yang bisa buat banyak cowok tertarik. Terutama sikap kamu yang cuek dan membatasi pergaulan dengan cowok demi menjauh dari hal yang dibenci Allah. Pacaran. Zaman sekarang minim sekali perempuan yang menjaga dirinya untuk suaminya nanti alias mereka memilih pacaran yang jelas sudah dilarang oleh Allah dalam kitabnya. Banyak cowok yang akan tertarik dengan cewek yang tulus dan menjaga dirinya. Contohnya kakak."
"Kak Ar?"
"Iya. Type cewek yang kakak cari itu yang bisa jaga dirinya dari pergaulan laki-laki. Bukan hal keren dan patut dibanggakan apabila seorang cewek malah memiliki banyak teman cowok apalagi sampai nongkrong seperti itu. Perempuan dianjurkan untuk tetap berdiam diri di rumah dan melakukan hal produktif miliknya. Bukan sering keluar dari rumahnya. Eum.. itu salah satu sikap dari sahabat mu itu gak?" Gugup Ar mengusap belakang kepalanya malu.
Tawa Sheen tak bisa ditahan dan terlepas begitu saja. Tangannya menutup mulutnya agar tidak tertawa berlebihan. Ia tahu bahwa dia yang dimaksud Ar adalah Jeshna sahabatnya.
"Jelas itu sikapnya Jeshna. Galak. Gak ada cowok yang berani sama dia. Udah cantik, jago bela diri dan sejauh ini belum ada yang bisa ngalahin dia. Tapi walau kayak gitu, banyak banget yang naksir sama Jeshna. Di lokernya sampai hampir penuh dengan surat, bunga, cokelat, boneka, dan masih banyak hal lain." Kata Sheen sedikit memanas - manasi Ar.
"CK! Jadi saingan kakak banyak dong?"
"Of course. Makanya semangat ya kakakku sayang. Kakak kan udah banyak dapet bocoran dari aku jadi harusnya mulus dong nanti rencananya." Kekeh Sheen puas.
"Iya. Doain aja. Kalau jodoh— alhamdulilah kalau enggak— ya Allah pasti kasih yang terbaik walau kakak maksa sih pingin sama Jeshna." Kekeuh Ar yang kembali mengundang tawa Sheen. Ya Allah, kakaknya ini ada-ada aja deh. Pasrah tapi tetap aja maksa pingin sama Jeshna.
Tapi ia senang. Sheen akan sangat senang apabila Jeshna menjadi kakak iparnya. Mereka sudah dekat sejak SMP dan entah berapa kalinya Sheen dibuat kagum akan perilaku Jeshna yang begitu langka dan menakjubkan. Sheen janji akan terus berdoa agar Jeshna bisa bahagia bersama dengan kakaknya dan menjadi bagian dari Keluarga Mahardika.
"Apaan deh. Itu mah maksa namanya."
Ar ikut tertawa, "Maksa dikit gak papa lah."
"Dasar. Udah ya kak, aku mau berangkat nih." Cemberut Sheen menggoyangkan tangannya yang masih digenggam tangan besar Ar.
"Nanti kakak yang antar adek. Sekarang kakak mau ngomong serius dulu sebentar sebelum berangkat." Otomatis suasana kembali berganti dengan cepat menjadi menegangkan.
"I-Iya, kak?"
__ADS_1
"Mengenai Angkasa, kakak rasa dia memang tertarik sama kamu. Tapi kalau misal itu bukan sebuah ketertarikan maka akan sangat aneh. Kalian baru bertemu 2 hari dan dia sudah bersikap ngambek gak jelas seperti itu. Takutnya dia punya alasan lain untuk dekat sama kamu. Kakak minta kamu hati-hati ya, sayang. Batasi pergaulan kamu sama dia dimana pun itu apalagi sampai berduaan. Jangan jauh dari sahabat kamu dan kalau apa-apa segera hubungi kakak. Itu aja pesan kakak, sayang. Hati-hati dan terus waspada sama siapapun itu walau kita tidak boleh suudzon tapi hati manusia tidak ada yang tau. So, be careful!"
Cup!
Dikecupnya lama punggung tangan Sheen mendengar kegusaran hati sang kakak tercinta. Hatinya menghangat mengetahui sebegitu besar rasa sayang Ar pada dirinya. Dan Sheen ingin terus seperti ini. Diperhatikan sekecil mungkin apapun itu oleh Ar. Dijamin hatinya akan terus bahagia.
Deg!
Benar apa kata Kak Ar. Aneh banget Angkasa bahkan dengan gengnya tiba-tiba bisa dekat sama aku seperti tadi. Bahkan murid lain pun terkejut dengan sikap mereka yang berarti itu hal yang tak pernah mereka lakukan dan nyatanya mereka lakukan padaku. Apa mungkin mereka punya rencana lain? Rencana dibalik kedekatannya dengan aku? Aku malah mikir ini Dare dari sebuah taruhan. Kalau benar begitu, aku gak boleh sampai terjebak permainan mereka terutama Angkasa. Ternyata kamu jahat ya.. bathin Sheen dengan senyum sedih. Tapi tenang, kesedihan itu tidak akan berlangsung lama. Hatinya tidak lemah seperti itu.
"Iya, kak. Aku bakal ingat pesan Kak Ar tadi. Sebisa mungkin aku bakal membatasi pergaulan aku sama Angkasa. Makasih. Makasih karena udah sayang banget sama adek dan memperhatikan adek sampai hal terkecil seperti ini. Adek sayang banget sama Kak Ar. Sayang banget." Haru Sheen memeluk leher Ar dengan erat seraya menghirup rakus parfum sang kakak yang sudah menjadi favoritnya.
"Itu sudah tugas aku sebagai kakak. Kakak pun sayang banget sama adek. Sebisa mungkin kakak bakal luangkan waktu kakak untuk adek. Jadi, jangan sungkan untuk nelepon dan minta bantuan kapanpun sama kakak ya, sayang." Balas Ar mengelus lembut kepala Sheen.
"Siap, Bos!" Jawab Sheen memberikan hormat.
"Yuk, kita berangkat sekarang."
Waktu berlalu dan kini keduanya sudah sampai di halte dekat sekolah. Hanya berjalan 5 menit saja maka akan langsung sampai di depan gerbang sekolah. Sheen memilih turun di sini karena tidak mau menjadi pusat perhatian.
Mengapa?
Karena belum ada satu pun yang mengetahui bahwa siapa dirinya dan seluk-beluk anggota keluarganya. Termasuk Lintang M sang artis terkenal.
Tangan mungil Sheen melambai seiring jauhnya mobil Ar meninggalkan halte. Sebelum pergi, Ar berpesan untuk tidak telat pulang kecuali mengubungi dirinya. Bisa dibilang Ar adalah orang yang posesif atau overprotektif. Tapi, Sheen rasa itu tidak masalah alias ia senang jika Ar seperti itu.
"Huft.. untung masih tersisa 15 menit lagi sebelum bel. Semoga tadi tidak ada yang melihat kalau aku di antar sampai halte." Gumam Sheen sambil berjalan menuju kelasnya.
Namun, ternyata dugaannya salah.
"Sayangnya gue liat. Gimana dong?"
Tubuh gadis berhijab itu sontak berputar cepat untuk melihat sumber suara yang ternyata dia melihat bahwa Sheen di antar ke sekolah oleh seorang cowok dan menaiki mobil mewah.
Sial!
Dia Graz.
"Graz..."
"Kenapa? Kaget ya ternyata gue ngeliat lo diantar sama seorang cowok pake mobil mewah? Lo gak tau diuntung banget ya jadi manusia. Udah punya cowok tapi, sok caper sama Saka. Jatuhnya jadi cewek murahan tau gak?" Sarkas Graz mendorong bahu Sheen dengan telunjuknya. Namun, itu tak membuat tubuh Sheen mundur barang sedikitpun.
Mata keduanya saling bersitatap. Detik itu juga Sheen tau bahwa Graz ternyata tak menyukai atau mungkin membencinya karena ia jelas mengetahui bagaimana tatapan mata orang yang tidak menyukainya atau pura-pura menyukainya. Bahkan dari aura seseorang yang mulai berbeda pun Sheen mengetahui itu. Jangan pernah meremehkan dirinya.
"Kamu salah paham. Dia bukan cowok aku."
"Dih, gak usah sok muna lo. Sok bilang gak pacaran, tapi buktinya satu mobil sama cowok ganteng kayak gitu. Bilang aja kalau lo emang gampang jatuhin harga lo di setiap liat cowok good looking, good rekening kan? Alim lo cuma jadi penutup diri lo yang seorang jal*ng," cemooh Graz semakin memancing emosi Sheen di pagi hari.
Sheen tidak suka. Ia sangat tidak suka jika dirinya diejek dan difitnah seperti itu. Tetapi ia harus sabar, ia tidak boleh terpancing emosi hanya karena hal sepele seperti ini.
"Fitnah apaan. Yang gue omongin bener kok. Tinggal gue sebar aja ke semua siswa Aquirmest High School kalau Sheen yang biasa dipandang baik sama orang itu cuma fake alias bullshit. Sasimo. Sana sini mau—"
"Bacot! Dia kakak gue! Puas?!" Seru Sheen dengan keras. Ucapan lembutnya berubah ketika amarahnya sudah diujung tanduk. Ia tak mau mendapatkan kesalahpahaman dengan sang kakak. Apalagi sampai nama kakaknya pun ikut tercemar. Sheen jelas tak mau semua itu terwujud. Tepat saat itu Graz diam.
Malu.
"Ga-Gak usah bohong lo. Lo gak punya kakak alias anak pertama—"
"Gak semua hal pribadi gue harus disebar ke publik. Mau gue punya kakak atau adik juga itu bukan urusan lo. Sekarang lo minggir, gue mau ke kelas. Dan soal Angkasa—"
Sheen tersenyum sinis dengan aura hitam yang menguar, "Lo naksir sama dia ya? Ambil aja. Gue gak peduli. Dan itu pun kalau lo bisa. Ambil dia sama Vega Squad sekalian. Setelah itu baru lo sombongin muka lo itu di depan gue. Jangan lo gak punya apa-apa tapi sok punya kesombongan. Artinya apa? Lo gak semenarik itu untuk pantas diperhatikan. Gue cabut, Wassalamualaikum."
Graz terdiam dengan nafas yang memburu. Dirinya marah mendengar kata sarkas yang diucapkan Sheen yang telak mengenai ulu hatinya. Karena semua yang diucapkan Sheen benar adanya dan kini Graz merasa sangat malu. Sialan!
"Sheen brengsek! Bangsat!"
"Gue gak bakal ngebiarin lo mengambil perhatian Saka juga Vega Squad. Gak akan pernah!"
...******...
Rasanya waktu berjalan begitu lambat. Membuat mood Sheen semakin buruk sejak pagi tadi. Bahkan ia hanya membalas singkat ucapan para sahabat-sahabatnya.
Angkasa yang berada di sebelahnya awalnya bingung dengan sikap Sheen yang tiba-tiba berbeda tidak seperti kemarin. Tapi, melihat sorot tajam itu yang sedikit meredup membuat Angkasa sadar bahwa gadis di sebelahnya tengah dalam mood yang buruk. Niatnya yang ingin mengganggu Sheen, ia hentikan dan dipending nanti.
"Baik. Tugasnya sudah jelas?" Tanya Pak Tama sebagai guru Fisika.
"Jelas, Pak!"
"Bagus. Sekarang pembagian kelompok. Satu kelompok berjumlah 5 orang dan silakan tulis di papan tulis. Raisa, nanti kelompoknya fotokan ke bapak beserta tanda tangan agar tidak ada pengubahan kelompok selama pembelajaran bapak ke depannya. Pusing bapak kalau kalian banyak kelompok. Bapak pamit keluar dulu ada rapat. Bagas, jaga kelas agar tetap kondusif." Pesan Pak Tama panjang.
"Baik, pak!"
Usai Pak Tama meninggalkan kelas suasana kelas yang awalnya tenang menjadi berisik. Semua berpencar mencari kelompoknya masing-masing.
"Sheen, kita satu kelompok yaa," riang Sena membalikkan badannya. Sheen mengalihkan pandangannya dari jendela di sebelahnya menatap sahabatnya yang tengah tersenyum lebar.
"Iya."
"Gue juga, ya." Ikut Jeshna seraya tersenyum tipis.
"Hm."
__ADS_1
Merasa ditatap oleh seseorang, Sheen menengok ke arah sebelahnya dan bertemu dengan mata tajam Angkasa yang ternyata menatapnya.
"Kenapa?" tanya Sheen datar.
"Gue—"
"Ka, gue satu kelompok sama lo ya," potong Daniel memberikan senyum lebar tanpa dosa ketika semua menatap ke arahnya.
"Hm." dehem Angkasa setuju.
Lalu kepala Angkasa kembali berputar menatap Sheen, "Gue—"
"Saka, gue boleh satu kelompok sama lo juga gak?"
Anjing!
Umpat Angkasa kesal dalam hati. Please ia mau ngomong sama Sheen aja susah amat, sih banyak halangan seperti ini. Matanya terpejam menahan emosi.
"Gue juga dong."
"Gue ikut."
"Ka, gue juga ya,"
Nah itu Graz.
Mata Sheen kembali bertemu dengan mata Graz yang tengah memberikan senyuman lebar pada Angkasa. Melihatnya saja membuat emosi dalam diri Sheen rasanya kembali bangkit. Semenjak tugas matematika kemarin jadi banyak yang berusaha mendekat pada Angkasa karena kepintarannya itu juga yang pasti kepopulerannya.
Melihat reaksi Angkasa yang diam saja semakin menambah bad mood dalam dirinya, "Hahh.. aku tulis di depan aja ya, Na, Jesh," kata Sheen yang berdiri menjauh dari kebisingan itu.
Di depan sana Sheen menulis nama dirinya beserta kedua sahabatnya. Sisa 2 orang untuk kelompoknya bebas siapa saja. Mereka tidak mempersalahkan itu. Namun, betapa terkejutnya ia begitu membalikkan badan mendapati Angkasa yang tengah berdiri menatap ke arah papan tulis.
"Sheen, gue satu kelompok sama kalian ya," pinta Bagas yang sudah bersiap menuliskan namanya.
"Sok aja,"
Tersenyum lebar, Bagas menulis namanya tepat di bawah nama Jeshna. Mata Sheen bergerak menatap reaksi Angkasa yang datar menatap ke arah papan tulis. Dingin.
Dia bakal satu kelompok sama siapa ya? Graz kah? Atau siswi populer di kelasnya?
"Brayn, lo mau satu kelompok juga— ANJIR, SAKA WOY!?"
Ucapan Bagas terpotong ketika sedang menawarkan Brayn untuk satu kelompok ketika Angkasa merebut spidol itu dan menghapus nama Bagas diganti dengan nama dirinya beserta Daniel.
"Kok—"
Sial!
Tebakannya salah. Pria itu malah menulis namanya beserta Daniel tepat di bawah nama Jeshna alias mereka satu kelompok. Dan yang paling membuat Sheen terkejut ketika Angkasa lah yang langsung menulis tanda tangan miliknya di bawah kelompok mereka bertanda tidak dapat di rubah sampai kenaikan kelas. Berdoa saja kelompok ini hanya untuk pembelajaran Fisika, bukan semua mata pelajaran.
"Mantap, bos! Tau aja gue pingin satu kelompok sama Sheen." Daniel berseru dari belakang.
"Kok lo ganti sih?!" seru Bagas tak terima.
Angkasa tersenyum sinis, "Siapa cepat dia dapat, lambat."
"Sialan lo Saka!"
Mengedikkan bahu tak peduli, pria itu kembali duduk di bangkunya dan tersenyum puas. Bahkan ia bertos dengan Daniel yang terkekeh sama puasnya.
CK! Mau jauh sama Angkasa memangnya sesusah itu kah? Bahkan harus satu kelompok bersama. Aish! Menyebalkan! bathin Sheen kesal.
"Sheen lagi, Sheen lagi!" gerutu Graz bergumam.
Melotot tak terima pada Sheen yang semakin membuat amarahnya meningkat melihat responnya yang biasa-biasa saja bahkan terkesan meremehkan dari senyum miringnya.
"Lo bikin kesabaran gue habis, sialan! Liat aja apa yang bakal gue lakukan setelah ini," desis Graz memberikan senyum angkuhnya.
Sheen kembali duduk di bangkunya dengan perasaan yang kesal karena tak bisa lepas dari manusia di sebelahnya. Apalagi tugas kelompok itu dilakukan di luar sekolah yang berarti ia pasti terus bertemu dengan Angkasa bukan hanya di sekolah aja. Astagfirullah! Please mau lepas dari Angkasa gimana caranya?
"Gue gak bakal lepasin lo."
Deg!
Gadis itu terkejut mendengar penuturan dari Angkasa yang berbicara dengan santainya bahkan tanpa menatap ke arahnya. Akan tetapi, Sheen tau kalau kalimat itu untuk dirinya.
"Ma-maksud kamu?"
Angkasa menoleh menyunggingkan smirk tampannya, "Seberapa lo berusaha menjauh dari gue, gue gak bakal lepasin lo sedikitpun. Terus menerus gue selalu bakal masuk dalam teritori milik lo. Camkan itu, Bintang."
"Informasi baru dari Pak Tama mewakili guru lain, Tidak ada pengubahan kelompok termasuk untuk semua pelajaran. Kelompok ini akan terus dipakai semua mata pelajaran sampai kenaikan kelas."
"See? Lo milik gue."
ARRGGHHHHH!!!!
.
.
.
__ADS_1
Warning ⚠️ ➜ Jangan jadi pembaca gelap!!!
Jangan lupa di support Author nya ya dengan Like, koment yang baik. Masukin favoritnya juga ya cantik.. Di kasih vote juga hadiah lebih bagus. Terima kasih (◍•ᴗ•◍)❤