
Tok.. Tok..
"Kak, masih lama di kamar mandinya?" tanya Sheen mengetok pintu kamar mandi di kamar Ar. Seragam Aquirmest High School telah terpakai rapih ditubuhnya. Tinggal memakai sepatu saja maka Sheen siap berangkat.
Pintu toilet pun terbuka, memunculkan Ar dengan rambut basah dan bathrobe putihnya yang melekat di badan berotot miliknya. Dada bidangnya terlihat begitu keras walau hanya sekali lihat.
"Ternyata Kak Ar ganteng juga ya?" aku Sheen mengusap dagunya sembari mengangguk- angguk.
Ar mendengus kesal, "Selama ini kemana, hey? Setiap hari ketemu, tapi baru sadar kakakmu ini ganteng. Banyak di luar sana yang ngantri jadi pacar kakak atau lebih tepatnya suami." Mengangkat dagunya sombong.
"Dih, sombong."
"Biar dong. Memang faktanya begitu ya mau bagaimana lagi coba?" ngeles Ar masih menatap sombong Sheen yang sudah menunjukkan wajah juteknya. Narsis banget kakaknya satu ini!
"Ya deh, terserah. Ini aku mau pamit langsung ke sekolah karena ada upacara," ujar Sheen.
"Tunggu kakak pake baju dulu. Biar kakak antar,"
"Gak usah, kak. Jeshna sama Sena udah nunggu di bawah. Kita mau berangkat bareng pake mobil Jeshna." kata Sheen membuat kegiatan Ar yang sedang memakai baju berhenti lalu menatap adiknya dengan pandangan tertarik.
"Jeshna yang bawa mobil sendiri?"
"Yup, dia udah punya SIM jadinya bisa bawa mobil." Ar mengangguk mengerti.
Hingga senyum jail Sheen muncul, "Gak mau liat Jeshna nih? Kali aja pingin liat orangnya langsung," godanya membuat Ar terkekeh lembut.
"Nanti saja. Kalau udah jodoh juga bakal ketemu. Dah, sana berangkat sekolah keburu telat."
"Cih, jodoh jodoh. PD banget berjodoh sama Jeshna. Nanti Jeshna sama yang lain, nangis." ledeknya tak puas.
"Ya adek jagain lah. Jangan sampai Jeshna suka sama orang lain. Semisal ada yang deketin dia, bilang Jeshna udah ada yang punya. Gampang kan?" papar Ar dengan santainya.
"Dih, ngatur."
"Biarlah."
"Udah ah, ngomong sama Kak Ar gak ada berhentinya. Aku pamit dulu, Assalamualaikum." salam Sheen mencium tangan Ar juga mengecup pipi sang kakak lembut. Membuat empunya tertawa ringan dan balas mengecup kening adiknya penuh sayang.
"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, dek."
"Iya."
Pintu kamar pun tertutup bersama Sheen yang telah meninggalkan kamar. Kemeja juga celana yang telah adiknya siapkan pagi tadi, ia pakai seraya menata rambutnya di cermin. Merasa sudah rapih dan tampan, Ar mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang di sana.
"Assalamualaikum, Tuan muda."
"Waalaikumsalam. Bagaimana? Sudah ketemu?"
"Maaf, Tuan muda. Sekali lagi saya gagal menemukan wanita itu."
Mendengar itu kening Ar mengerut bingung. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati balkon untuk menghirup udara segar di pagi hari.
"Apa memang sesulit itu?"
"Iya, Tuan. Saya rasa wanita itu bukan wanita biasa. Jejaknya tidak terlihat bahkan berbekas sedikitpun."
"Begitu ya..."
Hingga mata tajam itu turun melihat Sheen dengan kedua temannya berjalan menuju mobil putih di halaman mansion.
Siluet wanita itu rasanya tidak asing. Saya pernah liat dimana ya? bathin Ar menggali memori di kepalanya.
Sampai tiba-tiba tubuh wanita itu berhenti masuk ke kursi penumpang dan membalikkan tubuhnya sambil mengangkat kepalanya menatap ke atas──
──Ke arahnya.
Deg!
Pria itu terkejut sampai tak bisa berkata-kata ketika wajah datar wanita itu menatap ke arahnya dengan tajam. Ia menyadari akan kehadiran Ar yang sedang berdiri di balkon kamarnya melihat ke arah dirinya.
Pandangan itu terputus sepihak ketika gadis berhijab itu segera masuk ke dalam mobil begitu sang adik membuka jendela mobil dan menyuruhnya masuk agar mereka tidak terlambat.
"Tuan muda maaf.. apa anda masih ada di sana?"
Ah, sial, Ar sampai lupa sedang berbicara dengan orang suruhannya, "I-Iya, saya masih di sini."
"Lalu bagaimana setelahnya? Apa saya terus akan mencarinya dengan minta bantuan dari anggota FBI──"
"Tidak perlu──"
Smirk tampan sang idola muncul dengan perasaan meletup yang tak bisa dihentikan.
"──Saya sudah menemukannya."
Benar ucapan ngawur yang diberikan pada sang adik beberapa saat yang lalu bahwa ia berjodoh dengan gadis tomboy─ galak yang membuat hatinya tertarik hanya dengan cerita dari sang adik.
"Saya gak akan melepaskan kamu──"
"──Jeshna!"
...******...
"Tadi ngapain liat ke atas, Jesh? Mana lama banget lagi," tanya Sena sedikit protes dari sebelahnya.
Yang ditanya hanya diam, Gak mungkin gue ngasih tau kalau tadi gue ngeliat cowok yang bikin gue kagum waktu itu. Diledekin yang ada nanti. bathin Jeshna menatap tajam ke depan. Sesekali membenarkan topi hitam yang dia pake agar tak mengenai sinar matahari dari samping.
Sebenarnya Jeshna memang suka beberapa kali memakai topi jika sedang menyetir. Dan yang pasti alasannya karena matahari. Namun, anehnya topi yang dipakai sekarang bukanlah topi yang biasa Jeshna pakai.
"Btw itu topi siapa? Kakak lo? Gue liat-liat topi mahal tuh," tanya Sena yang sibuk mengaca sambil mengoleskan liptin di bibir cantiknya.
"Bawel, banyak tanya lo." sarkas Jeshna malas menjawab pertanyaan itu.
"Ya gue kan cuma kepo."
"Ya gak usah kepo."
Sheen hanya diam melihat pertengkaran kedua sahabatnya itu. Bahkan mata tajamnya terus menatap ke arah Jeshna. Ia tau bahwa ada yang Jeshna sembunyikan dari dirinya. Termasuk topi milik sang kakak yang kini dipakai oleh Jeshna. Sheen jelas tau setiap barang milik Ar karena selalu ada gambar bintang jatuh di sana.
Apa Jeshna pernah bertemu dengan Kak Ar? Terus gimana caranya topi sama tote bag punya Kak Ar bisa ada sama Jeshna waktu itu? Pasti keduanya telah bertemu. Ternyata bener kata Kak Ar kalau dia sama Jeshna jodoh kali. Belum aku pertemukan saja udah ketemu duluan. Pantes kepedean banget Kak Ar.
"Kamu liat kakak aku tadi di balkon?"
CKITTTT!
"Astagfirullah Jeshna jangan ngerem dadakan dong!" seru Sheen menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke depan.
__ADS_1
"Sorry sorry. Tapi cowok di balkon itu kakak lo Sheen? Lo punya kakak?"
"What!? Lo punya kakak!?"
Keduanya kompak bertanya dan menoleh ke arah Sheen dengan wajah terkejut dan tak percaya. Memang sebelumnya, Sheen tidak pernah membahas perihal kakaknya dan siapa keluarganya. Yang mereka tau hanyalah, Sheen anak dari pengusaha kaya raya. Sheen pun tidak pernah membawa kedua sahabatnya ke rumah karena ia malas jika sedang di rumah dalam keadaan sepi tanpa orang tua dan sang kakak.
"Iya, aku punya kakak. Dan cowok yang kamu liat di balkon itu memang kakak aku. Ganteng ya?" tanya Sheen mengangkat kedua alisnya menggoda.
Terlihat wajah Jeshna gelagapan sambil kembali berbalik dan melajukan mobilnya. Untung saja ketika Jeshna menghentikan mobilnya mendadak mereka sedang tidak ada di jalan besar dan jalanan pun sepi. Kebayang kalau ramai dan jalan besar, pastinya kecelakaan beruntun bisa saja terjadi. Alhamdulillah Allah masih menjaga mereka dari hal tidak baik.
"Emang ganteng, Jesh?" Sena ikut bertanya.
"Biasa aja."
"Dih, biasa aja? Mana ada cowok yang disukain banyak orang dari ibu-ibu sampai anak-anak kalau dia biasa aja. Lagian bibir kamu aja yang ngomongnya biasa, tapi hati siapa yang tau kan?" goda Sheen tak ada habisnya.
"Ba-bacot lo, Sheen."
Jiakhh... Salting!
"Itu artinya kakak lo itu terkenal, Sheen?" Sheen mengangguk.
"Iya, nanti kalian sendiri juga tau siapa kakak aku. Bakal aku kenalin ke kalian kok kalau dia gak sibuk dan ada di rumah."
Senyum miring Sheen terlihat menatap kaca mobil yang dimana beberapa kali Jeshna melihat ke arahnya.
"Dia gak bakal biarin kamu kabur, Jesh."
Sial!
...******...
"Saka, ayo turun kita sarapan bersama!" seru sang Mommy memanggil anak sulungnya agar segera sarapan supaya tidak terlambat ke sekolah.
Tak lama Angkasa turun dengan seragamnya yang telah rapi bersama tas yang ia sampirkan di pundak tegapnya. Seulas senyum cantik terbit di bibir sang Mommy melihat Angkasa yang telah tampan dan siap sekolah. Biasanya jika waktu sarapan, pria itu bahkan belum mandi sama sekali. Anaknya telah berubah.
"Kak Saka tumben udah siap? Biasanya belum mandi kalau sarapan," tanya adik perempuan menatap ke arahnya dengan aneh. Membuat kernyit bingung di alisnya. Seaneh itu kah dirinya berubah jadi anak baik?
"Terus harusnya gimana? Udah mandi─ salah, belum mandi juga salah. Mau nya apa sih?" sewot Saka mendudukkan bokongnya di kursi sebelah Sega, adik laki-laki─ kembaran Daisy, si adik bungsu paling cerewet sok ngurusin hidup orang.
"Ya gak usah sewot. Daisy kan cuma heran aja liat Kak Saka yang berubah tiba-tiba begini. Eh— dari kemarin-kemarin sih." balas Daisy tak mau di salahkan.
"Benar kata Daisy. Daddy liat kamu udah banyak berubah sejak masuk sekolah lagi. Sudah tidak bolos, tidak bikin onar, tawuran, balapan, ada yang membuatmu berubah, boy?" tanya sang Daddy yang ikut penasaran. Sembari makan semuanya memusatkan perhatiannya pada Saka.
Smirk obsesi nya kembali muncul membuat Sega ikut tersenyum sinis seraya menikmati makanannya, "Lo udah ketemu sama seseorang yang lo klaim sebagai milik lo, kan?" tebak Sega tanpa menatap ke arah sang Kakak.
Angkasa terkekeh berat. Sega ini memang mengenal dirinya dengan baik atau dapat di sebut—bayangan. Duplikat dari Angkasa. Bukan obsesi melainkan posesif yang berlebihan ada pada diri pria berumur 15 tahun ini. "Lo memang tau apapun soal gue, Sega. Menyuruh seseorang mengawasi gue, hm?"
Dengan santai Sega mengedikkan bahunya acuh atas perkataan sang kakak yang benar adanya. Ia posesif terhadap keluarganya sehingga tak boleh ada yang membuat hancur keluarganya sedikitpun siapapun itu. Walau usianya belum legal, tapi akalnya bisa lebih picik daripada orang dewasa.
"Astaga, mimpi apa Daddy punya anak obsesi sama over posesif seperti ini? Bisa pecah lama-lama kepala Daddy," keluh pria paruh baya itu mengusap wajahnya kasar.
Daisy terkekeh imut, "Ya kan semua itu turun dari diri Daddy. Siapa suruh Daddy obsesi sama over posesif sama mommy jadinya turun ke Kak Saka dan Kak Sega."
"Ya itu juga sudah turun dari kakek kalian makanya Daddy seperti ini. Jangan salahin Daddy dong. Banyak yang mau ambil Mommy dari Daddy makanya Mommy harus cepat-cepat menjadi milik Daddy waktu itu. Kalian berdua juga pasti akan merasa seperti itu. Saka sudah, maka selanjutnya Sega akan merasakan itu ketika masuk SMA nanti mungkin." bantah Daddy tak mau disalahkan.
"Hm," dehem Sega singkat.
"Mommy jadi kepo deh siapa yang buat anak sulung mommy ini sampai bisa memunculkan sifat obsesinya yang telah lama terpendam? Ada fotonya gak, sayang?" pinta Mommy dengan wajah menggoda imut.
Bukan Angkasa yang memberikan foto Sheen yang sudah berada di hpnya melainkan pria itu menyuruh adiknya untuk memperlihatkan fotonya pada sang Mommy. Sega mengeluarkan iPad dalam tasnya lalu mencari sesuatu di sana dan memperlihatkan pada sang Mommy. Daddy, Mommy, dan Daisy mencondongkan badannya untuk melihat dengan penasaran.
"I-Ini perempuannya?" tanya Daddy tak percaya.
"Yup." angguk Angkasa.
"AAAAA!! CANTIK BANGET! GAK MAU TAU POKOKNYA KAKAK CANTIK INI HARUS JADI KAKAK IPAR DAISY! KAK SAKA GAK BOLEH BIARIN DIA SAMPAI DI AMBIL ORANG LAIN ATAU KAK SAKA DIPECAT JADI KAKAKNYA DAISY!" teriak Daisy heboh sambil terus menatap foto itu.
"Berisik lo dek. Pecah nanti gendang telinga gue,"
"Subhanallah cantik sekaliii. Mommy suka nih perempuan cantik berhijab seperti ini. Keliatan baik dan sholehah. Pasti bisa menjadi istri dan ibu yang baik dari anak-anaknya kelak," puji sang Mommy.
"Mommy mikirnya kejauhan," Sega menatap ke arah sang kakak, "Buat gue boleh gak? Dia type gue banget, kak. Ngalahlah sama adik sendiri." pintanya dengan tidak tau diri.
"Bertumbuklah kita. Ogah gue ngalah sama lo soal Bintang. Cari cewek lo aja sana yang bisa lo posesif-in nanti." tolak Angkasa tak suka.
"Oh namanya Bintang. Pantas cantik." kata Daddy mangut mangut mengerti.
"Gue maunya cewek lo, kak."
"Gak bisa gak bisa, enak aja. Dah sana pergi lo. Bikin mood gue rusak aja pagi-pagi." usir Angkasa kesal. Sega yang menggoda hanya tertawa lucu melihat amarah sang kakak. Ya kali dirinya mengambil cewek yang udah di klaim sama kakaknya jadi milik dia. Cantik sih, tapi ya udah milik Angkasa. Sekali aja sentuh tuh cewek, Sega yakin dirinya tidak akan bisa bernafas lagi. Alias mati ditangan kakaknya sendiri.
"Bercanda. Masih sayang nyawa gue gak mau mati konyol karena berantem sama lo. Dah, Daisy ayo berangkat sekolah. Pak Tommy sudah menunggu di halaman mansion." kata Sega memasukkan kembali iPadnya ke dalam tas.
"Yokkk.."
"Saka juga mau berangkat, mom, dad. Takut telat." pamit Angkasa mencium kedua tangan orang tuanya penuh sayang.
"Iya, hati-hati. Kalau ada waktu, bawa gadis bernama Bintang itu ke rumah. Mommy tau kamu pasti butuh usaha sangat keras untuk dapetin dia kan?" Angkasa mengangguk dan kembali terkekeh, "Bener banget. Emang Saka gak salah pilih orang. Bintang memang susah untuk di dapat. Berbeda dengan cewek lain di Aquirmest High School."
"Angkasa pamit duluan yah, Assalamualaikum." salam Angkasa yang berlalu meninggalkan meja makan setelah mengusap rambut kedua adiknya penuh sayang hingga berantakan membuat keduanya berteriak penuh amarah.
Motor sport merah miliknya membelah jalanan kota yang sudah mulai dipenuhi oleh kendaraan berlalu lalang. Matahari semakin terik bertanda waktu semakin siang. Kecepatan motor Angkasa tambah agar semakin cepat sampai dan tidak di hukum tepat di depan teman-temannya, sang Daddy apalagi Sheen. Ia tidak mau.
Namun, siapa sangka bahwa garis takdir tidak seperti yang ia rencanakan ketika mata tajam itu melihat seorang wanita paruh baya yang baru saja hampir di serempet motor dengan barang bawaan yang sudah berserakan di jalan. Dan amarah Angkasa terpancing ketika tak ada satupun orang yang membantu wanita paruh baya itu.
"Sial! Gerbang sekolah di tutup 5 menit lagi. Kalau gue nolongin yang ada telat. Tapi── ARGH! Bodo amat gue harus nolongin!" frustasi Angkasa yang berusaha melawan egonya.
Ia turun dari motor dan segera membantu ibu itu untuk memasukkan kembali barang yang berserakan itu.
"Terima kasih ya, nak. Sudah repot-repot membantu ibu padahal kamu harus sekolah dan jadi telat seperti ini." sesal ibu itu mengelus tangan Angkasa lembut.
Angkasa tersenyum dan balas mengelus tangan sang ibu, "Sama-sama, Bu. Tidak papa, saya lebih baik telat daripada ibu kenapa-kenapa. Apa ada yang luka? Kalau iya, mari saya antar ke rumah sakit. Saya yang bakal tanggung biayanya."
"Ti-tidak perlu, nak. Ibu tidak papa, tidak ada yang terluka. Lebih baik kamu sekarang ke sekolah, hari Senin pasti upacara kan?"
"Iya Bu. Saya akan ke sekolah, tapi ibu setelah ini mau kemana? Barang bawaan ibu banyak biar saya suruh orang buat bantu." tawar Angkasa yang spontan begitu saja. Jujur, ini kali pertamanya dia membantu orang yang tidak ia kenal secara langsung karena biasanya ia akan memilih cuek atau menyuruh orang lain untuk membantunya.
"Ibu mau ke Aquirmest High School. Ini hari pertama ibu kerja di sana." jelasnya membuat Angkasa terkejut.
"Kebetulan saya siswa di sana. Tapi, saya gak bisa antar ibu naik motor gede seperti ini. Biar saya pesan taksi." kata Angkasa yang langsung mencegat taksi yang kebetulan lewat di sana.
"N-Nak, tidak perlu──"
"Gak papa, Bu," Angkasa mendekati taksi dan berbicara pada sang sopir, "Antarkan ibu ini dengan selamat ke Aquirmest High School. Nanti tolong bawakan juga barang bawaannya ke dalam. Ini saya bayar lebih." jelas Angkasa mengeluarkan uang besar beberapa lembar.
__ADS_1
"Ta-tapi ini kebanyakan, pak—"
"Tidak apa-apa. Tolong bantu ibu ini ya, pak."
"Bu, saya pamit sekolah dulu. Uang taksi sudah saya bayar dan nanti bapaknya bakal bantu bawakan barang ibu ke dalam Aquirmest High School." papar Angkasa membuat ibu paruh baya itu berkaca-kaca penuh haru.
"Terima kasih, terima kasih, nak. Ibu gak tau harus bayar kebaikan kamu dengan apa. Kamu bahkan sampai rela telat dihukum hanya karena membantu ibu. Sekali lagi terima kasih ya, nak." haru ibu itu kembali mengusap lengan Angkasa.
Angkasa tersenyum sambil memakai helm motornya, "Sudah kewajiban semua manusia untuk tolong menolong. Saya pamit dulu ya Bu, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati, nak."
Berakhir Angkasa yang menggas kuat motornya agar segera cepat sampai sekolah dan tidak semakin ngaret waktu telatnya. Benar saja, gerbang sekolah telah tertutup dan di sana sudah ada cewek yang waktu itu di suruh Sheen untuk menghukum dirinya. Farrah namanya kalau ia tidak salah.
"Masuk ke dalam dan baris di barisan orang yang telat," perintahnya membuat Angkasa mengangguk dengan lega. Ia bersyukur bukan Sheen yang memegang bagian Osis orang telat. Ditaruh dimana harga dirinya nanti. Apalagi teman-temannya tidak ada yang telat karena setelah mereka sepakat berubah terutama dari bagian tidak terlambat ke sekolah. Tapi ia sebagai ketua yang malah telat.
Selesai memarkirkan motor, Angkasa pun berbaris di barisan paling belakang. Namun, siapa sangka kalau siswa yang telat akan berdiri di depan semua siswa tiga angkatan. Sial! Memalukan!
"Anjirlah. Mana upacara sekarang Daddy lagi yang kasih amanat. Mau ditaruh dimana wajah gue sebagai pemilik sekolah yang terlambat apalagi udah di skors sampai sebulan kemarin. Argh! Sial!" umpat Angkasa kesal. Namun, ia kesal bukan karena membantu ibu tadi, dia malah bersyukur bisa membantunya. Ia hanya kesal karena telat di waktu yang salah.
Mata Angkasa bertabrakan dengan mata sang Daddy yang masih memberikan amanat untuk para siswa. Terlihat kalau ia terkejut karena Angkasa lah yang lebih dahulu berangkat sekolah tapi malah ia sendiri yang telat. Membuat sang Daddy berpikir sedikit bahwa Angkasa belok pergi kemana dulu.
Selesai memberikan amanat, Daddy pergi meninggalkan lapangan walau sebenarnya ia tetap di sana memantau hukuman yang diberikan kepada putranya lalu digantikan dengan Pak Adit sebagai guru bimbingan konseling.
"Ribuan kali diberikan amanat untuk tidak terlambat datang ke sekolah, tapi masih aja ngeyel dan melakukan hal yang sama. Apa kalian tidak bisa mengingat amanat yang selalu diberikan mengenai keterlambatan? Sebodoh itu kah otak kalian?" kasar Pak Adit yang merasa angkuh karena sang Daddy yang telah pergi meninggalkan lapangan.
"Angkasa, kamu maju." perintah Pak Adit yang membuat seluruh mata terpusat padanya.
Gue mulu, anjir. Apa semenarik itu gue di depan para guru? Menarik buat dijatuhkan— iya. kesal Angkasa dalam hati, tetapi tetap mengikuti perintah Pak Adit untuk maju selangkah dibandingkan siswa yang telat.
Pandangan Angkasa pun jatuh pada Sheen juga para sahabatnya. Gadis itu hanya menatap dalam diam tanpa ekspresi marah atau kesal melainkan senyum cantik yang ia berikan. Membuat hati Angkasa tenang tanpa harus takut akan respon buruk darinya. Sedangkan para sahabatnya menatapnya bingung karena telat. Padahal sebelum sarapan tadi Angkasa memerintah mereka agar tidak ada yang telat.
"Skors sebulan apa tidak cukup bagi kamu, hah? Walau bapak tau kamu pemilik sekolah ini, tetapi kamu tetap tidak bisa sewenang-wenang untuk melanggar peraturan yang bahkan telah kamu setujui dan disepakati bersama. Kalau memang tidak bisa bertanggung jawab atas sekolah kamu lebih baik menjadi siswa biasa saja. Tidak perlu sok jagoan memimpin sekolah ini."
"Sekarang coba kasih tau saya alasan mengapa kamu terlambat ke sekolah?" tanya Pak Adit setelah mencemooh dirinya. Akan tetapi Angkasa hanya bisa diam dan mengepalkan tangannya guna menahan amarah. Jika tidak ada Sheen, sudah ia pastikan Pak Adit masuk rumah sakit.
"Ada kendala di jalan." jawab Angkasa jujur.
"Cih! Sekali pembohong tetap pembohong. Kamu kira bapak bisa kamu bodohi? Bapak tau kalau kamu memang berniat untuk membolos sekolah dan mengajak genk berandalan kamu itu kan? Memang berandal ya tetap berandal. Mana bisa orang kayak kamu berubah jadi baik. Bullshit!" Pak Adit semakin tak terkendali mencemooh dirinya.
"Anjing! Gue pukul juga tu guru." bisik Daniel emosi yang berdiri tepat di sebelah Sheen.
"Kelewat batas," gumam Jeshna yang terlihat ikut emosi dengan kondisi Angkasa yang dipojokkan.
Sheen? Gadis itu lah yang paling emosi melihat Angkasa dicemooh di depan banyak orang bahkan berbicara bahwa pria itu tidak bisa berubah. Memangnya Pak Adit siapa bisa berbicara dan menghakimi seperti itu? Setiap manusia bisa berubah dan Angkasa pun bisa berubah, tidak seperti yang Pak Adit bicarakan.
Angkasa tersenyum sinis. Menyembunyikan hatinya yang sedikit berdenyut nyeri. Apa seberandal itu kah dirinya sampai Pak Adit mengatakan dirinya tidak dapat berubah menjadi lebih baik? Sulitkah untuk membuat orang lain percaya bahwa dirinya bisa berubah? Apa sesuah itu diakui dirinya telah berubah?
"Kalau saya membolos, saya tidak akan di sini. Bahkan saya kesini pun bukan paksaan dari pihak Osis alias saya menyerahkan diri karena tau saya salah. Saya memang telat datang ke sekolah karena ada musibah di jalan. Bapak cukup memberikan hukuman karena saya melanggar peraturan bukan menghakimi bahkan memojokkan saya seperti itu. Selebihnya itu bukan urusan bapak. Jaga batasan bapak di sini." peringat Angkasa balas memberikan kata-kata yang menusuk. Pak Adit sedikit gelagapan, namun tetap stay cool.
"Terserah. Bapak di sini bakal kasih kamu hukuman di depan semua siswa Aquirmest High School." sahut Pak Adit tersenyum jahat.
"Silakan,"
"Bacakan Qs. Ar-Rahman sampai akhir."
Deg!
Daddy Angkasa mendengar itu terkejut. Membacakan QS: Ar-Rahman yang termasuk Juz 27 pasti Angkasa tidak bisa. Anak sulungnya sudah sangat jarang membaca Qur'an bahkan hapalannya saja masih perlu ditanyakan. Dirinya terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga lupa mengingatkan akan hapalan Al-Qur'an anaknya.
"Saya tidak hapal." lugas Angkasa jujur.
"QS: Al-Mulk?"
"Tidak hapal,"
"QS: An-Naba?"
"Tidak hapal,"
"Terus apa yang kamu hapal? Apakah selama ini kamu tidak pernah membaca Al-Qur'an? Ngapain aja orang tua kamu sampai tidak mengingatkan kamu—"
"Stop! Ini kesalahan saya yang tidak mau menghapal bukan orang tua saya. Jadi, stop berkata seakan orang tua saya tak becus mendidik saya. Bapak tanya apa yang saya hapal? Saya hanya hapal surat-surat pendek dan QS: Al-Fajr sampai At-Takwir. Terserah bapak mau terus mencemooh dan berusaha membuat saya malu di depan orang lain." potong Angkasa yang semakin emosional karena kini orang tuanya dibawa-bawa. Mentang-mentang Daddy sudah tidak ada di sini.
"O-Oke, bacakan Qs: At-Takwir."
Angkasa mengangguk seraya menghilangkan 3mosi dalam dirinya dan mulai membacakan surat yang biasa menjadi keluhan di juz 30 karena suka terbalik balik dalam membacanya.
Sontak semuanya senyap mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang sangat merdu dari bibir Angkasa. Semua tak menyangka bahwa ketua berandal Aquirmest High School ini bisa membacakan Al-Qur'an semerdu dan tartil seperti itu. Membuat gadis berhijab diujung sana tersenyum hangat. Ia tak memandang rendah Angkasa yang hanya hapal sedikit surat di Al-Qur'an tetapi ia kagum. Kagum bahwa Angkasa bisa membacakan semerdu dan setartil itu.
"Sadaqallahul azim," Angkasa kembali menatap Pak Adit yang terdiam karena terkejut atau lebih tepatnya terkesima akan suara merdunya dalam membaca Al-Qur'an, "Sudah kan? Saya mau masuk ke dalam barisan kelas saya."
"Ya-ya, silakan." jawabnya tergagap.
Pria tampan itu pun berjalan menuju barisan kelasnya dengan lapangan yang semakin berisik membicarakan dirinya. Toh itu hal bagus yang harus dibicarakan, jadi Angkasa membiarkan saja.
"Bos, sini." panggil Daniel yang mundur ke barisan di belakangnya. Membiarkan Angkasa berdiri tepat di sebelah Sheen. Sehingga langsung membuat Sheen pusing akan parfum maskulin dari tubuh Angkasa yang terus terhirup setiap kali dirinya mengambil nafas. Sial! Candu banget baunya!
"Kamu keren," gumam Sheen tanpa mengalihkan pandangannya dari Pak Adit yang sedang berorasi dan menghukum siswa yang telat di depan.
Angkasa terkejut. Tak menyangka Sheen akan memuji dirinya. Walau kepalanya menatap ke depan tapi ia tau bahwa ucapannya itu untuk dirinya.
"Gue? Keren?"
"Hm. Terpelas dari alasan kamu apa karena datang terlambat karena kebaikan tidak perlu diumbar, tapi lagi-lagi kamu bertanggung jawab juga sabar dalam menghadapi Pak Adit yang berusaha untuk menjatuhkan harga diri kamu. Aku speechless waktu dengar suara kamu mengaji yang semerdu itu. You look so cool!" Perlahan senyum Angkasa terbit. Ternyata telatnya di hari ini membawa sedikit berkah untuknya karena bisa di puji oleh wanita di sebelahnya ini.
"Kkk~ Makasih,"
"Kalau gitu, gue udah pantes jadi calon suami lo belum?
Blush!
.
.
.
...Warning ⚠️ ➜...
...JANGAN JADI PEMBACA GELAP!!!...
Jangan lupa di support Author nya ya dengan Like, koment yang baik. Masukin favoritnya juga ya cantik.. Di kasih vote juga hadiah lebih bagus. Terima kasih (◍•ᴗ•◍)❤
NOTE: Minimal 2 koment baru up bab selanjutnya
__ADS_1
Maaf ya baru bisa up 🙏