
"Dia sepupu Garel yang sering aku bicarakan pada mu!" Cheryl berseru.
"A-apa?" Nessa gelagapan. Dia terkejut bukan main dengan fakta yang baru saja ia dapatkan. Nessa mengarahkan penglihatannya kepada Axel. Dia memperhatikan gaya berpakaian Axel yang seperti pria nakal karena kancing bagian atas kemejanya yang sengaja di lepas, membiarkan dada bidangnya kelihatan. Pria itu benar-benar jauh berbeda dengan Garel yang selalu tampil rapi dan berwibawa.
"Tunggu!" Cheryl menelisik, memperhatikan Nessa dan Axel bergantian. "Jangan bilang jika pria yang kau ceritakan kepadaku tadi itu... Axel?"
"Kau kenal dengannya?" tanya Axel pada Cheryl dengan mengarahkan dagunya kepada Nessa.
"Tentu saja. Dia sahabatku," balas Cheryl dengan nada bangga. " Kenapa kau ingin menikahinya? Apa kau ingin balas dendam kepada Garel yang telah menikahi pujaan hatimu itu? Hei, Jangan coba-coba kau jadikan sahabat ku sebagai ajang balas dendam!" hardik Cheryl dengan berkacak pinggang. Dia mengangkat wajahnya menantang Axel.
Axel mendengus geli melihat Cheryl yang notabenenya adalah karyawannya di kantor berani mengatainya seperti itu. "Kau menantang ku? Apa kau lupa jika aku ini direkturmu?" balas Axel. Dia juga mengangkat wajahnya dan melipat tangannya di depan dada.
"Itu hanya berlaku di kantor. Di luar kantor kau bukanlah siapa-siapa!" sahut Cheryl.
Axel mendecih. Melihat Cheryl yang jauh berbeda saat ia sedang di kantor. gadis itu bahkan tidak berani menatap dan membantah Axel. Axel berjalan mendekati Cheryl sembari memasukkan tangannya ke saku celana. "Kalau begitu kau akan merasakan akibatnya di kantor besok," bisik Axel dengan sedikit menunduk untuk menyamai tingginya dengan Cheryl.
Mata Cheryl melebar dan Axel tersenyum melihat itu.
"Kau! Apa kau tidak profesional? Seharusnya masalah di luar tidak di bawa ke kantor dan begitu juga sebaliknya! Bukankah kau sendiri yang bilang pada saat pertemuan rutin?!" geram Cheryl tak terima.
Axel terkekeh, "Aku direkturnya jadi terserah aku mau melakukan apapun."
"Kau!" Dada Cheryl kembang kempis menahan kesal.
"Cukup!" Nessa yang melihat dua manusia yang bertengkar itu melerainya. Dia membuka pintu butik dan melangkah keluar mendekati Cheryl, mengambil alih barang bawaan Cheryl dari tangannya.
"Kau pergilah," usir Nessa dengan nada rendah dan serius. Menyiratkan bahwa dia tidak ingin meladeni Axel lagi.
__ADS_1
Axel menghela nafas kasar. "Aku ingin bicara denganmu" sahut Axel.
"Bicara apa lagi? Soal pernikahan? Aku tidak ingin menikah denganmu." Nessa menghela nafas panjang.
"Aku akan memberi mu uang sebanyak yang kau inginkan! Aku yakin kau akan diuntungkan dengan pernikahan ini."
'Aku benci melihat bajingan itu merenggut segalanya dariku. Sekarang giliranku merenggut mu dari hidupnya' sambung Axel dalam hatinya. Sorot matanya berubah dingin.
Nessa menghela nafas, "Kau pikir pernikahan itu apa? Aku tetap tidak mau apapun alasanmu. Biarkan saja pasangan itu hidup bahagia. Jangan mengusiknya lagi."
"Ayo masuk," ajak Nessa pada Cheryl yang tadi sempat terdiam melihat keseriusan Axel.
Di saat langkah kaki mereka telah berada di ambang pintu. Axel kembali berujar, "Jangan salahkan aku jika setelah ini aku menggunakan kekerasan untuk menarik mu masuk ke dalam kehidupanku!"
Langkah kaki Nessa sempat terhenti, namun dia enggan berbalik dan menanggapi.
"Sepertinya Axel benar-benar serius." Cheryl berbicara sembari melirik Nessa yang sedang mengeluarkan makanan dan minuman dari kantong plastik dan menyusunnya di lemari es.
"Aku tidak menyangka sepupu Garel seperti itu. Aku pikir semua anggota keluarga Garel adalah orang yang berwibawa dan berkarisma. Tapi aku lihat dia seperti berandalan dan pria nakal yang suka bermain wanita," ucap Nessa tanpa mengalihkan fokus dari aktivitasnya.
"Dia memang sedikit salah arah. Di kantor dia terlihat lebih berwibawa karena sering di pantau oleh ayahnya, tapi jika ayahnya tidak ada, wanita seksi dan menjijikkan bernama Widya akan datang ke ruangannya. Bahkan aku pernah melihat mereka sedang berciuman."
Nessa bergidik jijik membayangkan cerita Cheryl barusan. Secara, dia tidak pernah melakukan hal seperti itu bersama Garel. Mereka hanya sebatas berpelukan dan bergandengan tangan.
"Oh aku rasa, aku tadi melihatnya. Tapi kenapa dia bersama wanita itu? Bukankah dia mencintai Dhea?" tanya Nessa penasaran. Kali ini dia sudah selesai dengan aktivitasnya. Dia mengambil dua minuman soda dan roti yang tadi dia beli, lalu membawanya duduk di sofa yang ada di ruangannya bersama Cheryl.
"Namanya Widya. Dia mencintai Axel. Makanya dia rela melakukan hal apapun bahkan membiarkan Axel mencicipi tubuhnya," ujar Cheryl setelah menyeruput minumannya.
__ADS_1
"Apa?! Berarti mereka telah melakukan hubungan seksual? Ah sungguh menjijikkan. Aku tidak ingin menikahi pria seperti itu." Nessa kembali bergidik tidak suka.
"Hm, begitulah gaya hidup orang kaya. Tapi walaupun begitu, masih banyak juga teman-teman kantorku yang tergila-gila kepada Axel. Secara stylenya yang terlihat bad itu menarik di mata sebagian gadis. Di tambah lagi ekspresi dan senyumannya, argh, terkadang aku juga hampir termakan pesona pria sialan itu!"
Nessa terkekeh melihat ekspresi menderita Cheryl.
"Tapi jika dia bersama dengan Dhea. Dia akan berubah 180 derajat asal kau tau!" Cheryl kembali bercerita.
"Memang pria itu berbeda di saat bersama gadis yang mereka cintai," balas Nessa. "Bahkan Garel pun seperti itu kepadaku. Ketika semua orang bilang dia pria yang dingin dan cuek tapi kepadaku dia tidak begitu." Nessa kembali menghela nafas. Kenapa dia tidak bisa berhenti memikirkan Garel?!
"Kira-kira mereka lagi ngapain, ya?" tanya Nessa sembari menyeruput minumannya.
Tuk
"Aw!" Nessa mengaduh kesakitan ketika Cheryl memukul kepalanya dengan kaleng soda.
"Tentu saja mereka melakukan hubungan suami-istri. Ingat ini malam pertamanya!"
Nessa berubah cemberut ketika dia mendapati tatapan tajam Cheryl.
"Jangan coba-coba berharap atau mengingatnya. Bukankah kau mengundang ku ke sini untuk melupakannya? Ayo kita bersenang-senang!" ajak Cheryl. Dia bangkit, memutar musik di handphonenya kemudian mulai menari dengan asal membuat Nessa tertawa. Oke, mungkin yang dibutuhkan oleh Nessa untuk saat ini adalah tarian lucu Cheryl yang selalu setia menghiburnya di saat bersedih.
"Tunggu-tunggu!" Cheryl menghentikan aktivitasnya. Merapikan rambutnya yang berantakan dan berdiri sembari berkacak pinggang dengan nafas tersengal-sengal.
Nessa mengangkat alisnya," Kenapa?"
"Bagaimana jika Axel serius dengan ucapannya? Habis dong kita!"
__ADS_1
...----------------...