
Nessa merasakan detak jantungnya yang semakin tidak aman, dia gugup dan takut masuk ke dalam hotel tempat dilaksanakannya pesta pernikahan Garel. Nessa menarik nafasnya beberapa kali agar dirinya lebih tenang.
Sedetik kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ballroom. Hatinya terasa dicabik-cabik melihat foto prewedding Garel dan istrinya tersusun rapi di pintu masuk. Bahkan matanya sudah terasa panas akibat genangan air mata yang dengan mudahnya datang.
Melodi khas pesta pernikahan seketika menyambut Nessa begitu juga dengan para pelayan hotel yang bergerak kesana-kemari untuk mengantarkan minuman para tamu ketika dirinya sudah berada di ballroom. Nessa tiba-tiba saja kikuk ketika beberapa pasang mata orang yang ia ketahui sebagai keluarga Garel menatapnya. Nessa berusaha terlihat setenang mungkin, dirinya bahkan mencoba untuk tersenyum ketika ada beberapa orang menyapanya.
"Nessa!"
Nessa menghela nafas lega ketika dia mendengar suara sahabatnya, Cheryl. Dengan segera ia menghampiri meja Cheryl yang dipenuhi oleh orang-orang dari perusahaan yang sama dengan tempat Cheryl bekerja.
"Kau sangat cantik hari ini," puji Cheryl menatap kagum kepada Nessa. Bahkan teman-teman sekantornya juga sempat pangling akan kecantikan Nessa.
"Terimakasih," balas Nessa tak lupa dengan senyum manis di wajahnya.
"Nah teman-teman, ini sahabatku, yang sering aku ceritakan kepada kalian. Sekarang dia lagi single, ayok yang minat langsung hubungi dia," tutur Cheryl, gadis yang suka ceplas-ceplos.
Nessa menyikut Cheryl, kesal dengan candaannya.
"Bercanda kok," balas Cheryl sembari terkekeh lalu mempersilakan Nessa duduk. Cheryl sendiri adalah gadis periang, sikapnya jauh berbeda dengan Nessa. Cheryl punya banyak teman dan kenalan, berbeda dengan Nessa yang mungkin teman dan kenalannya dapat dihitung dengan jari.
Nessa mengacuhkan Cheryl dan teman-temannya yang saat ini sibuk berbicara dan tertawa. Nessa lebih memilih memperhatikan dekorasi pernikahan Garel yang begitu luar biasa megah. Dia berandai-andai jika dirinya yang duduk di samping Garel saat ini. Jujur saja, ada rasa penyesalan di hati Nessa karena telah menghadiri pesta pernikahan kekasihnya itu.
Nessa memperhatikan Garel dari jauh. Tidak ada senyum yang terpatri di wajah cowok itu, hanya wajah dingin yang dia perlihatkan kepada setiap tamu yang datang untuk memberikan selamat kepadanya.
"Oh iya, kita belum memberi ucapan selamat kepada mempelai pria dan wanita! Ayo ke altar!" Suara teman Cheryl membuat Nessa mengalihkan perhatiannya dari Garel. Jika mereka pergi ke altar untuk memberi selamat, mau tidak mau Nessa tentu harus ikut bersama mereka. Padahal dia sangat menghindari hal itu.
"Ini gara-gara kau Cheryl, karena kau lapar dan kau mengajak kami untuk mencicipi makanan enak ini lebih dahulu," sahut seorang pria yang badannya agak besar. Dilihat dari ID Cardnya, pria itu bernama Bayu.
"Kau juga lapar, kan? Jangan salahkan aku sendiri!" Cheryl melotot tajam kepada Bayu.
Cheryl menoleh ke arah Nessa yang juga sedang menatapnya. Sebenarnya alasan Cheryl mengajak teman-temannya untuk makan terlebih dahulu adalah karena dia benci melihat bajingan Garel itu yang telah menyakiti perasaan sahabatnya. Bahkan dia sendiri yang meminta Nessa hadir di pernikahan ini, agar Garel menyesal karena dia telah meninggalkan Nessa yang sangat cantik bahkan lebih cantik dari gadis yang sudah sah menjadi istrinya.
"Ayo!" bisik Cheryl pada Nessa yang terlihat ragu.
Nessa menatap Cheryl sebentar," aku belum siap bertemu dengan dia saat ini."
"Re, Lo mau jadi pasangan Nessa sementara?" tanya Cheryl pada manajernya itu yang sudah seperti sahabatnya juga.
Reyhan, cowok yang dipanggil 'Re' oleh Cheryl seketika tersedak dengan anggur merah yang baru saja membasahi kerongkongannya begitu juga dengan Nessa, gadis itu melotot tajam kepada Cheryl.
"Cuman sementara, sampai kita keluar dari ballroom ini," jelas Cheryl.
Reyhan, cowok dengan wajah yang terkesan lembut itu menoleh ke arah Nessa. Untuk sesaat, dia tertegun dengan kecantikan paras Nessa. Reyhan mengangguk ragu, dia salah tingkah ketika Nessa menatapnya balik.
"Tenang saja, Garel pasti nyesal," bisik Cheryl ketika rombongan mereka mulai berjalan ke arah altar.
Nessa menghela nafas berat. Tangannya basah karena keringat, dia mengeratkan genggaman tangannya dengan Reyhan ketika mereka semakin dekat.
Nessa menunduk, dia sibuk memikirkan hal apa yang harus ia lakukan. Bagaimana sikapnya nanti jika dirinya berhadapan dengan Garel
__ADS_1
"Selamat atas pernikahan kalian." Suara teman Cheryl membuat Nessa mendongak, menyadari bahwa dirinya sudah berada di altar.
Nessa dan Reyhan berjalan paling belakang. Saat giliran mereka akan datang, Nessa tidak bisa menyembunyikan sorot matanya yang menyiratkan kekecewaan dan kesedihan. Bahkan suaranya tiba-tiba hilang. Nessa menundukkan kepalanya semakin dalam, ternyata dirinya tak sekuat itu.
"Selamat atas pernikahan kalian," ucap Reyhan ketika mereka sudah berhadapan dengan sang pemilik pesta. Setelah memberi salam kepada mempelai wanita, Nessa melewati Garel begitu saja. Dia tidak tahan lagi dengan situasinya.
Nessa bernafas lega ketika mereka sudah berada di luar hotel.
"Garel ganteng banget, sumpah!" puji Kia, teman kantor Cheryl.
"Ganteng apaan. Pria pecundang yang terlalu penakut sama keluarga," umpat Cheryl tidak suka. Mendecih sebal mendengar pujian Kia barusan.
Tak lama setelah perbincangan singkat itu, orang yang mereka bicarakan tiba-tiba saja datang.
"Nessa, bisa bicara sebentar?"
Semua teman Cheryl termasuk Nessa Menoleh ke arah pintu hotel dengan serentak. Mereka terkejut melihat si pemilik suara adalah orang yang baru saja mereka bicarakan.
"Kalian kenal?" tanya Kia heboh, yang sukses menarik perhatian beberapa tamu undangan yang masih berkeliaran di area luar hotel.
Nessa mengangguk singkat sebelum dia kembali fokus kepada Garel yang terlihat berkharisma dengan tuxedo dan dasi yang melekat di tubuhnya.
"Bicara apa?" balas Nessa dingin.
"Bukan disini." Garel menarik tangan Nessa. Tindakannya saat ini benar-benar membuat mereka menjadi pusat perhatian bahkan para tamu mulai berbisik-bisik membicarakan mereka.
"Garel? kita mau kemana?" tanya Nessa kesal. Dia menghempaskan tangan Garel kasar. Menatap sekelilingnya dengan tatapan tidak enak.
"Tidak bisakah bicaranya disini saja? Kau akan membuat orang-orang curiga!" tegur Nessa sekali lagi, berharap Garel dapat mengerti.
"Aku tidak peduli! mereka curiga atau tidak. Saat ini aku hanya ingin bicara berdua denganmu." Garel mendorong tubuh Nessa dengan paksa agar gadis itu masuk ke mobil mewah miliknya. Dia kemudian dengan tergesa-gesa berputar lalu masuk ke mobil dan segera menyalakan mesin mobil. Melajukan mobil itu agar keluar dari area hotel secepat mungkin.
"Garel, kau akan membawaku kemana?"
"Ke pantai. tidak aman bicara di sekitar sini," balas Garel dengan mata fokus kepada jalan.
Nessa menghela nafas pasrah, dia melipat tangannya di depan dada, matanya fokus menatap jalanan yang tidak ramai seperti biasanya. Menghiraukan Garel yang sesekali menatapnya dengan sorot yang sulit untuk diartikan.
Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sampai di pantai yang letaknya tidak jauh dari hotel. Nessa segera turun dari mobil begitu juga dengan Garel. Suara ombak dan semilir angin segera menyapa mereka.
Nessa berjalan mendekati bibir pantai. Dia memejamkan mata, menikmati semilir angin yang menyentuh wajah dan tengkuknya karena saat ini dia mengikat rambutnya dengan gaya bun hair. untuk sesaat rasa sedih dan pikirannya yang kalut dapat terobati dengan suasana pantai yang begitu menenangkan.
Nessa terkejut ketika seseorang memeluknya dari belakang secara tiba-tiba namun dia malah menikmati pelukan yang sudah lama ia rindukan. Setelah sadar bahwa yang mereka lakukan saat ini adalah hal yang salah, Nessa segera melepaskan tubuhnya dari Garel.
"Dengar, kau masih kekasihku. Kita masih belum putus," jelas Garel. Dia tidak ingin melepaskan orang yang dia cintai.
"Kau gila? Ingin berapa banyak wanita yang kau sakiti? Cukup aku yang tersakiti disini," tegas Nessa.
Garel memijit pelipisnya dengan satu tangan, "Aku juga tidak ingin menyakiti wanita itu." Garel mengarahkan telunjuknya menuju bangunan hotel yang terlihat dari pantai.
__ADS_1
Nessa mengangkat alisnya, menunggu kelanjutan kalimat Garel.
"Dia yang meminta orang tuaku untuk menjodohkan aku dengannya. Aku sendiri tidak menginginkan pernikahan ini jika bukan kau mempelainya. Asal kau tau, aku juga tersakiti disini, bukan kau saja," lirih Garel putus asa. Dia menghela nafas kasar.
Mereka berdua diam sejenak. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku sudah mengatakan kepadanya bahwa aku memiliki kekasih dan tidak mencintainya. Tapi dia tidak peduli dan terus meminta ku menerima pernikahan ini. Aku tidak bisa melakukan apapun. Semua orang memaksaku, tidak satupun yang berada di pihakku." Mata Garel berkaca-kaca. "Kau tetap kekasihku. Aku tidak akan melepaskanmu."
Kali ini Nessa tidak bisa membendung air matanya. Dia menangis, tidak tau harus berbuat apa. Jujur dia tidak ingin melepaskan Garel tapi dia juga tidak ingin menyakiti perasaan wanita yang statusnya sudah jelas sebagai istri sah Garel.
"Maafkan aku," Garel memeluk tubuh ramping Nessa erat seolah tidak ingin melepaskan Nessa. Dia Mengusap lembut punggung Nessa yang terekspos separuh karena dressnya yang cukup terbuka.
Garel melepaskan tuxedo yang dari tadi membalut tubuhnya. Dia menyammpirkan tuxedo itu kepada Nessa yang masih menangis dalam pelukannya. Lalu memeluk Nessa lagi.
Nessa mendongak mendapati wajah lembut Garel yang menatapnya dengan sorot penuh kasih. Garel ingin mencium dahi Nessa namun Nessa segera mengelak dengan melepaskan pelukan mereka.
"Aku tau kita sekarang dalam posisi yang sulit. Tapi... aku juga tidak ingin menyakiti perasaan istri sah mu. Aku harap kau mengerti dan mari saling melepaskan." ucap Nessa dengan susah payah. Dia bahkan menghindari tatapan Garel yang menatap lekat ke arahnya.
"Tapi-"
"Cukup. Aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi. Sekarang kau sudah resmi menjadi suami orang. Jangan ganggu aku lagi, belajar lah mencintai istrimu."
Setelah mengatakan itu, dengan berat hati Nessa pergi dengan tuxedo Garel yang masih melekat pada tubuhnya. Sebenarnya dia tidak ingin melepaskan Garel, tapi sebagai sesama wanita, dia tidak ingin menyakiti perasaan wanita lain.
"Nessa!" teriak Garel yang diacuhkan oleh Nessa. gadis itu terus berjalan tanpa menoleh lagi ke arahnya. Garel menendang pasir yang tidak bersalah itu sekuat tenaga. "Sialan!"
"Oh jadi itu kekasih mu? Cantik juga."
Garel mengernyit mendengar suara yang tidak asing baginya. Dia memutar badannya, mendapati sepupu sekaligus rivalnya dalam segala bidang yang entah sejak kapan sudah berada di pantai ini.
Garel mendecih sebal, "Bukan urusanmu!" cowok itu kemudian menubruk kasar bahu Axel saat dia akan berjalan ke arah mobil.
"Jangan coba-coba untuk mengkhianati Dhea. Jika kau melakukannya, maka kekasih mu itu akan merasakan akibatnya," ancam Axel, pria yang sudah pernah bertemu dengan Nessa sebelumnya.
Ancaman Axel sukses memancing emosi Garel. Dia berbalik menatap sepupunya yang memiliki bola mata bewarna hazel.
"Awas saja jika kau berani menyentuhnya!" Garel mengepalkan tangannya. Ingin sekali dia memukul wajah yang pernah menjadi teman sepermainannya di waktu kecil itu.
"Kau menantangku? Baiklah, kita lihat siapa yang akan menang. Kau atau Aku?" balas Axel. Axel mengangkat sudut bibirnya, dia merasa senang melihat Garel kesal. Padahal mereka dahulu sangat akrab di saat usia belia, namun seiring berjalannya waktu, mereka malah menjadi rival hanya untuk mendapatkan bagian perusahaan milik kakek mereka.
"Akan ku pastikan wanita itu menjadi bagian dari koleksi ku." Ucapan Axel kali ini benar-benar berhasil membuat Garel memukulinya. Apalagi saat ini suasana hati Garel yang sedang tidak baik-baik saja membuat dia melampiaskan semua yang ia rasakan dengan memukuli Axel.
Axel cowok yang berada di bawah pengaruh alkohol itu tertawa. Sudut bibirnya bahkan sudah terluka akibat pukulan bertubi-tubi yang diberikan oleh Garel. Namun dia tidak peduli, dia hanya menikmati ekspresi kesal Garel.
"Kau harus merasakan apa yang aku rasakan sepupuku!" ujar Axel dengan wajah serius.
...----------------...
Visual Garel : Song Weilong
__ADS_1
Picture from Pinterest