Biru Di Antara Dua Hati

Biru Di Antara Dua Hati
Dinner yang emosional


__ADS_3

Dua Minggu telah berlalu semenjak perjodohan itu, orangtua syahna dan biru merasa tidak ada kedekatan diantara mereka. Malam ini mereka berencana untuk mendekatkan keduanya.


Restoran mewah dan romantis telah dipesan orangtua biru atas nama biru, kini saatnya putra mereka menjemput putri sahabatnya. Para orang tua sudah sepakat merencanakan dinner romantis untuk mereka dan berharap akan berjalan lancar.


Meminta biru untuk mengajak syahna dinner romantis berdua sangatlah sulit. Ada saja alasan biru untuk menolaknya dan bukan pak Mahendra namanya jika tidak berhasil membujuk biru. Dengan berbagai macam petuah yang dibumbui ancaman berhasil membuat “Sabiru Langit Mahendra Permana” bangkit dari tempat tidurnya.


Di tempat lain terjadi hal yang sama terhadap syahna. Tetapi membujuk syahna tidak sesulit membujuk biru karena syahna anak yang sangat patuh kepada kedua orangtuanya.


Syahna sudah selesai merias dirinya. Dirinya memakai dress berwana putih di bawah lutut dengan flat shoes berwarna beige ditambah aksesoris anting kristal sederhana yang terlihat chic. Tidak lupa Sling Bag berwarna beige untuk menyempurnakan penampilannya.


Penampilan Syahna memancarkan aura yang fresh dengan kesan cantik dan anggun. Syahna menyukai kesederhanaan dan tidak suka berpenampilan terbuka.


Tepat jam tujuh malam biru sampai di rumah syahna. Biru memakai kaos polo hitam dipadukan dengan jeans hitam tidak lupa sepatu sneaker dan jam tangan untuk melengkapi penampilannya. Tidak ada sedikitpun niat dihatinya untuk berpenampilan lebih dihadapan syahna.


“kalau bukan karena ancaman papa, mana mungkin aku ada disini” gerutu biru yang merasa kesal dengan perintah papanya.


“kapan sih papa dan mama bisa ngertiin perasaan biru, hanya Alissa just Alissa. Lanjutnya memaksa.


Sesampainya Biru dihalaman rumah keluarga syahna. Biru hanya terdiam memandangi rumah itu. Sangat berat bagi biru melangkahkan kakinya lagi kerumah yang mengubah hidupnya itu.


Sekitar sepuluh menit biru hanya duduk di jok mobilnya. Enggan rasa biru untuk melakukan ini semua.


Setelah Rasa kesal dihatinya berkurang, biru keluar dari dalam mobilnya dan berjalan menuju rumah syahna.


Mendengar suara ketukan pintu, bunda syahna tersenyum senang, bu Annisa sudah bisa menebak siapa pelakunya.


“Assalamu’alaikum Tante” biru langsung menyalami tangan bu Annisa sebagai tanda bentuk hormatnya. Walau biru tidak suka dengan perjodohan ini, yang namanya orangtua tetaplah harus di hormati.


“wa’alaikumsalam, eh nak Biru sudah sampai” bu Annisa langsung mempersilakan Biru untuk masuk kedalam rumahnya.


“Wah... ada nak Biru, gimana kabarnya” ayah syahna tersenyum senang melihat calon menantunya menyambangi rumahnya.


“Alhamdulillah sehat om, om sendiri sehat juga kan?” tidak ada perasaan benci dihati Biru kepada orangtuanya maupun orangtua syahna. Dirinya hanya benci dengan keadaan dirinya yang tak mampu menolak perintah papanya.


Bu Annisa meninggalkan biru bersama suaminya diruang keluarga untuk memanggil syahna yang tidak kunjung keluar dari kamarnya.


“tante panggilin syahna dulu ya nak biru” Bu Annisa langsung bergegas pergi menuju tempat syahna. “semoga dengan dinner berdua malam ini mereka bisa semakin mendekatkan diri” ucapnya dalam hati.


Suara ketukan di pintu kamarnya, menyadarkan Syahna dari lamunannya.


“apa kak biru sudah sampai” bisiknya yang hanya bisa didengar oleh Angin.


Panggilan bu Annisa memaksa syahna untuk meninggalkan ruang kamarnya. “nak biru sudah sampai sayang” Bu Annisa membuka pintu kamarnya karena syahna tak kunjung keluar.


“Iya Bun” dengan berat hati dan mau tidak mau dirinya harus bertemu biru. Kejadian Minggu lalu saat di kantin masih terekam jelas dalam ingatannya.


“Ayo turun sayang, nak Biru di bawah lagi nungguin kamu” syahna hanya menganggukkan kepalanya . Setelah itu syahna mengikuti ibunya menuju ruang keluarga tempat dimana biru dan ayahnya berada.


“Nah itu syahna sudah siap nak biru” ayah syahna menunjuk kearah tangga dimana syahna dan bunda sedang bersama.


Untuk sesaat biru terkesima dengan penampilan syahna yang sederhana. “cantik” hanya itulah yang terlintas dalam pikirannya. Suara ayah syahna menyadarkan biru dari kekagumannya. Melihat reaksi biru ayah syahna tersenyum lembut.


“sepertinya rencana kita ini tidak sia-sia” batinnya. Pak Abimana akan memberitahu perihal ini pada sahabatnya.


“ayah kenapa senyum senyum gitu?” Bu Annisa geleng geleng kepala melihat kelakuan suaminya.


“sepertinya perjodohan ini akan berjalan lancar Bun”


“Aamiin..., Kita doakan yang terbaik saja untuk anak anak kita yah” Bu Annisa mengajak pak Abimana untuk minum teh diruang keluarga sambil menonton televisi.


...***...

__ADS_1


Biru dan syahna kini dalam perjalanan menuju restoran yang sudah di reservasi ayah biru. Sepanjang perjalanan hanya suara musik yang memecah keheningan diantara mereka berdua. Saat ini tidak ada niat dihati mereka untuk memulai pembicaraan agar suasana lebih mencairkan.


Waktu terasa berjalan lambat bagi biru. Restoran yang di reservasi hanya perlu menempuh waktu setengah jam dari rumah syahna tapi mengapa terasa seperti Berjam-jam.


Biru melirik kearah syahna yang tengah asyik menatap keluar jendela. Entah apa yang dipikirkannya pun biru tidak mau tahu.


Biru mematikan musik saat ponselnya berdering. Tertera nama “my angel” dalam layar dan tak butuh waktu lama untuknya menerima panggilan itu.


“honey please, aku kangen” suara Alissa terdengar manja ditelinga syahna. Bagaimana bisa syahna mendengarnya? Ya karena memang biru sengaja mengaktifkan loudspeaker ponsel agar Syahna mendengarnya.


“apa sih ini orang, meski kali yah di loudspeaker” batin syahna.


“kak biru pikir aku cemburu gitu” lanjutnya dalam hati. Syahna benar benar terganggu dengan kelakuan biru.


Berbeda dengan biru, ia terlihat menikmati apa yang ia lakukan saat ini. Tujuan Biru hanya satu, yaitu membuat Syahna mengerti bahwa sampai kapanpun Syahna tidak akan bisa menggantikan posisi Alissa dihatinya.


“sama honey tapi mau gimana lagi, mama minta anter ke rumah Tante” syahna memutar bola matanya mendengar jawaban biru.


“Mama palamu” batinnya dan langsung menutup mulutnya setelah mengatakan itu.


“Kan ada papa mertua honey” suara Alissa terdengar menggelikan di telinga syahna.


Melihat reaksi syahna yang seperti itu membuat Biru merasa terganggu. Dirinya yakin syahna sedang mengolok-olok nya saat ini.


"Papa lagi dinas di luar honey"


“yah... Jadi batal dong kencan kita malam ini”


“jadi dong honey, tapi telatan dikit gak papa yah..” rayu Biru.


Alissa tidak begitu kecewa dengan jawaban biru. Setidaknya biru berjanji tetap akan datang walau terlambat.


Setelah biru menyudahi panggilan, biru menghentikan mobilnya dipinggir jalan dan menatap tajam syahna.


“Maksud kakak?” syahna pura pura tidak tahu dengan maksud biru.


“Udah kamu jujur saja sama aku” Suara biru meninggi mendengar jawaban syahna.


“Beneran kak, syahna gak tahu yang kakak maksud itu apa” dalam hati syahna memohon ampun pada yang kuasa karena telah berbohong pada biru. Merasa syahna tidak akan menjawab pertanyaan biru pun melanjutkan perjalannya kembali.


Biru mengendarai mobilnya menuju restoran dengan kecepatan di atas rata-rata. Syahna mengurut dada karena takut.


“kak pelan pelan dikit bisa gak sih” cicit syahna. Saat ini syahna merasa akan terbang ke akhirat. melihat syahna yang ketakutan biru mengurangi kecepatannya. Syahna merasa bersyukur biru mengurangi kecepatan mobilnya.


“kak, kalau mau mati sendirian aja jangan ajak Syahna” biru melebarkan matanya saat mendengar ucapan Syahna.


“kamu itu lama-lama mulutnya kurang ajar yah”


“Kakak naik mobilnya kayak gitu”


“Kamu kira aku mau mati gitu” biru emosi sendiri mendengar jawaban syahna.


“iya kak mana tau kakak prustasi sama perjodohan ini, terus memutuskan untuk bunuh diri. ups... maaf kak keceplosan” Syahna menutup mulutnya dan hal itu berhasil menaikkan emosi biru.


Setelah berhasil menetralkan emosinya Biru melirik Syahna sebentar, setelah itu melajukan mobilnya dengan kecepatan normal.


...***...


Biru dan syahna kini berada dalam restoran itu. Suasana benar benar romantis untuk pasangan muda.


“apa apaan ini?” batin biru. Jika itu Alissa biru akan bahagia sekali. Tapi kenyataannya biru bersama gadis yang sangat ingin dihindarinya.

__ADS_1


Syahna yang pada dasarnya tidak pernah berpacaran, terbawa oleh suasana itu.


 “kenapa aku jadi baper gini” batin syahna.


Saat pramusaji menghidangkan makanannya syahna curi-curi pandang kearah biru. Biru terlihat sangat menarik dimata Syahna.


Mungkin ungkapan bahwa biru seperti dewa Yunani itu tidaklah berlebihan karena kenyataannya seperti itu adanya. Syahna menggeleng-gelengkan kepalanya saat menyadari apa yang dipikirkannya. Sementara Biru tidak menyadari itu semua karena sibuk membalas pesan Alissa.


Suara musik mulai terdengar syahna dan biru pun mulai memakan makanan yang dihidangkan. Kini hanya suara musik dan denting sendok yang terdengar.


Setelah selesai menikmati makanannya biru langsung membuka pembicaraan.


“kamu sudah dengar pernyataan ku tempo hari di kantin kan?”


“dengar kak” syahna menganggukkan kepalanya"


“aku pertegas di sini, bahwa tidak ada siapapun yang bisa menggantikan posisi Alissa di hatiku”


“Ya, Syahna tahu kak” walau terlihat santai, menanggapi ucapan biru, sebenarnya ada rasa yang tidak bisa syahna jelaskan.


“Baguslah kalau kamu ngerti, berarti aku tidak perlu berpanjang lebar menjelaskannya padamu” biru melanjutkan omongannya saat syahna hanya diam tertunduk.


“kenapa kakak menerima perjodohan ini?”syahna menatap wajah biru. Akhirnya pertanyaan ini keluar juga dari tenggorokannya.


“pertanyaan kamu juga pertanyaanku” jawab biru santai.


“kakak jawab pertanyaan aku dulu, kenapa kakak tidak menolak perjodohan ini bila aku tidak bisa menggantikan posisi kak Alissa” syahna tidak tahu kenapa bisa seemosional ini. Disini Syahna merasa biru telah menuduh dirinya meminta dijodohkan dengan biru.


“kenapa harus aku yang menolak, kamu juga bisa menolak jika tidak mau!” biru sangat pandai membalikkan omongan syahna.


“aku tidak mau mengecewakan ayah kak, ayah sangat berharap aku menerima perjodohan ini” ada setitik rasa iba dihati biru saat mengetahui bahwa keadaan syahna tidak jauh beda dengan dirinya. Tapi egonya lebih tinggi dibanding rasa ibanya.


“Jika kamu karena ayahmu maka aku juga karena papaku” biru memijit kepalanya yang tidak terasa pusing.


“Aku juga punya alasan, aku tidak mau dicoret dari ahli waris keluarga dengan embel-embel anak durhaka” biru melanjutkan ucapannya. Syahna memandang biru dengan perasaan Tak menentu.


Syahna merasa dirugikan saat ini. “Mengapa aku harus menderita sendiri” pikir Syahna dalam hatinya.


“Jadi akan seperti apa kelanjutan perjodohan kita kak”


“kita tetap lanjutkan, tapi bukan berarti aku harus mengakhiri hubungan dengan Alissa”


“Mengapa harus begitu?” suara Syahna meninggi saat mendengar jawaban biru.


“Karena aku tidak bisa kehilangan keduanya” ucap biru lugas.


“Enak sekali hidup kamu kak, aku gak mau tahu kamu harus batalkan perjodohan kita” Syahna emosi mendengar jawaban biru. Iya merasa seperti barang cadangan yang tidak berguna saat ini.


“dan kamu pikir aku mau?” jawab biru dengan tatapan mencemooh.


Sedikitpun biru tidak memikirkan perasaan syahna. Hal itu membuat syahna marah.


“seperti apa hidupku nanti” lanjut Syahna dalam hati.


kalau memang seperti itu, apakah dia sanggup melanjutkan perjodohan. Syahna sendiri tidak berani memutuskan perjodohan ini. Dia takut terluka terlalu dalam jika ini tidak segera diakhiri. Tapi bagaimana dengan janjinya pada ayahnya.


“Apa aku harus bersikap naif” Saat ini itulah yang dipikirkan syahna. “Apa mungkin cinta bisa hadir karena terbiasa?” Lanjutnya.


Syahna tidak pernah tahu bahwa biru tidak akan pernah membiarkan syahna membatalkan perjodohan ini. Perjodohan batal tercoret lah biru dari daftar ahli waris. Biru tetap akan melanjutkan perjodohan ini bagaimanapun caranya dan Alissa tetap menjadi pendampingnya.


Acara dinner mereka pun selesai dengan banyak emosi yang terluap. Biru merasa puas karena telah mendeklarasikan Alissa pada Syahna dan sudah mengantar syahna pulang kerumahnya.

__ADS_1


kini saatnya biru pergi menuju rumah Alissa Sementara syahna menangis pedih dalam kamarnya sembari memikirkan bagaimana cara untuk membatalkan perjodohan ini.


“jodoh tidak akan lari bila dikejar, tidak akan sembunyi bila dicari. Karena sejauh manapun dia pergi Allah pastikan dia kembali”


__ADS_2