
"Katakan apa yang sebenarnya kau inginkan?" tanya Nessa dengan wajah serius.
Axel tersenyum tipis dan memasang wajah serius.
"Menikahlah denganku."
Nessa terpaku sejenak, dia menatap lekat mata Axel. Sedetik kemudian dia terkekeh kecil. "Aku rasa kau sangat-sangat mabuk," sahut Nessa. Dan dengan langkah cepat dia pergi meninggalkan Axel yang terus menatapnya lekat.
Nessa semakin penasaran dengan Axel. Siapa dia? Dan kenapa dia bisa mengetahui semua tentangnya.
Nessa menghentikan langkah kakinya ketika dia menemukan sebuah toko roti yang masih buka. Tanpa pikir panjang lagi dia langsung masuk dan memesan beberapa roti kemudian langsung memakannya dengan di temani susu coklat panas.
Setelah perutnya mulai terisi dan rasa laparnya mulai hilang, walaupun rotinya masih tersisa. Nessa memungut handphonenya yang ia taruh di saku tuxedo Garel. Dia membuka layar handphonenya dan mengetik beberapa pesan kepada Cheryl. Berharap Cheryl mengetahui sesuatu tentang cowok gila yang baru saja meminta Nessa untuk menikah dengannya.
Pesan;
Nessa : Apa kau tau? Tadi aku bertemu cowok mabuk. Ya walaupun wajahnya tampan dan kelihatannya kaya. Tapi dia benar-benar gila dan menyebalkan.
Cheryl: Kalian bertemu dimana? Apa kau mengenal atau pernah bertemu dengannya?
Nessa: Kami bertemu di persimpangan lampu merah yang berada tidak jauh dari butikku. Aku rasa aku baru melihatnya hari ini.
Cheryl: Apa yang dia lakukan padamu sampai kau sangat kesal seperti ini? Jangan-jangan dia salah satu secret admirer mu. Haha
Nessa: Aku rasa tidak. Tapi anehnya dia tau banyak tentangku. Apalagi hubungan ku dengan Garel. Bahkan dia mengancam ku dengan sebuah foto saat Garel memeluk ku tadi di pantai. Jangan Salah paham, itu hanya salam perpisahan.
Cheryl: Hahaha, aku tidak salah paham. Tapi aku tidak mengizinkan mu berhubungan dengan Garel. Itu akan membuat mu semakin terluka.
__ADS_1
Nessa: Tidak. Lagian aku juga tidak ingin menjadi orang ketiga dan merusak hubungan rumah tangga orang.
Cheryl: Good girl! So, apa yang cowok tadi katakan padamu? siapa namanya?
Nessa: Dia mengajakku menikah. Aneh, kan? Padahal aku tidak kenal dengannya. Dan aku juga tidak tau siapa namanya. Karena tidak mungkin aku bertanya namanya sedangkan aku sedang emosi karena dia hampir saja menabrakku dengan mobil mewahnya.
Cheryl; APA? SUNGGUH GILA! APA MEREK MOBILNYA?? PERCAYALAH ITU PASTII JODOHMUUUU NESSA! AKU YAKIN TUHAN MENGIRIMKAN DIA UNTUK MENGGANTIKAN GAREL!!
Nessa terkekeh melihat pesan dari Cheryl. Walaupun mereka bicara melalui media elektronik. Tapi Nessa tau betul bagaimana ekspresi dan intonasi suara Cheryl saat Nessa membaca pesan dari sahabatnya itu.
Nessa menutup layar handphonenya ketika karyawan toko menegurnya bahwa mereka akan segera tutup.
"Ah, maaf ya. Aku terlalu asik bermain handphone sampai tidak sadar dengan waktu." Nessa merasa tidak enak. Dia kemudian keluar dari toko itu dengan menjinjing bungkusan roti yang belum sempat ia habiskan tadi.
Nessa menghirup udara malam yang terasa menenangkan pikirannya. Dia berjalan sembari menikmati indahnya pemandangan kota yang dipenuhi lampu-lampu, begitu juga dengan langit malam yang terlihat cerah ditaburi ribuan bintang membuat Nessa tidak bisa berhenti mendongak dan berdecak kagum.
Handphone Nessa bergetar, dia melihat nama Cheryl tertera di layar. Dia yakin Cheryl menghubunginya pasti karena penasaran dengan kelanjutan dari cerita mereka yang terpotong tiba-tiba.
"Tentu saja! Apa yang terjadi setelahnya? Ayo ceritakan! Kau dimana? Aku akan kesana." balas Cheryl dari seberang telpon.
"Aku akan menginap di butik ku malam ini. Ayo datang. Kita akan merayakan hari patah hati ku," gurau Nessa diiringi kekehan.
"Tunggu Aku! Aku akan kesana dengan beberapa cemilan dan coklat kesukaan kita."
"Wah. Kau sangat tau apa yang kuinginkan di saat patah hati. Cepatlah. Jangan membuatku menunggu!"
Setelah mengatakan kalimat itu Nessa segera mematikan sambungan telepon mereka ketika dia sudah berada di butiknya. Nessa segerai masuk dan melangkah ke ruang kerjanya, ruang sederhana yang disana ada satu meja dan satu kursi, serta ada sebuah kasur berukuran sedang yang biasa ia gunakan ketika Nessa malas pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Tok Tok
Suara ketukan beriringan dengan bel membuat Nessa segera berlari menuju pintu dengan wajah sumringah. Dia yakin itu adalah Cheryl walaupun dia sempat ragu ketika dia mengingat jarak rumah Cheryl yang cukup jauh dari butik nya. Tidak mungkin gadis itu sampai dalam waktu dekat tapi Nessa juga tidak berpikir orang lain akan datang ke butiknya di saat malam-malam seperti ini.
Dan benar saja, mata. Nessa sukses melebar ketika dia melihat siapa yang berdiri di depan pintu butiknya.
"Aku ingin membeli pemilik butik ini," ucap Axel dari balik pintu.
Nessa mendelik tajam. "Aku rasa kau benar-benar mabuk tuan," sarkas Nessa. Dia cukup heran kenapa pria itu tau dia berada di butiknya. Apa dia mengawasinya?
"Buka pintunya! Orang macam apa kau yang tidak menghargai pembeli."
"Aku sudah bilang kalau butik ku sudah tutup. Jika kau ingin membeli sesuatu datanglah besok. Atau bahkan jika kau tak datang, itu akan lebih baik. Aku tidak akan rugi kehilangan pembeli seperti mu," geram Nessa dengan tangan mengepal.
Axel mendengus geli. Dia memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Menatap Nessa dengan tatapan rendah. "Kau menantangku nona? Awalnya aku hanya ingin bermain dengan halus. Tapi ternyata kau keras kepala juga. Aku akan datang besok dan membeli butik dan pemiliknya ini. Kau lihat saja!" ancam Axel yang sukses membuat Nessa menelan salivanya. Nessa akui bahwa ada rasa takut ketika dia menatap mata Axel yang sepertinya serius dengan ucapannya tadi.
"Loh, Axel? Kau kenapa disini?" Cheryl datang dengan menenteng kantong plastik berisi makanan. Dia terperangah menatap direktur utama perusahaan tempat dia bekerja berdiri di depan butik temannya.
"Kau kenal dia?" tanya Nessa dan Axel bersamaan tak kalah terkejutnya.
"Tentu saja aku kenal. Dia direktur di perusahaan ku. Kau tidak kenal dengannya?" Cheryl bertanya balik kepada Nessa.
Nessa mengernyit sembari menggeleng lemah.
"Dia sepupu Garel yang sering aku bicarakan pada mu!"
"A-apa?" Nessa gelagapan. Dia terkejut bukan main dengan fakta yang baru saja ia ketahui.
__ADS_1
"Tunggu!" Cheryl menelisik, memperhatikan Nessa dan Axel bergantian. "Jangan bilang jika pria yang kau ceritakan kepadaku tadi itu... Axel?"
...----------------...