Black Dress

Black Dress
Menikah denganmu?


__ADS_3

"Kau tidak pulang?" ucap Nara yang sedang mengemasi barang-barangnya, bersiap untuk pulang ke rumah. Dia melirik Nessa selama beberapa detik yang masih mengenakan dress hitam yang dia gunakan untuk pesta pernikahan tadi sore.


"Sepertinya aku akan menginap disini saja, kau pulanglah dulu. Jangan lupa tutup pintu dan matikan lampu utama," balas Nessa tanpa mengalihkan fokusnya dari layar iPad. Dia berusaha mengalihkan semua pikirannya yang kacau dengan membuat desain pakaian terbaru. Walaupun pada akhirnya yang dia lakukan itu menjadi sia-sia karena tidak satupun yang berhasil ia buat. Bagaimana mungkin dia bisa menghasilkan suatu karya jika hatinya dalam kondisi tidak baik-baik saja.


Nara mengangguk sebagai jawaban. "Baiklah, aku pergi dulu," ucap Nara setelah dia mengenakan Hoodie-nya dan berlalu pergi.


"Hm," gumam Nessa. Setelah Nara pergi, Nessa menutup layar Ipad-nya. Dia melipat tangannya di atas meja kerjanya, lalu merebahkan kepalanya disana.


"Berhentilah bersedih," tegur Nessa untuk dirinya sendiri. Dia menghela nafas berat dengan mata terpejam. Selang beberapa detik Nessa kembali duduk dengan tegap. Perutnya tiba-tiba lapar.


"Ah sial," umpat Nessa sembari memegangi perutnya. Nessa berdiri, mencari makanan di freezer yang ada di butiknya. Nessa kembali menghela nafas ketika dia tidak menemukan satupun makanan yang dapat membantu menghilangkan rasa laparnya.


Sejak tadi pagi Nessa memang belum makan, bahkan di saat pesta pernikahan Garel saja dia tidak menyentuh sedikitpun makanan dan cake yang kelihatannya enak.


Mau tidak mau , Nessa harus pergi keluar untuk membeli makanan. Sebelum pergi, Nessa mengambil tuxedo Garel dan kembali menyampirkan ke tubuhnya. Dia melirik jam dinding bewarna putih yang sudah menunjukkan pukul 22.15. Nessa berharap masih ada toko makanan yang masih buka.


Nessa berjalan di trotoar, jalanan mulai sepi, udara dingin-pun semakin terasa menggelitik nya untuk lebih merapatkan tuxedo Garel kepada tubuhnya.


Nessa menoleh ke kanan dan ke kiri, ketika dia tidak menemukan kendaraan, tanpa pikir panjang lagi Nessa segera melangkahkan kakinya untuk menyebrangi jalan. Tapi diluar dugaannya, sebuah mobil BMW i8 Coupe tiba-tiba saja datang dari sisi kanan dengan kecepatan tinggi dan mengarah kepadanya. Sepertinya ada unsur kesengajaan pemilik mobil itu melakukannya.


Nessa reflek memejamkan mata dan menutup telinganya. Degup jantung Nessa berdetak begitu cepat seiring dengan mobil itu semakin dekat dengannya. kakinya terasa lemah tak berdaya untuk menyelamatkan diri. Dia pasrah menerima akhir hidupnya yang menyedihkan.


Ckiitt


Suara rem yang luar biasa keras menyapa gendang telinga Nessa. Nessa membuka matanya perlahan, seketika sinar lampu yang begitu terang membuat mata Nessa kembali menyipit. Nessa menghela nafas, dia melemaskan bahunya ketika sadar dirinya baik-baik saja. Sesaat setelah itu, sang pengemudi yang sepertinya sengaja menimbulkan kegaduhan itu keluar dari mobilnya, dengan santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Ku harap kau terluka." ucap pria yang sedang mengenakan kemeja putih dengan kancing bagian atas tidak terpasang itu menatap remeh Nessa. Pria itu adalah Axel.


"Apa yang kau lakukan?" geram Nessa dengan suara rendah penuh penekanan. Dia berjalan mendekati Axel yang dengan santainya bersandar kepada mobil yang hampir saja mencabut nyawanya. Seketika bau alkohol pun menyeruak masuk ke hidungnya.


"Yang aku lakukan? Hanya mengendarai mobil," ujar Axel dengan senyum mengejek.


Nafas Nessa memburu, dadanya kembang kempis. Cewek itu menatap tajam ke arah Axel yang sepertinya sengaja mempermainkannya. "Apa kau tidak tau cara menggunakan mobil dengan benar? Atau, jalan ini milik ayahmu hingga kau seenaknya saja?" sarkas Nessa sembari menyugar rambutnya ke belakang.

__ADS_1


Axel, cowok berkulit putih itu terkekeh tanpa dosa. Seolah tindakannya barusan adalah hal biasa.


Nessa mengepalkan tangannya, geram sekali melihat ekspresi Axel. Nessa berbalik meninggalkan Axel. Tapi Axel dengan cepat menarik tangan Nessa dan mendorongnya ke mobil. Dia mengurung tubuh Nessa dengan kedua tangannya.


"Kau! Apa yang kau lakukan?" geram Nessa, dia berusaha melepaskan dirinya dari Axel dengan berontak namun kekuatan pria itu lebih kuat dari Nessa hingga membuat Nessa menyerah karena kehabisan tenaga. Gadis itu menatap Axel dengan tatapan tajam, namun fokusnya teralihkan ketika melihat sudut bibir Axel yang terluka, begitu juga dengan pipi sebelah kirinya yang lebam.


"Kenapa? Kau ingin merasakan bibirku?" goda Axel.


Nessa mendelik tajam. "Kau mabuk!"


Axel menyeringai, "Kau simpanannya Garel? Aku melihat kalian berpelukan di pantai," ucap Axel sembari memperlihatkan sebuah foto dari ponselnya.


Darah Nessa berdesir hebat, dia berusaha mengambil alih ponsel Axel namun pria itu dengan cepat melemparnya ke dalam mobil.


"Siapa Kau?" tanya Nessa curiga.


Axel tersenyum dan melepaskan Nessa. "Kau tidak tahu aku?"


"Tidak ada gunanya mengetahui penguntit seperti mu!" sahut Nessa, mengangkat telunjuknya ke wajah Axel.


Axel kembali tersenyum. "Jadi bagaimana? Apa kau selingkuhannya Garel?"


"Kalau iya kau mau apa?" tantang Nessa tidak mau kalah.


Axel mengangkat alisnya. "Aku mau sebar ke media. Kau tau bagaimana keluarga Garel, kan? Butikmu itu akan mati dalam hitungan detik. Ah, mungkin bukan butikmu saja tapi hidupmu dan juga saudari itu."


Nessa menatap lekat mata Axel. Alisnya berkedut saat Axel mengetahui informasi tentang dirinya. Nessa bahkan ingat bagaimana pria ini bisa mengenalinya di butik.


"Siapa kau sebenarnya?"tanya Nessa penasaran. Kali ini dengan suara lebih rendah dan serius.


Tiin Tiin


Suara klakson dari sebuah mobil yang datang dari arah yang sama dengan Axel mengalihkan perhatian kedua insan yang tadinya saling memandang satu sama lain.

__ADS_1


Axel memberikan kode kepada seseorang yang berada di dalam mobilnya untuk segera menepikan mobil mahal itu.


"Kita bicara disana." Tanpa menunggu persetujuan Nessa. Axel menarik cewek itu menuju trotoar yang tidak jauh dari mereka.


"Jadi bagaimana?"


"Bagaimana apanya?" sungut Nessa.


"Oh aku belum membuat kesepakatan, ya?" tanyanya retoris.


Axel mengulur waktu dengan berpura-pura berpikir.


"Cepat katakan apa yang kau mau dan hapus foto itu sekarang juga." jelas Nessa yang sudah lelah berdebat dengan Axel.


Axel tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya umpannya di makan juga oleh Nessa.


"Bagaimana dengan kau harus menghangatkan ranjangku? Dokumentasi perselingkuhan kalian akan aku hapus setelahnya. Setuju?" goda Axel dengan mengedipkan mata kirinya.


Nessa tidak bisa lagi untuk tidak menampar wajah Axel yang terpahat sempurna itu dengan keras.


"Aku bukan cewek murahan seperti itu!" geram Nessa kemudian beranjak pergi dari sana.


"Kalau kau bukan cewek murahan. Kenapa kau menjadi orang ketiga dalam hubungan seseorang yang sudah sah dan suci?"


Langkah Nessa tercekat. Berbicara dengan Axel benar-benar membuatnya emosi dan darah tinggi. Nessa berbalik, menatap wajah tampan nan menyebalkan itu dengan tajam.


"Katakan apa sebenarnya yang kau inginkan?" tanya Nessa dengan wajah serius.


Axel tersenyum tipis lalu memasang wajah serius. "Menikahlah denganku."


......................


Visual Axel : Gabriel Daum

__ADS_1


Picture from pinterest



__ADS_2