Black Dress

Black Dress
Menang satu langkah


__ADS_3

BRAKK


Axel seketika mengangkat pandangannya dari laptop menuju pintu masuk ruang kerjanya. Dia tersenyum tipis sembari memperbaiki kacamatanya saat melihat siapa orang yang baru saja masuk ke dalam ruangannya itu.


"Tumben sekali sepupuku berkunjung," sambut Axel dengan nada mengejek.


"Apa yang kau lakukan kepada Nessa, hah?" tanya Garel dengan tangan yang sudah berada di kerah kemeja sang pemilik ruangan.


"Apa yang aku lakukan?" tanya Axel dengan ekspresi bingungnya. Dia sengaja memancing emosi Garel lebih dalam lagi. Karena dia merasa senang melihat Garel emosi kepadanya seperti saat ini. "Aku hanya mengajaknya menikah, itu saja. Apa aku melakukan kesalahan dengan mengajak seseorang yang sudah tidak memiliki hubungan dengan orang lain untuk menikah?" tanya Axel dengan alis terangkat sebelah. Mengucapkan setiap kata dengan penuh penekanan.


Garel mengatupkan rahangnya sembari mempererat cengkeraman tangannya di kemeja Axel. Dia sangat-sangat kesal dengan penuturan Axel barusan.


"Kau menikahinya karena ingin balas dendam kepadaku, kan?!" tanya Garel yang untuk saat ini sudah melepaskan kemeja Axel.


Axel tersenyum sembari memperbaiki kerahnya yang kusut.


"Jangan lampiaskan semua kekesalan dan dendam mu itu kepada Nessa! Dia tidak melakukan kesalahan apapun padamu. Dhea sendiri yang membuat aku menikahinya dengan segala cara. Bahkan aku tidak pernah mencintainya sedikit pun!" jelas Garel mencoba membuat Axel sadar.


Tapi sayang, Axel adalah manusia keras kepala yang jika dilarang dia akan semakin menjadi-jadi.


"Aku hanya tertarik untuk menjadikannya calon ibu dari anak-anakku. Lagian dia bukan lagi pacar mu, kan?" sindir Axel yang sukses membuat tangan Garel terkepal kuat apalagi ketika mendengar 'calon ibu'. Entah kenapa kata itu sukses membuatnya terbakar api cemburu. Menjadikan Nessa sebagai istrinya dan ibu dari anak-anaknya adalah keinginan Garel, tapi sayangnya dia tidak mendapat restu dari orang tuanya karena mereka terlalu menyukai Dhea.


Axel terkekeh, dia menepuk pundak Garel dengan senyum yang terus terpatri di wajahnya. "Tenang saja, aku akan mengundangmu!" ucap Axel yang pada akhirnya membuat Garel menepis tangan pria itu dengan kasar.


"Jangan sampai tidak datang! Kau akan mendapatkan undangan pernikahan ku beberapa hari lagi," teriak Axel dengan wajah sumringah menatap kepergian Garel yang wajahnya sudah merah padam itu.


Axel mendengus geli. Dia benar-benar senang bisa membuat Garel cemburu dan kesal kepadanya. Biasanya hanya Garel yang membuatnya seperti itu.


Tak lama setelah kepergian Garel, seorang gadis masuk dengan membawa sebuah map berwarna merah. "Aku mendengar pembicaraan kalian. Apa benar Nessa menerima pernikahan ini?" tanya Cheryl yang akhir-akhir ini mendapatkan tugas yang cukup banyak dari Axel sebagai hukuman karena telah berani menantangnya hingga dia tidak punya waktu untuk menghubungi kedua sahabatnya lagi.

__ADS_1


Axel mengangguk singkat. "Cara yang kau tunjukkan kepadaku itu berhasil. Thank you, aku akan mentransfer gajimu lebih dari yang biasanya."


Cheryl menghela nafas. Dia juga mengusap wajah dan rambutnya dengan kasar. "Kau membuatku seperti pengkhianat saja pada sahabatku. Apa yang harus aku katakan kepadanya jika dia mengetahui akulah yang memberi saran untuk membeli butiknya?" keluh Cheryl yang merasa bersalah atas sikapnya.


Ya. Cheryl lah yang memberitahu Axel tentang tempat butik dan keuangan Nessa yang pas-pasan hingga Axel bisa memanfaatkan kelemahan itu untuk membuat Nessa setuju dengan pernikahan yang dia ajukan.


Axel mengangkat bahunya acuh. "Siapa suruh kau menantang dan tidak menghormati ku waktu itu?" balas Axel.


Cheryl mendecih sebal. "Sekarang kau adalah calon suami dari sahabat ku. Aku harap perlakuan mu lebih baik kepadaku," ujar Cheryl lalu duduk di sofa yang berada tidak jauh dari meja kerja Axel. Sekarang dia tidak takut lagi kepada Axel mengingat Axel akan menjadi suami dari sahabat dekatnya.


"Tentu saja. Bahkan jika kau ingin naik pangkat pun aku bisa mengabulkannya sekarang," ujar Axel santai. Dia memutar kursinya menghadap Cheryl yang saat ini sedang mengistirahatkan tubuhnya di sofa.


"Serius??" Mata Cheryl membola mendengarnya. Bahkan dia segera duduk dengan punggung tegap.


"Tapi ada syaratnya."


Cheryl kembali menghela nafas dan menyandarkan punggungnya kembali. "Apa lagi?"


"Apa tidak ada syarat lain? Kau membuatku seperti musuh dalam selimut saja!!" umpat Cheryl kesal.


"Terserah kau saja. Kau mau naik pangkat atau berada di sana sepanjang waktu?"


"Arghh sialan!!" umpat Cheryl dengan menghentak-hentakkan kakinya kesal. Sedangkan Axel hanya tersenyum puas.


"Aku akan menikah dengannya beberapa minggu lagi," ujar Axel kemudian setelah mereka hening beberapa saat.


"Serius??"


Axel mengangguk singkat.

__ADS_1


"Aku harap kau tidak menyakiti sahabatku nanti. Tolong biarkan dia hidup bahagia, dia sudah terlalu banyak menderita," pinta Cheryl. Setidaknya dengan begini rasa bersalahnya kepada Nessa akan sedikit menghilang.


"Apa saja yang dia suka dan tidak suka? Oh dan bagaimana dengan adiknya? Beri tahu aku sekarang ini perintah!" seru Axel yang membuat Cheryl menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.


"Sejak dulu dia ingin sekali punya apartemen dengan view city light. Dia sebenarnya lebih suka diam di rumah daripada keluar bertemu orang-orang. Dia juga menyukai fashion. Jadi jangan salahkan aku jika nanti kau akan jatuh cinta dengan kepribadian dan kecantikannya!" tantang Cheryl.


"Aku tidak yakin aku akan jatuh cinta dengannya," balas Axel tanpa ragu.


"Kita lihat saja. Bahkan aku saja yang seorang perempuan sempat pangling dengan kecantikannya."


Axel tertawa mendengarnya. "Benarkah? Mari kita lihat. Jika perkataan kau itu benar, maka kau akan aku berikan sebuah apartemen sebagai hadiahnya. Tapi jika tidak, kau sendiri yang akan membelikan ku sebuah apartemen yang berada di pusat kota itu," tawar Axel dengan nada menantang.


Cheryl meneguk salivanya. Membelikan apartemen? Yang benar saja! Bahkan gajinya tidak cukup untuk itu.


"Itu tidak adil. Kenapa kau malah meminta ku untuk membelikan apartemen?! Bahkan gaji yang diberikan oleh perusahaan mu saja tidak mencukupi kebutuhan ku!" seru Cheryl tak terima.


"Oh benarkah? Lalu bagaimana dengan mobil mewah yang baru saja kau beli itu? Bukankah uangnya hasil bekerja dengan perusahaan ku??"


Cheryl meneguk salivanya kasar. Dia benar-benar tidak percaya Axel mengetahui segala apa yang dia lakukan. "Kau tau?" ucapnya.


"Tentu saja aku tau bodoh! Sekarang aku ingin kau carikan hotel yang bagus untuk pernikahan ku dan juga apartemen seperti yang diinginkan Nessa. Oh dan jangan lupakan juga dengan saudarinya itu, beri dia ATM pribadi agar hidupnya lebih baik!" Perintah Axel kepada Nessa.


"Arghh. Apa aku ini sekretaris mu?? Hei aku ini bekerja di bagian humas asal kau tau!" teriak Cheryl kesal saat mendapatkan tugas yang menurutnya akan menguras banyak tenaga.


Axel mengangkat bahunya tidak peduli. "Kau ingin naik pangkat atau tidak?"


...***...


Teruntuk kak Siti Sa'diah yang selalu memberikan like di setiap part ceritaku. Aku sangat berterima kasih. Karena kakak aku jadi berusaha untuk terus update cerita ini...🤍🤍

__ADS_1


Dan terimakasih juga buat para readers lainnya🤍


__ADS_2