
Kringg.. Kriingg..
"Udah bel coy. Gas lah ke kantin." Ajak Alan merangkul pundak Daniel yang tepat berdiri di sebelahnya.
"Yoi. Laper banget gue dengerin tuh tua bangka ngomel-ngomel. Skors sebulan gak cukup apa? Malah nambah siraman rohani. Cape kuping gue dengernya." Keluh Michael yang ikut merangkul Kaindra yang berada di sebelahnya. Si yang dirangkul mengangguk setuju dan menatap ketua mereka.
Ya, lima pria tampan baru saja dipanggil oleh Pak Adit selaku guru BK mereka setelah diskors satu bulan. Syukur saja bukan Daddy Angkasa yang datang. Bisa mati berdiri mereka liat wajah sangarnya.
"Lo pada aja. Gue malas." Sanggah Angkasa membuang muka.
Pria itu malas jika harus menjadi pusat perhatian juga pembicaraan dari siswa Aquirmest High School. Risih ketika semua mata menatapnya seakan sedang menelanjangi dirinya di depan umum. Menjengkelkan!
"Cuih! Gak asik lo." Angkasa hanya mengedikkan bahunya tak peduli.
"Malas atau gak punya duit lo?" Ejek Daniel membuat Angkasa menatap pria itu sinis. Cih! Sejak kapan seorang Angkasa Ceilo Meztli tidak mempunyai uang? Mustahil! Sangat mustahil dan tidak akan pernah terjadi.
"Hidup lo aja bisa gue beli, Niel."
Keempatnya tertawa melihat wajah ketua mereka yang semakin bete. Bagaimana tidak bete kalau sang Daddy nya sendiri yang memberikan hukuman padanya yang dimana sebelumnya tak pernah sedikitpun Daddy Angkasa a.k.a Tn. Darius menghukum anaknya sendiri. Membiarkan Angkasa berlaku seenaknya. Namun, nyatanya semua itu salah. Sang Daddy berani membuat sejarah terbaru di sekolah miliknya sendiri. Dan tanpa bisa lepas menggunakan kekuasaan yang ada. Bajingan!
Hukuman itu membuat harga diri Angkasa merasa hina di antara semua murid. Lebih baik jika ia keluar dari sekolah miliknya dan kabur keluar negeri agar rasa malunya berkurang. Dan wajah tampan itu semakin bete ketika mengingat ancaman sang Daddy.
"Sekali lagi kamu menjadi berandal seperti ini, Daddy tetap gak akan tinggal diam. Aquirmest High School akan Daddy cabut kepemilikannya dari kamu dan kamu akan menerima hukuman lebih berat juga lebih memalukan daripada ini. Stop memalukan dirimu juga keluargamu sendiri, son. Kamu telah membuat Daddy kecewa apalagi Mommy mu. Dia sampai menangis karena melihat kelakuanmu seperti ini."
"Jika sudah terjadi apa-apa pada Mommy mu, sorry, son. Kita akan berduel layaknya pria tanpa ikatan Ayah dan anak."
"Sial!" Umpat Angkasa mengusap wajahnya kasar. Ucapan sang Daddy benar-benar membuatnya semakin merasa bersalah. Ia juga sangat merasa bersalah dan sedih melihat reaksi sang Mommy yang menganggap dirinya tidak bisa mendidik Angkasa dengan baik.
"Dih.. Kenapa lo?" Tanya Kaindra heran.
"Entah. Stress kali atau..."
"Lo kepikiran sama ucapan tua bangka sama bokap lo ya kan, Ka? Terus lo milih tobat jadi gak berandal lagi? Bener gak tebakan gue?" Tebak Daniel membuat semua menatap ke arah Angkasa.
Angkasa membuang muka kesal, "Bawel lo."
"Nah kan bener! Gak menyangkal tuh si Pak Bos."
"Tapi saran gue ya.. Lo mending tobat aja, bos." Celetuk Kaindra bijak.
"Maksud lo?"
"Ya, lo tobat gitu. Kagak jadi berandal, tukang tawuran, ngelawan guru, ngelawan anak sekolah ini, juga ngerusak fasilitas sekolah yang dimana ini sekolah lo sendiri. Bukannya lo bakal rugi ya, tapi lo bakal super duper ribet. Semua kenakalan lo ini ya bakal kena ke diri lo sendiri sebagai pemilik sekolah. Bener gak?"
Semua terdiam. Sangat setuju dengan ucapan bijak dari wakil ketua.
"Gue setuju sih. Kaget anjir pas denger ancaman bokap lo. Sampe hilangin status bapak dan anak lagi. Ya mau gak mau lo harus ikutin apa kata bokap lo. Lagian gue mah ngikut aja kalau harus pensiun jadi berandal. Sesekali bolos gak papa lah tapi gak kayak kemarin. Berasa preman high class gue." Komentar Alan menepuk pelan bahu Angkasa.
Semua mengangguk setuju.
"Bener, Ka. Lo tobat sama kite bareng-bareng. Biar bisa deketin tu cewek cantik kemarin, Bro." Ujar Michael sekaligus menggoda pria berwajah datar itu.
Mendelik tak suka mendengar godaan Michael. Tapi mendengar itu, pikirannya melambung mengingat peristiwa kemarin juga botol minum itu.
"Jiakhh.. malah ngelamunin tuh cewek cantik."
Angkasa semakin dongkol dengan ledekan teman-temannya itu. "Anjing lo semua!"
"Weh.. santuy dong bos. Dah buru lah ke kantin. Seret aja ketua mah. Kali aja ketemu cewek cantik kemarin ya gak?"
Alan pun merangkul bahu sang ketua dan menyeretnya menuju kantin secara bersama-sama. Melewati ruangan para guru dan ruang praktik lainnya. Sebelum nanti melewati kelas para siswa. Berharap saja tidak ada yang memancing amarah Angkasa nantinya.
"Emang dia sekolah di sini?" Tanya Angkasa mendadak penasaran. Senyum usil muncul di empat orang itu.
"Cie penasaran ya lo.. tapi gue juga penasaran sih. Berharap aja lah ya dia sekolah di sini biar bisa ketemu cewek cantik itu tiap hari. Pingin denger lagi gue suara lembutnya itu loh.. beuh mantep." Kata Kaindra mengusap dagunya penasaran.
"Setuju. Dingin judes kayak gitu type idaman gue, Kaindra sama Saka. Lo berdua, Michael, Alan, type lo yang agak berisik kan? Jadi mundur aja ya lo. Gak usah sama cewek cantik gue itu." Bangga Daniel menepuk dadanya juga menempeleng kepala Alan dan Michael.
"Bajingan lo! Kalau orangnya tu cewek kemarin gue mah mau anjir. Malah menarik tau gak sikap judes sama dinginnya itu. Pokoknya gue juga mau dapetin dia. Si Alan aja noh yang kagak usah." Kepala Michael dipukul Alan.
"Sialan! Gue juga mau, anjir. Enak aja di suruh mundur. Cewek cantik itu jadi type gue apapun sikapnya. Gelud lah Michael anjing!" Marah Alan berusaha menggeplak kepala yang malah menghindar itu.
"CK! Gak asik lo berdua. Nambah saingan aja. Liat aja pokoknya gue yang bakal menang dari lo pada." PD Daniel melipat tangannya di dada.
"Sembarangan. Gue yang menang."
"Gue!"
"Gue!"
"Aish! Bacot lo pada! " Kesal Angkasa tiba-tiba dengan suara yang agak tinggi. Wow! Marah bos. Tapi... Marah karena temannya berisik atau...
Marah karena para temannya menyukai gadis cantik itu? Siapa tau kan?
Semua pun diam dengan menahan senyum geli melihat ketuanya marah atau mungkin... Cemburu? Sepertinya.
Langkah kelima pria tampan itu bertambah cepat ketika melewati kelas para siswa yang benar saja semua tatapan langsung tertuju pada mereka semua. Dan seketika wajah penuh keusilan itu berubah menjadi datar tanpa ekspresi.
KYAAA!! Vega Squad udah sekolah lagi!
Aku padamu, Saka..
Daniel makin ganteng, anjir. Enggak! Semuanya makin ganteng, Sialan!
Bersinar banget pas mereka lewat kayak waktu skors sebulan itu makin buat mereka tambah ganteng!
Yes! Sumber semangat sekolah gue akhirnya dateng! Makin semangat gue sekolah nih!
Keramaian itu tak berhenti di sana saja. Begitu masuk kantin semua tatapan benar-benar langsung tertuju pada mereka. Banyak yang langsung berteriak histeris terutama para wanita. Beberapa dari mereka mengambil foto tanpa ijin. Toh, Angkasa sedang malas menegur hari ini karena moodnya yang jelek.
"Mau gue pesenin apa?" Tawar Alan yang tumben baik.
"Biasa aja deh gue." Jawab Keindra duduk di sebelah Angkasa sambil mengeluarkan hpnya untuk menunggu Alan nanti.
"Sama, gue juga."
"Gue juga deh."
"Lo, Ketua?" Tanya Alan. Angkasa mendongak dari hpnya.
"Nope! Lo pada aja."
"Kagak. Lo juga harus makan, heh!" Balas Daniel.
Sebenarnya Angkasa itu lapar namun, mengingat ucapan Daddy mengenai sang Mommy dirinya jadi kangen dengan masakan wanita yang melahirkannya itu. Selama sebulan ini ia menghindari sang Mommy karena merasa dirinya itu tidak becus menjaga wanita yang ia cintai. Begitupun dengan pagi ini. Ia kembali menghindari makan bersama dan pergi sejak subuh tadi ke mansion Kaindra.
"Ouh gue tau.." Celutuk Michael tiba-tiba. Bahkan ia sampai berdiri dengan wajah senang. Emang aneh salah satu sahabatnya ini.
"Gak usah sotoy lo." Sela Angkasa malas setiap perkiraan Michael yang sialnya.. selalu benar!
"Dih bukannya sotoy, tapi gue rasa lo pasti lagi gak mau makan makanan kantin kan? Lo pasti lagi kangen masakan Mommy lo walau gue tau lo pasti lagi laper sekarang." Tebak Michael.
Sial! Bajingan! Mana bener lagi!
Angkasa diam.
"Njir, El. Lo belajar ilmu kena mental itu gimana anjir? Mana kena sasaran tuh si bos sampe gak bisa berword-word. Ajarin gue dong." Pinta Daniel yang tertarik dengan keajaiban dari sahabatnya ini.
"Ye.. siapa dulu dong. Michael! Ogah gue ngajarin lo. Gak puas lagi ntar liat lo yang kena mental sampai suara Deg kayak kemarin kkk~"
"Anjing lo!"
"Belajar ilmu hitam ya lo?" Todong Kaindra yang sedari menyimak percakapan absurd sahabatnya.
"Ya kagak lah. Gile aja lo!"
"Dah pokoknya si bos gak usah lo pesenin makanan kantin, Lan. Gue bakal cari makanan bekal yang pasti rasanya sama masakan nyokap lo." Kata Michael menepuk bahunya bangga.
__ADS_1
"Sok jago bisa ramal kayak si Dylan."
"Awas aja ya kalau ramalan gue bener. Gue pukul kepala lo sampai berdengung, Ndra." Ancam Michael dengan wajah kesal.
"Siapa takut. Gue tunggu dah."
Michael pun akhirnya melengos pergi juga Alan yang langsung memesan makanan. Angkasa, Kaindra, dan Daniel memilih bermain game bersama guna menunggu keduanya.
Tak berapa lama Alan dan Michael datang bersamaan entah kenapa. Di tangan Michael terdapat kotak bekal berwarna hitam dengan kelap-kelip kristal kecil.
"Nih gue dapet."
"Anjir! Lo ngambil kotak bekal punya siapa, njing?" Seru Kaindra tak percaya.
"Bodo amat punya siapa. Intinya orang yang punya ini pasti gak bakal marah karena takut sama kita. Mana ada murid sini yang berani lawan kita." Jawab Michael santai dan memberikan bekal pada Angkasa.
"Cewek kemarin berani tuh." Sahut Daniel.
"Ya dia kan beda. Emangnya cewek cantik itu murid sini?"
"Mana gue tau."
"Lo udah ijin orangnya?" Tanya Alan.
"Belom."
"Tolol!"
"Lagian itu ada di meja dan orangnya gak ada. Gue ambil aja deh. Di kelas XI IPA 1. Gue tanya mana gak ada yang jawab anjir. Pada gak jelas emang. Udah. Mending lo makan aja, Ka."
"Lo harus tanggung jawab kalau ada apa-apa." Tajam Angkasa mematikan hpnya.
"Beres!"
Sejenak Angkasa tertegun menatap kotak bekal hitam itu. Kristal lagi? Hidupnya jadi sering bertemu kristal sejak bertemu cewek kemarin.
CK! Saka.. Lo mikir apaan sih? Gak jelas! Udah makan aja. Kesal Angkasa dalam hati.
Kotak bekal itu pun dibuka dan para sahabatnya menunggu untuk melihat makanan itu juga rasanya. Yang pasti reaksi Angkasa. Benarkah seperti masakan Mommy nya?
"Anjing!"
"Sialan!"
"Anjir, El?!"
Semuanya mengumpat bersamaan melihat isi kotak bekal yang sangat indah dan memanjangkan mata. Sial! ini terlihat sangat lezat.
"Saka! Lo kalau gak mau buat gue ya! Gue mau, jingan! Bisa-bisanya ya lo El dapet makanan enak kayak gini." Seru Kaindra semangat.
"Gak! Bagi gue. Gue mau nyobain, Ka."
"Minta dikitlah, bos."
"Please gue mau."
"Tau gitu, gak gue kasih dah ke lo, ketua. Gue mau, jingan!!!" Frustasi Michael yang tergiur ingin mencicipi makanan lezat itu.
"Mana ada. Punya gue ini. Lo makan makanan yang lo pesan sana. Thanks ya, El." Ucap Angkasa memberikan senyum lebar.
Dengan hati yang berdebar, Angkasa mengambil sendok yang sudah ada di atas bekal itu dan mulai menyendok makanan itu.
Suapan pertama.
"Sh*IT!" Umpat Angkasa yang menutup matanya dengan salah satu tangan kanan.
"Kenapa, anjir?"
"Gue mau coba, sialan!"
Tangan itu Angkasa tarik kembali dan menatap para sahabatnya. Tak peduli dengan para siswa yang tengah menatap ke arah Angkasanya untuk menunggu reaksinya. Mereka tetap menyimak percakapan mereka sedari awal.
"Enak, Bajingan! Mirip masakan nyokap gue. Lo gak boleh minta pokoknya." Riang Angkasa tersenyum lebar dengan pipi mengembung lucu. Matanya berkaca-kaca hampir menangis.
"Njing, Saka. Gue mau nyoba."
"Minta dikit aja, bos."
"Pelit lo. Gue mau coba padahal."
Mau gak mau Angkasa pun pasrah, " Ambil sesuap. Jangan banyak-banyak-- WOYY!! JANGAN DIHABISIN, ******!" Teriak Angkasa yang langsung menarik kotak bekal itu ketika sahabatnya mengambil dengan begitu brutal.
"SIAA! ENAK BANGET, ANJIR!"
"ASUUU! Bagi lagi dong bos. Suer ini enak banget sampai makanan Bu kantin kalah enak."
"Anjay! Gak pernah gue makan seenak ini. Pingin nangis gue rasanya." Skip, lebay.
"****! Enak banget, jingan. Gue mau dibekelin beginian woy tiap hari."
"Gak ada minta tambah. Punya gue!" Seru Angkasa yang langsung menghabiskan bekal itu dengan semangat.
Reaksi Vega Squad membuat para siswa yang menonton menjadi penasaran dengan makanan dalam kotak bekal itu. Memang seenak apa sampai reaksi mereka sebahagia itu? Apalagi mereka juga pasti telah makan dari chef terkenal tapi kenapa makanan bekal rumahan seperti itu bisa membuat mereka bahagia?
Seperti itulah yang mungkin para siswa pikirkan. Dan Vega Squad hanya cuek dengan sekitar dan mau gak mau memaksa makan makanan yang telah dipesan di Bu kantin. Padahal ingin sekali makan bekal itu seperti Angkasa yang tak melepas senyumnya sedikitpun.
Sampai akhirnya..
"Kebiasaan gak ijin dulu. Main nyolong aja."
"CEWEK CANTIK?!"
...******...
"Sheen.. Kantin kuy." Ajak Sena memutar badannya menatap Sheen yang duduk di bangku paling belakang seorang diri. Itu memang keinginan gadis itu karena menginginkan suasana sedikit tenang di belakang.
"Kalian aja deh. Aku di kelas aja. Bawa bekal soalnya." Tolak Sheen memberikan senyum hangatnya agar Sena tidak tersinggung.
"Yah.. kali kali gitu lo makan di kantin. Di kelas mulu deh. Bawa aja bekelnya di kantin. Kita makan di suasana yang baru. Ayo lah, Sheen." Bujuk Jeshna yang ikut menyuruhnya untuk ke kantin.
"Oh iya, cowok yang diskors itu hari ini masuk. Ayo kita liat, Sheen. Lo kepo juga kan siapa orangnya?"
"Iya sih aku kepo, tapi–"
"Udah ikut aja yok ke kantin, cantik. Cepetan." Ujar Jeshna menarik tangan Sheen agar segara bangkit dari bangkunya.
"Iya-iya. Sabar dong, bestie."
"Tapi kalian aja duluan." Pinta Sheen menyimoan kotak bekalnya di meja.
"Loh? Kenapa?"
"Ke toilet dulu sebentar. Aku pasti nyusul kok tenang aja." Janji Sheen terkekeh pelan melihat raut wajah tidak percaya keduanya.
"Beneran ya?"
"Iyaaa.. Aku janji nyusul nanti."
"Ya udah kita duluan ya. Awas lo gak ke kantin. Berurusan sama gue, Sheen." Ancam Sena memberikan tatapan tajam pada Sheen.
Sheen hanya dapat tersenyum, "Iya, bawel."
Mereka berdua pun meninggalkan kelas yang dimana masih terdapat beberapa murid yang sedang belajar, mengobrol, bernyanyi, dan masih banyak lagi. Gadis cantik berhijab itu pun melangkah menuju toilet yang tak jauh dari kelasnya.
Mencuci tangan juga merapihkan jilbabnya menjadi alasan Sheen untuk toilet. Setelah merasa rapi barulah Sheen kembali ke kelas untuk mengambil bekal yang di simpan di meja.
__ADS_1
Baru selangkah memasuki kelas, Sheen disambut dengan suasana kelas yang ramai. Terlihat para cewek yang tertawa histeris juga saling menggosip satu sama lain dengan heboh. Sepertinya baru saja terjadi sesuatu.
Memilih cuek, Sheen berjalan menuju mejanya dan terkejut ketika tak mendapati kotak bekalnya.
Kotak bekalnya menghilang.
"Loh kok gak ada? Perasaan aku simpan di atas meja deh. Tapi kenapa tiba-tiba hilang padahal baru ditinggal sebentar ke toilet. Astagfirullah, apa jangan-jangan ada yang ngambil?" Monolog Sheen berusaha mengecek ke kolong meja tapi hasilnya tetap nihil.
"Lo nyari kotak bekal lo, Sheen?" Tanya Bella yang sedang memegang buku bacaannya.
"Iya. Kamu liat gak? Tadi aku taruh di atas meja. Tapi kok hilang?" Cemas Sheen yang tak mau barang favoritnya kembali hilang diambil orang. Apa dirinya menjadi seceroboh itu hingga barangnya dapat diambil orang lain? Huft.. menyebalkan!
"Gue liat. Diambil cowok yang baru masuk ke sini."
"Hah? Diambil?" Syok Sheen tepat sasaran.
"Iya. Dia tiba-tiba masuk ke kelas dan melihat sekeliling dulu dan liat di meja lo ada makanan makanya dia ambil. Sorry gue gak bisa cegah, Sheen." Sesal Bella dengan wajah merasa bersalah.
"Tumben kamu gak berani sama cowok, Bel?" Heran Sheen yang tau mengenai tabiat sekelasnya ini. Dia siswa pemberani yang bahkan melawan cowok saja bisa. Tapi mengapa dia gak berani sama cowok itu?
"Bukan Bella aja, semua juga pada gak berani sama dia." Timbrung seorang cowok yang berdiri menatap ke arahnya. Ternyata semua juga memang tengah menatap dirinya.
"Kok bisa? Memang siapa yang ngambil kotak bekal aku, Ram?" Cowok itu terlihat ragu tapi memilih untuk memberitahu.
"Michael. Dia yang ngambil bekal lo."
Kening gadis cantik berhijab itu mengerut bingung, "Michael? Siapa?" Tanya Sheen yang sedikit tak asing dengan nama itu.
"Lo beneran gak tau, Sheen?" Tanya Irena, salah satu teman di kelasnya yang menatap dirinya tidak percaya.
"Iya. Emang Michael siapa? Anak kelas berapa?"
"Astaga, Sheen. Lo itu udah sekolah di sini 1 tahun dari kelas 10, tapi masa gak hapal sama temen angkatan? Ini cogan lohhh. Bisa-bisanya lo gak kenal." Miris Irena menepuk pelan jidatnya.
Sheen hanya terkekeh malu, "Ya habisnya aku gak mungkin memperhatikan siswa angkatan kita yang lebih dari 200 ini."
"Terserah deh. Gue cape T_T. Kalau lo mau ketemu sama dia hati-hati aja. Jangan berurusan sama genk mereka. Lo bakalan habis nantinya." Peringat Rama dengan wajah serius.
Seseram itukah mereka? Sampai anak kelas pada takut. Jadi makin penasaran nih.
"O-Oke. Tapi kalau boleh tau dia sekarang dimana?" Tanya Sheen yang kekeuh hendak mengambil kembali kotak bekalnya.
"Kayaknya di kantin sih."
"Sip, makasih. Aku pamit dulu, Assalamualaikum." Salam Sheen yang langsung berjalan cepat keluar dari kelas.
"Waalaikumsalam."
"Berdoa aja semoga Sheen baik-baik saja setelah berurusan sama..."
"... Vega Squad."
...******...
"Woy Sheen.. Lo kok lama sih? Jamuran nih kita nungguin lo." Omel Sena mengerucutkan bibirnya imut.
"Sorry sorry. Tadi ada masalah."
"Masalah? Masalah apa?" Tanya Jeshna menangkap wajah cemas dari sahabatnya.
"Kotak bekal aku diambil orang."
"What? Hilang lagi? Kemarin botol minum, sekarang kotak bekal. Hidup lo lagi kenapa sih, Sheen?" Frustasi Sena yang ikut miris dengan barang favorit sahabatnya yang sudah menghilang ke-dua kalinya. Walau yang pertama bisa saja disebut tidak hilang.
"Coba lo ceritain pelan-pelan."
Sheen pun menceritakan kejadian di kelas tadi juga orang bernama Michael yang mengambil kotak bekalnya tanpa ada yang bisa mencegahnya.
"Mi-Michael?" Gagap Sena dengan wajah pucat.
"Kamu kenapa?"
"Sebaiknya lo ikhlasin aja deh kotak bekal lo itu daripada harus berurusan sama Michael dan genk nya. Apalagi kalau ada ketuanya, bahaya Sheen! Hidup lo bakal terus diusik." Jelas Sena dengan serius dan ada ketakutan di dalamnya.
"Emang mereka siapa sih sampai ditakuti banyak orang?"
"Ketua dari genk mereka, pemilik sekolah ini."
Sheen terkejut, "Serius kamu?"
"Dua rius, Sheen. Dia anak konglomerat makanya bisa punya sekolah sendiri. Dia juga bebas buat ngelakuin apapun di sini karena dia penguasa. Sampai akhirnya bokapnya hukum dia kemarin karena udah keterlaluan." Sheen mengangguk paham walaupun ada sedikit rasa speechless dalam dirinya.
Wow! So cool!
Mata tajam Sheen menatap ke arah Jeshna yang terlihat biasa saja dan tidak terkejut seperti dirinya.
"Kamu kok gak kaget, Jesh?"
"Gue udah tau dari pertama kali menginjak kaki di sini. Tepat hari Senin, 22 Juli jam 09.00 lebih 5 detik."
"Makanya lo sering keluar kelas dong. Anak Osis, tapi mainnya di kelas aja. Keluar kandang kali-kali mah." Jawab Jeshna diakhiri peringatan.
Apa memang sejarang itu aku keluar kelas? Perasaan sering deh keluar kelas. Aneh.
"Iya-iya. Ya udah aku mau masuk ke dalam. Mau ambil kotak bekal dari cowok yang namanya Michael itu." Kata Sheen yang bergerak masuk ke dalam kantin yang dipenuhi oleh para siswa yang kelaparan.
"Tapi, Sheen— Woy dengerin gue dulu!" Pekik Sena berusaha mengejar gadis tomboy itu.
Mengacuhkan ucapan Sena, Sheen mengedarkan pandangannya ke arah kantin. Tapi wajah Michael saja Sheen tidak tau bagaimana bisa ia menemukannya? Bodoh!
"Tuh meja mereka. Mereka geng Vega Squad yang diskors selama sebulan kecuali yang pakai kacamata." Tunjuk Jeshna dengan gaya juteknya. Menunjuk ke arah meja dipojokkan yang terlihat lebih besar daripada meja lainnya.
Mata Sheen mengikuti arah tunjuk dagu Jeshna dan mendapatkan 5 orang yang sedang berkumpul.
Deg!
Mereka.. mereka itu yang kemarin ketemu aku kan? Cowok itu juga yang ngambil botol minum aku waktu itu. Bathin Sheen tak percaya.
Sejenak ia tertegun melihat wajah Angkasa yang sedang memakan bekalnya dengan semangat. Wajahnya terlihat bahagia dengan binar mata yang berkelip. Bibirnya membentuk senyuman tampan. Tak seperti kemarin yang hanya datar dan penuh emosi. Sangat menyebalkan.
Ternyata Angkasa punya sisi seperti ini juga.
"Ternyata mereka sekolah di sini juga." Celetuk Sheen terus melangkah mendekati mereka.
"Lo kenal dia?" Tanya Jeshna kepo.
Kepala itu mengangguk, "Kaindra, Daniel, Michael , Alan dan ketua mereka, Angkasa. Mereka cowok yang aku maksud kemarin. Dan Angkasa yang ambil botol minum aku."
"What?! Gue speechless."
"Kkk~ Angkasa lagi lagi lakuin hal yang sama. Mengambil tanpa ijin walau Michael yang mengambil. Aku harus kasih peringatan."
"Tapi— Sheen!"
"Kebiasaan gak ijin dulu. Main nyolong aja."
"CEWEK CANTIK?!"
What?!
.
.
.
Jangan lupa di support Author nya ya dengan Like, koment yang baik. Masukin favoritnya juga ya cantik.. Terima kasih (◍•ᴗ•◍)❤
__ADS_1