Black Dress

Black Dress
Pelukan Mantan Kekasih


__ADS_3

Setelah perpisahan mereka di pantai waktu itu, Nessa dan Garel tak pernah lagi bertemu. Walaupun Garel sudah berulangkali menghubungi Nessa, meminta gadis yang masih memiliki tempat dihatinya itu untuk bertemu, namun Nessa selalu menolaknya.


Untuk sekarang darah mereka sama-sama berdesir. Bahkan sorot kerinduan sama-sama terpancar di mata keduanya.


"Oh kau calon istrinya Axel, ya?" Suara itu seketika membuat Nessa memutuskan kontak mata mereka. Dia menoleh, mendapati seorang wanita yang sudah resmi menjadi istri dari mantan kekasihnya itu berdiri di sebelah Garel sembari tersenyum tipis kepadanya.


"I-iya," balas Nessa singkat kemudian mempersilahkan kedua tamunya itu masuk.


"Axel, kau tidak merindukan ku?" teriak Dhea yang melangkah masuk lebih dahulu, meninggalkan Nessa dan Garel dalam kecanggungan besar.


"Masuklah," lirih Nessa tanpa menatap mata Garel lagi.


Nessa yang hendak kembali masuk itu seketika berhenti ketika dia merasakan lengannya di tahan oleh seseorang.


"Kau tidak merindukan ku?" tanya Garel dengan mata sendu. Nessa meneguk salivanya, matanya mulai berkaca-kaca, entah itu karena perasaan rindu kepada Garel atau terluka dengan perkataan Axel.


Nessa segera menghempaskan lengannya dari cengkeraman Garel. Gadis itu kemudian segera beranjak dari sana agar tidak menimbulkan kecurigaan jika mereka tak kunjung masuk.


Nessa kembali duduk di posisinya semula, begitu juga dengan Garel yang saat ini memilih duduk berseberangan dengannya sedangkan Axel berseberangan dengan Dhea.


Selama beberapa menit berlalu, mereka berdua hanya menjadi pendengar yang baik dari Dhea dan Axel yang bercerita layaknya sahabat lama yang baru saja bertemu.


Penasaran dengan bagaimana tatapan Axel kepada Dhea, Nessa segera mengalihkan pandangannya menuju Axel. Di mata Axel ia dapat melihat bagaimana pria itu menatap lembut Dhea, bahkan dengan sorot mata yang begitu berbinar. Jujur saja, entah kenapa ada rasa cemburu yang muncul di hati Nessa, namun dia berusaha menepis kenyataan itu.


"Kenapa kau mau menerima lamaran pria berandalan ini?" tanya Dhea dengan nada bercanda. Dia menghadapkan seluruh tubuhnya ke arah Nessa, menunggu penggalan kisah keluar dari mulut gadis itu.


Perhatian ketiga manusia itu seketika beralih menuju Nessa. Termasuk Axel, yang semenjak Dhea masuk ke apartemen mereka, tidak pernah sekalipun Axel meliriknya walaupun hanya sekilas. Seolah Dhea adalah hal yang paling indah bagi seorang Axel di dunia ini.

__ADS_1


Nessa melirik Axel sekilas sebelum dia menjawab," Aku rasa, aku dan dia memiliki kecocokan," bohong Nessa. Karena tidak mungkin dia mengatakan kalau Axel mengancam dan memberinya banyak uang hingga dia membuat Nessa harus menandatangani kontrak pernikahan.


Garel mendengus geli mendengar penuturan Nessa barusan.


"Kenapa kau tertawa?" tanya Dhea dengan mata selidik ke arah suaminya.


"Entahlah, aku merasa geli melihat lukisan yang indah itu bersanding dengan vas bunga jelek di sampingnya," jawab Garel asal sembari mengangkat telunjuknya ke arah lukisan yang berada tidak jauh dari mereka duduk.


Sementara bagi Axel dan Nessa, mereka paham dengan apa yang baru saja Garel katakan. Jelas sekali menyindir mereka berdua.


"Aku rasa vasnya juga bagus," ujar Dhea dengan polosnya.


Kali ini Axel yang mendengus geli, "Kau benar, Vas bunganya bagus, tapi bagi orang yang seleranya rendah tentu akan menilainya jelek," balas Axel dengan senyum puas tertera di wajahnya.


Nessa diam-diam menghela nafas, situasi ini membuatnya canggung dan dia tidak tau harus bertindak seperti apa. "Aku pergi, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan," ujarnya setelah berdiri.


"Lah, kau masih bekerja? Apa uang yang diberikan Axel tidak cukup? Seharusnya saat ini kau pergi ke salon untuk merawat tubuhmu," protes gadis berambut sebahu itu.


"Aku tidak suka bergantung kepada seseorang, termasuk kepada calon suamiku. Aku tidak akan menggunakan uangnya jika aku masih memiliki cukup uang," balas Nessa membuat bungkam Dhea.


"Aku suka pemikiran seperti itu," ujar Garel yang membuat perhatian Dhea seketika beralih lagi kepadanya. Gadis itu sedikit mengerutkan alisnya ketika dia melihat tatapan yang tidak biasa yang diberikan Garel kepada Nessa.


"Terimakasih," jawab Nessa kemudian segera berlalu pergi.


"Kau tidak ingin mengantarnya?" tanya Dhea kepada Axel yang saat ini sedang menatap tajam ke arah Garel.


Axel tersedak, "Aku?"

__ADS_1


"Iya siapa lagi? Tidak mungkin Garel, kan?"


"Kalau kau mengizinkanku, aku akan mengantarnya dengan senang hati," balas Garel yang kembali membuat alis Dhea berkedut tidak mengerti. Dia heran kenapa malah suaminya yang suka memuji Nessa padahal seharusnya Axel, tapi pria itu malah terlihat lebih tertarik bicara dengannya daripada bersama calon istrinya.


"Tidak! Biar aku saja," akhirnya Axel berdiri juga, mematahkan harapan Garel yang ingin bicara dengan Nessa.


"Biar aku saja. Kau ingin bicara dengan pujaan hatimu, kan?" balas Garel yang mulai terang-terangan mengatakan fakta.


Axel mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia menghajar sepupunya itu jika Dhea tidak ada.


"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti!" tanya Dhea kepada suaminya yang saat ini sudah berdiri. Dhea benar-benar bingung dengan situasi yang ia alami.


Garel melangkah mendekati Axel, cowok itu kemudian berbisik, "Kau masih bisa berubah pikiran untuk tidak menikahi Nessa. Nikahi saja gadis yang kau cintai ini, karena aku tidak pernah menyentuhnya selama ini jika itu yang kau takutkan." Setelah mengatakan itu Garel berlalu pergi, meninggalkan Dhea dan Axel di apartemen.


Saat berada di lift, Garel mengusap wajahnya kasar. Dia tidak ingin menjalani hidup seperti ini. Di satu sisi dia tidak ingin menyakiti perasaan orang yang telah menjadi istri sahnya, tapi disisi lain dia masih mencintai Nessa dan sangat tidak rela Nessa jatuh kepada orang seperti Axel. Jika itu orang lain, mungkin Garel akan melepas Nessa dan belajar untuk melupakannya. Tapi masalahnya, Nessa harus terikat dengan sepupunya yang suka mempermainkan wanita. Dan terlebih lagi, sepupunya itu masih mencintai Dhea. Garel takut, menikah dengan Axel hanya akan membuat Nessa semakin terluka.


Pintu lift pun terbuka, Garel dengan segera keluar dan mencari Nessa yang ia pikir masih belum pergi jauh.


Saat dia melihat seorang gadis dengan menggunakan gaun selutut bewarna mint dengan motif bunga Daisy yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk. Garel segera berlari ke arah gadis itu dan memeluknya dari belakang.


"Tolong jangan menikah dengan Axel," ujar Garel di sela-sela pelukannya.


Nessa, gadis itu meneguk salivanya. Darahnya berdesir hebat ketika dia merindukan pelukan yang selalu membuatnya nyaman.


"Kau yang membuat ku di situasi seperti ini," ujar Nessa sembari berbalik menatap orang yang telah memeluknya. Matanya sudah berkaca-kaca. "Aku juga tidak ingin menikahi orang yang hatinya bukan milikku," sambung Nessa dengan tangis yang sudah pecah.


Melihat Nessa yang terlihat rapuh seperti itu, Garel tanpa pikir panjang kembali memeluk gadis itu dengan erat. Bahkan cowok itu juga memberikan kecupan singkat di dahi Nessa.

__ADS_1


Sejujurnya Nessa sangat lelah dengan hidupnya yang berjalan tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Bekerja sekeras mungkin untuk adik dan dirinya. Mencintai Garel namun tidak mendapatkan restu dari orang tua pria itu dan sekarang harus menikahi pria yang hanya menikahinya karena ingin balas dendam.


...***...


__ADS_2