Black Dress

Black Dress
Bertemu Denganmu


__ADS_3

Vanessa atau gadis yang biasa di panggil dengan sebutan Nessa adalah seorang gadis yang baru saja ditinggal nikah oleh kekasihnya. Bahkan belum ada kata putus diantara mereka saking baiknya hubungan yang mereka jalani. Tapi dengan tiba-tiba dan diluar dugaannya, Garel, pria yang amat dia cintai itu malah menikah dengan gadis pilihan orang tuanya.


Nessa menatap pantulan dirinya di depan cermin berukuran besar yang ada di butiknya. Matanya bengkak dan merah karena menangis semalaman setelah menerima undangan pernikahan kekasihnya. Rasa sakit hati, sedih sekaligus marah bercampur aduk di hatinya saat ini. Nessa tidak dapat berpikir jernih. Bahkan dia mengabaikan pesan dari adiknya yang merupakan satu-satunya keluarga yang ia punya.


"Apa kau akan menghadiri pesta pernikahan Garel?" tanya Nara, teman semasa sekolahnya yang saat ini menjabat sebagai rekan kerjanya. Mereka berdua mendirikan sebuah butik. Nara bertanggungjawab dalam mengelola usaha mereka, sedangkan Nessa bertanggungjawab dalam hal desain dan model pakaian yang akan mereka jual. Karena gadis itu tidak bisa berinteraksi dengan banyak orang alias introvert.


"Tidak mungkin menghadiri pernikahan Garel dengan wajah seperti ini. Aku juga tidak ingin bertemu dengan mamanya yang tidak pernah ramah kepadaku," ucap Nessa sedih. Dia berulang kali mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya agar tidak menangis lagi.


Nara menghela nafas. Dia ikut bersedih melihat temannya yang dicampakkan seperti itu hanya gara-gara status sosial yang berbeda. Gadis itu pergi mencari batu es di freezer lalu mengambil kain tipis dan menyerahkannya kepada Nessa. "Kompres dulu wajahmu dengan ini. Setelah lebih baik, panggil aku, aku akan membantumu berdandan. Kau harus menghadiri pernikahan itu. Karena seperti yang Cheryl katakan, kau harus kuat dan tidak boleh lemah seperti itu!" tegur Nara kepada Nessa yang biasanya selalu berpikir dewasa namun saat ini karena kalut gadis itu bertindak seperti gadis remaja yang baru putus cinta.


Nessa melemaskan bahunya. Dia menatap tanpa minat es batu yang mulai mencair itu.


"Buktikan kau baik-baik saja tanpa dia. Terlebih kepada orang tuanya itu yang selalu merendahkan mu! Aku yakin kau pasti bisa melewati masa ini. Nanti kau akan dipertemukan dengan pria yang lebih baik dan lebih mencintaimu apa adanya." Nara kembali berujar.


Mau tidak mau, Nessa mulai mengompres area matanya dengan batu es. Gadis itu terlihat berulang kali menghela nafas dan itu semua tidak luput dari perhatian Nara. Untung saja Butik mereka belum banyak pengunjung hingga Nara bisa mengurus temannya ini.


"Sebenarnya ada banyak orang yang mencintai dan menyukaimu. Tapi karena kau terlalu menyukai Garel hingga kau tidak bisa melihat cinta orang lain yang datang kepadamu."


Nessa hanya diam mendengarkan Nara yang terus bicara tanpa henti sejak malam kemaren hanya untuk menghiburnya.


"Kau ingat Reyhan? Manajer Cheryl? Pria yang selalu datang ke butik kita untuk membelikan saudarinya pakaian? Dia menyukaimu, bahkan saudari yang dia belikan pakaian itu tidak ada. Semua itu hanya alasan untuk bertemu dengan mu!" ujar Nara yang sukses membuat mata Nessa melebar tak percaya.


"Benarkah?" tanya Nessa memastikan.


Nara mengangguk. "Pokoknya kau harus datang ke pernikahan ini sesuai yang kami rencanakan!" perintah Nara yang sudah tidak bisa dibantah.


"Rencana? Kalian membuat rencana apa?"


...***...

__ADS_1


Nessa memperhatikan tubuhnya yang saat ini di balut dengan dress bewarna hitam karyanya sendiri. Dia tersenyum tipis melihat dirinya yang begitu cantik dan terlihat elegan apalagi dengan polesan make up tipis di wajahnya. Bahkan sudah beberapa pasang mata pelanggan butik mereka tersita oleh kecantikan Nessa dan minta dibuatkan dress seperti yang Nessa kenakan saat ini.


"Black Dress itu sangat cocok denganmu. Kulit putih mu terlihat berkilau olehnya. Gimana? Apa sekarang kepercayaan diri mu sudah bangkit, nona?" rayu Nara dan mengedipkan mata kirinya.


Nessa menoleh, tersenyum manis kepada Nara, yang baru saja memujinya. "Terimakasih atas pujiannya. Tapi aku masih tidak yakin dengan mengenakan dress ini. Aku terlihat seperti orang yang sangat berduka dengan warna ini."


"Mulai sekarang kau harus menganggap Garel telah tiada. Aku tidak ingin melihat mu terus-terusan menangisi pria pecundang itu!"


"Tapi—"


"Percaya diri saja. Semuanya akan baik-baik saja jika kau percaya diri. Kau sangat cantik bahkan aku sangat iri dengan kecantikan mu. Percayalah, nanti orang-orang akan teralihkan dengan kecantikan mu bukan mempelai wanitanya." Nara berusaha meyakinkan Nessa.


"Ya sudah kalau begitu. Aku pergi, sampai jumpa." Nessa melambaikan tangannya, dan bersiap untuk pergi. Namun Nara malah mencegahnya.


"Apa lagi?" tanya Nessa dengan alis terangkat.


Alis Nessa semakin berkedut, "M-maksudmu?"


"Sesuai yang kami rencanakan, orangnya akan datang sebentar lagi," ucap Nara dengan senyum yang mencurigakan.


"Kalian merencanakan apa? Aku pergi dengan siapa?" tanya Nessa meminta penjelasan. Nessa sedikit tidak tenang jika yang membuat rencana adalah dua temannya yang agak gila, Nara dan Cheryl.


"Kau akan tau juga nanti." Seiring dengan perkataan Nara seseorang baru saja mendorong pintu butik mereka hingga membuat suara bel berdenting. Kedua gadis itu dengan terburu-buru mengalihkan perhatian mereka kepada orang itu. Ah, bahkan bukan hanya mereka berdua, tapi pelanggan mereka yang tadinya sedang memilih pakaian juga ikut teralihkan dan terperangah melihat manusia yang terlihat begitu sempurna.


"Siapa dia? Kau mengenalnya?" tanya Nessa yang merasa asing dengan wajah yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Nara menggeleng cepat, "Aku tidak mengenalnya. Dia siapa?"


"Lah? Aku kira pria ini bagian dari rencana kalian."

__ADS_1


"Lebih baik aku merencanakan pria seperti itu untuk diriku sendiri daripada untukmu," tutur Nara dengan mata terus menatap pria itu yang sepertinya sedang mencari keberadaan seseorang.


Nessa tersedak mendengar ucapan Nara barusan. Dia memperhatikan temannya itu yang matanya begitu berbinar menatap ke arah pria yang saat ini juga menatap ke arah mereka.


"Kalau begitu aku pergi. Kau rayu saja dia jika kau menginginkannya," ejek Nessa kemudian meninggalkan Nara yang masih terpaku pada pria itu.


Nessa memutar matanya, kedua temannya itu akan langsung hilang akal jika bertemu pria tampan. Seperti yang terjadi pada Nara saat ini.


"Kau Vanessa?" cegat pria itu ketika Nessa hendak melewatinya.


"Iya." balas Nessa singkat. Image pria itu seketika berubah buruk di mata Nessa ketika dia memperhatikan Nessa dari ujung kepala hingga ujung kaki.


"Kau ada perlu apa? Aku bisa melayani mu, temanku akan pergi ke sebuah pesta, dia sedang terburu-buru," sahut Nara penuh semangat. Dia menyikut Nessa agar segera pergi.


Nessa mendengus lagi, dia jengah melihat kelakuan Nara barusan walaupun sebenarnya dia juga tidak ingin melayani pria itu. "Kau benar-benar gila jika sudah bertemu pria tampan idaman mu," bisik Nessa sebelum dia kembali melangkahkan kakinya.


"Menikahlah denganku. Akan ku beri kau uang sebanyak yang kau inginkan jika setuju," ujar pria itu ketika tangan Nessa hendak bergerak untuk mendorong pintu.


Nessa menatap pantulan pria itu di pintu yang berbahan dasar kaca. Sadar jika kalimat itu ditujukan kepadanya, dia segera berbalik, menatap nyalang pria yang sedang tersenyum kepadanya. Harga dirinya terasa diinjak-injak oleh pria itu.


"Maaf tuan, aku bukan wanita seperti yang anda pikirkan!" sindir Nessa dengan senyum terkesan paksa di wajahnya. Dia kemudian mendorong pintu dan menghempaskannya dengan kasar melampiaskan rasa kesal dan emosinya yang sudah mencapai ubun-ubun.


...***...


Visual Nessa: Wang Churan


Picture from pinterest


__ADS_1


__ADS_2