
"Apa keputusan yang aku ambil ini tepat?" tanya Nessa, gadis yang saat ini sedang memandang ke arah jendela kamar yang terbuat dari kaca hingga dia bisa melihat pemandangan kota dari tempat dirinya berdiri.
"Entahlah. Tapi aku harap Axel tidak menyakitimu setelah kalian menikah, itu saja sudah cukup." balas Cheryl yang saat ini sedang tiduran di atas kasur empuk yang nantinya akan menjadi milik Nessa dan Axel. Ya. Sesuai dengan perintah Axel kepadanya, Cheryl pun segera mengajak Nessa ke sebuah apartemen yang sesuai dengan keinginan Nessa dari dulu.
"Tapi entah kenapa aku merasa khawatir," balas Nessa.
"Setidaknya kau akan menjadi orang kaya dan tidak perlu bekerja keras lagi untuk adikmu," ujar Cheryl kemudian dengan mata mengitari kamar yang memiliki interior dan tata ruang yang begitu indah dan nyaman. Membuat Cheryl tak henti-hentinya berdecak kagum dari awal mereka masuk ke apartemen ini.
Nessa berbalik menghadap Cheryl. "Kenapa kau berbicara seperti itu? Aku tidak ingin bergantung kepada Axel nanti walaupun kami sudah menikah. Aku akan tetap bekerja untuk membiayai Karin, hanya dia anggota keluarga yang aku punya saat ini!" tegas Nessa menatap Cheryl dengan kesal.
"Kau tidak tau? Axel bahkan sudah membelikan Karin apartemen yang dekat dengan kampusnya dan bahkan juga sudah memberi dia kartu ATM pribadi yang isinya dua kali lipat dari rekening ku saat ini," jelas Cheryl yang sudah bangkit dari posisinya.
Nessa terperangah mendengarnya, "Kau serius? Darimana kau tau?"
"Aku sendiri yang melakukannya."
"Apaa??" Nessa melotot kepada Cheryl. "Kenapa kau tidak bilang dulu kepadaku?"
Cheryl menghela nafas dan kembali ke posisinya semula, tiduran. "Lalu aku harus bagaimana? Axel itu atasan ku, tidak mungkin aku menolak perintahnya. Bahkan hukuman karena telah menantangnya waktu itu belum selesai sampai sekarang." Cheryl mendengus kesal sembari memukul kasur dengan kedua tangannya.
Nessa juga ikut menghela nafas. Dia juga tidak bisa menyalahkan sahabatnya. Tapi entah kenapa, Nessa takut jika dia nanti bergantung kepada Axel apalagi hati pria itu bukan miliknya. Bagaimana jika suatu saat nanti, Axel tiba-tiba saja mencampakkannya sedangkan dia sudah terbiasa bergantung kepada pria itu?
__ADS_1
Nessa kembali menghela nafas. Kebiasaan overthingking-nya seketika kambuh. Nessa memutuskan untuk berjalan keluar kamar dan memperhatikan setiap sudut keindahan apartemen yang akan menjadi miliknya itu. Apartemen ini terdiri dari dua kamar, ruang tengah dan dapur. Ukurannya lumayan luas untuk ditempati oleh dua orang. Nessa berjalan ke arah ruang tengah dan duduk disana. Dia kemudian segera menggulir layar handphonenya dan menghubungi saudarinya, Karin.
"Hallo, kakak?" Suara Karin yang sedikit cempreng seketika menyapa telinganya hingga membuat Nessa reflek menjauhkan handphonenya dari telinga.
"Kenapa semangat begitu? Kayak orang dapat uang banyak aja. Atau jangan-jangan iya kamu dapat banyak uang?" tanya Nessa pura-pura tidak tau yang sebenarnya.
"Kenapa kakak ga bilang akan menikah sama pria kaya? Aku kira kakak masih belum move on dari kak Garel ternyata udah ada yang baru aja," balas Karin dengan nada yang tak kalah kesal.
Nessa mendengus mendengar suara adiknya itu, "Jangan habisin dan buang-buang uangnya. Pakai seperlu—"
"Habisin aja. Gapapa."
Nessa terperanjat kaget ketika dengan tiba-tiba Axel datang dan merebut handphonenya. Pria itu seketika mematikan handphone dengan melirik ke arah Nessa. "Biarin aja dia mau pakai sepuasnya. Itu uangku bukan uangmu, jadi terserah dia mau hemat atau boros."
"Terserah kau saja," lirih Nessa dingin. Dia tidak ingin berdebat karena hanya akan percuma. Pria itu tidak akan mendengarkannya.
Axel segera mengambil tempat di sebelah Nessa. Dia menatap Nessa yang saat ini terlihat seperti berpikir keras.
"Aku tau kau menikahi ku hanya untuk balas dendam karena Garel telah menikahi gadis yang kau cintai. Tapi kenapa kau malah membuat ku ikut terseret dalam permasalahan kalian. Kau tau, pernikahan ini bukan alat dan ajang balas dendam tapi ibadah jangka panjang." Nessa bernafas lega ketika dia berhasil menyuarakan isi hatinya yang tadi sempat ragu untuk ia lakukan.
Axel terkekeh mendengar penuturan Nessa. Dengan senyum yang terpatri di wajahnya dia berujar, "Kenapa kau serius sekali? Bukankah aku sudah bilang jika ini hanya pernikahan sementara hingga rencanaku berhasil, bahkan kau sudah menandatangani kontraknya. Aku bahkan akan memberimu uang lebih jika semuanya berhasil. Dan aku tidak akan menyentuhmu jika itu yang kau ragukan. Aku tidak akan melakukan itu dalam keadaan terpaksa," jelas Axel yang tanpa pria itu ketahui membuat hati pendengarnya terluka.
__ADS_1
"Oh Axel, kau disini?" sapa Cheryl yang bersiap-siap pergi. Takut Axel akan mengamuk lagi kepadanya jika dia ketahuan menguping pembicaraan.
Axel hanya diam tak menjawab. Matanya menyipit memperhatikan wajah kusut Cheryl yang seolah baru saja bangun tidur. "Jangan bilang kau tidur dikamar kami?"
Nessa tersedak mendengar 'kamar kami' begitu juga dengan Cheryl yang berusaha menahan tawanya yang hendak meledak. "A-aku akan pergi. Kalian lanjut saja bicaranya," jawab Cheryl yang saat ini sedang mengenakan sepatunya dengan gerakan cepat.
"Oh iya. Tolong jangan melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan di malam pertama," setelah mengatakan itu Cheryl langsung bergegas pergi dan menutup pintu apartemen. Meninggalkan rasa canggung diantara Nessa dan Axel.
Lama terdiam setelah perkataan Cheryl, Axel berdehem dan kembali berucap, "Apa kau menyukai apartemen ini?" Axel mulai mengalihkan pembicaraan yang sempat membuat suasana sedikit mencekam.
Nessa hanya diam, moodnya sudah hilang untuk menjawab pertanyaan Axel barusan.
Ding Dong
"Sepertinya itu salah satu kru wedding designer. Aku memintanya datang untuk membahas design dan style pernikahan kita," ucap Axel setelah mendengar suara bel apartemennya. Cowok itu bersiap-siap berdiri untuk membuka pintu apartemen.
"Biar aku saja," ucap Nessa dan segera menuju pintu. Dia tidak ingin berlama-lama berdekatan dengan Axel yang selalu berhasil memancing emosi dan rasa sakit hatinya.
Ketika pintu apartemen terbuka, mata Nessa seketika melebar, begitu juga dengan degup jantungnya yang berdetak lebih cepat.
"Garel?"
__ADS_1
***