Biru Di Antara Dua Hati

Biru Di Antara Dua Hati
Jodoh yang tak diinginkan


__ADS_3

“bunda tumben malam ini masak banyak sekali, emangnya ada tamu yang mau datang..?”


“ada nak, tamu istimewa untukmu, jadinya bunda memasak lebih malam ini"


“tamu istimewa untuk syahna?" Syahna menunjuk dirinya sendiri sambil mengingat apakah ia ada mengundang sahabatnya untuk makan malam di rumah.


"kok syahna merasa gak ada undang teman untuk makan malam di rumah ya bun” Menyadari kebingungan Syahna bu Annisa hanya tersenyum lembut, karena memang selama ini tamu istimewa Syahna hanyalah para sahabatnya dan senja.


Bu Annisa lalu menyuruh syahna untuk bersiap-siap serta mengganti pakaiannya. Lagipula tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan semuanya. karena sebentar lagi tamu yang ditunggu tiba. Syahna hanya mengiyakan perintah ibunya tanpa berani untuk bertanya lebih jauh lagi.


Orangtua syahna saat ini sudah berada di dalam ruang keluarga bersama tamu istimewa yang dibahas bunda dan syahna saat menyusun makanan.


langkah kaki syahna tiba-tiba terasa berat untuk menuju ruang keluarga, entah mengapa dia merasa akan ada hal yang mengubah hidupnya. Tapi tetap saja dia harus melangkahkan kaki ke sana karena perintah orangtuanya.


Sesampainya di tangga terakhir menuju ruang keluarga langkah kaki syahna terhenti, kakinya terasa kaku untuk digerakkan, isi kepalanya sudah mulai  memahami apa maksud tamu istimewa untuknya. 


Syahna bukan anak kecil yang tidak memahami tentang situasi ini. Syahna paham betul bahwa ini merupakan acara perjodohan dirinya. “Tapi kenapa harus dengan laki-laki itu” bisik syahna yang hanya didengar oleh angin. 


“kenapa berhenti di situ sayang, ke sini nak ada yang mau ayah kenalkan padamu” syahna melangkahkan kakinya untuk mendekat ke tempat ayah dan keluarga laki-laki itu berada.


Peribahasa ‘bumi tidak selebar daun kelor’ itu sepertinya benar menurut syahna, baru tadi sore syahna tak sengaja bertemu dengan laki-laki itu saat di lorong kampus, malam ini malah bertemu lagi di rumahnya dan yang lebih mengejutkan lagi laki-laki itu pula lah yang disebut ibunya tamu istimewa untuknya,  lelaki bermata tajam dan dingin.


“kenapa harus dia, bagaimana ini” syahna dilema dalam diamnya. Ibunya berpesan bahwa ayahnya menaruh harapan besar agar dirinya menerima perjodohan ini dan itu membuat dirinya bingung. “semoga dia menolak perjodohan ini” batinnya.


Syahna membeku saat matanya tidak sengaja menatap mata lelaki itu, syahna tahu betul bahwa laki-laki itu tidak nyaman dengan perjodohan ini. Secercah harapan perjodohan akan batal membuat hatinya lega.


'mengapa dia hanya diam mendengar perjodohan ini' pikir syahna saat menyadari bahwa lelaki itu tak bereaksi sedikit pun. 


'kenapa kak Biru tidak menolak, tolong dong kak jangan menerima perjodohan kita' lanjut syahna dalam hatinya.


Syahna tidak tahu mengapa lelaki itu hanya diam sementara dia tidak nyaman dengan obrolan para orangtua. Lama syahna menunggu kata penolakan dari Biru, tapi sepertinya semua sia-sia. Sementara doa tetap terlantun dalam hatinya agar Biru menolak ini semua.

__ADS_1


Syahna tidak bisa mengatakan bahwa dirinya menolak perjodohan ini. Syahna sangat menyayangi ayahnya sedikit pun dia tidak ingin membayangkan wajah kecewa ayahnya bila harapan itu tak dikabulkannya.


“bagaimana menurut kamu sayang?” belaian tangan sang bunda menyadarkan syahna dari lamunannya. 


“Om Mahendra menunggu jawaban kamu sayang” lanjut sang bunda.


Perlahan syahna mengangkat wajahnya dan memandang setiap orang yang hadir dalam acara itu. Mata syahna terhenti lama saat memandang wajah penuh kasih sang ayah, Dengan suara bergetar akhirnya syahna berhasil mengatakan hal yang tidak diinginkannya.


“syahna ikut ayah dan bunda saja, karena ayah dan bunda lebih tahu apa yang terbaik untuk syahna” terasa berat bibir syahna saat mengatakan itu, lalu syahna tersenyum lembut saat menatap sang ayah yang menatapnya dengan penuh harap. Melihat sang ayah yang berharap agar dirinya menerima perjodohan ini ia bisa apa. Dirinya begitu menyayanginya. 


“Nah nak Biru setuju kan dengan perjodohan ini?” kini giliran ayah syahna yang bertanya pada lelaki itu.


Lelaki itu bernama ‘Sabiru Langit Mahendra Permana’ mahasiswa tingkat lima di kampus Syahna. Mahasiswa pindahan dari salah satu kampus favorit yang berada di daerah tempat Syahna tinggal. Biru merupakan Idola Kampus yang diincar para mahasiswi di sana.


Dianugerahi paras yang tampan, ekonomi yang mendukung, serta dilengkapi dengan kepintaran yang berada di atas rata-rata membuatnya menjadi pria most wanted yang tidak boleh terlewatkan. Biru sangat dingin pada makhluk yang bernama perempuan.


Bagi biru perempuan itu makhluk agresif, apalagi tatapan memuja mereka yang seolah-olah ingin memakannya langsung membuat alarm bahaya dalam kepalanya berbunyi. Biru bukan tipe casanova seperti kebanyakan laki-laki dengan predikat pria most wanted. Biru sangat menghargai wanita seperti dia sangat menghargai mamanya walaupun sikapnya dingin pada wanita.


“biru setuju om, karena biru juga yakin papa dan mama tahu yang terbaik untuk Biru”. Biru menghirup nafas dalam-dalam saat menjawab pertanyaan orangtua syahna. Terdengar berat suara Biru Saat mengatakan itu dan hal itu berhasil membuat Syahna meringis mendengarnya.


Bagi syahna jawaban biru itu seperti jarum yang menusuk hati. Ucapan biru benar-benar tidak sesuai dengan ekspresi wajahnya. Syahna tidak tahu apa yang dipikirkan biru dan akan seperti apa kelanjutan perjodohan mereka.


Syahna hanya tahu bila dirinya belum siap menjadi Duri dalam hubungan Biru dan Alissa, tapi apakah syahna sanggup mengecewakan ayahnya. 


... ***...


Acara perjodohan syahna dan biru sudah selesai beberapa jam yang lalu tetapi perasaan tak menentu tentang perjodohan itu masih melekat dalam pikiran syahna.


Sulit rasanya memejamkan mata apabila hati dipenuhi rasa gundah. Hal yang sama juga terjadi pada biru. Apa yang harus mereka lakukan agar perjodohan ini tidak berlanjut. 


Suara pesan masuk  menyadarkan biru dari lamunannya, ia pun membaca pesan dari sang pujaan hati. “Malam honey, bagaimana acara ulangtahun di rumah Tante, lancarkan?” seulas senyum terbingkai manis di wajah biru, tapi tidak lama setelah itu wajah muram langsung menghiasinya.

__ADS_1


Biru merasa dunia tidak adil padanya dan Alissa. Mengapa ketika hati sudah menemukan tempat ternyamanya, takdir seakan tidak rela menyatukannya. Biru dan Alissa bukan pasangan yang baru menjalin kasih selama sebulan atau dua bulan.


Rajutan asmara antara Biru dan Alissa sudah bertahun-tahun lamanya, karena mereka memulai kisah kasih mereka saat duduk di bangku akhir Sekolah Menengah Atas. kenapa dunia seakan tidak merestui mereka saat ini itulah yang ada dalam benak Biru. Biru sangat tidak memahami permainan takdir yang saat ini ia jalani.


Selama ini biru sudah berusaha untuk menolak perjodohan ini. Berulangkali biru sampaikan pada orangtuanya bahwa dirinya sudah menemukan tempat ternyaman untuk teman masa tuanya nanti. Tapi yang terjadi orangtuanya menolak untuk memahami itu. Biru sendiri bingung harus melakukan cara apa lagi agar kedua orangtuanya mengerti karena semakin biru berusaha, maka kedua orangtuanya  semakin tidak mau tahu dengan semua itu. 


“Alissa aku sangat mencintaimu, aku ingin menua bersamamu” kata itu yang selalu ada oleh biru hingga ia lelah dan tertidur lelap.


 


Di tempat lain syahna bingung harus bersikap seperti apa jika nanti dirinya bertemu dengan Biru. Syahna tahu betul biru tidak menginginkan perjodohan ini, tapi dirinya juga tidak bisa berbuat apa-apa. 


Syahna akui biru merupakan lelaki tipe idealnya. Lelaki yang setia dan sayang pada pasangannya walau terlihat dingin dengan perempuan.


Syahna sangat mengenal kekasih biru. Alissa adalah kakak tingkat syahna yang menjadi primadona kampus karena kecantikan dan kepintarannya. Tapi bukan berarti dirinya tidak cantik apalagi pintar.


Syahna sama dengan Alissa, yang membedakan hanya penampilan mereka. Bila penampilan syahna sederhana, maka Alissa sebaliknya karena Alissa sangat mengikuti trend zaman. 


Biru merupakan mahasiswa baru yang diidolakan para kaum hawa di kampus. Lelaki berwajah dingin yang hanya tersenyum bila ada Alissa di sampingnya.


Syahna tidak mau menjadi orang ketiga dari hubungan Biru dan Alissa, tapi syahna juga tidak bisa membuat ayahnya bersedih dengan menolak perjodohan ini. 


“ya Allah, aku percaya engkau mengetahui apa yang hamba tidak ketahui, mungkin seperti inilah jalan yang harus ku lalui dan semoga tidak ada hati yang tersakiti dengan semua ini” doanya dalam hati hingga dirinya tertidur lelap.


 


 


“Menikah dengan orang yang dicintai adalah impian semua orang, tetapi restu dan ridho orangtua yang utama serta takdir Allah yang paling indah”


 

__ADS_1


__ADS_2