Bintang Milik Angkasa

Bintang Milik Angkasa
BAB 5 : OBSESI


__ADS_3

"Argh! Kenapa masih kepikiran aja sih?!" Teriak Angkasa mengacak-acak rambutnya marah.


Pikirannya mengenai Sheen yang melukis orang lain tepat di depannya dengan senyum bahagia membuat pria itu kepalang kesal. Bahkan saat sampai di Mansion pun amarahnya belum juga bisa menghilang.


Bruk!


Ia melompat tidur di kasur masih dengan seragamnya sambil memijit keningnya yang mulai pening akan sikapnya sendiri.


"Huft.. hari ini gue ngerasa bukan diri gue yang biasanya. Mana lebay banget anjir. Jijik kalau dipikirin sikap gue lebih jauhnya. Tubuh gue gak bisa di kontrol kalau berada di wilayah Bintang. Kagak ada cool cool nya lagi gue sebagai cowok." Gerutunya sambil menatap langit langit kamar.


Hingga iris tajam itu tertuju pada botol kristal yang sudah ada di meja nakas dekat kasur. Sebelum berangkat sekolah tadi, Angkasa meminta orang suruhannya untuk mengecek botol kristal itu ketika ingat kembali dengan perkataan Sheen.


"Kamu bakal malu kalau udah tau harga botol itu."


"Gue jadi kepo sama harganya." Kata Angkasa yang langsung mengeluarkan ponselnya dan mengetik angka di sana.


"Selamat sore, Tuan muda."


"Selamat sore juga, Mark. Tugas saya pagi tadi sudah kamu kerjakan?"


"Sudah, Tuan muda."


"Bagaimana hasilnya?"


"Botol itu tadi pagi sudah saya berikan pada ahlinya dan beliau mengeceknya. Sekarang sudah berada di kamar Tuan muda. Dan harga kristal itu mahal sekali. Melebihi 2 M."


Sontak Angkasa berdiri saling terkejutnya.


"What?! 2 M? Botol seperti itu?"


"Bener, Tuan. Kristal itu sangat langka di dunia maka karena itu harganya melebihi 2 M. Dan dalam Kristalnya terdapat sebuah pelacak."


Menarik.


"Pelacak?"


"Benar, Tuan. Pelacak handal dari seorang hacker. Ukurannya yang kecil sulit untuk ditemukan namun, beliau bersama timnya dapat menemukan pelacak itu."


"Baik. Terima kasih Mark atas bantuannya."


"Sama-sama, Tuan muda."


Tuth—


"Ahahahaha.. menarik. Sangat menarik." Tawa Angkasa mengerikan. Bibir sexynya mengeluarkan smirk yang berbeda.


Ternyata benar adanya bahwa harga botol itu melebihi harga 100 ribu a.k.a 2 Miliar. Apalagi ketika tau di dalamnya terdapat sebuah alat pelacak yang pasti gadis itu selalu mengawasinya.


Jelas! Botol mahal seperti itu harus di jaga ketat!


"Gue gak menyangka lo akan semenarik itu Bintang." Kagumnya seraya menatap tajam botol kaca itu yang memantulkan sinar mentari yang mulai tenggelam.


Sontak ekspresi nya berubah. Menjadi sosok yang berbeda dengan Angkasa si anak SMA. Bibirnya menyunggingkan senyum miring dengan iris mata yang bergejolak penuh ambisi. Tak sadar bahwa bola matanya semakin berwarna gelap.


Sh*it!


Obsesi dalam dirinya terpancing!


"Ahahahaha.."


Tangan kiri Angkasa menutup mata kanannya dengan tawa yang begitu berat dan basah. Jika ada wanita di sana, dipastikan ia tidak akan pernah mau melepaskan Angkasa barang sedikitpun.


Da**mn SH*It!


He is so hot ****!


"Obsesi gue bangkit setelah bertahun-tahun hanya karena bertemu Bintang. Pesonanya tidak main-main." Gumamnya dengan matanya yang semakin menajam.


Sekelebat bayangan mengenai lukisan tadi muncul membuat senyum sinisnya total menghilang. Bersisa tatapan menakutkan yang tak mau miliknya diusik.


"Gue bakal terus usik teritori milik lo sampai lo melemparkan diri lo sendiri. Dengan begitu gue mudah buat narik lo untuk jadi milik gue..."


"Seutuhnya."


Tok.. Tok.. Tok..


"Sial! Menggangu saja." Kesal Angkasa yang mau tak mau bangkit untuk membuka pintu dengan perasaan dongkol karena mengganggu dirinya yang sedang dilingkupi kebahagiaan dunia miliknya.


Pintu pun dibuka dan terlihat pria paruh baya masih menggunakan jas hitamnya berdiri menatap sorot mata Angkasa.


Yang terlihat berbeda.


"Kenapa?"


Tn. Darius, Daddy Angkasa mengenali suara yang berbeda beserta tatapan dingin dan tajam putranya yang berdiri di hadapannya. Namun, dirinya tidak terkejut karena semua ini pasti akan kembali terjadi. Ketika obsesi anaknya bangkit dan itu harus terus dikendalikan agar tidak semakin menggila dan berbahaya.


Smirk tampan muncul dari sang Daddy. Ia tahu bahwa obsesi yang dimiliki Angkasa adalah salah satu yang menurun dari dirinya. Dan sejauh ini ia bisa mengendalikannya karena orang yang membuat Tn. Darius obsesi kini sudah menjadi istrinya. Hanya itu cara kontrol terbaik. Menjadikan miliknya. Selamanya.


"Bangkit lagi?"


"Hm." Dehem Angkasa mengiyakan.


"Bagaimana bisa?"


"Daddy tidak perlu tahu. Yang pasti dia milik aku."


Sang Daddy pun hanya dapat mengangguk pasrah dan mendoakan wanita tersebut agar baik-baik saja karena membangkitkan sisi obsesi gila putranya.


"Ya sudah. Kamu ganti baju lalu kita akan makan bersama. Segeralah minta maaf kepada Mommy mu. Dia terus bersedih karena kamu terus mengacuhkannya." Pesannya yang langsung pergi meninggalkan kamar Angkasa.


"Iya."


Rasa bersalah mulai menggerogoti hati Angkasa. Teringat penyesalan yang dilakukan oleh dirinya sehingga membuat wanita yang dicintainya bersedih dan merasa gagal mendidiknya. Seharusnya Angkasa meminta maaf bukan malah kabur menghindari sang Mommy agar kembali tidak melakukan kesalahan.


Setelah wangi karena mandi, Angkasa pun menuruni tangga dan berjalan ke meja makan. Di sana sudah ada berbagai makanan dihidangkan. Terlihat lezat untuk perut Angkasa yang kelaparan.


"Ayo sayang, kita makan." Ajak Mommy dengan suara yang lembut.


"Hm."


Mendengar jawaban cuek dari sang anak membuat sudut hatinya berdenyut nyeri. Namun, ia harus bertahan dan memberikan senyuman yang terbaik.

__ADS_1


"Jangan cuek-cuek, son." Peringat sang kepala keluarga tak suka istri tercintanya di cuekin.


"Ck! Iya!"


"Mommy ambilin ya makanannya." Suara Mommy yang tulus membuat Angkasa tak kuasa menolak berakhir mengangguk memberi izin.


"Makasih, mom."


Hati sang Mommy tersentuh dengan mata yang mulai berkaca-kaca penuh hari. Akhirnya.. Akhirnya anaknya kembali padanya. Tidak mengacuhkan dirinya lagi. Ia sangat bersyukur.


"Sama-sama, sayang."


Di sana Angkasa tersenyum tipis. Terlihat sendu penuh penyesalan, "Maafin Saka mom atas sikap cuek yang kemarin-kemarin. Saka cuma takut nyakitin hati Mommy karena sikap berandal Saka. Saka minta maaf." Sesalnya.


"Sayang.. Mommy itu sayang sama Saka. Mommy juga mengerti kebebasan yang biasa dilakukan para remaja diusianya. Mommy cuma takut, takut kamu dicap jelek dan harus menanggung luka atas sikap kamu sendiri. Mommy gak mau anak sulung kesayangan Mommy ini luka. Mommy gak mau."


"Iya, mom. Saka minta maaf. Ke depannya Saka bakal bersikap lebih baik lagi. Biar gak bikin Mommy kecewa."


"Pasti. Pasti Mommy maafin Saka, sayang."


Dikarenakan kursi yang bersebrangan, sulit untuk keduanya berpelukan sehingga pelukannya dipending saja setelah makan.


"Nah gitu, baikan. Sekarang Daddy bisa makan dengan tenang. Yuk dimulai makan malamnya." Lega Daddy Darius tersenyum hangat.


"Sega, Daisy dimana, Dad?" Tanya Saka heran tak melihat adik kembarnya.


"Mereka menginap di rumah temannya dan besok baru pulang." Jawab sang Mommy.


Angkasa mengangguk mengerti dan mulai makan. Beberapa kali terdapat percakapan di dalamnya. Hingga sebuah pertanyaan membuat suapan sendok milik Angkasa terhenti.


"Itu kotak bekal siapa?" Tanya sang Daddy menunjuk kotak bekal hitam di meja makan. Memang rencananya setelah makan, Angkasa akan mencucinya.


"Punya temen."


"Temen apa temen, hm?" Goda Mommy tersenyum penuh arti. Angkasa hanya terkekeh pelan.


"Oh, bukan temen."


Ralat Angkasa dengan mimik wajah yang mulai berubah. Iris matanya menggelap dengan smirk mengerikan. Daddy juga Mommy langsung menyadarinya kembali. Angkasa yang berbeda.


"Terus? Punya siapa?"


"Have mine."


Deg!


...******...


Selepas pulang sekolah, Sheen langsung bergegas mandi membersihkan badannya yang lengket. Tak mempedulikan perutnya yang mulai lapar.


Gemericik air pun berhenti bertanda si empunya sudah selesai dengan rutinitas mandi sorenya. Sheen pun keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Piyama hitam telah melekat di tubuh sexy itu dan perutnya semakin terdengar bunyi kelaparan. Namun, gadis itu malah duduk di sofa sambil menyalakan TV di kamarnya.


Lintang M menjadi sorotan karena keserasiannya dengan Irene Kharisma.


Moment romantis Lintang M & Irene Kharisma.


Channel tv diganti oleh Sheen dengan iris mata yang berputar malas. Ada ada saja gosip jaman sekarang. Foto seperti itu saja menjadi sebuah berita yang harus diketahui orang lain. Mana ada tuh keserasiannya. Jauh! Kayak Bumi sama Langit.


"Ada-ada aja. Cuma hal gini doang sampai di beritain. Bikin sakit mata aja." Kesal Sheen melempar bantal ke arah TV. Untung saja TV nya tidak sampai jatuh.


Bukan kesal saja, tapi...


Sheen cemburu.


"Aku ajak sparing yang buat beritanya. Serasi serasi apaan? Noh yang ada si Irene itu genit banget sama—"


"Assalamualaikum. Kakak pulang, sayang." Salam seseorang membuka pintu kamar Sheen.


Pria tampan dengan tinggi 180 itu berdiri di ambang pintu seraya tersenyum lembut walau terlihat garis hitam di bawah matanya. 2 hari tidak bertemu dengannya, Sheen merasa rambut sang kakak sedikit memanjang.


"Waalaikumsalam. Kak Ar!"


Sheen langsung berdiri dan melompat meminta sebuah pelukan. Syukur saja pria tampan yang dipanggil Kak Ar itu dapat menahannya dan memeluk adik tercintanya dengan sangat erat.


"Kak Ar... hiks.. kangen.."


"Miss you too, sayang." Balas Ar mengelus lembut punggung Sheen yang bergetar karena nangis.


"Jangan pergi lagi. Kak Ar gak boleh ninggalin Bina lagi di rumah. Gak boleh.. hiks.." Rengek Sheen menenggelamkan kepalanya di bahu Ar.


"Iya, sayang. Kak Ar akan terus usahakan untuk memiliki banyak waktu buat Bina. Maaf selama ini Kak Ar sering ninggalin Bina sendirian di sini."


Sheen semakin menangis histeris, "Hiks I-Iya! Kak Ar jahat! Ninggalin Bina sendirian di rumah kayak Ayah sama Mama."


"Kak Ar tega ninggalin Bina cuma buat romantis - romantisan sama Irene jelek itu."


Tertebak?


Yap, Kak Ar tampan yang kini memeluknya adalah pria hangat yang sedang dibicarakan oleh banyak media seperti di TV barusan.


Arslan Lintang Mahardika.


Yang lebih memilih dikenal dengan nama keduanya. Nama Arslan ia khususkan hanya untuk orang yang ia sayangi saja termasuk Sheen adik cantik Sholehah tercintanya.


"Astagfirullah, siapa yang romantis - romantisan sih, sayang? Kak Ar cuma kerja gak lebih. Irene bukan type kakak, sayang.."


Barulah Sheen mengangkat kepalanya menatap mata tajam Ar. Hidung merah Sheen terlihat sangat menggemaskan di matanya dan..


Cup!


"Udahan dong nangisnya."


"Habisnya kesel. Mana ada Kak Ar serasi sama Irene. Bajunya aja seksi kelihatan aurat kayak gitu." Omelan Sheen ternyata masih belum habis.


"Iya-iya, sayang."


Ar pun berjalan ke arah sofa dan mendudukkan bokongnya di sana. Membiarkan adiknya duduk di pangkuannya dengan nyaman.


"Memangnya type perempuan Kak Ar seperti apa?" Tanya Sheen tiba-tiba kepo.

__ADS_1


"Seperti Bina."


Cup!


"Seperti Bina?" Tanya Sheen menunjuk dirinya sendiri yang diangguki oleh pria di depannya.


"Maksudnya gimana?"


"Ya seperti Bina. Yang menjaga dirinya dari lawan jenis, tidak menye-menye, menjaga auratnya, Sholehah, sering mengaji dan yang pasti hubungannya dengan Allah dekat. Juga jago bela diri. Entah kenapa kakak lebih suka yang sedikit tomboy daripada feminim, namun tetap menjaga pakaiannya agar tidak seperti laki-laki."


Penjelasan Ar membuat Sheen menatap matanya tajam penuh intimidasi.


"Kalau orangnya galak? Galak sama cowok dan dingin cuek kayak gitu?"


"Galak yang jatuhnya lucu itu type kakak. Bagus banget kalau dia dingin, cuek, juga galak sama cowok. Dan kakak bakal pilih dia kalau dia gak kenal sama kakak." Pernyataan itu membuat Sheen bingung.


"Maksud gak kenal kakak?"


"Jadi, kita berdua nanti bisa saling dekat tanpa alasan kakak seorang artis. Kalaupun dia tau kakak artis tapi tetap cuek, kakak pun pasti bakal pilih dia." Papar Ar semakin membuat Sheen mengerti.


Mengerti akan pembicaraan ini yang membawa ingatannya pada sosok sahabatnya.


Jeshna.


Semua yang dijelaskan oleh Ar adalah pribadi yang dimiliki oleh Jeshna. Luar dan dalam diri Jeshna sama persis dengan type Ar.


Apa mereka berdua dijodohkan sama Allah ya lewat Sheen sebagai sahabatnya?


Mungkin.


"Kak! Kak Ar gak boleh cari cewek lain."


"Kenapa?"


"Sahabat Bina persis seperti type yang Kak Ar jelaskan barusan." Jawabnya dengan semangat.


"Hah? Beneran?"


"Iya. Namanya Jeshna, dia sahabat aku. Hampir sama sikapnya kayak aku cuma dia lebih judes dan galak. Dia juga jago bela diri di ekskul sekolah."


"Yang namanya Jeshna itu tau kakak sebagai artis?"


"Eum.. sepertinya tau sih, karena Sena sahabat aku juga pernah sempat bahas kakak pas masuk TV. Cuma dia cuek aja dan malah ngalahin topik. Mana bete banget lagi mukanya setiap bahas cowok." Kekeh Sheen merasa lucu.


Senyum di wajah Ar terbit. Membuat wajah itu semakin bercahaya dan semakin tampan. Membuat adem bagi yang melihatnya. Sheen ikut tersenyum dan memeluk Ar erat. Menempelkan kepalanya pada dada Ar sekaligus menghirup rakus wangi tubuhnya.


Deg! Deg! Deg!


"IH KAK AR DETAK JANTUNG CEPET BANGET SAMPAI KEDENGARAN SAMA BINA!" Teriak Sheen dengan wajah tak percaya. Menjauhkan wajahnya untuk menatap wajah sang kakak yang ternyata..


Memerah.


Ar blushing!


"Cie.. Kak Ar blushing ya karena tau ada temen Bina yang sama persis type nya Kak Ar?" Goda gadis itu mencolek pipi sang kakak jail.


Saking malu dan tak bisa mengendalikan wajah blusingnya, Ar memilih untuk menutup wajahnya dengan tangan.


"Kakaknya jangan di godain dong, adek."


Wajah bahagia Sheen berganti menjadi kesal mendengar sang kakak memanggil dirinya adek. Gadis itu benci jika dipanggil adek. Mengapa? Karena Sheen gak mau menjadi semakin manja dan bergantung pada kakaknya. Itu sangat tidak baik mengingat sang kakak yang memiliki pekerjaan yang padat dan selalu sibuk.


"Dih, apaan panggil adek adek. Bina aja ih."


"Memang kenapa sih kalau dipanggil adek? Bina kan memang adeknya Kak Ar?" Tanya Ar yang selalu penasaran, mengapa Sheen begitu benci dengan panggilan adek.


Kepala cantik itu menunduk dan bersembunyi di dada Kak Ar, "Aku cuma takut."


"Takut kenapa? Coba bilang sama kakak."


Diusapnya rambut panjang Sheen oleh ibu jari Ar, "Aku takut. Takut kalau dipanggil adek sama Kak Ar, akunya malah jadi manja dan pingin terus selalu bareng Kak Ar. Terus bakal jadi penghambat Kak Ar buat kerja yang nantinya bakal benci sama aku. Aku gak mau." Jelas Sheen parau.


Ar jelas terkejut mendengarnya. Ia tak menyangka adiknya sampai berpikir seperti itu hanya karena panggilan adek. Hatinya sakit melihat Sheen ternyata kesepian karena di rumah seorang diri. Walau gadis itu sangat jarang menelpon dirinya dengan alasan tak mau mengganggu. Padahal Ar senang jika ia terus diganggu oleh adiknya. Bukan nanti nya malah jadi benci.


"Adek sayang. Dengerin kakak."


Duk!


"Jangan panggil hiks.. adek." Isak Sheen memukul dada Ar pelan.


"Adek.. Adek.. Adek.."


Dengan sengaja Ar malah terus memanggil gadis cantik dipelukannya dengan senyum yang sangat lembut. Ia usap rambut Sheen agar kembali tenang.


"Gak boleh.. gitu..."


"Dengerin kakak ya. Kak Ar gak merasa terganggu dengan tingkah manja adek. Mau manja, gangguin kakak kerja, telepon kakak terus juga gak papa. Kakak gak bakal marah atau bahkan benci sama adek. Itu gak akan pernah terjadi. Bahkan kalau adek pingin kakak segera pulang maka Kak Ar akan segera pulang nemenin adek di sini. Adek segalanya dibanding pekerjaan kakak. Jangan berpikir seperti itu lagi ya, sayang."


Cup! Cup!


Kening Sheen dikecup lagi dengan lembut dan anggukan kepala terasa di dada Ar bertanda sang adek sudah setuju jika sekarang mulai dipanggil adek dan boleh selalu menjadi pengganggu dihidupnya. Itu akan sangat bahagia dan pastinya menyenangkan!


Keheningan melanda hingga perkataan Ar membuat Sheen terkekeh geli karena merasa lucu.


"Adek."


"Eung?"


"Kapan-kapan bawa sahabat adek ke sini ya. Kakak ingin bertemu dengannya."


Cie...


.


.


.


Jangan lupa di support Author nya ya dengan Like, koment yang baik. Masukin favoritnya juga ya cantik.. Di kasih vote juga hadiah lebih bagus. Terima kasih (◍•ᴗ•◍)❤


Makasih juga buat pembaca yang tetap nungguin author update setiap hari. Semoga sehat selalu!

__ADS_1


__ADS_2