Biru Di Antara Dua Hati

Biru Di Antara Dua Hati
Hatiku Miliknya


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu sejak kejadian perjodohan itu, baik syahna maupun biru tidak pernah saling berkomunikasi ataupun bertemu. Tidak ada sedikitpun niat dihati keduanya untuk mencoba mendekatkan diri.


Hari-hari berlalu terus seperti itu membuat kedua orangtua mereka perlu merencanakan sesuatu untuk mendekatkan mereka, entah apa yang kedua orangtua itu lakukan baik syahna maupun biru tidak mau pusing memikirkannya.


Hari ini kantin kampus tidak seramai biasanya jadi syahna dan kedua sahabatnya bisa leluasa mencari tempat duduk setelah mereka memesan makanan. Mata kuliah telah berakhir setengah jam yang lalu, kini saatnya mereka merilekskan pikiran dengan ditemani semangkuk bakso kantin dengan rasa yang fenomenal.


Beberapa hari ini syahna merasa beban hidupnya terasa berat apalagi ketika dia tidak sengaja berpapasan dengan biru yang jelas-jelas menunjukkan kebenciannya pada syahna.


Sebenarnya apa salah dirinya hingga biru menatapnya demikian. Lagipula perjodohan itu juga bukan permintaannya, jadi kenapa tatapan Biru seolah-olah menyatakan itu kemauannya.


“kalau dia enggak suka dengan perjodohan ini kenapa dia terima” omel syahna dalam hati.


“dasar aneh” celetuk syahna yang membuat atensi kedua sahabatnya menatap dirinya.


“apanya yang aneh na?” Dinda menatap ke segala penjuru arah kantin untuk mencari keanehan yang dimaksud syahna.


"Dosen kita Din, pak Ben" syahna merutuki dirinya yang tidak bisa menutupi rasa kesalnya pada Biru.


"Iya, masak kasih tugas yang gak selinier dengan matkul kita" sambung Sherli. Sementara syahna hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena telah membawa nama dosen dalam masalahnya.


“Eh gays, cowok angkuh titisan dewa Yunani lagi cari makan” Celetuk Sherli yang membuat atensi kedua sahabatnya mengarah pada lelaki itu.


“Wow banget sher Cha Eun woo mah lewat, iya kan na?” Dinda cekikikan saat dirinya membayangkan BIru dengan idolanya dari negeri ginseng berdiri bersisian sambil melambaikan tangan padanya. Syahna hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah absurd sahabatnya.


“cakep sih cakep tapi sayang dinginnya gak ketulungan euy... Tak tersentuh” syahna tersedak mendengar ucapan Sherli.


“Santai aja kali na, gak usah sampai batuk begitu dengernya” lanjut sherli sambil menaik turunkan alisnya.


“Gak boleh gitu sher ntar kedengaran orangnya berabe, apalagi sampai kedengaran gebetannya, beh... Habis kita kena omelannya seperti minggu lalu” Dinda menggeleng gelengkan kepalanya saat mengingat kejadian Minggu lalu.


“udahan ah gibahin orang gak baik, mending cepetan ini bakso kita abisin biar cepat pulang”


Syahna sudah terbiasa dengan segala tingkah aneh sahabatnya itu. bersahabat dari masa abu-abu membuat syahna faham betul dengan sifat dan sikap sahabatnya.

__ADS_1


Syahna menatap sendu kearah punggung Biru. Bayangan mimpi-mimpi yang pernah syahna impikan mulai bermunculan. Syahna bermimpi memiliki pendamping hidup yang menemaninya nanti sangat sayang dan peduli padanya. Tapi sepertinya mimpi itu sulit terwujud oleh keadaan. Karena semesta sepertinya menginginkan hal yang lain.


“na kamu kenapa?” sherli memegang pundak syahna saat dilihatnya syahna memandang arah depan dengan tatapan sendu. “beberapa hari ini kita perhatiin kamu gak kaya biasanya” lanjutnya.


Syahna tersenyum lembut melihat kedua sahabatnya yang sangat mengerti dirinya selama ini. Syahna hanya bisa menggelengkan kepalanya dan berkata bila dirinya tidak ada apa-apa, karena bingung dengan kegundahan hatinya.


"Gak papa sher, lagi gak enak badan aja akhir-akhir ini, jadi kelihatan kayak ada masalah kali yah..."


Sebenarnya Syahna ingin bercerita tentang perjodohan ini, tetapi ia malu karena notabennya ia menjadi orang ketiga dalam hubungan Biru dan Alissa walaupun itu semua bukan permintaannya.


"Istirahat na, jangan dipaksain kuliah kalau emang gak enak badan" ujar Dinda sambil mengusap punggung syahna.


"Siap tuan putri"


"Maafin syahna ya, untuk saat ini syahna belum siap cerita semuanya" lanjutnya dalam hati.


“lihat deh ngapain sih primadona kampus nempel terus sama kak biru” Sherli memandang tidak suka pada Alissa yang berada disamping biru dan hal itu membuat atensi syahna beralih kearah yang sherli tuju.


“gebetan nempel, wajar dong sher” lanjut syahna acuh.


“secara saingan kita cewek galak berwajah malaikat” celetuk Sherli yang membuat syahna dan Dinda tertawa geli.


Sudah menjadi rahasia umum di kampus syahna bahwa sang idola dan primadona kampus menjalin kasih dari masa putih biru.


Rasa bersalah seketika menyeruak hati syahna. Ingin rasanya membatalkan perjodohan ini, tapi syahna tidak tega mengecewakan sang ayah yang sangat menginginkan dirinya menerima perjodohan ini. Syahna tidak pernah melihat tatapan penuh harap dari ayahnya seperti malam perjodohan itu.


“Honey, kita duduk disana yah” tangan Alissa menunjuk meja kosong didekat meja syahna dan sahabatnya. Pandangan biru mengarah pada tempat syahna dan seketika perasaan bersalah pun muncul. “maafkan aku Alissa” batinnya.


Kedua sahabat syahna tipikal pemuja lelaki berwajah tampan jadi saat mereka tahu bahwa biru dan gengnya duduk dekat meja mereka, reaksi mereka langsung berlebihan. Hal itu berhasil membuat Alissa terganggu. Selama ini Alissa selalu acuh bila melihat mahasiswi kampusnya mengelu-elukan Biru. Akan tetapi hari ini dirinya merasa berbeda, entah mengapa melihat sikap kedua sahabat dirinya merasa seperti ada alarm bahaya. Alissa menatap tajam sahabat syahna begitu juga biru yang menatap tidak suka.


“harus ya loe berdua matanya gak berkedip lihatin cowok gue" sarkas Alissa pada sahabat syahna, sontak hal itu membuat kedua sahabat syahna berjengit.


“Cuci mata doang kak” Dinda memutar kedua bola matanya.

__ADS_1


“Yaelah kak, gitu doang kok sewot sih” sambung Sherli.


“mata Loe berdua mengganggu ketenangan kita” Kania menjawab dengan ketus.


“gak pernah liat yang seger yah?” ejek emely, Alissa mengalihkan tatapannya pada syahna yang hanya duduk diam tanpa melihat kearah mereka, melihat syahna yang seperti tidak peduli pada mereka membuatnya tidak nyaman. Alissa sendiri tidak tahu mengapa saat melihat syahna perasaannya jadi tak menentu. Perasaan seperti takut kehilangan menghantuinya dirinya. Syahna seperti batu sandungan untuk hubungannya dengan biru. Setidaknya itulah saat ini yang ada dalam pikiran Alissa.


“Girls, kita semua udah biasa kok jadi pusat perhatian” ungkap Dimas kepedean. Diantara semua sahabat biru hanya Dimas yang memiliki kepercayaan diri tinggi.


“tumben loe peduli dengan yang beginian Alissa, lagian loe kan tahu biru enggak akan berpaling dari loe”


“bener tuh kata Rian, biru kan bucin sama loe” lanjut dewa yang diaminkan kedua sahabat Alissa.


“Cewek yang ditengah boleh juga tuh” celetukan Dimas mengalihkan atensi seluruh sahabatnya.


“Bakal jadi saingan loe tu Alissa” biru memandang Rian dengan tajam sementara Rian hanya cengengesan melihat reaksi si pangeran es.


“Gak akan ada perempuan yang bisa merebut posisi Alissa dihati gue” biru menatap syahna dengan tajam. Andaikan tatapan bisa menusuk seperti pisau maka syahna akan berdarah-darah karenanya. Tatapan tidak suka itu tidak dapat tertutupi lagi. Jangan tanya bagaimana reaksi Alissa, dirinya merasa terbang ke awan saat ini. Setidaknya hatinya sedikit tenang mendengar pembelaan Biru terhadapnya.


“Cinta tak bisa ditebak loh ru, begitu juga hati” omongan dewa diamini semua sahabat biru dan membuat hati Alissa panas.


“Udah ah, gerah gue disini” Alissa menarik tangan kedua sahabatnya untuk pergi menjauh dari biru. Alissa benar-benar kesal hari ini, ketika hatinya sudah tenang mendengar jawaban Biru malah sahabat Biru menghancurkannya.


“tumben ngambek cewek loe ru, biasanya dia gak gitu” Rian memandang kepergian Alissa dan kedua sahabatnya.


“Gue mau kejar Alissa, Loe berdua ikut gak?”


"Kita belum pesan makanan loh ru, laper ni"lanjut Dimas yang tidak faham dengan situasi ini.


"Loe bertiga aja yang makan, gue mau kejar Alissa" biru beranjak pergi meninggalkan kantin yang langsung diikuti kedua sahabatnya. Dewa sempat tersenyum ramah saat tidak sengaja bertatapan dengan syahna.


Kepergian biru dan sahabatnya membuat sahabat syahna kecewa. Sebelum mereka benar-benar meninggalkan kantin samar samar syahna mendengar semua percakapan biru dan sahabatnya. Dirinya juga mendengar pernyataan biru. Disaat kedua sahabatnya sibuk menggodanya.


Kebingungan melanda hati syahna, bila biru enggan dengan kehadiran dirinya bagaimana nanti hidupnya bersama biru. Pikiran syahna melayang jauh entah kemana.

__ADS_1


“kita tidak pernah tahu kemana hati akan berlabuh, sebab persinggahan akan kalah dengan tempat yang di tuju”


__ADS_2