
...Warning ⚠️...
...Please kasih like sama [koment] dulu ya biar author tau kalau masih ada yang nungguin author up...
...******...
"Lo yakin kita duduk bareng mereka?" tanya Jeshna sedikit memelankan suaranya pada Sena juga Sheen. Mata tajamnya sesekali menatap Vega Squad yang sudah duduk nyaman di meja kantin yang sudah menjadi tempat milik mereka.
"Duduk sini, masih jaga jarak, kok." perintah Kaindra mengerutkan keningnya bingung melihat ketiga perempuan itu yang hanya diam saja dan malah saling berbisik.
"Udahlah, gak papa. Toh, gak ada meja yang tersisa lagi." ucap Sena, memilih langsung duduk di kursi kosong selisih satu dari Kaindra.
Kedua gadis berhijab itu saling pandang sebelum akhirnya duduk di sebelah Sena. Hanya diam menatap ke arah sekeliling yang dimana semua pandangan tertuju pada meja Vega Squad.
Aish, jadi buah bibir terus kalau kayak gini, bathin Sheen mengembuskan nafasnya pelan.
"Kalian mau pesan apa? Gue traktir, deh." celetuk Daniel, mengeluarkan ponsel guna menulis pesanan teman-temannya.
"Gak perlu." Tolak Jeshna dingin, "Gue masih punya uang buat beli makanan sendiri di kantin." tambahnya lagi.
"Lah emang kenapa kalau gue mau traktir? Salah? Kalau lo gak mau, ya gak usah, ribet. Gue cuma berniat baik, kok. Bukan ngeremehin." protes Daniel tak suka akan ucapan Jeshna.
"Gue—"
Sena memotong, "Lo berdua bisa gak sih, gak berantem terus? Jodoh tau rasa."
"Cih, gak sudi."
"Lo pikir gue mau sama orang kayak lo? Sorry, bukan type gue."
Teringat akan perkataan Ar yang meminta dirinya menjaga Jeshna, Sheen langsung merentangkan tangan kirinya di depan Jeshna. "Gak ada jodoh-jodohan. Jeshna udah ada yang punya."
"Hah? Siapa?"
"Aslian si galak udah punya pawang?"
"Lo pacaran, Jesh?"
Jeshna sontak terkejut akan ucapan sahabatnya tentang status dirinya. Memang siapa? Dirinya sudah menjadi milik siapa?
"Woy, Sheen. Jangan ngaco gitu ngomongnya lah. Mana ada gue pacaran." bantahnya marah.
Si empunya hanya tersenyum menggoda, "Kamu emang gak pacaran, tapi aku disuruh jagain kamu jangan sampai suka sama orang lain. Sebenarnya bebas sih kamu suka sama siapa, tapi bakal ada yang berjuang buat kamu. Tunggu aja. Gak lama kalian kayaknya bakal ketemu lagi deh, feeling aku mengatakan itu." jelasnya.
Kepalanya berpikir cepat dan mengerti akan senyum dari Sheen yang tertuju pada percakapan pagi tadi mengenai kakak cowoknya. Enggak, dirinya gak boleh ke gr-an. Tapi sialnya senyum di bibirnya terangkat begitu saja.
"Senyum-senyum lagi. Cie.." goda Michael yang menyadari senyum itu sebelum ditarik kembali sama yang punya.
"Senyum apaan? Gak jelas lo."
Perkataan Sheen yang membahas tentang seorang cowok membuat insting obsesi dalam diri Angkasa terbangun. Mengatakan bahwa gadis itu dekat dengan si cowok sampai tahu bahwa cowok itu tengah berjuang untuk Jeshna. Namun, siapa? Siapa cowok itu?
"Who is that guy you mean?" tanya Angkasa membuka mulut. Hari ini ia terlalu pendiam, tapi sekalinya berkata malah membuat lisan gadis cantik itu kelu.
"A-Ada. Kamu gak perlu tau sampai nanti ada waktunya kalian juga tau." jawabnya membuang muka.
Merasa suasana sedikit mencekam karena aura obsesi juga keposesifan Angkasa, Daniel mengambil alih, "Ya udah, gue pesen dulu. Lo, gak usah banyak bacot, gue bakal tetep traktir semuanya. Sebagai perayaan Jeshna yang sedang diperjuangkan oleh someone, jiakh.." ledeknya langsung kabur tanpa bertanya makanan yang mereka pesan. Apa saja asal kan enak dan banyak.
"Sparing sama gue lah, Niel!" marah si galak.
Di sana hanya terkekeh melihat tingkah keduanya. Setelah Sheen mengatakan akan Jeshna dan Ar juga tingkah Daniel yang hanya sebatas bercanda sesama teman membuatnya tenang, tidak akan ada yang macam-macam untuk dekat dengan Jeshna dari Vega Squad selain sebagai teman.
Sambil menunggu Daniel memesan, mereka berbincang sejenak mengenai hal apapun itu. Baik mengenai kelas, ekskul, Osis, juga hal lainnya. Sampai akhirnya cowok itu kembali.
"Loh? Tumben cepet?" tanya Alan.
"Nanti dibawain sama ibu kantinnya. Mereka nambah pekerja hari ini, jadi bertambah yang melayani siswa. Kita cukup duduk diam." jelasnya enteng.
"Oh ya udah, mabar aja kuy." ajak Alan mengeluarkan ponsel mahalnya diikuti oleh yang lain. Sedangkan yang cewek, cuma bisa diam atau sekedar mengobrol.
Sampai kedatangan 2 orang cewek mengambil kembali perhatian penghuni meja ujung a.k.a Vega Squad dan penghuni meja lainnya.
"Ka-Kak Saka." panggilnya gugup.
Yang dipanggil hanya diam, fokus pada game yang ada di tangannya. Bahkan Vega Squad yang lain pun hanya diam saja mengacuhkan gadis itu. Ketiga gadis di sana saling pandang heran, mengapa tidak ada yang menghiraukan 2 cewek adik kelas itu? Secuek itu kah mereka?
"Kok pada diem sih? Tadi aja berisik." tanya Sena berbisik. Sheen, Jeshna mengangguk serempak.
"I-Ini ada lukisan buat Kak Saka." cicitnya yang masih terdengar. Mengerut bingung Sheen bertanya, "Loh? Lukisannya di kasih? Kita satu ekskul melukis kan yah?" sahut Sheen.
Baru terlihat ada binar cahaya melihat ucapannya di respon, "Iya, Kak. Tadi Kak Tirta ngechat di grup buat ngasih lukisan ke orang yang digambar. Kebetulan gue gambar Kak Saka, jadi kasih ke dia deh. Kak Sheen belum tau?"
"Iya, belum buka grup. Aku buka dulu deh." katanya membuka ponsel di tangannya dan mencari grup ekskul mereka. Ternyata benar.
[Lukisan yang sudah digambar wajib dikasih ke objek gambarnya. Jangan lupa divideokan dan dikumpulkan di google Drive yang telah disediakan di grup. Batasnya sampai besok pagi.]
"Wajib banget divideokan?" tanya Sheen risih. Apalagi teringat gambar lukisannya yang sudah tersimpan rapih di ruang ekskul melukis itu yang bergambar, Vega Squad. Siap siap untuk terus jadi bahan omongan orang-orang lagi deh. Huft...
"Wajib, kak."
"Kamu gak divideokan?"
"Divideo kok, kak. Tapi jauh di sana. Gak berani kalau dari deket." jawabnya memelankan suaranya sambil menatap Angkasa was was.
Ketiga gadis itu berbalik dan melihat satu cewek berambut sebahu tengah memvideokan dengan ponselnya dengan wajah takut. Ternyata memang benar kalau Angkasa begitu ditakuti.
"Woy, Angkasa. Lo denger gak sih ada yang mau ngomong sama lo? Kalau enggak, gue sumpahin budek telinga lo." kesal Jeshna berseru keras.
"Hm." Angkasa hanya berdehem dan fokus terus ke ponselnya, bermain game dengan yang lain.
"Alan, suruh bos lo itu buat ngomong. Sombong amat jadi orang, heran." Sena ikut memarahi.
"Males, terserah Saka mau nyahut sama orang itu atau enggak. Hak dia, bukan urusan gue." cuek Alan menjawab.
Perempuan itu menatap Sheen meminta tolong dengan mata berkaca-kaca. Ia tau apa yang dirasakan cewek itu, takut dan malu. Malu menjadi perhatian orang orang karena dicueki oleh Angkasa sang ketua gengnya.
"Aish.. gue tonjok juga ya lo." desis Jeshna berdiri dengan kedua tangan terkepal.
"Sabar, Jesh. Biar aku coba yang ngomong." tenang Sheen membuat Jeshna kembali duduk.
__ADS_1
"Saka,"
"Hm."
"Saka."
"Hm."
"Angkasa."
"Apa?"
Nah, Angkasa sudah menjawab walau Sheen masih kesal karena tidak dihiraukan begitu saja.
"Lo bisa gak, gak ngacuhin orang yang kayak gitu? Terima lukisan itu, clear. Dia cuma mau ngejalanin tugas dari ketua ekskul, dan lo bisa gak hargai dia sedikit aja? Gak segampang itu nunjukin sebuah keberanian. Dia harus nanggung takut dan malu karena lo cuekin, Angkasa. Kalau lo kayak gini, jangan pernah berharap ada orang yang bisa ngertiin dan hargai lo kedepannya." hardik Sheen merubah logat bicaranya membuat Jeshna dan Sena terdiam, tak berani berbicara. Aura Sheen telah berubah sekarang.
Perkataan itu sontak mengambil atensi para Vega Squad. Kaindra, Michael, Daniel, dan Alan langsung mematikan ponselnya dan menatap ke arah Angkasa yang masih saja mengacuhkannya.
"Oi, Bos. Udah elah main gamenya, masih bisa dilanjut nanti. Sheen udah marah itu." bisik Kaindra tepat di sebelah Angkasa.
"Ck! Iya-iya. Nih, gue matiin ponselnya." ngambek Angkasa dengan wajah masam. "Gak usah lo-gue lo-gue, gak cocok buat lo." tegurnya aneh.
"Sini, gue terima lukisannya." katanya yang langsung mengambil kedua lukisan itu dan menyuruh Daniel juga Alan memegangnya. Males banget kalau harus dia yang megang. Lagian lukisannya gak bagus-bagus amat.
"Makasih, kak." ucap kedua cewek itu kompak.
"Kebalik, Angkasa yang harusnya bilang makasih. Emang melukis itu dikira gampang apa?" omel Sheen kesekian kalinya.
Angkasa memasang wajah kesalnya, atau lebih tepatnya ngambek. Ia kesal karena harus disuruh-suruh oleh Sheen seperti itu, tapi mau bagaimana lagi. Angkasa tidak bisa melawan perintah dari tatapan tajam itu. Sudah bucin seperti ini ya, susah.
"Ya, makasih. Dah, sana lo berdua pergi. Ganggu aja." usir Angkasa menukik alisnya kesal.
"Angkasa." tegur Sheen sekali lagi.
"Apalagi sih? Bawel deh, diem. Gue udah terima sama bilang makasih juga masih aja mau lo marahin, kesel tau gak?" cerocos Angkasa membuat Sheen terbengong seketika. Ini kah Angkasa yang dingin dan disegani segani siswa di sini? Apaan, malah lucu kayak gini. Ngedumel kesal kayak anak kecil.
"Ya lo nya juga malah nurut nurut aja, bos." celetuk Daniel yang langsung mendapatkan tatapan kematian dari Angkasa.
"Diem lo. Lo gak diajak ngomong."
"Gini nih kalau si bos udah mode anak kecil. Bawel banget, heran." ikut Kaindra mengompori.
"Lo juga diem, Ndra. Ngikut mulu."
"Udah biarin aja, lagi PMS si bos mah."
"Gue gebuk juga ya, El."
"Ampun, Bosque."
"Eh, Sheen lo juga berarti harus ngasih lukisan lo ke orang yang lo gambar dong? Mau liat! Waktu itu pas lo ngelukis di rumah gue belom selesai." pinta Sena dengan semangat, menggoyangkan badan Sheen ke kanan dan ke kiri.
"Aduh, diem dong, Na. Pusing nih. Lukisannya aku ganti, karena ternyata kanvasnya ada yang sobek waktu jatuh gara-gara si itu tuh. Rese banget emang si Angkasa." Sheen mengangkat dagunya menunjuk Angkasa.
Senyum Angkasa tertarik tipis, ia senang bahwa ternyata Sheen tidak menggambar cowok yang menjadi anggota basket di klubnya.
Makanan pun datang membuat omelan Angkasa yang super bawel terpotong.
"Makasih, bu." kompak ketiga cewek cantik itu.
"Sama-sama, neng." Ibu itu tiba-tiba menatap ke arah Angkasa yang terlihat ikut terkejut juga, "Loh, ketemu lagi. Sekali lagi makasih ya nak soal pagi tadi." katanya.
"Soal pagi tadi? Saka, lo kenal ibu itu?" tanya Alan.
"Hu'um."
"Tadi pagi, ibu dibantu oleh anak ini karena hampir keserempet motor jadinya dia telat. Maaf ya nak, tadi ibu liat kamu dihukum tapi gak bisa bantu apa-apa." sesalnya minta maaf.
"Gak papa, Bu. Udah bisa kok saya dihukum."
"Jadi, dia telat karena bantuin ibu?" tanya Kaindra tak percaya. Hey, baru kali ini Angkasa mau membantu orang lain.
"Benar, nak."
"Tau gitu lo jujur aja ke Pak Adit. Lo gak bakal dihukum pastinya. Gedek gue sama si bapak satu itu, sok mengahakimi." kesal Daniel menggerutu.
"Kebaikan gak mesti diumbar biar semua tau. Lagian biarin aja, toh, udah lewat juga."
"Kalau begitu, ibu ke belakang dulu ya. Makasih dan maaf ya, nak."
"Sama-sama, Bu. Santai aja sama saya, mah."
Ibu itu pun kembali ke belakang setelah menghidangkan makanan yang telah dipesan. Senyum Sheen terangkat melihat Angkasa yang serius mau berubah. Bahkan kini ia sudah berbuat kebaikan tanpa orang lain tau, tidak sombong dan rela berbohong. Sekali lagi, He's cool!
"Bisa keren juga lo." puji Jeshna gak niat.
"Iya, dong."
"Gak jadi, gue tarik omongannya. Orangnya sombong." jutek Jeshna yang mulai memakan makanannya setelah membaca doa.
Tawa bahagia pun mengudara membuat banyak tatapan mata iri diajukan pada mereka yang secara tak sadar sudah menjadi sebuah pertemanan yang kuat.
...******...
Kriingg...
Dering ponsel seseorang berbunyi keras membuat si pemiliknya memberhentikan aktivitasnya bermain basket sejenak.
"Ponsel gue bunyi, gue angkat dulu. Kalian lanjut main aja." kata Kaindra yang segera berjalan ke arah tasnya yang berada di samping lapangan.
Kaindra, Michael, dan Alan adala satu kelas dan kebetulan kelas mereka sama seperti kelas XI IPA 1 yang juga sedang jamkos. Michael yang merasa bosan meminta yang lain untuk bermain basket, hitung-hitung memanaskan badan. Dan banyak dari cewek di dua kelas itu ikut mampir ke lapangan guna melihat Vega Squad bermain basket secara keren masih dengan seragam sekolahnya.
"Hah? Sena? Ngapain telepon gue? Mana banyak banget lagi. Sh**it, Jangan-jangan terjadi sesuatu lagi." segera Kaindra menghubungi nomor Sena kembali. Namun, anehnya tidak terjawab dan bahkan tidak aktif.
"Sial! Kenapa gak aktif?"
"Woy, kenapa, bro? Cemas amat muka lo." tanya Alan mendekati Kaindra. Bukan hanya Alan saja melainkan dengan ketiga temannya yang lain yang lebih memilih memberhentikan permainan basketnya.
"Tadi Sena nelepon gu—"
__ADS_1
Belum sempat Kaindra meyelesaikan ucapannya, ponsel Michael yang berada dalam tasnya pun berbunyi. Diambilnya dengan wajah heran.
"Siapa?"
"Jeshna. Dia miss call gue banyak banget, coba gue telepon balik." katanya yang langsung menghubungi cewek galak itu.
Maaf, nomor yang ada tuju sedang tidak aktif —
"Kok, tiba-tiba gak aktif?" tanya Daniel bingung.
"Aneh, padahal—"
Kini ucapan Alan terpotong ketika dering ponsel Angkasa yang gantian berbunyi. Tertera nama Bintang di layarnya.
"Bintang nelepon gue juga."
"Coba lo angkat, Ka." perintah Kaindra dengan wajah sedikit cemas. Kenapa ketiga cewek itu menelpon mereka sampai sebanyak itu dan begitu hendak dihubungi balik malah tidak aktif?
"CK! Udah dimatiin. Gue telepon balik dulu." Sergah Angkasa menempelkan ponselnya di telinga.
Maaf, nomor yang ada tuju sedang tidak aktif —
"Sial! Gak aktif. Kita cari mereka, pasti ada yang gak beres ini." perintahnya yang langsung berbalik hendak pergi sebelum Kaindra menghentikan mereka.
"Tunggu— Ternyata Sena ngechat gue."
[Kai, tolongin gue. Please... gue gak bisa keluar dari sini. Ada yang kunciin gue di basecamp Ekskul Basket. Gelap, gue susah nafas. Tolongin gue..]
"Bajingan!"
"Bintang ngechat hal yang sama juga."
"Jeshna juga."
"Artinya mereka bertiga terkunci di sana. Liat aja, pelakunya gak bakal gue biarin hidup tenang setelah ini. Kalau perlu gue paksa dia buat bersujud dan menjilat sepatu mereka bertiga. Bastard!" umpat Michael marah.
"Kita ke ruang basket sekarang! Go!" Perintah Angkasa yang langsung berlari diikuti keempat sahabatnya. Pemandangan yang cepat berubah itu membuat para penonton heran, apalagi wajah kelimanya yang menunjukkan kecemasan yang sangat.
"Mereka kenapa? Tiba-tiba lari gitu?"
"Gak tau. Mana pada cemas gitu mukanya."
Begitulah bisik-bisik para penonton, membuat seseorang yang duduk di kursi depan menajamkan matanya dan mendatarkan wajahnya.
"Kita ikuti mereka."
...******...
DOR! DOR! DOR!
Angkasa menggedor pintu ruang basket dengan keras masih dengan nafasnya yang turun naik tidak beraturan.
"BINTANG, LO DI DALEM? BINTANG! JESHNA! SENA! JAWAB GUE KALAU KALIAN ADA DI DALEM!" Teriak Angkasa keras. Berharap ada jawaban dari dalam, tapi nyatanya tak ada suara sama sekali.
"Sial! Beneran di kunci!" geram Angkasa berusaha membuka gagang pintu.
"Lo bawa kunci, Ndra? Kunci gue di tas, di kelas."
"Bawa, sebentar." Membuka tasnya dan Kaindra memberikan kunci pintu itu pada Angkasa. Vega Squad memang memiliki kunci cadangan masing-masing karena mereka pemain inti juga anggota inti dengan Angkasa sebagai ketua ekskul basket.
Ceklek!
Pintu pun terbuka dan ruangan gelap menyambut mereka. Saat mengambil bola basket tadi, Angkasa ingat bahwa ia tidak mematikan lampu juga tidak mengunci kembali pintu itu. Artinya, memang sesuatu terjadi. Ada yang tidak beres.
"Perasaan, lo gak matiin lampunya kan, Ka?" tanya Alan pada Angkasa. Mereka masuk ruangan dengan perlahan menuju tempat saklar lampu berada.
"Iya, tapi tiba-tiba mati."
"Sheen! Jeshna! Sena! Lo dimana?" seru Daniel sedikit mengeraskan menatap ruangan gelap yang lumayan besar itu.
"Lah, malah sepi. Katanya mereka di sini?" bingung Michael berusaha menatap sekeliling hingga matanya menangkap sesuatu yang asing.
"Itu apaan? Putih-putih kayak gitu?" tunjuknya pada dinding yang biasa tersimpan beberapa gantungan ruangan.
Alan menatap ngeri, "Jangan-jangan..."
Buk!
"Gak usah mikir aneh-aneh. Kita liat itu apa." ujar Kaindra memukul kepala Alan.
"Ya gak usah mukul kepala gue juga, dong."
"Udah, pada berisik." tegur Angkasa mendekati hal yang ditunjuk oleh Michael tadi.
"Lukisan deh kayaknya."
"Iya, coba biar gue buka."
"Pelan-pelan woy, kita gak tau dibalik kain putih ini memang lukisan atau hal lain." keluh Alan sekali lagi menghambat.
"Penakut lo, tinggal tarik gini a—"
Sontak lampu menyala dengan terang.
"SURPRISE!"
.
.
.
...JANGAN JADI PEMBACA GELAP!!!...
...Banyak yang like lebih dari 5 orang, tapi gak ada yang koment. Aku butuh pembaca yang nyata :(...
Jangan lupa di support Author nya ya dengan Like, koment yang baik. Masukin favoritnya juga ya cantik.. Di kasih vote juga hadiah lebih bagus. Terima kasih (◍•ᴗ•◍)❤
...LEBIH DARI 2 KOMENT AKU UP BAB BARU...
__ADS_1