Black Dress

Black Dress
Perasaann memiliki


__ADS_3

"Garel kenapa sih?" tanya Dhea heran sekaligus curiga dengan sikap Garel barusan.


"Aku akan menyusul mereka," sahutnya lagi dengan segera memungut tas bermerek itu dan hendak berdiri.


"Jangan! Kau disini saja, biar aku yang menyusul mereka," cegah Axel sembari menahan lengan Dhea. Sejujurnya dia tidak ingin Dhea menyadari hubungan Garel dan Nessa. Axel tidak ingin orang yang dia cintai itu terluka. Dia akan melakukan segalanya demi membuat wanita pujaannya itu bahagia.


Dhea menepis tangan Axel. "Apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku? Kenapa gelagat kalian terlihat aneh," tutur Dhea. Alisnya berkerut dengan mata yang ikut menyipit. Nafasnya tidak teratur dengan dada yang naik turun.


Axel terpaku untuk beberapa saat. Dia berusaha memutar otaknya untuk mencari alasan lain.


Axel menyentuh kedua lengan Dhea dengan lembut. Dia menundukkan kepalanya agar bisa menatap wanita yang dia cintai itu. "Dengar—"


"Lepaskan aku Axel! Aku ingin mengejar suamiku!" potong Dhea dengan penuh penekanan. Matanya menatap nyalang Axel hingga membuat Axel harus melepaskan tangannya dari lengan Dhea.


Dhea berlalu pergi meninggalkan Axel yang saat ini sedang mematung. Suara Dhea yang menyebut Garel dengan kata 'suami' membuatnya cukup tertegun. Sebegitu besarkah cinta Dhea kepada Axel hingga tidak bisa melihat cintanya?


Axel menghela nafas. Sedetik kemudian pria itu segera berlari mengejar Dhea ke lantai dasar. Dia tidak ingin Dhea melihat sesuatu yang akan membuat hatinya sakit.

__ADS_1


Namun sayangnya Axel datang terlambat. Dhea sudah menyaksikan pasangan yang saling mencintai itu berpelukan. Bahkan tubuh Dhea gemetar ketika Garel mengecup dahi Nessa yang sebelumnya tidak pernah Garel lakukan kepadanya.


Axel mendekati Dhea. Dia tau bagaimana sakitnya hati Dhea saat ini karena dia sendiri juga sering mengalaminya. Tanpa menunggu persetujuan dari Dhea, Axel memeluk gadis itu. Mendekapnya erat dan membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya.


"Kenapa kau tidak bilang kepadaku jika Nessa adalah kekasih Garel?" tanya Dhea kepada Axel di sela-sela tangisnya. Bahkan wanita itu memukul dada bidang Axel melampiaskan rasa sakit hatinya saat melihat suami yang ia cintai lebih mencintai orang lain.


Axel hanya diam membiarkan Dhea memukuli tubuhnya. Dia tidak tau harus menyalahkan siapa. Karena Nessa juga korban dari semua yang terjadi.


Lama menangis hingga membuat jas dan kemeja Axel basah, Dhea mendongak, mendapati Axel yang saat ini sedang menatapnya dengan sorot sendu. "Aku ingin kau menikahinya secepat mungkin!" lirih Dhea kepada pria yang jauh lebih tinggi darinya itu.


...***...


Nessa tidak tau alasan kenapa Axel mempercepatnya, yang jelas saat ini dirinya sudah berdiri di altar berhadapan dengan tamu yang isinya kebanyakan orang-orang yang memiliki jabatan penting. Di sebelahnya, Axel tampak tampan dan berwibawa menggunakan tuxedo hitam dengan dalaman kemeja putih serta dasi yang terikat rapi. Pria itu sesekali menyunggingkan senyumnya kepada setiap tamu yang datang untuk memberikan ucapan selamat kepadanya.


Selama acara berlangsung pun entah kenapa tidak ada perasaan senang samasekali dalam hatinya. Nessa malah merasa canggung, malu dan terkadang dia merasa iba kepada dirinya sendiri. Perasaann menyesal mulai menghantuinya.


detik demi detik pun berlalu, Nessa bernafas lega ketika pesta pernikahannya selesai. Saat ini mereka dalam perjalanan pulang menuju apartemen dengan diantar seorang sopir yang sudah bekerja lama dengan keluarga Axel.

__ADS_1


Nessa melirik Axel yang tampak kelelahan. Pria itu sudah melepas tuxedonya, dia hanya mengenakan kemeja putih dengan dasi yang sudah tidak bertengger dengan rapi lagi disana. Matanya terpejam menikmati udara malam yang masuk melalui kaca jendela yang diturunkan setengah.


Nessa menghela nafas, dia teringat kejadian beberapa jam yang lalu saat di pesta pernikahannya. Dia tidak melihat tanda-tanda kehadiran Garel, yang dia temukan hanya Dhea dengan tatapan nyalang dan senyum merendahkan ke arahnya. Gadis itu bahkan sengaja memeluk Axel lama saat dia memberikan ucapan selamat.


Mobil merekapun akhirnya sampai di garasi apartemen. Nessa segera turun begitu juga Axel. Tidak ada niatan untuk mereka berdua untuk berbicara atau bahkan berperilaku romantis layaknya pasangan pada umumnya. Mereka hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


"Disini ada dua kamar. Kau mau tidur di kamar utama atau sebelahnya?" tanya Axel begitu mereka sudah berada di dalam apartemen.


"Terserah yang mana saja," ucap Nessa. Axel tanpa pikir panjang lagi langsung berjalan menuju kamar yang berada di sebelah kamar utama. Pria itu masih mengingat dengan jelas pembicaraan dia dan Cheryl beberapa hari yang lalu. tentang Nessa yang menyukai view city light.


Nessa masuk ke kamarnya dengan langkah gontai dan perasaan campur aduk. Dia tidak percaya akan berakhir menyedihkan seperti ini. Pernikahan yang ia impikan malah menjadi seperti ini. Nessa menutup pintu kamarnya. Dia duduk di atas kasur empuk itu dengan mata tertuju pada pemandangan kota yang luar biasa indah terlihat dari tempatnya. Setidaknya itu berhasil membuat Nessa sedikit melupakan kesedihannya.


"Nessa! Aku pergi sebentar, kau tidur saja. Dhea ketakutan di rumahnya karena Garel tidak pulang. Aku akan menemaninya."


Nessa tidak menyahut suara teriakan yang berasal dari luar kamarnya. Masih teringat jelas bagaimana wajah lelah Axel dimatanya dan hanya demi Dhea cowok itu langsung berubah melupakan rasa lelahnya. Bolehkah Nessa merasa cemburu? Entah kenapa perasaan memiliki tiba-tiba saja tumbuh di benaknya. Apa karena dia sudah menjadi seorang istri hingga tidak rela membiarkan suaminya dengan orang lain?


Kenapa perasaan ini cepat sekali tumbuh?

__ADS_1


Nessa mengusap wajahnya kasar. Dengan sisa tenaga yang masih ada, gadis itu mandi dengan air hangat. melepaskan segala kejenuhannya.


...***...


__ADS_2