
Deg!
Dia...
"Aang?"
Ya Allah, kenapa hari ini dirinya merasa seperti tidak bisa lepas dari pria tampan ini? Seperti tidak ada waktu bebas sedikitpun tanpa dia dalamnya. Dan gadis cantik itu hanya dapat berdoa agar dijauhkan dari hal yang nantinya akan membuat hati kecilnya sakit.
Beberapa kali Sheen berusaha untuk mengacuhkan pria itu namun, berkali-kali takdir berjalan mempertemukan mereka dan Angkasa malah terus berusaha masuk ke dalam teritori miliknya. Hidupnya mulai terusik!
"Angkasa dan Daniel harus pindah kelas karena sebulan yang lalu ada murid baru yang menempati kelas mereka. So, pilihlah bangku yang kosong."
"Miss akan keluar sedikit lama, kalian kerjakan 3 soal di depan kelas dan nanti di kumpulkan. Bagas, Miss nitip kelas ya. Jangan berisik apalagi membolos terutama kalian berdua, Angkasa, Daniel." Pesan Miss Olivia menatap kedua pria yang masih berdiri di sampingnya.
"Liat gimana mood aja deh, Miss." Jawab Daniel ogah-ogahan hingga tak sengaja matanya bertemu dengan mata tajam Sheen.
"Eh, enggak dong, Miss. Kita berdua gak bakal bolos kok. Betah banget ini mah lama-lama juga. Tuh, ada yang bening duduk di pojokan."
Ting!
Sontak semua tatapan menatap ke arah Sheen dengan berbagai pandangan. Ada yang kaget, kesal, iri, and mungkin ada yang sedikit baper. Apalagi ketika Daniel mengedipkan matanya membuat Sheen memutar matanya malas.
Cuma Angkasa doang yang bener diam aja. Temen-temennya malah ngemgombal mulu. Bikin malu aja, Aish. Bathin Sheen malu.
"Gombal lo jelek." Sahut Angkasa memberikan tatapan tajam.
"Cemburu? Bilang boss!"
"Bacot!"
Daniel malah tertawa ngakak.
"Sudah-sudah. Kalian silakan duduk. Miss tinggal dulu." Pamit Miss Olivia meninggalkan kelas. Dan disitulah kehebohan dimulai.
Para cewek langsung mulai menggosip sambil menatap Angkasa juga Daniel secara terang terangan dan Sheen dapat melihat kerisihan dalam mata pria itu.
Hingga...
Deg!
Mata mereka bertemu dengan cepat. Disitulah jantung Sheen mulai berdebar kencang. Gawat! Ini sudah sangat gawat. Sebelum jauh, kotak mata itu terputus secara sepihak oleh Sheen.
Astagfirullah. Jaga mata, Sheen. Kontrol hati kamu untuk terus fokus menjauh dari hal yang berbau zina. Apalagi sampai dia masuk ke dalam teritori milik aku. Pastinya aku akan terus melempar keluar atau aku yang akan terlempar nantinya. Bathin Sheen menatap ke arah tembok.
Tak tahu saja kalau pria yang baru saja memenuhi pikirannya kini tengah berjalan ke arah dirinya dan berdiri tepat di samping meja Sheen.
"Kursi lo kosong."
Suara berat itu sedikit mengagetkan Sheen namun, gadis itu dapat mengontrolnya dengan baik.
"Tau. Aku juga liat."
"CK! Gue duduk di sebelah lo." Ucap Angkasa menatap Sheen yang membuang muka.
"Masih ada kursi kosong di dekat Bagas." Balas Sheen yang tak mau Angkasa duduk di sebelahnya.
Jelas gadis itu tidak mau duduk bersama tau lebih tepatnya bersebelahan karena mereka bukan mahram. Benar, kan? Tapi, apa benar alasannya hanya itu saja? Oh tentu tidak! Sheen takut...
Takut menyukai pria dingin itu.
Padahal mereka baru saja bertemu namun, Sheen merasa ada hal yang membuat Angkasa melihat menarik. Apa memang sudah seperti itu makanya banyak para gadis yang menyukainya? Dan Sheen termasuk korban yang sama karena terjerat pesona Angkasa? Astagfirullah! Jangan sampe.
"Dih, gue juga mau duduk sama Sheen, bos. Lo aja noh yang duduk sama si Bagas." Protes Daniel yang ikut berdiri di sebelah Angkasa.
"Yang tadi pagi bilang sama gue sampai mohon-mohon banyak gaya buat duduk sama ketua kelas siapa? Ya lo! Dah sana pergi." Kesalnya yang tak mau Daniel duduk di sana.
Angkasa sudah membooking kursi sebelah gadis cantik itu sejak masuk kelas ini dan menatap mata tajam indah milik Sheen.
Cantik?
Ya, Angkasa mengakui bahwa Sheen itu cantik dan menarik. Dia perempuan yang menjaga sikapnya terhadap pria manapun termasuk dirinya dan Vega Squad. Dan menurutnya itu menarik. Bukan seperti perempuan di luar sana yang secara terang - terangan menyatakan tertarik dan memilih untuk meminta berpacaran.
"Ya kan gue gak tau kalau Sheen sekolah di sini. Apalagi kelas XI IPA 1. Tau gitu ya gue juga pingin di sebelah Sheen duduknya." Bela Daniel tetap tak mau kalah.
"Gak. Sana lo pergi deket si KM."
"Iye iye. Guguk lo, Saka."
"Tinggal bilang anjing aja susah. Sok jaga image lo, Niel."
"Ya emang. Depan calon masa depan gue ya harus jaga image. Ya gak, Sheen?" Pancing Daniel agar Sheen menoleh.
Dan benar! Sheen akhirnya menoleh.
"Enggak tuh."
"Mampus. Kena mental gak lo, Niel?" Tanya Angkasa terkekeh pelan. Membuat histeris hati para hawa.
"Lo emang udah ketularan sama si El dan Alan. Bahasanya kena mental mulu. Coba lo rasain. Sakit, Bro." Daniel sok dramatis.
"Lebay lo. Dah sana pergi lo. Gue mau duduk di sebelah dia." Usir Angkasa membuat Daniel cemberut tak suka.
"Emang siapa yang bolehin?" Tanya Sheen membuat Daniel tertawa puas.
"Denger gak? Lo gak dibolehin duduk, bro. Sabar aja ya. Itu artinya peluang gue duduk—"
"Berisik lo. Gak ada lo duduk di sini." Potong Angkasa cepat.
"Cih! Marah dia.."
"Kenapa gue gak boleh duduk sama lo?" Tanya Angkasa menundukkan kepalanya menatap Sheen yang tengah duduk.
"Gak mahram, bro." Jawab Sheen sok gaul.
"CK! Kagak ada kursi lagi asal lo tau—"
"Saka, lo duduk di sebelah gue aja. Nanti temen bangku gue duduk di sebelah Sheen." Ucap seseorang yang tiba-tiba muncul di samping Angkasa.
Grazine, atau biasa dipanggil Graz. Dia ketua dari ekskul basket cewek dan banyak dikagumi oleh para cowok. Parasnya yang cantik dan putih serta sikap datar yang diberikan pada lawan jenis membuat daya tarik tersendiri. Terkecuali terhadap Angkasa. Bukan rahasia umum lagi kalau Graz menyukai Angkasa sejak lama. Mereka terlihat serasi karena sama-sama Ketua ekskul Basket.
"Ogah. Gue mau duduk di sini aja."
"Ide bagus!" Celutuk Sheen tiba-tiba.
"Ide bagus apa, Sheen?" Tanya Daniel.
"Ya, apa kata Graz aku setuju sih. Dia nawarin kamu buat duduk di sebelahnya. Ya udah, aku tinggal duduk sama Balqis."
Mata Angkasa menajam menunjukkan ketidaksukaan yang sangat. Sial! Ia mulai terpancing amarah.
"Gue bilang gak mau, Bintang."
"Sheen, bukan Bintang."
"Sok kayak cowok. Nama lo udah bagus Bintang, cewek." Protes Angkasa dingin.
"Ish! Terserahlah. Kalau kamu gak mau di sini aku yang bakal pindah." Menoleh pada Graz, "Kamu duduk di bangku aku aja, Graz. Aku pindah dekat Balqis."
Graz tersenyum senang hingga poni rambutnya sedikit bergoyang, "Oke. Makasih ya, Sheen."
"Yoi."
Akhirnya keputusan Sheen pun memilih untuk pindah. Terdengar rayuan atau bujukan yang dilayangkan Graz agar ia mau duduk di sana dengannya. Dan punggung yang pergi itu kembali Angkasa saksikan.
Brengsek!
Sesek! Dada aku kenapa sesek sakit kayak gini. Kenapa aku ngerasa gak mau kalau Angkasa duduk sama Graz? Astagfirullah! Gak boleh, Sheen. Gak boleh!
Baru saja Sheen hendak duduk di sebelah Graz, tiba - tiba...
__ADS_1
BRAKK!
Angkasa menendang kursi kosong itu membuat Sheen menoleh. Menatap wajah Angkasa yang begitu emosi terlihat dari tatapannya dan rahang yang mengeras.
Glek!
Menyeramkan!
Jujur Sheen sedikit takut jika Angkasa sampai emosi seperti ini. Pria itu sangat egois karena menginginkan ketercapaian disetiap keinginannya.
Pria yang dilanda emosi itu pun berbalik dan berjalan menuju pintu kelas.
"Anjir, si bos pundungan. Woy Saka! Lo mau kemana?" Tanya Daniel menahan bahu itu pergi.
"Bolos."
"Ngapain bolos, anjir?"
"Lagian gue gak ada kursi duduk ngapain masih harus belajar di kelas?" Sindirnya membuat Sheen merasa kena mental.
"Dih! Ngambek lo karena Sheen gak bolehin lo duduk di sebelah dia?"
"Bacot lo, Jing."
"Santuy, bro."
"Minggir lo. Gak usah ngalangin jalan gue."
"Tapi, Ka.. Kata bokap lo kan—"
"Gak usah bawa-bawa bokap gue, Anjing!"
"Iya, sorry deh."
Terlihat Daniel memberikan tatapan kepada Sheen penuh arti. Seperti berusaha memintanya agar tidak membiarkan pria itu bolos. Menghembuskan nafas kasar mengerti.
"Oke. Kamu boleh duduk di sebelah aku asal jaga jarak! Puas?!" Seru Sheen kesal.
Jadi cowok kok gampang ngambek sih? Bikin pusing kepala aja deh. Bathin Sheen pasrah.
"Puas."
Jawab Angkasa yang membalikkan badannya. Wajahnya memang masih datar tapi terlihat seutas senyuman di bibirnya.
"Cih! Gak jadi bolos lo?" Cibir Daniel.
"Siapa yang bolos? Kesambet doang tadi." Jawab Angkasa alasan. Dih, bukan kesambet lagi. Udah naik level jadi kesurupan.
"Kesambet lo jadi gila. Duduk sana. Bikin drama mulu lo diliatan orang noh." Kata Daniel yang kembali ke bangkunya di meja sebelah meja Sheen paling belakang.
Benar saja, semua murid menonton drama yang tak sengaja dibuat oleh Angkasa. Sial! Memalukan! Kenapa gue malah jadi kayak gini sih?!
Mau gak mau Sheen kembali duduk di kursinya dan Graz pun kembali ke kursinya dengan wajah dongkol. Kini hanya ada satu orang yang dapat membuat Angkasa nurut. Hanya Sheen seorang saja. Bahkan sahabatnya pun tidak bisa.
"Geser. Jangan deket-deket." Judes Sheen membuka buku pelajaran Matematika nya.
"Iye, bawel."
Kalau bukan amanah dari Leon. Mana mau aku duduk di sebelah dia. Hufthh..
"Sheen, gue titip Vega Squad ya. Bokapnya udah nitipin ke gue sih sebenarnya, tapi mereka tetep gak mau nurut sama gue. Dan gue gak nyangka mereka bakal nurut banget sama lo bahkan sekeras Angkasa sekalipun. Jagain mereka buat gak bikin onar lagi terutama bolos. Tapi kalau memang gak bisa pun, jangan dipaksakan. Mau gak mau gue bakal hukum dia lagi."
Tepat Angkasa duduk di sebelahnya, wangi parfum maskulin menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Membuat jantungnya kembali berdebar dengan hidung yang mulai nyaman dengan bau itu. Sial! Kakaknya saja memakai parfum pria maskulin tapi kenapa damage nya beda sama Angkasa?
Aneh!
Sampai akhirnya pelajaran pun kembali berjalan dengan para murid yang berusaha mencari jawaban dari soal yang di tulis papan tulis.
Tapinya... Sulit!
Soal itu sangat sulit rasanya bahkan Reza, siswa terpintar di kelas pun sulit untuk menjawabnya ketika para temannya bertanya pada dia. Kelas beberapa kali heboh penuh keluhan karena tak bisa menjawab soal. Hasilnya malah aneh dan berujung tidak ada jawaban.
"Lo gak ngerti soalnya?"
Sheen menoleh, "Iya. Jawabannya aneh."
"Bukan aneh, tapi cara lo salah." Kata Angkasa membenarkan. Kening Sheen berkerut, "Salah?"
"Iya." Pria itu menegakkan kembali badannya dan menunjuk angka dalam buku Sheen.
"Harusnya bukan pake cara yang ini, tapi ini. Sini gue ajarin." Kata Angkasa mulai memegang pensilnya.
Hingga suara berat itu mulai menjelaskan materi yang tak Sheen mengerti. Mengajarinya tanpa harus berdekatan dan akhirnya sebuah kepahaman di dapatkan oleh Sheen.
"Ouh gitu cara.. Oke, Aku coba nomor 2 sama 3. Kalau salah nanti bilangin." Ucap Sheen tersenyum mengerti. Dan mata tajam Angkasa tak lepas menatap wajah cantik Sheen yang bersinar bahagia ketika menemukan jawaban dari soal Miss Olivia yang sulit itu.
Cantik.
"Ini. Jawaban aku bener gak?" Tanya Sheen yang baru menyelesaikan soal dengan metode yang dijelaskan Angkasa.
"Sini gue liat."
"Good. Sekali dijelasin lo langsung paham. Pintar!" Puji Angkasa tersenyum lebar.
Lagi jantung Sheen berdetak kuat melihat senyuman itu. Senyuman yang tidak pernah Sheen lihat sejak kemarin dan pertemuan sekarang.
"Thanks ya, Aang."
Blush!
"Hm."
Jeshna dan Sena yang sedari tadi mengawasi Angkasa tertarik ketika pria itu yang baru mengajari Sheen. Hingga mereka memutar kursinya.
"Ajarin kita juga dong, Saka." Pinta Jeshna dengan suara sedikit keras hingga membuat anak kelas menoleh padanya.
"Njir, Saka. Lo ngerti sama soal dari Miss Olivia?" Tanya Daniel yang duduk di sebelahnya. Angkasa mengangguk singkat.
"Malah diem aja. Ajarin, bego. Kalau gak mau ngajarin minta contekan buru sebelum Miss Olivia dateng, njir."
"Ka.. minta ajarin juga dong ehehe.." Pinta Bagas sedikit takut.
Semua menatap ke arah Angkasa meminta untuk diajarkan soal matematika sulit itu. Dan pemandangan itu membuat Sheen tersenyum.
"Ogah. Nih minta dia aja buat jelasin. Bintang juga ngerti soalnya." Tolak Angkasa yang malah menunjuk Sheen.
"Dih, kamu yang ajarin juga. Kamu aja sana jelasin di papan tulis. Mendadak amnesia aku." Alasan Sheen berpura-pura lupa.
"Ogah. Amnesia ndas mu."
Sheen terkekeh, "Ajarin aja sana ke depan. Dapet pahala ngajarin orang lain tuh. Berbagi ilmu, jadi goodboy lah, Aang." Paksanya.
"CK! Iya-iya, gue ajarin. Puas?"
"Puas dong."
Akhirnya setelah dipaksa Angkasa mau berjalan ke depan kelas guna mengajari cara menjawab soal di depan begitupun dengan jawabannya. Beberapa kali ada siswa yang bertanya dan Angkasa tetap menjawabnya walau mukanya tetap datar.
Gadis cantik berhijab itu kini menyadari bahwa Angkasa ternyata memiliki hal baik dalam dirinya yang bukan hanya sebatas berandal yang dicap menakutkan oleh para siswa. Dan senyum Sheen tidak luntur sedikitpun bermaksud memberikan support pada pria yang mendadak jadi guru itu.
"Thank, Saka.."
"Makasih, bro."
"Jagoan lah anjir."
"Udah ganteng, pinter lagi. Udah masuk type suami idaman gue nih."
Kejauhan sih halunya.
__ADS_1
"Keren, Aang!" Puji Sheen tulus.
"Jangan panggil gue Aang, Bintang. Nama gue Angkasa. Saka. Bukan Aang si Avatar botak." Kesalnya sambil duduk di kursi.
"Kamu juga jangan panggil aku Bintang. Sheen. Nama aku Sheen, Aang."
"Loh? Bukan Shiva? Namaku Shiva." Canda Angkasa yang terkekeh geli akan ucapnya sendiri.
"Apaan banget bercandanya." Pada akhirnya Sheen tertawa akan kekonyolan Angkasa. Ternyata dia bisa bercanda juga.
"Gue ingetnya nama awal lo doang. Bintang. Ya udah panggil itu aja. Sheen mah buat orang lain aja." Ngeles pria itu menatap ke arah Sheen dengan lembut.
"Terserah deh. Bebal banget dibilangin." Pasrah Sheen yang akhirnya memilih untuk membiarkan pria itu memanggilnya… Bintang.
"Memang."
"Btw, kamu tau Avatar? Suka nonton kartun ya?" Ledek Sheen tertawa ringan.
"Adik gue suka nonton. Udah panggil Saka aja atau yang lain asal jangan Aang. Ganteng gini di samain sama si botak. Mana pendek lagi."
"Ribet."
"Pokoknya ganti."
"Iyaaa.. Bawel banget jadi cowok."
"Lo juga sama. Bawel banget jadi cewek."
...******...
Pelajaran pun telah usai dan terkhusus untuk hari jam pulang sekolah sedikit ngaret dari hari biasanya karena ada agenda Ekstrakurikuler yang harus diikuti setelah pelajaran terakhir usai.
Sheen mengambil ekskul melukis. Ia menyukai hobinya tersebut dan mengikuti ekskul yang diadakan oleh sekolah sebagai bentuk pengembangan akan hobinya.
Tugas untuk hari ini, ketua ekskul melukis meminta untuk melukis orang yang sedang beraktivitas. Entah bermain futsal, basket, bela diri, dan ekskul apapun itu.
Gadis cantik itu memilih untuk melukis cewek juga cowok yang sedang berlatih basket di lapangan. Mengapa Sheen memilih lapangan? Dia hanya ingin mencari udara segar siang ini dengan melukis di bawah pohon yang rindang.
Begitu sampai di lapangan, Sheen amat kaget bahwa ternyata orang yang sedang berlatih itu Vega Squad dan.....
Graz?!
Oh Sheen baru ingat! Graz adalah Ketua basket putri dan mungkin sedang berlatih dengan Ketua basket putra dan itu... Angkasa!
Ya sudah Sheen terpaksa harus gambar mereka berdua dengan anak-anak lain. Gadis itu mulai mengeluarkan alat menggambarnya terlebih dahulu sebelum nanti melukisnya.
Namun, begitu Sheen menggambar Graz terlihat sudah tidak di sana. Di sana hanya ada Vega Squad yang berlatih dan Graz bersama tim nya ternyata sedang menonton mereka.
Gambaran Sheen pun selesai dan gadis itu memasang canvasnya untuk segera di lukis. Beberapa goresan cat air mulai memenuhi kain putih itu. Hingga...
BRAAAKK!!
"Astagfirullahalazim!" Kaget Sheen yang sontak berdiri dari duduknya begitu ada bola basket mengenai canvas miliknya.
Kepekaan Sheen memang patut diacungi jempol juga kegesitan dalam bergerak membuat pelaku yang melempar bola itu terkejut melihat gerakan gesit gadis cantik itu.
Secepatnya ia ambil canvas miliknya dan di simpan di belakangnya. Syukur saja tidak kotor karena jatuhnya tidak terbalik.
Mata tajam itu terangkat untuk melihat siapa pelaku yang membuat karyanya hampir hancur dan sialnya adalah...
Angkasa!
Pria itu ternyata sedang mencari gara-gara dengannya terlibat wajahnya yang tersenyum mengejek. Padahal sejak di kelas tadi sikapnya baik terhadap dirinya namun ternyata...
Bunglon!
Berubah-ubah terus.
"Kamu ngapain sih?!" Teriak Sheen marah. Tangannya bahkan terkepal. Ia sangat marah jika sampai mahakaryanya rusak.
"Gak ngapa-ngapain sih. Cuma iseng aja." Jawab Angkasa santai.
Berusaha sabar agar mulutnya tidak mengucapkan kata-kata kasar. Empat orang di belakang Angkasa menatap Sheen menyesal. Mereka mengucapkan minta maaf dengan mulut tanpa suara. Dan sedikit terhibur ketika Alan menggerakkan terlunjuknya di kening lalu di geserkan kanan kiri yang berarti...
Gila?!
Yap! Angkasa memang gila!
"Balikin bolanya sini." Perintah Angkasa.
"Saka, jangan gitu lah."
"Gue aja lah yang ambil. Bukannya lo minta maaf malah nyuruh dia balikin itu bola basket."
"Biarin. Biar dia lempar ke sini." Jawab Angkasa dingin. Bahkan tangannya terkepal kuat?
Marah?
Saka marah kenapa? Moodnya tiba-tiba berubah. Tadi di kelas keliatan banget nempel sama Sheen tapi sekarang malah marah dan ngerjain dia. Aneh! Bathin Daniel bingung.
"Cepet lempar, lelet!"
Sabar, Sheen.
"Ambil sendiri!" Teriak Sheen marah. Dan...
MASUK!
GOLLL!!
Bola basket itu masuk Ring!
Hell! Jarak Sheen berada di luar lapangan dan gadis itu melemparkan bolanya hanya dengan satu tangan... bahkan tangan kiri?!
Semua di sana sontak terbengong dan syok melihat atraksi yang luar biasa dari Sheen. Angkasa pun hanya terdiam, berusaha mencerna apa yang ia liat.
"ANJIRRR WOY! BOLANYA MASUK!"
"ANJING! GOL DARI JARAK SEJAUH ITU!"
"GUE GAK SALAH LIAT KAN?!"
"FU**CK! SHEEN JAGOAN, ANJAY!!"
Semua itu jelas terekam dalam penglihatan Graz. Tangannya terkepal kuat melihat cowok idamannya terkesima dengan pesona Sheen bahkan gadis itu bisa melakukan gol dari jarak sejauh itu. Ia sebagai ketua basket saja tidak bisa. Bahkan Angkasa sekalipun pastinya tidak.
"Sial! Lo itu sebenarnya siapa, Sheen?"
...******...
Selesai latihan, Angkasa memilih untuk ke toilet untuk mengganti baju latihannya. Ia basuh wajahnya di wastafel lalu menatap wajahnya yang terpantul di cermin.
Rasa kesal dan amarah itu masih belum hilang dan rasanya Angkasa ingin sekali memukul sesuatu guna melampiaskan amarahnya.
"Jangan melukis orang selain gue, Bintang!"
"Argh! Sial!"
.
.
.
Kayaknya cerita author gak seru ya (╥﹏╥)
Jangan lupa di support Author nya ya dengan Like, koment yang baik. Masukin favoritnya juga ya cantik.. Di kasih vote juga hadiah lebih bagus. Terima kasih (◍•ᴗ•◍)❤
Sedang butuh dukungan para pembaca setia 🙏
__ADS_1